Saturday, April 27, 2019

Ingin Anak Kita Secerdas Maudy Ayunda? Coba Lakukan Ini Setiap Hari!

April 27, 2019 5
Pernahkah membayangkan anak-anak kita nanti bisa secerdas Maudy Ayunda yang diperebutkan oleh Stanford dan Harvard University? Huwaaa, i just can’t imagine how proud i will be

Kalau sampai itu terjadi, tentu alhamdulillah sekali. Sebagai orang tua, pastinya kita punya mimpi besar untuk anak-anak kita, kan? Kita ingin agar mereka menjadi anak yang pintar dan cerdas sehingga mereka dapat mencapai apa yang mereka cita-citakan. 

Dari artikel yang saya baca, untuk memiliki anak-anak yang cerdas ternyata kita tak perlu mengeluarkan banyak uang, lho. Hayo, adakah yang sempat terpikir untuk memasukkan anak-anak ke bimbingan belajar yang mahal? Atau memenuhi waktu mereka dengan seabrek jadwal les di sana-sini?

No way, Ma! Kita, dengan tangan kita sendiri sesungguhnya dapat menghasilkan anak-anak yang cerdas. Asaaal, kita melakukan hal ini secara rutin. Jika kegiatan ini sudah menjadi “habitual action”, maka memiliki anak-anak yang cerdas tak lagi menjadi mimpi di siang bolong.

Apakah itu?

Jawabannya adalah mendongeng atau membacakan mereka buku.

Nah, Ma, jadikanlah kegiatan membaca ini sebagai rutinitas harian dengan anak-anak. Tak perlu terlalu lama, 10 – 15 menit sehari pun cukup. Bacakan buku untuk mereka, meski kelak mereka sudah bisa membacanya sendiri.

Manfaat Mendongeng untuk Anak
Mendongeng untuk Anak. Sumber Gambar: Pexels

Mengapa Harus dengan Membacakan Buku? 


Mengapa harus membaca buku? Karena sebuah penelitian menunjukkan bahwa membacakan buku pada anak-anak adalah kebiasaan kuat yang akan mengantar mereka menjadi anak-anak yang cerdas dan berkarakter positif.

Menjadi orang tua memang mengikat waktu kita. Kita tahu bahwa profesi ini menuntut waktu yang tak terbatas. Tak hanya selesai setelah mengandung anak-anak selama 9 bulan atau menyusui mereka sampai 2 tahun lamanya, tetapi semua itu berlanjut. Dengan cucian yang seakan tak ada habisnya, dengan “sibling rivalry” yang seringkali mengisi hari-hari, dengan PR si kakak yang cukup banyak, dengan menu masakan yang setiap hari menuntut variasi, dan lain-lainnya.

On and on and on.

Namun, jangan jadikan kesibukan tadi sebagai alasan untuk tidak melakukan rutinitas yang baik ini ya, Ma. Because, this is what happens when you read aloud to your child every day:

1. Membacakan buku dapat meningkatkan perbendaharaan kata pada anak-anak kita. 

Orang tua yang telah membacakan buku pada anak-anaknya sejak usia pra sekolah, sesungguhnya telah membantu anak-anak mereka dalam memahami pelajaran yang akan disampaikan oleh guru mereka di kelas saat sekolah nanti.

Tentu akan berbeda, jumlah kata yang dikuasai anak-anak yang sering dibacakan buku dengan yang tidak.

2. When you read aloud to your child every day, you grow your child’s brain, literally. 

Semakin banyak buku yang kita bacakan, semakin banyak neuron yang tumbuh dan terhubung di otaknya.

3. Dengan membacakan buku pada anak-anak, sesungguhnya kita sedang meningkatkan kemampuannya dalam mendengarkan dan berkonsentrasi. 

Dua hal ini tentu sangat penting saat mereka sekolah nanti. Membacakan buku juga dapat mengurangi kecenderungan agresif pada anak.

4. Kegiatan mendongeng yang dilakukan secara rutin, dapat membangun ikatan yang kuat antara ibu dan anak. 

Sulung saya, Mas Amay, bahkan masih ingat salah satu buku kesukaannya sewaktu balita dulu. Terkadang saat saya mengeluarkan kalimat, “Sudah sampai belum?” dia langsung teringat buku kesayangannya yang berjudul sama.

5. Membacakan buku dapat meningkatkan rasa empati pada anak. 

Ya, karena setiap buku mengandung cerita kehidupan yang berbeda-beda, kan? Membacakan berbagai macam buku cerita akan mengajarkannya untuk menjadi teman yang berempati, pandai melihat sesuatu dari berbagai sudut pandang, dan juga menjadikannya seseorang yang penuh kasih, yang ringan tangan membantu orang lain yang membutuhkan. 


Mengapa Kebiasaan Ini Sering Terlewatkan?


Sudah tahu manfaat membacakan buku bagi anak-anak, namun mengapa terkadang kita (saya khususnya), masih enggan meluangkan waktu untuk melakukannya? Nah, setidaknya ada 8 alasan mengapa kita belum terbiasa untuk mendongeng atau membacakan buku pada anak-anak. 8 alasan itu antara lain;

1. Maaf, Mama sibuk

Seperti yang sudah saya tulis di atas, terkadang cucian dan setrikaan yang menumpuk, menjadi beban yang harus segera diselesaikan. Pentingnya tumpukan pakaian itu bahkan mampu mengalahkan pentingnya menumbuhkan kedekatan dengan anak. 

Ya gimana ya, mungkin sudah naluri kita bahwa segala yang berantakan harus segera dibereskan. Tapi adakah solusi untuk “menyembuhkan” perasaan sok sibuk ini?

Di NHW 6 dengan materi Ibu Manajer Keluarga Handal, mahasiswi IIP sudah diajarkan untuk “put first thing first”. Ya, jika peran kita di rumah adalah sebagai istri/ibu, maka kewajiban kita yang pertama adalah untuk hadir sepenuhnya di hadapan mereka. Bukan di hadapan cucian, hehehe... 

Maka dari itu, semisal kita tidak sempat melakukannya, kita bisa mendelegasikan tugas kita ke laundry, misalnya.

Jadi sudah bisa memutuskan ya, lebih penting anak atau cucian, Ma? Hihi...

2. Anak saya sudah bisa baca sendiri kok.

Saya jadi ingin mengaku dosa. Setelah si sulung masuk SD, waktu saya dengannya menjadi semakin sedikit. Sepulang sekolah, urusan kami hanya sebatas mengulang hafalan dan mengerjakan PR. Membacakan buku menjadi sebuah kegiatan mewah, artinya, tidak setiap hari kami bisa melakukannya bersama. Padahal, semakin tinggi usia anak, ia membutuhkan bacaan yang semakin bervariasi. 

“Tapi kan, dia bisa baca sendiri?”

Ya betul. Namun, keterampilan membaca dan mendengarkan mulai menyatu di sekitar kelas delapan. Sampai usia itu, anak-anak biasanya lebih banyak memahami sesuatu dari apa yang mereka dengarkan daripada yang mereka baca. Oleh karena itu, anak-anak dapat mendengar dan memahami cerita yang lebih rumit dan lebih menarik daripada apa yang dapat mereka baca sendiri.

Nah, mumpung Mas Amay masih kelas 2 SD, Mama Kepiting harus mulai merutinkan kembali kebiasaan yang hilang. Semoga Mama selalu ingat bahwa anak yang lebih besar pun masih suka dibacakan, meskipun ia tidak mengatakannya!

Menumbuhkan Kecintaan Pada Buku
Membaca Buku, Sumber Gambar; Pexels


3. Saya paling males baca keras-keras

Ini penyebabnya mungkin antara dua; memang Mama tidak menyukai buku, atau karena Mama tidak suka membaca dengan keras. 

Memang membaca dengan keras membutuhkan keterampilan. Apalagi jika yang dibaca adalah buku anak-anak yang ekspresif. Tapi ini kan dilakukan di rumah, Ma. Jadi nggak usah malu lah, hihi..

Lagi pula, membaca dengan keras bukanlah tentang kemampuan untuk tampil. Ini tentang hubungan atau bonding dengan anak-anak, karena kedekatan fisik dan ikatan emosional yang terlibat dalam kegiatan ini. Membaca dengan keras adalah sesuatu yang anak-anak sebut sebagai kegiatan favorit mereka untuk dilakukan dengan orang tua mereka.

