Bersahabat dengan Sampah, Mencegah Terulangnya Tragedi Leuwigajah

Tuesday, March 30, 2021


Mas Amay saat ini duduk di kelas 4 SD. Karena pandemi corona yang sedang melanda memaksa anak-anak untuk belajar dari rumah, secara otomatis hal ini mengembalikan peran saya sebagai "madrosatul ula" alias sekolah pertama bagi anak-anak. Nah, untuk menjadi "guru" yang baik, mau tidak mau saya harus ikut mempelajari materi yang sedang mereka pelajari.

Kebetulan, saya termasuk ibu yang senang bercerita dan berdiskusi dengan anak-anak. Saat seperti itulah, biasanya saya memasukkan materi-materi pelajaran atau nilai-nilai yang saya pegang. Seperti yang terjadi pada suatu malam, saat menganalisa artikel tentang Kakek Duha Juhaeri, Sang Penyelamat Lingkungan, obrolan kami berkembang jauh hingga ke tragedi Leuwigajah. Tragedi longsornya jutaan kubik sampah di TPA Leuwigajah, Cimahi, yang mengakibatkan tertimbunnya beberapa desa dan menewaskan setidaknya 157 orang.

Bersahabat dengan Sampah
TPA Leuwigajah, Source: https://geoenvironmental-disasters.springeropen.com


Mas Amay adalah anak yang cerdas. Ia merespon cerita yang saya sampaikan dengan, "Pantesan Mama suka misahin sampah di komposter."

Ia pun langsung teringat dengan kejadian di rumah kami suatu hari, saat kompos cair yang sudah saya masukkan ke dalam botol, "meledak". Waktu itu, jumlah tanaman di rumah kami belum sebanyak sekarang, berkebalikan dengan produksi kompos cair dari komposter. Nah, karena cukup lama tidak terpakai, kompos cair itu "ngegas". Mungkin dia marah karena "dianggurin". 😂

Karena bisa menyaksikan sendiri betapa berbahayanya sampah apabila tidak dikelola dengan baik, Mas Amay jadi punya gambaran seberapa dahsyatnya tragedi Leuwigajah itu. Jika ledakan sebotol kompos cair saja bisa mengakibatkan isinya muncrat ke mana-mana, apatah lagi jika itu berasal dari gunungan sampah setinggi 50 - 70 meter yang luasnya berhektar-hektar? 

Lalu, apakah tragedi Leuwigajahlah yang mendorong saya untuk mulai mengompos?

Sebenarnya bukan. 

Penyebabnya empat tahun lalu, saat kami baru pindah ke rumah ini, kami langsung dihadapkan dengan tukang sampah yang kurang disiplin. Jika di rumah lama tukang sampah mengambil sampah tiap 2 hari sekali, ini hampir seminggu sampahnya ngga diambil juga, hingga menimbulkan bau yang luar biasa.

Tak tahan dengan baunya, suami saya langsung mengambil tindakan. Kebetulan, salah seorang temannya sedang giat mengompos dan membuat komposter. Kami pun memesan satu komposter padanya, dan sejak saat itu kami mulai memilah sampah anorganik dengan sampah organik. 

Meski kemudian kami tahu bahwa ketidakdisiplinan tukang sampah adalah karena sakit, tetapi hal itu tidak membuat kami berhenti mengompos. Sesuatu yang baik harus tetap dilanjutkan, bukan?

Baca: Mengompos, Upaya Penerapan Hablun Minal 'Alam

Memulai Zero Waste dengan Mengompos
Ini adalah komposter pertama kami. 2017.

Kompos Cair
Ini adalah kompos cair yang sempat "meledak" karena tidak terpakai dalam waktu lama.


Selain dengan mengompos, apa saja yang bisa kita lakukan untuk mengurangi sampah di bumi?

Sejujurnya, saya pun belum berbuat banyak. Namun, pelan-pelan kami mulai membiasakan untuk melakukan beberapa hal di bawah ini;

Reduce

1. Mengurangi sampah plastik

- Saat berbelanja, saya selalu berusaha untuk membawa kantong belanja sendiri. 
- Membawa air minum sendiri saat bepergian.

