Thursday, February 20, 2020

Pelajaran Bahasa Jawa Lebih Susah dari Bahasa Inggris?

February 20, 2020 2
Mama Kepiting lahir dan besar di Purworejo, kemudian saat ini tinggal di Solo. Sejak lahir sampai kini beranak-pinak, Mama tinggal di Jawa Tengah. Mas Amay dan Dek Aga pun lahir di Jawa Tengah. Namun, sebagai orang Jawa, sehari-hari kami malah menggunakan Bahasa Indonesia sebagai bahasa pergaulan. Dipikir-pikir, kami ini sungguh keterlaluan.

Meski ayah mereka berdarah Sunda, tetapi memang tidak seharusnya kami melupakan bahasa ibu, yaitu Bahasa Jawa. Ya, memang Bahasa Jawa adalah bahasa yang sulit, bahkan lebih rumit dibandingkan Bahasa Inggris. Tapi hal itu tidak boleh dijadikan alasan untuk kami mengenyahkan Bahasa Jawa dari kehidupan sehari-hari. 

Maka dari itu, kami ingin memulai dari hal-hal sederhana. Seperti tadi pagi misalnya, Mama berbicara dengan Mas Amay menggunakan basa krama. Pelan-pelan, semoga lama-lama bisa menjadi kebiasaan.

Pasinaon Basa Jawa kelas 3 SD
Buku Aku Bisa Basa Jawa 3, sumber: togamas.com

Omong-omong soal Pelajaran Bahasa Jawa, beberapa waktu lalu Mama dibuat pusing dengan pelajaran Basa Jawa kelas 3 SD. Ya begitulah, PR-nya Mas Amay adalah PR Mama juga to? Karena mencari jawaban di Google pun tidak banyak membantu, akhirnya Mama bertanya pada teman-teman melalui status WhatsApp. 

Thanks to technology... Eh, lha malah nganggo Basa Inggris...

Lalu, apakah yang membuat kami pusing?

Ini lho, istilah dalam Bahasa Jawa yang tidak umum dipakai sehari-hari. Alhamdulillah, setelah tanya ke sana kemari, Mama pun memperoleh jawabannya. Terima kasih untuk teman-teman yang sudah membantu. 😘

Dan inilah kosakata Bahasa Jawa beserta artinya;

1. Angungak tegese niliki (Indonesia: melongok)
2. Ngudi tegese golek
3. Tan tegese ora
4. Nate tegese tau (Indonesia: pernah)
5. Mayug-mayug tegese obah-obah arep rubuh mengarep (Indonesia: bergoyang-goyang seperti mau roboh)
6. Dikunjara tegese dikurung supaya ora bisa metu (Indonesia: dipenjara)
7. Toya tegese banyu, tirta
8. Jalmi tegese manungsa
9. Suku tegese sikil
10. Dahana tegese geni, agni
11. Renteng-renteng tegese jejer-jejer
12. Kendel tegese mandheg
13. Kusuma tegese kembang
14. Gembung tegese weteng utawa awak
15. Mijil tegese metu, medal

Itulah beberapa istilah dalam Bahasa Jawa beserta artinya. Semoga bermanfaat, yaa... Oya, Mama jadi terpikir untuk membuat label "Basa Jawa". Semoga nanti bisa rutin menulis tentang Basa Jawa, supaya bisa jadi tempat untuk belajar bersama.


Ditulis dengan Cinta, Mama

Thursday, February 13, 2020

Dongeng tentang Semut yang Pandai Berhemat

February 13, 2020 2

Suatu hari di sebuah kerajaan, seorang Raja tengah menikmati santapannya di meja makan. Namun, sejurus kemudian dilihatnya seekor semut sedang berjalan sambil membawa remahan makanannya. Sesungguhnya ia tidak berkenan dengan perbuatan semut yang telah mengambil makanannya secara diam-diam itu. Namun, Raja adalah seorang yang bijaksana. Alih-alih marah, beliau malah menyapa si semut.

"Hai, semut." Sapa Sang Raja.

Semut yang terkejut, menjawab sapaan Raja dengan terbata-bata, "Pa ... Pa ... Paduka Raja."

"Apa yang sedang kamu bawa?" tanya Raja.

"Ampun, Paduka. Hamba telah lancang mengambil makanan Paduka." jawab semut.

"Kenapa kamu mengambil makananku?" 

"Ampun, Paduka. Hamba sudah berkeliling mencari makanan, tetapi hamba tidak menemukan apa-apa, sehingga hamba terpaksa mengambil makanan Paduka di meja." jawab semut lagi.

Raja yang mendengar pengakuan semut kemudian merasa iba, "Kasihan sekali semut ini," ujarnya dalam hati. Beliau juga menilai bahwa si semut memiliki sopan santun serta sifat yang jujur. Raja pun segera mencari cara agar semut tak lagi kekurangan makanan tanpa harus mengganggu kegiatan makannya di meja makan.

