Friday, August 30, 2013

Belajar Menjadi Orang Tua


Beberapa waktu lalu saya menyaksikan film India berjudul "Taare Zameen Par". Sebenarnya, film itu sudah cukup lama dirilis, yaitu tepatnya pada tanggal 21 Desember 2007. Namun saya baru mengetahui ada film sebagus itu setelah diskusi dengan beberapa teman tentang film-film yang menarik dan bermanfaat untuk ditonton.


taare zameen par

Diperankan oleh Aamir Khan sebagai Ram Shankar Nikumbh dan Darsheel Safary sebagai Ishaan Awasthi, film ini bercerita tentang seorang anak (Ishaan) yang dianggap bodoh oleh orang tua, bahkan oleh guru-gurunya juga. Anak itu hampir kehilangan semangat dan rasa percaya diri karena setiap hari yang ia dengar hanyalah umpatan dan kutukan "tak becus" dari orang-orang di sekelilingnya. Pandangan matanya seolah berteriak minta tolong, seolah dengan kata-kata saja tak cukup untuk mengeluarkan isi hatinya. Tak ada yang mau mendengar jeritan hatinya. Ia adalah seorang anak yang menderita dyslexia. Di usianya yang ke 9 ia belum bisa membedakan huruf-huruf yang hampir sama, seperti b dan d. Ia juga sering terbalik dalam menuliskan beberapa huruf dan angka. Memang, penderita dyslexia kebanyakan memiliki ketidakmampuan dalam belajar yang disebabkan oleh kesulitan dalam melakukan aktivitas membaca dan menulis. Namun begitu, Ishaan memiliki kemampuan yang luar biasa dalam hal melukis. Sebuah bakat yang tak dianggap bermanfaat oleh kebanyakan orang.

Inspiratif sekali. Film ini mengajarkan kita bagaimana menghadapi anak yang tak biasa, juga mengingatkan kita bahwa tak ada anak yang bodoh. Yang ada hanyalah anak dengan kemampuan yang berbeda, karena cepat atau lambat mereka pasti bisa menguasai apa yang telah dan sedang mereka pelajari. Dan yang harus digarisbawahi, kecerdasan itu tak melulu bicara soal matematika, fisika, atau kimia.

Pesan moral yang saya tangkap adalah, memaksa anak untuk menjadi seperti ambisi kita, lebih buruk daripada menyuruh mereka menjadi seorang kuli. Memaksa anak untuk bisa menguasai segalanya, menuntut untuk bisa selalu menjadi juara, justru akan membuatnya benci pada ilmu yang seharusnya ia pelajari dengan senang hati.

Setiap anak dilahirkan unik. Mereka punya impian dan kemampuannya sendiri, dan kewajiban kita adalah menghormati pilihan mereka supaya jiwa mereka berkembang dengan baik. 


Dari film itu juga saya dapatkan pelajaran baru, kisah tentang penduduk Pulau Solomon (yang baru saya tahu), apabila mereka ingin membuka lahan baru untuk bercocok tanam, mereka tak perlu repot-repot menebangi pohon. Yang mereka lakukan adalah mengelilingi lahan itu sambil mengumpat dan mengutukinya, dan ajaibnya beberapa hari kemudian pohon-pohon disana akan berubah layu, siap untuk dijadikan lahan bercocok tanam yang baru. Mahmud Mahdi Al-Istanbuli menuliskan dalam buku Parenting Guide, "Jagalah anak, jangan sampai anak tersugesti__baik sengaja maupun tidak__dengan pikiran dan perbuatan yang dapat melemahkan kepribadian anak." 

Poin yang terpenting adalah bahwa setiap perkataan adalah do'a. Saya pernah membaca sebuah kisah tentang seorang ibu yang pandai mengelola amarah. Ceritanya, suatu hari sang ibu sedang menyiapkan jamuan makan untuk tamunya. Tiba-tiba datang anaknya yang mungil, dengan segenggam debu di tangannya. Ia menaburkan debu itu ke atas makanan yang sedang disajikan. Sang ibu marah dan berkata, "idzhab ja'alakallahu imaaman lilharamain," (Jadilah kamu imam di masjidil haram!!)

Dan Subhanallah, kini anak itu telah dewasa dan telah menjadi imam masjidil haram. Siapakah anak kecil tadi? Beliau adalah Syeikh Abdurrahman as-Sudais.

Semoga kita bisa mengambil pelajaran dari kisah ini, aamiin.

Wallahu a'lam bishshowab.

No comments:

Post a Comment