Kedua hal di atas sudah mulai kami ajarkan pada anak-anak juga.

2. Membatasi pemakaian tisu

Biasanya, sedikit-sedikit kami memakai tisu. Mengelap kompor, pakai tisu. Makan gorengan, dilap pakai tisu. Pokoknya, tiada hari tanpa tisu.

Sekarang, kotak tisu tidak lagi saya isi, dan urusan lap-lapan, saya menggantinya dengan lap kain.

Reuse

1. Menggunakan bekas bungkus minyak, deterjen, dll, sebagai pengganti pot tanaman

2. Menampung minyak jelantah dan tak lagi membuangnya ke selokan

Biasanya, saya membuang minyak jelantah ke selokan. Ampuuun...

Namun, alhamdulillah, beberapa waktu lalu saya dihubungi oleh seseorang yang mewakili sebuah lembaga amal di Solo, yang bersedia menampung minyak jelantah untuk kemudian diolah menjadi biodiesel. Hasil dari penjualan, nantinya akan disalurkan kepada saudara-saudara kita yang membutuhkan.

Sebagai ibu-ibu yang sering memasak, tentu ini merupakan kabar gembira. Setidaknya, selain dapat beramal, saya pun tak lagi dihantui perasaan "berdosa" karena telah membuang jelantah di selokan.

Waste4Change, Olah Minyak Jelantah


Recycle

Terus terang, untuk poin ini, kami baru mampu mengubah sampah organik menjadi kompos. Untuk sampah anorganik, kami masih bergantung pada pak tukang sampah. 

Namun, suatu hari saya menemukan akun Waste4Change di Instagram. Waste4Change merupakan sebuah perusahaan Waste Management Indonesia yang memiliki misi mengurangi jumlah sampah yang berakhir di TPA. Didirikan oleh Mohamad Bijaksana Junerosano, Waste4Change hadir serupa angin segar yang membawa sebuah harapan. Waste4Change memberikan pelayanan Personal Waste Management, yaitu layanan pengangkutan sampah anorganik, langsung dari rumah klien.

Memang, saat ini Waste4Change belum menerima sampah organik, tetapi Waste4Change dapat membantu menyediakan peralatan dan perlengkapan pengomposan mandiri di rumah. Waste4Change juga mendukung teman-teman yang ingin belajar mengenai pengolahan sampah organik dengan Black Soldier Fly (BSF) serta teknis budidayanya. 

Sebagai informasi, BSF adalah jenis lalat yang berguna untuk mengurangi dampak negatif dari penumpukan sampah organik di alam. Larva BSF pun sangat baik untuk dimanfaatkan sebagai pakan ternak. 

Waste4Change


Tak hanya melayani individu, Waste4Change juga melayani perusahaan, yang mana kita tahu, banyak sekali perusahaan-perusahaan yang berpotensi menghasilkan sampah anorganik. Entah dari proses produksinya yang menghasilkan residu, produk gagal, dan lain sebagainya, ataukah dari proses distribusi yang menyebabkan produk rusak dan kadaluarsa, atau bisa juga pasca konsumsi, yang menghasilkan kemasan kosong.

Saat ini sedikitnya ada 12 perusahaan yang bekerja sama dengan Waste4Change untuk memenuhi Extended Producer Responsibility Indonesia. Di antara 12 klien tersebut, mungkin teman-teman adalah konsumennya, misalnya; Wardah, Young Living, The Body Shop, juga Gojek.

Alhamdulillah. Semoga semakin banyak perusahaan yang bertanggung jawab dengan sampahnya.

Mengapa masalah sampah perlu dipikirkan serius?

Selama ini, kita hanya diajarkan untuk membuang sampah di tempat sampah. Selesai. Seolah, permasalahan sampah berhenti di situ. Padahal, sampah-sampah dari tempat sampah di rumah kita, akan berakhir di TPA (Tempat Pembuangan Akhir), di mana di sana, sampah organik dan anorganik bercampur menjadi satu. 

Sampah organik yang dimasukkan ke dalam plastik, lama-kelamaan akan menghasilkan gas metana, yang berpotensi menimbulkan ledakan, seperti yang terjadi di TPA Leuwigajah 16 tahun silam.