Jadi, yuk mulai dari sekarang. Pilihlah buku yang paling menarik yang Mama ingin bacakan. Oya, sekalian promosi, saya juga jualan buku anak-anak lho! Xixixi... 

4. Anakku nggak mau anteng

Ini saya alami sendiri. Anak pertama dan kedua saya memiliki karakter yang sangat berbeda. Si sulung lebih bisa tenang dan memiliki rentang konsentrasi yang cukup panjang, sementara si kecil tidak terlalu suka mendengarkan. Ternyata, ini berpengaruh pula pada kemampuan mereka dalam berkomunikasi.

Menyadari hal itu, saya tetap membacakan untuknya, meski kadang ia pergi meninggalkan mamanya. Hiks... Saya pun tetap mencarikan buku paling menarik, yang kira-kira akan disukainya. Dengan kebiasaan membaca keras setiap hari, ia pun belajar cara mendengarkan. Belakangan, ia meminta saya untuk membacakan buku kesayangannya.

Ingatlah bahwa ketika kita membaca dengan keras, sesungguhnya kita juga sedang meningkatkan kemampuan anak-anak untuk memperhatikan dan berkonsentrasi – keterampilan ini yang akan membantu anak-anak di sekolah dan dalam kehidupan di luar sekolah.

5. Saya lelah...

Pekerjaan sebagai ibu rumah tangga yang sekolah tak ada habisnya, terkadang menguras energi kita. Setuju kan, Ma? Efeknya, saat malam tiba kita sudah tak berdaya, dan ingin cepat-cepat tidur. Akhirnya, kegiatan membacakan buku sebelum tidur pun ditinggalkan. Lagi dan lagi.

Nah, bagaimana jika sekarang kita ubah jadwalnya?  Coba lakukan kegiatan membaca ini lebih awal dari biasanya. Misalnya saat sarapan, atau saat bersantai di sore hari. Atau bisa juga saat jelang tidur siang.

6. Usia anak saya jauh berbeda

Ya, perbedaan usia anak yang cukup jauh juga bisa menjadi pemicu malasnya membaca. Mau baca untuk si sulung, adiknya ribut minta dibacakan juga, dan begitu pula sebaliknya. Hihi... 

Lalu bagaimana cara mengatasinya? Bedakan jadwal membaca untuk mereka. Karena anak kedua saya belum sekolah, jadi saya biasa membaca untuknya saat si Mas pergi sekolah. Untuk si sulung, biasanya kami membaca bersama setelah sholat maghrib dan mengaji.

7. Anakku sering menyela... Di setiap halaman. Dan itu bikin males.

Tidak ada orang yang suka diganggu, memang. Termasuk saat membaca, yang sebenarnya tujuan awal kegiatan ini adalah untuk mereka. Tapi ternyata jika kita mau bersabar dan memahami mereka, sesungguhnya apa yang mereka lakukan ini adalah bagian dari proses belajar. Terlebih jika kemudian terjadi diskusi tentang buku ini. Wow!

Jadi, jika pertanyaan anak adalah tentang cerita itu sendiri, silakan jawab langsung karena mungkin saja ia tidak sepenuhnya memahami apa yang terjadi dan itulah mengapa dia bertanya. Namun jika pertanyaannya tidak berhubungan dengan isi buku yang sedang dibacakan, katakan, “Ooh, pertanyaan yang bagus. Nanti kita bahas setelah selesai baca buku ini, yaa...”

8. Baca buku yang sama berkali-kali itu membosankan

Iya, benar. :D

Namun sayangnya kita memang harus terus melakukannya, karena saat anak-anak mendengar kosakata yang sama secara berulang-ulang, hal ini akan semakin menguatkan pemahamannya terhadap kata tersebut. Jadi, bersabarlah, Ma. 

Jika Mama memang sudah telanjur bosan sementara anak kita maunya buku itu-itu saja, coba singkirkan buku itu dari pandangan mereka. Selanjutnya, cari buku pengganti yang lebih menarik lagi. Bila perlu, saat membeli buku baru, ajak anak untuk memilih buku yang disukainya.




Nah Ma, mari kita sama-sama berusaha untuk konsisten membacakan buku untuk anak-anak agar mereka bisa tumbuh menjadi anak yang cerdas dan berperilaku baik. Siapa tahu, mereka bisa tumbuh menjadi secerdas Maudy Ayunda, ya kan? Aamiin. 10-15 menit sehari saja, cukup bagi mereka. Kelak, mereka akan mengingat ini sebagai pengalaman terbaik di masa kecil. Selamat memilih buku dan membacakannya untuk anak-anak, Ma!


Monday, April 1, 2019

NHW #9, Bunda Sebagai Agen Perubahan

April 01, 2019 0
Waktu begitu cepat berlalu, dan pada akhirnya kami sampai di sini. Mahasiswi Institut Ibu Profesional batch 7, minggu ini menghadapi NHW terakhir, yaitu NHW #9. Meski selama 3 bulan ini Mama tak terlalu aktif di grup, dan seringkali mengerjakan tugas mingguan dengan terburu-buru sehingga hasilnya kurang maksimal, namun tetap saja Mama merasa sedih dan kehilangan.

Tapi seperti kata orang bijak, cara kita melihat apakah kita cocok dengan seseorang atau tidak, yaitu ketika kita merasa lupa waktu. Dan ya, minggu demi minggu, hari demi hari yang kami lewatkan dengan obrolan seru, membuat kami benar-benar lupa waktu. Sampai kemudian kami tersadar, yah, ini adalah tugas terakhir, sebelum kami dinyatakan lulus atau tidak.

NHW #9 ini, merupakan tindak lanjut seusai pencarian jati diri. Jika di NHW #8 kemarin kita sudah menentukan Misi Hidup dan Produktivitas, kali ini kita diarahkan untuk menjadi agen perubahan.

Change Maker, source; youtube.com

Kedengarannya koq wow banget yaa.. Agen Perubahan, gitu lho! Tapi kembali lagi ke fitrah kita sebagai manusia. Manusia yang bermanfaat adalah manusia yang menjalankan kehidupan sesuai dengan fitrahnya.

Jadi, jika kita sudah menemukan passion (ketertarikan minat) ada di ranah mana, mulailah melihat isu sosial di sekitar kita, lalu belajarlah untuk membuat solusi terbaik di keluarga dan masyarakat.

Karena ketertarikan Mama ada di dunia tulis-menulis, Mama buat seperti ini;




Social Venture adalah suatu usaha yang didirikan oleh seorang social entrepreneur baik secara individu maupun organisasi yang bertujuan untuk memberikan solusi sistemik untuk mencapai tujuan sosial yang berkelanjutan. Sedangkan social entrepreneur adalah orang yang menyelesaikan isu sosial di sekitarnya menggunakan kemampuan entrepreneur.

Untuk membuat perubahan di masyarakat, kita bisa mengawalinya dari rasa empati. Dan untuk membuat usaha yang berkelanjutan, kita bisa mengawalinya dengan menemukan passion, dan menjadi orang yang merdeka menentukan nasib hidupnya sendiri. Jika kita bisa menyelesaikan permasalahan sosial di sekitar kita dengan kemampuan entrepreneur yang kita miliki, kita tak perlu lagi menunggu dana dari luar untuk melakukan perubahan, karena modal sesungguhnya cukup dengan tekad kuat dari dalam hati.

Nah, Mama punya mimpi, kesadaran literasi di sekitar kita meningkat. Jika kesadaran literasi meningkat, kita tak akan mudah dibohongi. Kita pun akan semakin pandai dalam mencari informasi, menganalisa, menemukan, sehingga informasi yang terdistribusi adalah informasi yang benar, bukan hoaks semata.

Untuk mengawali kampanye literasi digital ini, Mama dan teman-teman Mama di KEB Solo, akan mengadakan kelas blogging untuk pemula dalam waktu dekat. Semoga kelak semakin banyak blogger yang menghasilkan karya-karya inspiratif, yang bisa mendorong masyarakat untuk menggunakan internet secara lebih bijak.