Raja kemudian bertanya kembali pada semut,  "Semut, berapa banyak makanan yang kamu butuhkan dalam satu tahun?"

Semut menjawab, "Sepotong roti, Paduka."

"Kalau begitu, maukah kau kuberi sepotong roti untuk kebutuhan makanmu selama setahun, tetapi selama itu pula kau harus tinggal di dalam sebuah bejana?" 

"Hamba bersedia, Paduka." Jawab semut, patuh.

Raja pun mengambil sebuah bejana, kemudian menaruh sepotong roti di dalamnya. "Apakah ini cukup, semut?"

"Lebih dari cukup, Paduka." Jawab semut lagi. Ah, semut memang sangat pandai bersyukur.

Setelah itu, Raja memasukkan semut ke dalam bejana tersebut, kemudian menutupnya. Sebelumnya, Raja berjanji pada semut bahwa beliau akan datang kembali satu tahun yang akan datang. Kini, semut telah berada bersama rezekinya selama satu tahun.

Dongeng Raja dan Semut
Dongeng Semut yang Pandai Berhemat

Satu tahun kemudian, Raja menepati janjinya. Beliau membuka tutup bejana untuk memeriksa keadaan semut. Namun, betapa terkejutnya beliau ketika melihat semut masih menyisakan separuh potongan roti. Beliau kemudian bertanya pada semut,

"Semut, mengapa kamu masih menyisakan rotimu? Bukankah dulu kamu bilang kamu membutuhkan sepotong roti untuk satu tahun?"

Semut menjawab, "Ampun, Paduka, selama satu tahun ini hamba memang hanya memakan separuh potong roti. Separuhnya lagi hamba sisakan untuk berjaga-jaga seandainya Paduka lupa membuka tutup bejana ini."

Raja takjub mendengar penjelasan semut. Lihat, semut saja pandai berhemat, pandai mengatur kebutuhan hidup. Manusia seharusnya bisa meneladani sikap semut dalam mengelola rezeki dari Yang Maha Kaya.

Pesan untuk Mas dan Adek:
Rezeki dari Allah selalu cukup untuk hidup, tapi tak akan pernah cukup untuk menuruti gaya hidup. Hidup itu murah, gengsilah yang membuatnya mahal.


Ditulis dengan Cinta, Mama

Friday, February 7, 2020

Tips Berhijab untuk Wajah Lonjong

February 07, 2020 2
Jadi perempuan memang terkadang ribet ya, Ma... Hijab untuk wajah lonjong, bulat, atau kotak saja dipikirkan dan dipertimbangkan. Dan ya, masing-masing membutuhkan sentuhan tersendiri, agar tampilan kita jadi enak dipandang.

Untuk Mama-Mama yang berhijab, model hijab yang kita kenakan sebaiknya disesuaikan dengan bentuk wajah kita, karena dengan model hijab yang tepat, penampilan kita akan jadi lebih menarik, dan hal ini tentu berpengaruh juga pada kepercayaan diri. Untuk Mama yang memiliki wajah lonjong, Mama bisa menerapkan tips berhijab untuk wajah lonjong berikut ini:

1. Gunakan ciput atau inner hijab yang bisa menutupi sebagian dahi. Dengan tertutupnya sebagian dahi, wajah tak lagi terkesan lonjong dan akan terlihat lebih padat dan proporsional. Ciput atau inner hijab yang sangat pas digunakan untuk wajah lonjong adalah model bandana seperti foto di bawah ini.

Tips berhijab untuk wajah lonjong
Inner Hijab yang menutupi dahi untuk wajah lonjong, pict source: beautynesia.id

2. Gunakan hijab yang berbahan tebal. Hijab yang berbahan tebal dapat menambah kesan berisi pada wajah. Oya, Mama juga bisa memilih hijab yang bermotif supaya wajah terlihat lebih padat.

Tips berhijab untuk wajah lonjong
bahan hijab yang tepat untuk wajah lonjong, pict source: brilio.net

3. Gunakan hijab dengan model layer atau berlapis. Tujuan memberi aksen layer pada hijab adalah untuk menyeimbangkan tatanan wajah agar terlihat lebih bervolume atau berisi pada wajah lonjong. Saat membentuk layer, usahakan agar lipatan membentuk gelombang untuk memberikan kesan berisi pada sisi kanan dan kiri wajah. 

Tips berhijab untuk wajah lonjong
hijab untuk wajah lonjong, pict source: hijab.dream.co.id

4. Jangan menggunakan cepol, jangan pula mengikat rambut terlalu tinggi, karena hal ini akan membuat wajah terkesan semakin lonjong. Kalau rambut Mama panjang dan menghasilkan ikatan yang besar, letakkan ikatan di belakang kepala dan jangan melebihi tinggi kepala.

