NHW #2 Bagaimana Menjadi Ibu Profesional Kebanggaan Keluarga?

by - February 11, 2019

Lewat tulisan minggu lalu, sudah tahu kan kalau Mama sekarang ini tergabung di Institut Ibu Profesional Solo Raya? Masih baru banget memang, Mama pun saat ini baru belajar di program Matrikulasi. Di Matrikulasi ini, setiap minggunya ada tugas yang harus dikerjakan. Nah, tugas minggu ini lumayan berat, karena tidak hanya melibatkan diri Mama sendiri, tetapi juga Papa, Mas Amay, dan Adek Aga.



Bagaimana menjadi ibu profesional kebanggaan keluarga? Itulah pertanyaannya.

Karena ada kata-kata “kebanggaan keluarga”, maka yang menjadi tolok ukur adalah papa, Mas Amay, dan Dek Aga. Di mata mereka, Mama ini kurang apa? Dan seharusnya Mama bersikap seperti apa sehari-harinya, agar peran sebagai “kebanggaan keluarga” bisa terwujud.

Paling mudah memang bertanya pada anak-anak, yaa... Untuk itu, Mama tanya pada Mas Amay dan Dek Aga terlebih dulu.

Mama ; Mas, menurut Mas Amay, Mama ini seperti apa?
Amay (jelang 8 tahun) ; Cantik
Duh, Mama langsung berbunga-bunga. Wkwkwk... Tapi sayangnya bukan jawaban seperti itu yang Mama butuhkan. Takutnya pas baca ini Mbak Fasil jadi gimanaaa gitu kan? Hihi... Oke, pertanyaannya diganti.
Mama ; Mas Amay nggak suka sama Mama kalau Mama lagi ngapain?
Amay ; Kalau pas marah.
Hehe, Mama jadi pengen tutup muka. Mama sangat menyadari kekurangan Mama yang satu ini, makanya di tugas pertama dulu, yang ingin Mama pelajari adalah ilmu tentang sabar. Okey, lanjut.
Mama ; Mas Amay suka sama Mama kalau Mama lagi ngapain?
Amay ; Pas Mama bahagia, Mas Amay suka.
Mama ; Emang kalau pas Mama marah, Mama gimana?
Amay ; Murung

Lanjut ke adek.
Mama ; Adek, adek sayang nggak sama Mama?
Aga ; Sayang lah... (pakai nada Upin Ipin)
Mama ; Adek suka sama Mama kalau Mama ngapain?
Aga ; Belajar (Ini mungkin maksudnya pas sama-sama baca buku, sama-sama belajar menulis, begitu. Usianya 4 tahun, dan dia baru akan masuk sekolah bulan Juli nanti, insya Allah)
Mama ; Adek paling sedih kalau Mama ngapain?
Aga ; Mayah. Mama jangan mayaaah....

Baiklah, artinya memang Mama harus berlatih untuk lebih sabar lagi yaa...

Biasanya Mama akan marah saat mereka berebut sesuatu. Dan seringnya, Mas Amay dan Dek Aga bertengkar saat Mama tidak fokus pada mereka. Jadi, yang harus Mama lakukan adalah; Menyelesaikan semua pekerjaan sebelum Mas Amay pulang sekolah. 

Pekerjaan yang menyita banyak waktu adalah mencuci, karena Mama mencuci pakaian secara manual. Dan biasanya, Mama mencuci 2-3 hari sekali. Jadi bisa dibayangkan yaa, cucian Mama sebanyak apa, dan membutuhkan waktu berapa lama untuk menyelesaikannya. Kadang malah, cucian sudah Mama rendam sejak pagi sebelum memasak. Tetapi karena biasanya setelah memasak badan sudah lelah (apalagi saat melihat bak cucian yang penuh begitu, secara psikologis Mama langsung merasa lelah), jadi rendaman cucian baru tersentuh sore harinya. Hoho...

Jadi, selama seminggu ke depan Mama akan mencoba cara ini

SMART

Spesifik ; Mencuci baju sedikit demi sedikit. Sekiranya Mama tidak terlalu lelah setelah memasak, Mama harus segera menyelesaikannya. Biasanya Mama malas-malasan, karena saat melihat bak cucian yang terisi penuh, rasanya sudah lelah saja. Hihi... Akhirnya mencucinya tanpa rasa ikhlas. 

Measurable (terukur) ; Mama akan mencoba mencuci 1 bak kecil setiap hari dalam 1 minggu ini, apakah hasilnya tampak atau tidak.

Achievable ; Insya Allah ini mudah. Mencuci sedikit demi sedikit, pekerjaan akan selesai sedikit demi sedikit. Daripada langsung mencuci banyak-banyak, tapi lelahnya juga banyak. :D

Realistic ; Mencuci baju sedikit demi sedikit, setiap hari, demi bisa menghasilkan waktu yang efektif untuk menemani anak-anak, realistis kan ya? :D

Timebond ; Mencuci maksimal 1 jam sehari (sudah termasuk menjemur). 

Semoga dengan mencuci setiap hari, waktu Mama untuk menemani anak-anak jadi lebih banyak. Aamiin...

Sekarang ke Papa... 

Agak sulit tanya-tanya soal ini sama Papa, apalagi beberapa hari ini Papa harus lembur karena beliau dan teman-temannya sedang mengerjakan sebuah sayembara yang deadline-nya adalah hari ini. Kalau pulang kantor, beliau sudah sangat capek, jadi ngobrolnya yang asik-asik aja. Hari Sabtu dan Minggu pun beliau ke kantor untuk menyelesaikan sayembara ini. Tapi demi tugas ini selesai tepat waktu, Mama WA saja lah. Supaya efektif. Hehe...




Dan itu dia jawabannya. Jangan kaget yaaa... Hihi...

Lalu apa yang akan Mama lakukan? Masalahnya adalah, ada dua anak laki-laki yang beranjak gede. Kalau Mama pakai baju seksi, lalu mereka melihatnya, bagaimana? Pakainya setelah mereka tidur? Nah, ini juga agak susah, karena jam tidur si bungsu ini lebih larut dari kakaknya. 

Tapi Mama akan coba deh. Nggak perlu dijabarkan lah ya, detailnya bagaimana, hihi... Takut dibaca anak-anak. Xixixi...

Hmmm, sudah. Akhirnya selesai juga tugas ke dua ini. Memang menjadi “ibu kebanggaan” itu jalannya tak semudah yang dibayangkan yaa.. Tapi kita tentu tidak boleh menyerah begitu saja. Harus mencoba mulai saat ini juga. 

You May Also Like

4 comments

  1. Smart bisa dipraktekkan nih. Kalau aku menyetrika Mak...beuuh. Tapi musim hujan gini rajin.


    Ups itu si Papa Amay.... Cieeee..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nyetrika sambil mencari kehangatan ya, Mak? Wkwkwk...

      Xixixi, butuh lingerie ini, Mak. :p

      Delete
  2. Astagfirullah.. aku bacanya sambil ngakak nih!

    ReplyDelete
    Replies
    1. wkwkwk, aku juga ngakak pas dijawab begitu. Ya Allah..

      Delete