Quote about Change Maker by Mahatma Gandi


Monday, March 25, 2019

NHW #8 ; Misi Hidup dan Produktivitas

March 25, 2019 0
Jika minggu lalu di NHW #7 kita sudah belajar tentang "Ikhtiar Menjemput Rezeki" dengan "Kenali Diri, Bangkitkan Potensi", di NHW #8 kali ini kita akan belajar tentang "Misi Hidup dan Produktivitas".

NHW #8, Misi Hidup dan Produktivitas

Secara kebetulan, hari Sabtu kemarin Mama dan Mas Amay terlibat obrolan seru. Mas Amay yang tanggal 16 Maret kemarin berulang tahun ke delapan, Mama ajak bicara dari hati ke hati. Obrolan ini bermula saat kami membahas seorang temannya yang sudah berhari-hari mogok sekolah. Mengapa temannya itu tidak mau sekolah? Bagaimana hal itu membuat ibunya sangat sedih? Sampai kemudian kami membahas tentang cita-cita, bagaimana agar bisa mewujudkannya? Mengapa Allah mengaruniai kita otak untuk berpikir, tangan untuk bekerja, dan hati untuk merasa?

Dalam banget. Terlebih sehari sebelumnya, yaitu hari Jumat, Mas Amay menerima rapor mid semester. Jujur, Mama bersyukur dengan apa yang Mas Amay dapatkan. Tapi Mama lebih bahagia saat Bu Husna berkata bahwa Mas Amay senang menggambar, dan di kelas, Mas Amay sering menggambarkan sesuatu untuk teman-teman.

Mama bahagia, karena Mama melihat ada binar-binar di mata Mas Amay saat Mas Amay menggambar. Insya Allah ke depannya kita akan lebih mudah berjalan, karena titik cahaya itu sudah kelihatan.

Saat Mama bertanya tentang cita-cita, jawaban Mas Amay ada dua. "Mas Amay mau jadi arsitek kayak papa, terus mau menulis buku juga."

Bismillah ya, Nak...

Untuk buku, tahun lalu Mas Amay sudah membuat satu judul buku. Insya Allah tahun ini kita buat lagi ya. Oya, ini cerita tentang buku Mas Amay : Mas Amay Belajar Berbagi; Jual Buku untuk Korban Gempa Lombok, Palu dan Donggala.

Buku Pertama Mas Amay

Mama hanya bisa berdoa dan memberi support. Semoga Mas Amay bisa istiqomah di jalan yang sudah Allah tunjukkan. Mas Amay harus bersyukur, karena setidaknya Mas Amay sudah punya mimpi di usia ini. Mama, harus mencari dan menemukannya di usia yang tak lagi muda.

Mas Amay harus bersyukur, Mama dan Papa selalu support kegiatan Mas Amay. Mama, dulu berada di kondisi yang sangat terbatas. Jangankan untuk mengasah potensi, untuk membeli buku bacaan saja, Akung dan Uti kesulitan.

Tapi alhamdulillah, kini semua sudah terlewati.

Sekarang, jika Mama ditanya;

A. Apakah ada ranah aktivitas yang sesuai dengan kuadran SUKA dan BISA, seperti yang tertulis di NHW #7?

Alhamdulillah, apa yang Mama lakukan pada hari ini, sudah sesuai dengan potensi yang Mama miliki. Ya, Mama akhirnya benar-benar kecemplung di dunia tulis-menulis, dunia yang Mama impikan, sejak tahun 2013. 

Namun, meski sudah berjalan 6 tahun lamanya, Mama masih harus banyak belajar untuk menjadi seorang Blogger Profesional.

B. Tentang "Be, Do, Have"

1. Mental seperti apa yang harus dimiliki untuk menjadi seorang blogger profesional?
Menurut Mama, seorang Blogger Profesional itu;

- Rendah Hati. Seperti ilmu padi, makin berisi makin merunduk, seperti itulah Blogger Profesional. Seperti Mak Carolina Ratri yang rajin berbagi ilmu ngeblog di blognya, atau seperti almarhum CumiLebay yang sering berkunjung ke blog-blog, tanpa melihat apakah blogger ini terkenal atau tidak.

- Haus Ilmu. Teknologi semakin berkembang, dan tentu, ini berpengaruh juga terhadap dunia per-blogging-an. Jangan pernah merasa puas, atau kau akan terlindas. Belajar lagi, belajar lagi, belajar lagi, karena di luar sana jumlah blogger atau penulis akan semakin banyak.

- Punya Value. Yap! Kata orang, profesi blogger semakin wangi. Mulai banyak brand yang menggunakan jasa blogger untuk mengiklankan produknya. Namun, seorang Blogger Profesional tidak gebyah uyah. Blogger Profesional tidak hanya mengejar materi saja. Blogger Profesional adalah blogger yang mengutamakan profesionalisme dalam berkarya. Untuk itu, blogger profesional harus mampu memilah dan memilih pekerjaan yang sesuai dengan hati nuraninya. Seperti pesan Ibu Septi Peni, "Rejeki itu pasti, Kemuliaan yang harus dicari."

2. Apa yang harus Mama lakukan untuk menjadi Blogger Profesional?

Belajar. Seperti yang sudah Mama tulis di NHW #5; Learning How to Learn,

- Mama harus selalu memperbaiki tulisan
- Mama harus bisa menaklukkan sebuah lomba
- Belajar tentang coding, SEO, juga tentang adsense

3. Apa yang akan Mama lakukan apabila Mama sudah memiliki apa yang Mama harapkan?

Seperti poin nomor 1 tadi, Mama harus tetap rendah hati, tidak pelit ilmu, sekaligus tetap belajar agar tidak tergilas perkembangan zaman. Satu lagi, Mama harus tetap punya value. 

C. Tentang 3 aspek dimensi

1. Apa yang ingin dicapai dalam kurun waktu kehidupan kita?
Mama ingin tetap berada di jalan-Nya, semakin baik dari waktu ke waktu, bisa memberikan manfaat untuk diri sendiri, untuk keluarga, dan untuk lingkungan sekitar.

2. Apa yang ingin dicapai dalam waktu 5-10 tahun ke depan?
Ingin sekali dari hasil menulis, bisa ditabung untuk memberangkatkan Akung menunaikan rukun islam ke 5.

3. Apa yang ingin dicapai dalam kurun waktu satu tahun?
Ingin sekali bisa memenangkan lomba blog, dan bisa memberangkatkan Akung umroh. Siapa tahu nanti ada lomba blog berhadiah umroh, ya kan? Jika menang, hadiahnya akan Mama berikan untuk Akung.

Mohon doanya semoga impian-impian Mama bisa tercapai ya... Aamiin YRA.

Ya, lebih dari itu, Mama ingin bisa mendampingi Mas Amay dan Dek Aga untuk mengejar cita-cita, memberi manfaat untuk banyak orang. Semoga Mama, Papa, Akung, Mas Amay dan Dek Aga, senantiasa diberi kesehatan dan keselamatan agar bisa beribadah dengan baik. Semoga kita selalu berada dalam penjagaan-Nya. Aamiin YRA. 





Monday, March 18, 2019

NHW #7 ; Kenali Diri, Bangkitkan Potensi

March 18, 2019 1
"Before you can successfully make friends with others, first you have to become your own friend." Stephen Richards 
Suatu hari Mama menemukan motivational quotes di atas, dan kalimat itu benar-benar membuat Mama merenung. Ya, sebelum bisa berteman dengan orang lain, pertama-tama kita harus bisa berteman dengan diri kita sendiri. Berteman dengan diri sendiri, artinya kita mampu mengenali diri sendiri, baik kelemahan maupun potensi yang dimiliki. Berteman dengan diri sendiri juga berarti mengetahui hal-hal yang kita sukai dan yang tak kita sukai. 

Menjadi mahasiswi di Institut Ibu Profesional, Mama semakin akrab dengan pesan Bu Septi Peni, yaitu, "Meninggikan gunung dan bukan meratakan lembah." Ini lagi-lagi membuat Mama manggut-manggut. Oiya ya, kenapa kita harus repot-repot menjadi orang lain dengan 'meratakan lembah'? Kenapa kita tidak menonjolkan kemampuan kita saja? Jadi diri sendiri itu lebih membuat kita nyaman, ya kan?