Adalah tanggung jawab kita untuk menyebarkan informasi ini kepada masyarakat luas, termasuk kepada anak-anak kita. Sudah saatnya kita mengampanyekan bahwa "Sampah Kita, Tanggung Jawab Kita".

Jika kita tidak segera mengambil peran dalam persoalan sampah, kira-kira apa yang akan terjadi di tahun-tahun mendatang? Apakah kita siap, jika kelak bumi tak menyisakan ruang yang nyaman untuk dijadikan tempat tinggal?


Ditulis dengan Cinta, Mama


"Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Menulis Blog Waste4Change Sebarkan Semangat Bijak Kelola Sampah 2021
Nama Penulis: Arinta Adiningtyas"


Read More

Kiat Sukses VBAC

Tuesday, March 9, 2021

 

Beberapa waktu lalu, seorang sahabat bertanya lewat WhatsApp, "Waktu VBAC dulu, persiapannya apa saja?"

Wah, Mama Kepiting langsung semangat menjawab. Meski Mama tidak memiliki background medis sama sekali, tetapi setidaknya Mama mengalami sendiri bagaimana perjuangan agar bisa sukses VBAC. Ya, 10 tahun lalu, Mas Amay lahir secara caesar, dan 3 tahun 8 bulan setelahnya, Adek Aga terlahir normal.

Jujur saja, ada kebahagiaan tersendiri ketika bisa berbagi pengalaman, dan rasa bahagia itu bisa bertambah berkali lipat ketika mengetahui bahwa mereka berhasil melewati proses ini juga.

Tunggu dulu! Mereka?

Oiya, lupa ngasih tau bahwa selama ini banyak yang menghubungi Mama via email, DM di IG, juga inbox di FB. Mereka adalah teman-teman yang pernah membaca tulisan Mama tentang VBAC di www.kayusirih.com. Kebanyakan bertanya tentang dokter tempat Mama periksa, berapa BB bayi,  juga berapa jarak antara kehamilan pertama dengan kehamilan berikutnya.

Kiat Sukses VBAC

Nah, sebelum kita kupas tentang VBAC, mungkin ada yang belum paham VBAC itu yang bagaimana sih? 

Apa itu VBAC?

VBAC merupakan kependekan dari Vaginal Birth After Caesarean, yaitu sebuah metode persalinan secara normal yang dilakukan setelah sebelumnya menjalani persalinan secara caesar. VBAC secara tidak langsung mematahkan anggapan bahwa jika seorang ibu melahirkan secara caesar, maka di kehamilan berikutnya harus menjalani persalinan secara caesar pula.

Apa Saja Syarat Diperbolehkannya VBAC?


1. Rahim Harus Kuat

Ibarat ban dalam kendaraan, rahim ibu yang pernah menjalani operasi caesar bagaikan ban dalam yang pernah bocor dan ditambal. Tentu saja, perlakuannya berbeda dengan rahim yang masih utuh. Jika rahim tak cukup kuat, dikhawatirkan saat kontraksi dapat memicu robeknya bekas jahitan caesar. Jika bekas jahitan caesar sampai robek / pecah, hal ini bisa mengancam kesehatan ibu dan bayi.

2. BB Bayi Tidak Terlalu Besar

Mengapa BB bayi tidak boleh terlalu besar? Masih berhubungan dengan bekas jahitan juga. Selain untuk meminimalkan risiko robeknya bekas jahitan, juga untuk mempermudah proses persalinan. 

Waktu Mas Amay lahir, berat badannya hanya 2600 gram. Maka, ketika Mama mengatakan pada dokter bahwa Mama ingin VBAC, dokter langsung membuat batasan agar BB Adek Aga tidak melebihi 3000 gram. Mulai usia kandungan 7 bulan, Mama diminta diet dengan mengurangi asupan gula dan karbo.

3. Posisi Bayi Tidak Sungsang

Sungsang adalah kondisi di mana posisi kepala bayi masih berada di atas, bukan di jalan lahir seperti seharusnya. Meski persalinan per vaginam masih mungkin untuk dilakukan, akan tetapi biasanya dokter lebih memilih untuk melakukan tindakan operasi caesar, karena prosedur ini dianggap paling aman.

