Monday, May 29, 2017

Akhirussanah; Berpisah Tapi Tak Berpisah



2 tahun yang lalu, Mama harus gigit jari sambil memendam penyesalan saat melangkahkan kaki keluar dari sekolah ini. Ya, 2 tahun lalu sekitar April atau Mei, Mama datang ke sini untuk mendaftarkanmu. Tapi sedih, tak ada bangku tersisa untukmu.

Mama kemudian mengajakmu berkeliling mencari sekolah lain, namun tak ada yang menarik hatimu. Hampir putus asa, Mama kemudian memberanikan diri mendaftarkanmu ke salah satu sekolah yang cukup mahal bagi Mama. Kamu senang dan setuju sekolah di sana. Papa juga, rasanya cocok dengan sekolah itu.

Jelang tanggal pelunasan calon sekolahmu, Mama ketar-ketir. Berulang kali Mama cek rekening. Cukupkah tabungan Mama? Cukupkah gaji Papa untuk membayar pendidikanmu di sana?

Disaat-saat itu, Mama lebih sering berdo’a pada Allah, Tuhan kita. Mama mohonkan yang terbaik di antara pilihan yang baik. Saat itu, cukup cepat Allah menjawab. 3 hari sebelum Mama membawa uang pelunasan ke calon sekolahmu itu, Ust Dyah mengirim sebuah pesan. “Ada bangku kosong di TKIT Bina Madina, apakah Ananda jadi mendaftar?” kurang lebih begitu bunyi pesannya.

Tanpa berpikir panjang, juga karena sayang dengan uang yang terlalu besar untuk dikeluarkan jika kamu sekolah di tempat mahal itu, Mama dan Papa langsung meluncur ke TKIT Bina Madina, segera setelah Papa selesai shalat Jumat. Dan mulai detik itu, resmilah kamu menjadi salah satu santri TK di sana.

Mama lega. Inilah sekolah impian Mama, untuk anak-anak Mama.

TKIT Bina Madina, konon dari cerita ibu penjual ikan yang putrinya juga alumni di sana, adalah sekolah IT yang cukup murah, namun kualitasnya mampu bersaing dengan yang lainnya. Mama setuju. 2 tahun menjadi bagian dari keluarga besar TKIT BiMa, Mama bisa menyimpulkannya.

Pernah, Mama berterus terang pada Ust Rina, betapa kreatifnya para ustadzah. Betapa penuh energinya mereka, seolah tak kenal lelah. Ust Rina juga bercerita, beberapa ide kegiatan TKIT BiMa, ditiru sekolah lain yang menurut pandangan orang lebih bermutu.

Ini salah satu ide keren para ustadzah, yang menggabungkan kreativitas anak dan orang tua; Ketika Mas Amay Membuat Miniatur Rumah Adat Bersama Papa. Tak hanya anak-anak yang berlomba, tapi orang tua juga. Sungguh, acara ini mampu memperkuat bonding antara Mas Amay dan Papa. Yah, meski Mas Amay harus rela tak juara, karena Papa ditunjuk sebagai juri lomba, sehingga karya Mas Amay dan Papa tak ikut dinilai disana.

Atau, ketika Mama juga ikut-ikutan menghafal Surah Al-Ghosyiyah bersama Mas Amay, ini juga luar biasa. Ohya, masih ingat tidak ketika Mama terpaksa belajar menjadi moderator saat Parenting Spektakuler Pebruari lalu? Jika bukan karena TKIT Bina Madina, mungkin Mama masih berada dalam kubangan ketidakpercayadirian.



Ah, betapa bersyukur Mama, karena Allah mempertemukan kita dengan keluarga Bina Madina. Meski murah di biaya, tapi tak murah di ilmu dan perhatiannya.

Dan kini, setelah 2 tahun berlalu, sudah cukup masamu di tempat itu. Mas Amay harus kembali bergerak dan meninggalkan kampus penuh cinta bernama Bina Madina.

Perpisahan memang menyedihkan, tapi dari perpisahan itulah, kita bisa memaknai sebuah pertemuan.
Tak hanya Mas Amay yang bersedih, Mama juga. Bahkan ketika hari minggu lalu Mama mewakili seluruh orang tua dan wali santri saat menerima kembali para santri, tak kuasa Mama membendung air mata ini. Tapi begitulah, air mata jadi bukti bahwa ikatan hati ini sedemikian kuat. Raga kita mungkin terpisah, tak lagi dalam satu ruang yang sama. Namun Mama yakin, hati kita masih ada di ruang yang sama. ❤☺

Dan untuk Mas Amay, jika Mas Amay sayang pada semua ustadzah, pergunakanlah ilmu yang Mas Amay dapat untuk hal-hal yang bermanfaat. Ibarat busur panah, ustadzah telah melepaskanmu dan membiarkanmu melesat. Mama, Papa dan para ustadzah tentu berharap, anak panah itu bisa menancap tepat di sasaran.

Jadi, tetap istiqomah. Cintai dan pelajari Al-Qur’an, karena Al-Qur’an adalah pedoman kita sebagai umat Islam.





Semangat berjuang, Nak. :*

2 comments:

  1. Semoga Mas Amay tercapai cita-citanya ya dan dimudahkan belajar di tempat yang baru nanti..^^

    ReplyDelete
  2. Selamat ya mas... Udah naik ke jenjang yang lebih tinggi..

    ReplyDelete