Bersyukur di NHW #7 ini, kami para mahasiswi, diajak untuk menyelami diri sendiri. Jangan salah, menguliti diri sendiri ternyata tidak lebih mudah dari menilai pribadi orang lain, lho, hihi... Makanya ada peribahasa yang mengatakan, gajah di pelupuk mata tak tampak, semut di seberang lautan tampak.

Buya Hamka bahkan berkata, "Mengenal diri sendiri jauh lebih sukar daripada ingin mengetahui kepribadian orang lain, sebab itu, kenalilah dirimu sendiri sebelum mengenal pribadi orang lain."

Beruntung, IIP mendapatkan izin untuk menggunakan tools temuan Abah Rama Royani, seorang yang sering menjadi guru tamu di komunitas Ibu Profesional. Tools tersebut beralamat di www.temubakat.com

Setelah mencoba tools tersebut, hasil yang Mama dapatkan adalah sebagai berikut;


ARINTA ADININGTYAS, anda adalah orang yang senang mengkomunikasikan sesuatu yang sederhana menjadi menarik, analitis, teliti & suka mengumpulkan informasi, senang mempelajari latar belakang, senang olah pikir, menyendiri, analitis dan senang berkomunikasi, senang mengkomunikasi ideanya, suka mengumpulkan berbagai informasi atau literatur. 

Ternyata, potensi Mama Kepiting adalah sebagai communicator, evaluator, explorer, interpreter, dan journalist

Apa iya sih? Memang, hasil tesnya bisa berubah-ubah, tergantung mood. Tapi, di sana kita diberikan beberapa pilihan, mana yang paling cocok sampai dengan yang paling tidak cocok dengan karakter kita.

Mama Kepiting tentu tidak cocok menjadi operator atau producer, karena memang Mama Kepiting kurang terampil dalam membuat atau mengoperasikan sesuatu. Misalnya, menjahit baju atau membuat menu makanan baru. Duh, Mama tidak mampu.

Selain itu, Mama akui, Mama bukan marketer yang baik. Iya, selama ini, Mama memang mencoba menjadi reseller dan marketer buku-buku anak. Tapi, tujuan dari berjualan buku itu bukan untuk menjadi kaya atau banyak uang. Mama ikut memasarkan buku hanya agar bisa memiliki buku untuk Mas Amay dan Dek Aga, tanpa harus kehilangan banyak uang, hehe.. Kan kalau jadi reseller atau marketer, diskonnya lebih banyak. Dengan mengumpulkan teman-teman Mama yang ingin membeli buku itu juga, setidaknya Mama bisa mendapatkan buku incaran Mama dengan harga lebih murah, syukur-syukur dapat gratis. Hehe... 

Lalu, apakah benar potensi terbesar Mama adalah sebagai communicator, evaluator, explorer, interpreter, dan journalist?

Mama belum pernah menggali potensi sebagai evaluator, explorer, dan interpreter sih. Namun sebagai communicator, Mama memang sebenarnya suka tampil di depan umum. Hanya saja, permasalahan utama yang dulu Mama hadapi adalah soal ketidakpercayaan diri.

Sampai suatu hari, saat diadakan seminar parenting di TK Mas Amay, Mama diminta untuk menjadi moderator. Meski deg-degan pada awalnya, namun alhamdulillah, Mama bisa membuktikan pada diri sendiri bahwa Mama bisa melakukannya.



Lanjut soal potensi menjadi journalist. Ya, meski mungkin bukan sebagai jurnalis profesional, tapi setidaknya sudah terlihat bahwa Mama memiliki dua blog sebagai tempat menuangkan isi hati dan isi kepala. Anggap saja ini berkaitan dengan potensi sebagai journalist yaa, hehe... 

Alhamdulillah, so far hasil tesnya tidak terlalu jauh dari karakter Mama selama ini.

Baiklah, setelah mencoba mengenali potensi diri melalui www.temubakat.com, kemudian mengkonfirmasi ulang apakah Mama benar-benar seperti hasil tes itu, Mama kemudian bisa memetakan hal apa saja yang Mama suka dan Mama bisa, Mama suka namun Mama tak bisa, Mama tak suka namun Mama bisa, dan yang Mama tak suka dan tak bisa.

Suka dan Bisa
- Menulis
- Berbicara di depan banyak orang/anak
- Memotivasi orang lain untuk melakukan sesuatu

Suka, namun Tidak Bisa
- Bermain Musik
- Menggambar / Mendesain 

Tak Suka, namun Bisa
- Memasak
- Bersih-bersih rumah

Tak Suka dan Tak Bisa
- Menjahit
- Crafting

Sebagai penutup, Mama petik sebuah kalimat, yang mungkin nanti berguna untuk Mas Amay, Dek Aga, dan yang lainnya.
Before anything else, find yourself, be yourself and love yourself. 



Monday, March 11, 2019

NHW #6; Ibu Manajer Keluarga Handal

March 11, 2019 0
Memasuki NHW #6, kali ini Mama belajar tentang bagaimana menjadi manajer andal. Jika Ibu Septi Peni mempunyai program menjadikan pakaian "daster" bagi ibu-ibu hanya dipakai dari Subuh sampai pukul tujuh pagi, di mana saat berdaster itu merupakan waktu untuk mengerjakan pekerjaan rutin di rumah, berbeda dengan Mama. Mama lebih suka menggunakan daster sepanjang hari, karena mayoritas waktu Mama memang berada di ranah domestik ini.

Ibu Septi, setelah jam tujuh pagi, berganti pakaian yang lebih rapi, dan beliau siap mendidik anak-anaknya dan bermain total bersama mereka. Ya, kalau Mama tidak salah, Bu Septi mendidik sendiri putra-putrinya di rumah, atau bisa disebut homeschooling. Setelah pukul tujuh malam, beliau berdaster kembali.

Program ini dikenal dengan nama '7 to 7' dan sekarang menjadi program andalan di Institut Ibu Profesional.

Dulu Ibu septi membuat program 7 to 7 tujuannya agar bisa bertindak sebagai ibu profesional dengan adanya jam kerja. Dalam mendidik anak, beliau berpenampilan rapi selayaknya guru yang mengajar sejak jam 7 pagi hingga jam 7 malam. Intinya beliau belajar menghargai diri bahwa ibu rumah tangga juga sebuah profesi yang bisa dikerjakan secara profesional, bisa dandan cantik dan modis di jam tersebut.

Mengapa Mama tidak menirunya? Karena Mama lebih nyaman "bekerja" dengan daster, hehe.. Pun, Mas Amay dan Dek Aga tidak menjalani homeschooling. Jadi kelak, saat Dek Aga sudah resmi menjadi anak TK, waktu Mama untuk "menyendiri" dengan tugas-tugas domestik insya Allah akan lebih panjang.

Nah, maka dari itu, saat ada materi tentang kandang waktu, Mama mengumpamakan saat Dek Aga sekolah nanti. Toh, insya Allah tinggal beberapa bulan lagi.

Dan karena rata-rata waktu sekolah Dek Aga adalah sejak pukul 7:30 sampai pukul 12 siang, maka kandang waktu Mama adalah sebagai berikut :

Jam 5 - 7 pagi, Mama menjadi koki dan "qyu-si". Apa itu qyu-si? Hihi.. Itu maksudnya QC alias Quality Control. Setelah menyiapkan sarapan pagi, Mama harus mengecek keperluan Mas Amay dan Dek Aga, juga keperluan Papa sebelum mereka berangkat.

Jam 7 - 11 siang, waktunya memasak untuk sehari, mencuci, menyapu dan mengepel. Mama harus menyelesaikan tugas ini dalam waktu 4 jam. Bisa? Harus bisa. Kalaupun terpaksa belum selesai, Mama boleh menundanya keesokan hari.

Di IIP, ada kandang waktu yang bersifat dinamis, atau bisa disesuaikan dengan kebutuhan. Nah, untuk tugas domestik seperti ini, Mama harus menetapkan prioritas juga.