4. Air Ketuban Cukup

Air ketuban memiliki banyak fungsi. Selain untuk melindungi janin dari goncangan / benturan, mengontrol suhu rahim, dan mencegah infeksi, air ketuban juga berfungsi untuk membantu proses persalinan. Pada saat persalinan, air ketuban dapat meratakan kontraksi di dalam rahim, sehingga leher rahim membuka. 

Hati-hati jika volume air ketuban terlalu sedikit atau terlalu banyak. Kekurangan atau kelebihan air ketuban diketahui dapat membahayakan kondisi janin.

5. Persalinan Dilakukan Secara Spontan / Tanpa Induksi

Jika syarat nomor 1-4 sudah terpenuhi, besiaplah dengan syarat nomor 5 ini. Tidak diizinkannya pemberian induksi, dapat mempengaruhi lamanya waktu kontraksi yang harus Mama lalui. Saat melahirkan Adek Aga, Mama harus melalui sakitnya kontraksi hingga dua hari dua malam. Luar biasa memang...

Mengapa tidak boleh diinduksi sih? 

Rangsangan pada induksi persalinan dianggap kurang aman untuk ibu yang sebelumnya pernah menjalani operasi caesar ataupun operasi lainnya yang dilakukan pada rahim. Sebab, ada risiko yang bisa menyebabkan rahim robek.

~

Nah, Ma, sebelum memilih prosedur VBAC, konsultasikan lebih dulu dengan dokter yang mengetahui riwayat kesehatan dan kehamilan kita, yaa... Yang jelas, apapun metode persalinan yang kita jalani, bagian paling penting dari proses melahirkan adalah mengusahakan yang terbaik agar kondisi ibu dan bayi sehat. Mau caesar atau normal, kita sama-sama berhak menyandang predikat "ibu".


Ditulis dengan Cinta, Mama



Read More

Rutin Sholat Dhuha karena Anak

Monday, February 8, 2021

 
Di sekolah, selain diajarkan untuk tak meninggalkan sholat 5 waktu, anak-anak juga dibiasakan untuk melaksanakan sholat dhuha. Bahkan, ada buku laporan kegiatan semacam Buku Ramadhan juga untuk diisi selama masa Belajar di Rumah. Ya, meski saya suka lupa mengisinya sih. Sing penting sholat, ngaji, gitu wae wis.
 
Nah, karena anaknya saja rajin sholat dhuha (memang pada awalnya terpaksa, hanya untuk mengisi buku kegiatan saja), sebagai emak saya jadi merasa berdosa kalau ngga sholat dhuha juga. Saya mengaku, dulu, saya sholat dhuha pas sempat aja. Atau, mendadak rajin pas ada maunya. Astaghfirullah. 😢
 
Padahal, saya tahu kok, hikmah sholat dhuha itu apa saja. Salah satunya seperti di dalam hadist yang diriwayatkan At-Thabrani.
 
"Barangsiapa yang shalat dhuha dua rakaat, maka dia ditulis sebagai orang yang tak lalai. Barangsiapa yang mengerjakannya sebanyak empat rakaat, maka dia ditulis sebagai orang yang ahli ibadah. Barangsiapa yang mengerjakannya enam rakaat, maka ia diselamatkan di hari itu. Barangsiapa mengerjakannya delapan rakaat, maka Allah tulis dia sebagai orang yang taat. Dan barangsiapa yang mengerjakannya dua belas rakaat, maka Allah akan membangun sebuah rumah di surga untuknya."

 
Dahsyatnya Sholat Dhuha


Hidayah memang bisa datang lewat jalur mana saja, yaa... Termasuk lewat anak-anak. Saya, ayahnya anak-anak juga, kini jadi rajin menjalankannya. Jika dulu kami dhuha saat butuh saja, sekarang karena eman-eman / sayang bila sampai melewatkannya.

Omong-omong, sebelum pada menghakimi, masa ibadah aja harus dipamerin, saya mau klarifikasi dulu. Saya menulis ini bukan untuk riya', insya Allah, melainkan untuk mengingatkan diri sendiri, bahwa sebagai orang tua, kita ngga boleh jarkoni alias "bisa ngajar, ora bisa nglakoni". Bahasa kerennya, omdo - omong doang.

Saya teringat seorang sahabat, sebut saja Mama Hadfy, suatu hari menulis status di WhatsApp yang intinya kurang lebih begini: Mengharapkan anak menjadi hafidz Qur'an sementara ibunya sendiri ngga pernah baca Al-Qur'an, adalah sebuah mitos.

Masuk akal kan... Buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Ingin anak menjadi orang baik, tentu saja orang tuanya harus memberi contoh yang baik juga. Ingin anaknya rajin dhuha, orang tuanya harus rajin juga. Jangan cuma bisa nyuruh-nyuruh doang. Inilah yang saya lakukan kemudian. Berawal dari rasa "malu dan ngga enak" sama anak, lama-lama jadi sebuah kebiasaan. Semoga kami semua istiqomah, aamiin aamiin YRA.

Oh iya, saya jadi teringat dengan seorang sahabat semasa SMP. Siti Badriyah namanya. Siti Badriyah yang ini tak pandai menyanyi. Siti Badriyah yang ini adalah seorang hafidzah. Anak-anaknya, Mbak Alya dan Mas Yusrin, sedang menuju ke arah sana dengan bimbingan sang ibunda. Masya Allah.

Suatu hari, Badriyah, begitu saya memanggilnya, menunjukkan nikmatnya menjadi penghafal Al-Qur'an. Ketika anak-anaknya muroja'ah hafalan, ia bisa menyimak sambil beberes, memasak atau mengerjakan pekerjaan rumah tangga lainnya. Jadi, jika terdengar ada yang salah, ia bisa langsung "mbengok" alias teriak sambil membetulkan hafalan anaknya. Tentu saja teriaknya Badriyah berbeda dengan teriakan Mama Kepiting, yaa.. 😂

Saya ingin bisa seperti itu juga. Apa saya sudah hafal Al-Qur'an? Beluuuummmm... Tapi saya berusaha untuk menghafal apa yang anak-anak saya hafalkan. Biar apa? Biar ngga jarkoni dong.

 
Ditulis dengan Cinta, Mama
Read More

Bagaimana Cara Mendidik Anak yang Baik Tanpa Membuat Kita Menjadi Toxic Parents?

Sunday, January 24, 2021

 

Beberapa waktu lalu saya mendengarkan sebuah podcast yang membahas tentang Toxic Parent. Setelah mendengarkan podcast tersebut, saya langsung melihat ke dalam diri sendiri. Apakah ciri-ciri orang tua yang toxic ada di dalam diri saya? Sepertinya iya. Saya pun mencari tahu, bagaimana cara mendidik anak agar bisa menjadi anak yang berbakti, cerdas, sukses, tanpa membuat kita menjadi toxic parent?

Sebelum terlalu jauh, kita cari tahu dulu, yuk, apa itu toxic parent?

Toxic Parent adalah tipikal orang tua yang senang mengatur anak sesuai dengan kemauannya, tanpa menghargai dan memahami perasaan anak. Jika good parent akan selalu respect terhadap anak-anaknya, toxic parent justru sebaliknya, merasa bahwa orang tua selalu benar, sehingga mengabaikan hak-hak anak untuk didengarkan dan diperlakukan dengan baik seperti seharusnya.


Cara Mendidik Anak Tanpa Harus Menjadi Toxic Parent
 

Untuk mengetahui apakah kita termasuk toxic parent atau tidak, simak tanda-tandanya berikut ini, Ma.