Di antara 4 hal yang harus Mama kerjakan di 4 jam ini, yaitu memasak, mencuci, menyapu dan mengepel, yang paling wajib adalah memasak. Mengapa? Setidaknya ada 2 alasan;

1. Tidak memasak, artinya boros. Sedangkan Mama harus pandai mengatur keuangan keluarga juga. Ya kan? Jika salah perhitungan, khawatirnya akan mempengaruhi kebutuhan lainnya.
2. Memasak supaya gizi keluarga terjamin.

Untuk mencuci, menyapu, dan mengepel, jika Mama tak sempat, maka akan dilakukan sesempatnya. :)

Jam 11-1 siang, waktu Mama untuk menulis. Menulis sekenanya. Menulis sedapatnya. 

Mengapa Mama membuat kandang waktu menulis di jam ini? Jam 11, Mama harus berhenti dari mengerjakan pekerjaan domestik. Dan jam 1, adalah waktu sebelum anak-anak pulang sekolah. Jika anak-anak pulang lebih cepat, Mama akan mengurangi waktu untuk menulis ini.


Kandang Waktu Mama Kepiting


Jam 1-8 malam, waktu Mama akan tercurah untuk anak-anak, dan untuk papa. Ini waktu untuk menemani mereka bermain dan belajar. Jika diperlukan, waktunya akan Mama tambah.

Before Bedtime, Mama akan melanjutkan kegiatan menulis, membuat desain postingan untuk sosial media, dan hal-hal lain yang berkaitan dengan kegiatan mama sebagai Mom Blogger.

Ya, itulah jadwal yang telah Mama susun, setidaknya untuk hari Senin-Jumat, saat anak-anak dan papa punya kegiatan di luar rumah. Terkhusus untuk hari Kamis, Mama harus menyediakan waktu menjadi Makmin di WA Grup Kumpulan Emak Blogger, karena hari itu adalah jadwal drop link blog walking.

Untuk weekend atau Sabtu dan Minggu, jika tidak mudik dan tidak ada acara dengan komunitas menulis baik itu IIDN maupun KEB, maka Mama akan menggunakan waktu untuk having fun bersama keluarga, plus, menyetrika. Hehe..

Do'akan semoga Mama bisa mematuhi jadwal yang Mama buat sendiri ini yaaa... Selamat me-manage waktu untuk keluarga juga ya, Ma..


Tuesday, March 5, 2019

Waspadai 6 Penyakit yang Biasa Muncul di Musim Hujan! SIPOPO Bisa Dijadikan Andalan.


Penyakit memang bisa muncul kapan saja. Namun, di musim hujan, ada 6 penyakit yang sering menjangkit. Tulisan di bawah ini adalah review jujur Mama tentang produk Essential Oil dari SIPOPO, setelah Mama mencoba produknya kurang lebih 2 minggu terakhir. Mungkin teman-teman Mama bisa mencobanya juga, agar kita dan keluarga sehat senantiasa.




Waktu paket dari SIPOPO datang, Mama langsung takjub dibuatnya. Paket dibungkus sangat rapi, dan sangat mengutamakan keamanan. Ada beberapa lapis bubble wrap untuk membungkus produk essential oil ini.

Mengapa Mama tertarik untuk mencobanya? Seperti yang Mama tulis di paragraf pembuka di atas, penyakit memang bisa datang kapan saja. Terlebih lagi di musim hujan seperti sekarang ini. Setidaknya ada 6 penyakit yang mesti kita waspadai.

1. Influenza

Ini Mama alami beberapa minggu lalu, saat Mama disibukkan dengan persiapan gelaran Event Collaboration KEB dan Wardah di The Alana Hotel, Solo. Tiga hari sebelum acara, mata Mama berair terus. Badan panas, tulang-tulang terasa linu. Memang gejalanya seperti itu. Penyakit yang disebabkan oleh virus influenza ini bisa menyebar melalui batuk, bersin, atau dari sentuhan dengan benda-benda yang sudah terkontaminasi.

Meski flu adalah penyakit umum dan biasanya bisa sembuh dengan sendirinya, namun kita harus tetap waspada, karena influenza bisa berkomplikasi menjadi pneumonia atau yang lebih dikenal dengan istilah paru-paru basah. Na'udzubilah min dzalik ya, Ma...

2. Diare

Awal Februari lalu, Aga juga terserang diare. Kasihan sekali, karena dia yang biasanya minta makan berkali-kali, mendadak jadi tak mau makan apa-apa. Seharian mengeluh sakit perut, hingga empat kali pup. Aga juga muntah beberapa kali. Di kasur Mama, di kasur kamar depan, juga di gendongan Mama.

Mama sedih sekali. Tapi alhamdulillah, esoknya dia ceria kembali. Ia sudah mau minum susu hangat (sebelumnya ia menolak, mungkin karena enek dan ingin muntah, yaa), dan makan beberapa suap. Alhamdulillah...

3. Demam Tifoid (Tifus)

Penyakit yang disebabkan oleh bakteri Salmonella Typhosa ini ditandai dengan gejala demam tinggi, 39° C sampai 40° C, tubuh menggigil, denyut jantung lemah, badan lemah, sakit kepala yang hebat, nyeri otot, kehilangan nafsu makan, konstipasi, dan sakit perut. Biasanya, penyakit ini ditularkan melalui makanan dan minuman yang telah tercemar oleh tinja. 


Untuk terhindar dari penyakit ini, beri edukasi pada anak-anak agar tidak jajan sembarangan ya, Ma...

4. Demam Berdarah

Om Naufal, akhir tahun lalu, terkena Demam Berdarah. Bahkan kata Tante Fira, di Bogor penyakit ini sudah menjadi KLB. Beberapa orang meninggal dunia karenanya. Ya Allah... Penyakit ini disebabkan oleh nyamuk Aedes Aegypti dan Aedes Albopictus (Nyamuk Harimau Asia). 

Makanya, Mama suka memakaikan minyak telon yang mengandung citronella pada Mas Amay dan Dek Aga, karena nyamuk tidak menyukai wanginya.


5. Leptospirosis 

Penyakit yang sering disebut penyakit kencing tikus ini juga mengerikan, karena juga bisa menyebabkan kematian. Meski nama lainnya adalah penyakit kencing tikus, tapi ternyata penyebabnya bisa dari sapi, anjing, babi, reptil dan hewan amfibi, serta hewan pengerat lainnya.

6. Penyakit Kulit

Penyebabnya tentu saja karena udara yang lembab, yang menyebabkan jamur tumbuh dengan subur. Gejalanya mulai dari gatal-gatal kemerahan, hingga rasa perih saat disentuh. 


JAGA KESEHATAN, YUK...

Nah, Ma... Tentu kita ingin dijauhkan dari 6 penyakit di atas kan? Untuk itu, beberapa cara yang bisa kita lakukan adalah dengan menjaga kesehatan semaksimal mungkin. Olahraga, makan makanan yang bergizi, banyak minum air putih, dan istirahatlah yang cukup.

Satu lagi, sedia SIPOPO di rumah, yaa...

essential oil dari Sipopo

Pertama kali mencoba SIPOPO ini adalah saat hari Sabtu malam, tanggal 23 Februari yang lalu, Mas Amay muntah-muntah. Mama menduga, Mas Amay muntah-muntah karena terlalu banyak makan cokelat waktu siang. Kebetulan hari itu Mama ketempatan arisan, dan karena ini adalah arisan teman TK Mas Amay, jadi Mama menyediakan banyak cokelat dan makanan kecil lainnya.

Tak tahunya, malam-malam Mas Amay mengeluh sakit perut dan muntah berkali-kali, sampai-sampai Mama kurang tidur jadinya.

Tepat jam setengah satu malam, Mas Amay yang sebenarnya tidurnya kurang nyenyak karena sakit perut, tiba-tiba berlari ke kamar mandi. Dia muntah lagi di kloset. Saat itu Mama baru ingat kalau Mama punya SIPOPO.

Sebenarnya SIPOPO yang Mama miliki ini untuk strong immune atau kekuatan imun. Tapi tak apalah dicoba. Mama mencampurkan sesendok makan VCO dengan tiga tetes SIPOPO. Setelah itu, Mama oleskan minyak itu ke perut, tengkuk, telinga, dan telapak kaki Mas Amay. 