  1. Egois dan kurang empati pada anak. Ayo diingat-ingat lagi, apakah kita lebih sering mendahulukan kebutuhan dan perasaan kita dibandingkan kebutuhan dan perasaan anak?
  2. Terlalu reaktif dan emosional. Toxic parent sering bereaksi secara berlebihan, terlalu mendramatisasi keadaan, dan sering marah secara tiba-tiba.
  3. Suka mengontrol anaknya secara berlebihan
  4. Sering mengkritik
  5. Sering membanding-bandingkan
  6. Suka mengancam atau menakut-nakuti
  7. Manipulatif, playing victim, tidak mau meminta maaf apabila melakukan kesalahan 
  8. Suka mengungkit apa yang telah dilakukan untuk anak
  9. Senang memberikan demand atau permintaan yang kurang masuk akal

 
Kadangkala, kita tanpa sadar telah menjadi orang tua yang toxic ya, Ma... Misalnya, ketika anak menolak untuk makan, lalu kita ungkit-ungkit bahwa nasi yang kita hidangkan adalah hasil kerja keras orang tua, dll. Atau, tanpa sadar kita membandingkan kemampuan anak kita dengan anak teman kita. Maksudnya sih baik untuk memotivasi, tapi caranya justru membuat anak sakit hati.

Baca: Dear Mama, Apakah Ketidaksempurnaan adalah Dosa?

Lalu, bagaimana cara mendidik anak agar mereka tumbuh menjadi anak yang baik, tanpa harus membuat kita menjadi toxic parent?

1. Memilih Kata-kata dengan Bijak

Anak adalah peniru ulung. Mereka tidak hanya meniru perilaku kita, tetapi juga merekam setiap perkataan kita. Jika orang tua terbiasa berbicara kasar, jangan kaget bila anak-anak pun melakukan hal yang sama.

2. Jadilah Pendengar yang Baik

Apa yang anak-anak katakan pada kita, adalah hal yang penting untuk mereka. Jadi, jangan dicuekin ya, Ma... Ketika kita mendengarkan detail ucapan mereka, mereka akan merasa dihargai. Kelak, ketika kita berbicara pun, mereka akan terlatih untuk mendengarkan. Dengan begitu, nilai-nilai yang kita ajarkan akan lebih mudah meresap dalam perilaku mereka.

3. Bantu Anak untuk Mengekspresikan Emosi Mereka

Yakinkan pada mereka bahwa menangis, tertawa, marah, kecewa, bukanlah hal yang tabu atau dilarang. Menangis adalah salah satu cara untuk berekspresi, baik bagi perempuan maupun laki-laki. Jadi, ngga ada tuh istilah "laki-laki ngga boleh nangis". 

4. Terapkan Disiplin dan Apresiasi

Ketika anak berhasil melakukan sesuatu, berikanlah pujian. Jangan terlalu pelit memuji ya, Ma... Pujian dalam kadar tertentu, akan membuat anak merasa dihargai usahanya.

5. Jadilah Teman yang Baik untuk Anak-anak

Di Festival Literasi Digital yang diselenggarakan KEB minggu lalu, salah seorang narasumber, Mak Retno De Krsitiani, mengatakan bahwa orang tua tidak boleh berhenti belajar. Orang tua harus juga mengikuti perkembangan zaman, agar tidak timbul gap yang terlalu jauh antara orang tua dan anak. Soal game? Bila perlu, sesekali mabar dengan anak juga oke tuh. 😉

Baiklah, itu dia yang bisa saya bagikan tentang bagaimana cara mendidik anak yang baik. Semoga bermanfaat ya, Ma... Tulisan ini juga sebagai pengingat untuk Mama Kepiting, supaya ngga terus-terusan jadi toxic parent. Bismillah ya, Ma... Semoga Allah beri kemudahan untuk kita dalam mendidik anak-anak. Aamiin aamiin Yaa Robbal 'Aalamiin... 


Ditulis dengan Cinta, Mama

Read More

Review Film Soul

Thursday, January 7, 2021

 

Review Film Soul
 

Mengawali tahun 2021, Mama Kepiting, Papabebi dan anak-anak bersama-sama menonton film baru berjudul Soul. Film yang bisa ditonton secara streaming di Disney Plus ini mengisahkan tentang seorang pria bernama Joe Gardner (Jamie Foxx) yang bercita-cita menjadi seorang pemain piano profesional.