Hasilnya? Mas Amay bisa tidur nyenyak dan tidak lagi muntah. Mama masih belum bisa memastikan, apakah itu karena Mas Amay memang sudah tidak ingin muntah ataukah karena SIPOPO ini. Mari kita lihat besok pagi.

Dan esok harinya, alhamdulillah apa yang Mama khawatirkan tidak terjadi. Tadinya Mama mengira Mas Amay akan demam atau radang, tapi alhamdulillah Mas Amay bangun dengan ceria.

Mama bohong ah... 

Tidak. Mama selalu menjunjung tinggi sebuah kejujuran, jadi mana mungkin Mama akan tega membohongi teman-teman Mama Kepiting? 

Essential Oil dari SIPOPO

Sejak hari itu, tiap malam Mama mengoleskan minyak SIPOPO untuk Mas Amay dan Dek Aga. Sebenarnya SIPOPO adalah produk essential oil yang diformulasikan khusus untuk anak-anak. SIPOPO ini obat luar, sangat membantu jika anak-anak kita tak suka obat. Tapi karena Mama suka baunya, jadi Mama dan Papa juga pakai, hehe...

Papa pernah bilang, "Baunya kayak minyak cengkeh." Mama yang tidak pernah mencium bau minyak cengkeh pun tak percaya.

"Masa?" tanya Mama.

"Iya. Dulu waktu di Paninggaran (Pekalongan), kan banyak yang bikin minyak cengkeh." Oh, oke deh. Percaya aja sama Papa. Papa kan nggak cuma setahun dua tahun tinggal di sana.

Dan setelah Mama search di  website SIPOPO di https://sipopo.id/ ternyata benar, komposisi SIPOPO varian Strong Immune antara lain, Clove (cengkeh), Lemon dan Tea Tree Oil

Tahu nggak sih, ternyata cengkeh ini punya banyak manfaat, lho. 

1. Cengkeh dapat melindungi tubuh dari kanker. Cengkeh diperkaya dengan antioksidan eugenol yang dapat melawan radikal bebas dalam tubuh.
2. Cengkeh dapat membunuh bakteri penyebab penyakit.
3. Cengkeh dapat meningkatkan kesehatan hati.
4. Cengkeh dapan menjaga kesehatan tulang.
5. Cengkeh dapat mengobati sakit maag
6. Cengkeh dapat mengendalikan kadar gula daram darah.

Wah, ternyata banyak sekali manfaatnya, yaa...

Oya, tak hanya "ngefek" untuk Mas Amay, ternyata SIPOPO juga "ngefek untuk tante Opik. Ceritanya, dua minggu lalu tante Opik pergi ke rumah bunda di Semarang. Tapi sayang, Selasa minggu lalu, dia mengeluh sakit. Demam dan muntah-muntah gitu deh.

Tapi kemudian, hari Jumat kemarin dia memutuskan untuk pulang ke Solo meski masih sakit. Setelah sampai di Solo, seharian itu tante Opik hanya tiduran saja di kamar. Dia yang biasanya hobi banget pegang gadget, mendadak jadi anteng banget di sosmed. Ya sudah, malam hari setelah sholat isya, Mama oleskan campuran antara VCO dan SIPOPO. Kali ini, Mama lebihkan dosisnya. Tak lupa, Mas Amay, Dek Aga, Mama dan Papa juga diolesi SIPOPO ini.

Besok paginya, Mama tanya sam tante Opik, gimana rasanya setelah pakai SIPOPO?

Jawabannya kurang lebih gini, "Efeknya aku bisa tidur lebih nyenyak sih. Kemarin-kemarin kan karena demam, aku jadi nggak bisa tidur."

Dan Sabtu siang, tante Opik sudah bisa bantu Mama masak. 

Mama menduga, saat bisa tidur nyenyak itulah, ketahanan tubuhnya jadi meningkat. Itu yang membuat tante Opik lebih sehat dari sebelumnya.

So, beneran deh, Ma, Essential Oil dari SIPOPO ini recommended banget. Mama Kepiting juga insya Allah mau beli lagi nanti. Tidak seperti essential oil lain yang umumnya dijual per kandungan herba-nya (Misal; Lavender, Peppermint, dll), SIPOPO merupakan kombinasi dari beberapa jenis herba yang sudah di-mix untuk manfaat tertentu. 

Ada 4 varian SIPOPO yang bisa Mama coba.

4 Varian SIPOPO Essential Oils


1. Strong Immune, ini seperti yang sudah kami coba. Kandungannya terdiri dari Clove, Lemon dan Tea Tree Oil

2. Bye Cough & Flu. Kandungannya terdiri dari Mint, Anise, Cajeput dan Rose 

3. Sleep Well. Kandungannya terdiri dari Lavender, Peppermint, Cajeput, Lemon, Nutmeg, Rose dan Anise Oil

4. Happy Stomach. Kandungannya terdiri dari Ginger, Tea Tree, Eucalyptus dan Lemongrass oil.

Kira-kira, teman-teman Mama Kepiting pengen yang varian apa nih? Kayaknya penting semua, yaa... Hehe... Kalau Mama-Mama pengen beli juga, bisa ke website-nya di https://sipopo.id/ atau ke instagram @sipopo.id ya, Ma... Semoga kita sehat selalu. :)






Monday, March 4, 2019

NHW #5, Learning How to Learn

March 04, 2019 2

Matrikulasi sudah memasuki minggu ke-5. Pelajarannya masih tentang menguatkan peran Mama di keluarga ini. Jika di NHW sebelumnya Mama harus menetapkan milestone, kali ini Mama harus membuat kurikulum. Warbyasak yaaa... Milestone kemarin saja belum benar, tugas selanjutnya malah lebih rumit lagi, hihi...


NHW #5 Matrikulasi IIP

Tapi memang, Mama harus membuat kurikulum untuk Mama sendiri terlebih dahulu, sebelum Mama membuatkan kurikulum untuk Mas Amay dan Dek Aga. Tujuannya biar "nggak jarkoni" mungkin yaa... Masa Mama menuntut anak-anaknya belajar, sedangkan Mamanya leha-leha? Nggak adil dong yaa... Bagaimana Mama mau menjadi madrosatul uula?

Lagipula, jika seorang ibu telah mampu membuat kurikulum yang baik untuk dirinya sendiri, insya Allah dia akan lebih mudah untuk membuat kurikulum bagi anak-anaknya. Ya, arahnya ke sana. Menguatkan peran anak-anak, dengan terlebih dulu menguatkan peran sang ibu. Sampai di sini, Mama semakin paham bahwa peran kita di dunia ini, sama dengan fitrah yang dilekatkan oleh Allah saat kita dilahirkan dahulu.  

Lanjut tentang kurikulum untuk Mama yaa..

Terus terang, semakin hari Mama semakin takjub dengan Institut Ibu Profesional. Kurikulum yang telah disusun untuk para mahasiswinya benar-benar te-o-pe. ❤ 

Mama kan sudah menetapkan satu jurusan ilmu yang ingin Mama pelajari. Tak hanya ingin Mama pelajari sih, tapi juga ingin Mama tekuni. Dan jurusan ilmu yang Mama pilih itu adalah tentang ilmu menulis. Mama beruntung sekali sudah mengenal IIDN (Ibu-ibu Doyan Nulis) dan KEB (Kumpulan Emak-emak Blogger) sejak 2013, sehingga Mama sedikit memiliki bayangan, pelajaran tentang menulis yang bagaimana yang Mama butuhkan.

Satu yang Mama sesalkan. Jika Mama sudah menetapkan milestone di NHW #4 dengan benar, seharusnya tugas kali ini menjadi lebih mudah. Tapi tugas yang lalu saja belum Mama perbaiki, jadi ya tugas kali ini mungkin belum bisa maksimal juga. Hiks.

Ya sudahlah, besok luangkan waktu untuk mendalami NHW #1 sampai NHW #4. Sekarang saatnya kita tetapkan tujuan. Hal-hal yang ingin Mama pelajari dari dunia menulis adalah;




1. Bagaimana Agar Tulisan Mama Disukai Pembaca?

Jika melihat blog Mama di www.kayusirih.com, berdasarkan Google Analytics, tulisan yang banyak dicari setahun belakangan adalah tulisan tentang ini; Wedangan Kebon nDeso, Colomadu, Karanganyar

Meski begitu, popular post selama ini masih diduduki tulisan ini; Mengelola Air Limbah Rumah Tangga, untuk Indonesia yang Lebih Sehat.