Sedih, ketika impian Joe hampir terwujud, sebuah kecelakaan terjadi. Ia terjatuh ke dalam sebuah lubang got. Ketika tersadar, ia sudah berada di sebuah jalan panjang menuju kehidupan selanjutnya (semacam jembatan Shirathal Mustaqim kali, yaa).

Joe frustrasi. Ia tak mau mati. Ia ingin tampil dalam pertunjukan bersama Dorothea Williams, karena baginya, ini adalah kesempatan untuk mewujudkan mimpinya. Joe pun berusaha kabur dari tempat itu, sekuat tenaga.


Review Film Soul


Berhasil? Ternyata, ia malah masuk ke kehidupan sebelum kehidupan (before life). Jadi, ada calon-calon bayi di sini. Calon-calon bayi ini sedang mengantri pembagian sifat. Semacam lauhul mahfudz mungkin. 😂

Di tempat ini, Joe bertemu dengan 22. Setelah 22 muncul, jalan ceritanya menjadi semakin menarik. 

22 adalah jiwa yang unik, meski ia, katanya, berkali-kali gagal menjadi manusia hingga ia benci harus kembali ke bumi. Ia merasa jadi manusia tuh ya gitu-gitu aja. Ia sulit menemukan "sparks" atau "percikan api" atau bisa dibilang, passion

Joe pun bertugas untuk membantu 22 menemukan passion-nya agar badge atau lencana 22 bisa sempurna. Lencana ini diperlukan apabila sebuah jiwa ingin menjalani kehidupan di bumi. Jika Joe berhasil, 22 akan memberikan lencana itu kepada Joe, agar jiwa Joe bisa kembali ke dalam raganya.

Nah, apakah Joe berhasil membantu 22 menemukan passion-nya dan bisakah Joe kembali ke bumi lalu tampil bersama Dorothea quartet seperti impiannya? Tonton filmnya aja, yaa... Kalo diceritain di sini, nanti ngga seru. 😊

Review Film Soul


Btw, film ini mengingatkan saya pada film Coco. Pasti udah pada nonton Coco kan? 

Menurut saya, ada persamaan antara Soul dengan Coco. Apa saja? 

1. Sama-sama mengangkat tema tentang passion dalam bermusik
2. Sama-sama menghadirkan "kehidupan di dunia lain"
3. Sama-sama happy ending dengan banyak nasihat yang bisa dipetik

Film Soul memang memiliki banyak pesan positif. Salah satunya seperti yang Mas Amay bilang, "Ketika bahagia, kita nggak boleh lupa diri. Jangan terlalu bahagia, biar nggak celaka." Ini dia simpulkan dari scene awal, ketika Joe terlampau happy saat diterima untuk tampil bersama Dorothea. Jalan serampangan, hingga tak menyadari bahwa di depannya ada lubang.

Nasihat lain yang bisa saya tangkap adalah, jalani kehidupan dengan sebaik-baiknya. Temukan passion-mu, agar hidupmu lebih bermanfaat. 

Namun...

Terkadang memang kenyataan hidup tak berjalan sesuai dengan apa yang kita inginkan. Di sini, kita juga diingatkan untuk belajar "menerima". Setelah itu, kita diminta untuk menjalani apa yang sudah digariskan dengan sebaik-baiknya. Intinya sih, ikhtiar dan tawakkal adalah cara terbaik menjalani kehidupan.

Oya, sebagai ibu, saya juga diingatkan untuk selalu mensupport apapun pilihan anak-anak, asal tidak bertentangan dengan nilai-nilai yang kita anut. Mau jadi musisi kek, jadi guru kek, jadi arsitek kek, asal anak senang, why not?

Seperti ibunya Joe. Memang, pada awalnya beliau menyayangkan pilihan Joe untuk serius bermusik karena hidup sebagai musisi cenderung tak punya penghasilan tetap. Namun, ketika Joe menunjukkan keseriusannya, sang ibu malah membantu menyiapkan pakaian terbaik untuk ia tampil di atas panggung.

Begitu banyak nasihat yang bisa kita petik dari film ini. Recommended pokoknya, bahkan Isyana Sarasvati pun sampai menyarankan Film Soul untuk ditonton bersama keluarga. :)


Ditulis dengan Cinta, Mama

Read More