Tulisan tentang Wedangan belum pernah Mama share di media sosial manapun, selain WhatsApp. Jadi, itu murni hasil dari pencarian di google. Sedangkan tulisan kedua, Mama share satu kali saat tulisan itu baru saja Mama buat, untuk mengikuti sebuah lomba. Namun ternyata, keingintahuan masyarakat tentang pengelolaan air limbah, cukup besar juga. Ini membuat tulisan tentang pengelolaan air limbah itu menjadi popular post di kayusirih.com.


Jadi, jika tujuan Mama menulis di blog adalah untuk mendapatkan page view dari pembaca yang mencari di google, maka Mama harus banyak menulis tentang kuliner atau tentang hal-hal yang berkaitan dengan gaya hidup. Padahal, dua tulisan itu bukan tulisan yang Mama banget. Tulisan yang Mama sukai malah tentang "curhatan" seperti ini; Tentang Memaafkan; Forgive and You'll Be Free, juga ini; Heart Field; Usaha Saya Mengganti Kecewa dengan Rasa Bahagia.


Lalu apakah saya harus keluar dari diri karakter Mama sendiri?


Jawabannya, tidak. Menulis bagi Mama adalah sarana untuk aktualisasi diri dan terapi hati. Jika yang Mama kejar hanya hal-hal yang bersifat duniawi, lalu apa fungsi hidup ini?


PR Mama adalah, bagaimana agar "curhatan" Mama bisa banyak dicari?


2. Menaklukkan Lomba

Mama sedih lho, karena berkali-kali Mama ikut lomba, berkali-kali juga Mama gagal memenangkannya. Tapi alhamdulillah sedihnya cuma sebentar. Selanjutnya, mari kita belajar lagi. Belajar dari mana? Tentu saja dari tulisan para jawara. :)


3. Menulis Fiksi

Mama juga ingin belajar menulis fiksi. Kebetulan, satu antologi cerita anak yang di dalamnya ada karya Mama, insya Allah sebentar lagi terbit. Tapi, Mama punya mimpi untuk bisa memiliki buku anak sendiri. Semoga mimpi itu terwujud di tahun ini.


Dan sebenarnya, menurut kata teman-teman Mama yang sudah lebih dulu menjadi penulis profesional, yang perlu dilakukan seorang lenulis adalah membaca, memaca, membaca, lalu menulis, menulis, menulis. Membaca lagi, menulis lagi. Begitu seterusnya. 


Jadi, Mama juga harus memperbanyak bacaan. Mama juga harus pandai membaca sekitar, menangkap dan mempertajam ide dari apa yang terlintas di pandangan.


4. Mengoptimalkan Adsense

Ini sih, hal terakhir yang ingin Mama pelajari, hihi.. Nanti jika Mama sudah berhasil melakukan 3 hal di atas, Mama baru akan memikirkan poin ke-4 ini.

Mengoptimalkan adsense adalah bagian dari menguasai ilmu tentang SEO (Search Engine Optimization). Ini cukup rumit, dan akan jadi lebih mudah jika poin nomor satu sudah benar-benar Mama kuasai.


Huwaaah, kalau sudah dijabarkan begini, ternyata PR Mama banyak sekali. Hihi... Tapi Mama harus semangat, karena menuntut ilmu juga bagian dari ibadah kan? 




Monday, February 25, 2019

NHW 4, Mendidik Anak dengan Kekuatan Fitrah

February 25, 2019 0
Tak terasa, ternyata sudah sebulan lebih Mama berada di kelas Matrikulasi Institut Ibu Profesional. Nice Homework atau kami menyebutnya NHW, sudah memasuki minggu ke 4. Semakin ke sini materinya semakin berat. Mama hampir saja menyerah, huhu... Tapi Mama akan mencoba bertahan. Kelas yang penuh manfaat ini terlalu sayang untuk begitu saja ditinggalkan. Eman-eman, ya kan?

Di NHW 1, setelah belajar tentang adab menuntut ilmu, Mama menetapkan satu jurusan ilmu yang ingin Mama pelajari, yaitu tentang sabar. Namun sepertinya, Mama harus berubah haluan, supaya ilmu ini lebih terukur. Ilmu sabar memang sangat penting, tetapi siapa yang dapat memberi ukuran secara tepat? Dan akhirnya, Mama memutuskan ingin belajar menulis saja. Hehe..

Seperti kata Eyang Pramoedya Ananta Toer, "Karena kau menulis, suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari."

Kutipan dari Pramoedya Ananta Toer

Mama berharap, dengan menulis hal-hal yang bermanfaat seperti ini di media blog ini, akan ada banyak orang yang mendapatkan manfaat dari sini. Siapa tahu, dengan rahmat dari Allah ta'ala, tulisan yang Mama buat bisa mengalirkan pahala jariyah, yang bisa menambah catatan amal Mama saat Mama tak ada nantinya.

Berarti di NHW 2, Mama juga harus mengubah check list harian yaa.. Hehe.. Untuk menjadi emak blogger yang juga ibu profesional kebanggaan keluarga, Mama harus rajin menulis. Mama harus menuliskan hal-hal yang bermanfaat, dengan referensi yang tepat, jadi bukan hanya rajin menuliskan curhat. Ups...

Mama jadi ingat Tante Ran dan Tante Widut, tante-tante di #BloggerKAH yang mencemplungkan Mama di IIP ini. Mereka rajin-rajin banget ngeblognya. Mereka juga selalu menyuntikkan semangat saat Mama malas-malasan. Alhamdulillah Ya Allah, Engkau telah mengelilingi hamba dengan orang-orang baik. ☺


Milestone Mama Sebagai Blogger

Jika dirunut kembali, bagaimana Mama bisa menjadi seorang Emak Blogger, semuanya tak lepas dari jasa Papa.

2010, Papa membuatkan blog kayusirih, agar Mama bisa mengisi waktu luang pasca resign dari mengajar. Tapi karena Mama tidak pede dengan tulisan Mama sendiri, blog itu kosong melompong sampai beberapa tahun.

Alhamdulillah, keinginan untuk menulis muncul kembali 3 tahun setelahnya.

2013, Mama bergabung di beberapa komunitas menulis di facebook. Mama mencoba menulis apapun. Kalau ada ide menulis fiksi, Mama menulis fiksi. Mama juga sesekali menulis di blog kayusirih.

Di tahun itu juga, Mama bergabung dengan Komunitas Emak Blogger atau KEB. Dari berkomunitas, Mama "mencuri-curi" ilmu dari teman-teman Mama.

2018, ketika KEB Chapter Solo diresmikan, Mama diminta membantu Tante Ety Abdoel yang menjabat sebagai ketuanya. Mama diminta untuk memegang kendali di instagram @emakbloggersolo. Menjadi Makmin instagram, banyak juga ilmu yang Mama dapatkan. Utamanya dari tante Ranny Afandi yang telah mengajari Mama banyak hal.

Mama bersama Makmin KEB Solo lainnya.

Sampai kini, jelang 6 tahun belajar menulis, Mama sudah merasa jauh lebih baik dari Mama yang dulu. Yang gaptek, yang kurang percaya diri, yang sering merasa inferior. Jika dulu Mama takut berbicara di depan orang banyak, sedikit demi sedikit Mama mulai berani mengungkapkan apa yang Mama pikirkan. Mama mulai bisa mengontrol diri, menempatkan rasa malu pada tempatnya.

Alhamdulillah...

Tetapi Mama tak boleh cepat puas. Masih banyak yang harus Mama pelajari, agar Mama bisa menjadi ibu sekaligus blogger yang profesional.

Seperti ilmu yang Mama dapatkan di KEB Intimate bulan Januari lalu, sebagai seorang perempuan, ada lima peran yang tak boleh dilupakan. Peran di sini mungkin sama dengan fitrah.

1. Sebagai istri
2. Sebagai ibu
3. Sebagai diri sendiri
4. Sebagai anak
5. Sebagai makhluk sosial

Nah, sebagai blogger, tanggung jawab Mama ada dua. Sebagai diri sendiri, dan sebagai makhluk sosial. Untuk itu, Mama harus tetap belajar, agar konten yang Mama buat bisa disenangi dan berguna bagi banyak orang.

Mama harus kembali mencari jati diri, agar tulisan Mama bisa dengan mudah dikenali. Nah, ini dia tantangannya. Bagaimana agar orang-orang bisa tahu jika ini tulisan Mama Arinta, meski di situ tak tertulis nama Mama? Susah sih kelihatannya, tapi tetap harus dicoba. Ya ngga?

Masih jauh langkah yang harus Mama tempuh di IIP. Ini baru Matrikulasi. Kelak akan ada Bunda Sayang, Bunda Cekatan, Bunda Produktif, dan Bunda Shaleha. Terus terang, Mama belum ada ide apapun. Boleh ngga sih, mikirnya nanti saja? Hihi... *langsung dilirik sama Mbak Fasil. Tetapi jika melihat pada diri Mama sendiri, Mama merasa menjadi seseorang yang lebih bahagia dan bermanfaat setelah Mama melakukan apa yang Mama sukai. Menulis adalah hobi, meski Mama masih belum menjadi penulis sejati.

Untuk itu, pada Mas Amay dan Dek Aga, Mama akan melakukan hal yang sama. Mama akan dampingi anak-anak Mama untuk menemukan hal yang membuat mereka bahagia ketika mereka melakukannya. Meski ternyata menentukan pilihan dan membuat keputusan adalah hal yang tak mudah. Akan tetapi, andaipun pilihan kita belum tepat, semoga apa yang kita jalani masih sesuai dengan fitrah kita sebagai manusia. Aamiin YRA. 

Monday, February 11, 2019

NHW #2 Bagaimana Menjadi Ibu Profesional Kebanggaan Keluarga?

February 11, 2019 4
Lewat tulisan minggu lalu, sudah tahu kan kalau Mama sekarang ini tergabung di Institut Ibu Profesional Solo Raya? Masih baru banget memang, Mama pun saat ini baru belajar di program Matrikulasi. Di Matrikulasi ini, setiap minggunya ada tugas yang harus dikerjakan. Nah, tugas minggu ini lumayan berat, karena tidak hanya melibatkan diri Mama sendiri, tetapi juga Papa, Mas Amay, dan Adek Aga.



Bagaimana menjadi ibu profesional kebanggaan keluarga? Itulah pertanyaannya.

Karena ada kata-kata “kebanggaan keluarga”, maka yang menjadi tolok ukur adalah papa, Mas Amay, dan Dek Aga. Di mata mereka, Mama ini kurang apa? Dan seharusnya Mama bersikap seperti apa sehari-harinya, agar peran sebagai “kebanggaan keluarga” bisa terwujud.

Paling mudah memang bertanya pada anak-anak, yaa... Untuk itu, Mama tanya pada Mas Amay dan Dek Aga terlebih dulu.

Mama ; Mas, menurut Mas Amay, Mama ini seperti apa?
Amay (jelang 8 tahun) ; Cantik
Duh, Mama langsung berbunga-bunga. Wkwkwk... Tapi sayangnya bukan jawaban seperti itu yang Mama butuhkan. Takutnya pas baca ini Mbak Fasil jadi gimanaaa gitu kan? Hihi... Oke, pertanyaannya diganti.
Mama ; Mas Amay nggak suka sama Mama kalau Mama lagi ngapain?
Amay ; Kalau pas marah.
Hehe, Mama jadi pengen tutup muka. Mama sangat menyadari kekurangan Mama yang satu ini, makanya di tugas pertama dulu, yang ingin Mama pelajari adalah ilmu tentang sabar. Okey, lanjut.
Mama ; Mas Amay suka sama Mama kalau Mama lagi ngapain?
Amay ; Pas Mama bahagia, Mas Amay suka.
Mama ; Emang kalau pas Mama marah, Mama gimana?
Amay ; Murung

Lanjut ke adek.
Mama ; Adek, adek sayang nggak sama Mama?
Aga ; Sayang lah... (pakai nada Upin Ipin)
Mama ; Adek suka sama Mama kalau Mama ngapain?
Aga ; Belajar (Ini mungkin maksudnya pas sama-sama baca buku, sama-sama belajar menulis, begitu. Usianya 4 tahun, dan dia baru akan masuk sekolah bulan Juli nanti, insya Allah)
Mama ; Adek paling sedih kalau Mama ngapain?
Aga ; Mayah. Mama jangan mayaaah....

Baiklah, artinya memang Mama harus berlatih untuk lebih sabar lagi yaa...

Biasanya Mama akan marah saat mereka berebut sesuatu. Dan seringnya, Mas Amay dan Dek Aga bertengkar saat Mama tidak fokus pada mereka. Jadi, yang harus Mama lakukan adalah; Menyelesaikan semua pekerjaan sebelum Mas Amay pulang sekolah. 

Pekerjaan yang menyita banyak waktu adalah mencuci, karena Mama mencuci pakaian secara manual. Dan biasanya, Mama mencuci 2-3 hari sekali. Jadi bisa dibayangkan yaa, cucian Mama sebanyak apa, dan membutuhkan waktu berapa lama untuk menyelesaikannya. Kadang malah, cucian sudah Mama rendam sejak pagi sebelum memasak. Tetapi karena biasanya setelah memasak badan sudah lelah (apalagi saat melihat bak cucian yang penuh begitu, secara psikologis Mama langsung merasa lelah), jadi rendaman cucian baru tersentuh sore harinya. Hoho...

Jadi, selama seminggu ke depan Mama akan mencoba cara ini

SMART

Spesifik ; Mencuci baju sedikit demi sedikit. Sekiranya Mama tidak terlalu lelah setelah memasak, Mama harus segera menyelesaikannya. Biasanya Mama malas-malasan, karena saat melihat bak cucian yang terisi penuh, rasanya sudah lelah saja. Hihi... Akhirnya mencucinya tanpa rasa ikhlas. 

Measurable (terukur) ; Mama akan mencoba mencuci 1 bak kecil setiap hari dalam 1 minggu ini, apakah hasilnya tampak atau tidak.

Achievable ; Insya Allah ini mudah. Mencuci sedikit demi sedikit, pekerjaan akan selesai sedikit demi sedikit. Daripada langsung mencuci banyak-banyak, tapi lelahnya juga banyak. :D

Realistic ; Mencuci baju sedikit demi sedikit, setiap hari, demi bisa menghasilkan waktu yang efektif untuk menemani anak-anak, realistis kan ya? :D

Timebond ; Mencuci maksimal 1 jam sehari (sudah termasuk menjemur). 

Semoga dengan mencuci setiap hari, waktu Mama untuk menemani anak-anak jadi lebih banyak. Aamiin...

Sekarang ke Papa... 

Agak sulit tanya-tanya soal ini sama Papa, apalagi beberapa hari ini Papa harus lembur karena beliau dan teman-temannya sedang mengerjakan sebuah sayembara yang deadline-nya adalah hari ini. Kalau pulang kantor, beliau sudah sangat capek, jadi ngobrolnya yang asik-asik aja. Hari Sabtu dan Minggu pun beliau ke kantor untuk menyelesaikan sayembara ini. Tapi demi tugas ini selesai tepat waktu, Mama WA saja lah. Supaya efektif. Hehe...




Dan itu dia jawabannya. Jangan kaget yaaa... Hihi...

Lalu apa yang akan Mama lakukan? Masalahnya adalah, ada dua anak laki-laki yang beranjak gede. Kalau Mama pakai baju seksi, lalu mereka melihatnya, bagaimana? Pakainya setelah mereka tidur? Nah, ini juga agak susah, karena jam tidur si bungsu ini lebih larut dari kakaknya. 

Tapi Mama akan coba deh. Nggak perlu dijabarkan lah ya, detailnya bagaimana, hihi... Takut dibaca anak-anak. Xixixi...

Hmmm, sudah. Akhirnya selesai juga tugas ke dua ini. Memang menjadi “ibu kebanggaan” itu jalannya tak semudah yang dibayangkan yaa.. Tapi kita tentu tidak boleh menyerah begitu saja. Harus mencoba mulai saat ini juga. 