5. Hindari penggunaan hijab yang terlalu mancung, karena hijab dengan model ini justru akan membuat wajah semakin terkesan kecil dan memanjang.

6. Hindari penggunaan anting-anting hijab. Ya, meski anting-anting hijab sedang menjadi salah satu trend hijab akhir-akhir ini, tetapi anting-anting hijab tidak cocok untuk Mama yang berwajah lonjong, karena benda ini akan semakin mempertegas bentuk wajah yang panjang.

7. Pilih warna hijab yang sesuai dengan warna kulit. Pemilihan warna memang menjadi faktor penting dalam memilih jilbab. Salah pilih warna bisa bikin wajah terlihat kusam, lho, Ma!

Untuk poin nomor 7, ini dia tips memilih warna hijab yang sesuai dengan warna kulit:

* Untuk Mama yang memiliki kulit putih, Mama bisa menggunakan hijab dengan berbagai warna. Namun, sebaiknya hindari warna-warna nude untuk hijab yang Mama kenakan, karena warna nude akan membuat kulit putih terlihat pucat. 

* Jika Mama memiliki kulit kuning langsat, maka warna yang harus dihindari adalah warna-warna yang memiliki tone keemasan, seperti; caramel, gold, coklat, juga orange. Warna-warna ini akan memberikan kesan kusam pada kulit kuning langsat.

* Mama yang memiliki kulit sawo matang, sebaiknya gunakan hijab dengan warna-warna pastel, karena warna dengan tone lembut seperti ini akan membuat kulit terlihat lebih cerah. Hindari penggunaan hijab dengan warna coklat karena bisa membuat kulit terlihat kusam.

* Untuk Mama yang berkulit gelap, jangan minder, Ma. Kulit berwarna gelap justru lebih menguntungkan dibandingkan kulit dengan warna medium seperti kuning langsat dan sawo matang, karena dengan kulit gelap, semua warna bisa Mama kenakan.

Baiklah, itu dia tips berhijab untuk wajah lonjong, plus tips memilih warna hijab yang sesuai dengan warna kulit. Mama bisa terapkan tips di atas saat belanja nanti, supaya tidak salah dalam memilih model hijab. Apalagi beberapa bulan lagi insya Allah kita akan merayakan lebaran, ya kan? Oya, belanjanya dari sekarang saja, Ma, supaya nanti saat Ramadhan kita bisa beribadah dengan tenang, dan ngga repot mikir baju lebaran lagi. Xixixi...


Tuesday, January 21, 2020

Serunya Family Gathering dan Outbond di Resto Kemuning Bersama TKIT Bina Madina dan KBIT ABATA

January 21, 2020 8
Family Gathering TKIT Bina Madina dan KBIT ABATA, Gedongan, Colomadu, Karanganyar

Akhir Oktober 2019, usai pembagian rapor mid semester, komite TKIT Bina Madina dan KBIT Abata mengadakan rapat pembentukan panitia acara Family Gathering. Acara ini merupakan program dua tahunan di sekolah yang terletak di Gedongan, Colomadu, Karanganyar, Jawa Tengah ini. Nah, kalau tahun ini programnya adalah Family Gathering, maka tahun depan insya Allah akan ada Spectacular Parenting. Ya, Family Gathering dan Spectacular Parenting adalah program dua tahunan, sehingga pelaksanaannya bergantian.

Baca ini ya: Seminar Parenting; Bullying yang Bikin Pening

Dan entah apa dasarnya, Ustadzah Rina Purwandani yang merupakan Kepala TKIT Bina Madina, tiba-tiba menunjuk Mama sebagai ketua panitia. Andai Ust Rina tahu, Mama ini sangat cupu untuk urusan beginian. Amanah ini terlalu berat untuk Mama yang tak punya pengalaman apa-apa sebelumnya. Namun, alhamdulillah, baik ustadzah maupun bunda-bunda komite, semua ringan tangan dan senantiasa bahu-membahu hingga acara usai. Terima kasih semuaaa... Ketjup dari saya. :*

Kerja keras panitia sudah dimulai sejak bulan-bulan sebelumnya. Dimulai dari pemilihan tempat, hingga menimbang dan memutuskan bahwa Family Gathering akan diadakan di Resto Kemuning, juga perumusan biaya, dan lain-lainnya.

Terakhir, Sabtu 11 Januari 2020 kami melakukan koordinasi final, yaitu mendengarkan laporan dari masing-masing sie tentang apa saja yang sudah dan belum dilakukan atau dilengkapi. Dan beberapa hari kemudian, tepatnya di Selasa, 14 Januari 2020, kami sama-sama membungkus hadiah / doorprize yang akan dibagikan di setiap bis supaya perjalanan semakin menyenangkan.

bersama-sama membungkus doorprize :)

Dan hari itu pun tiba ...

Pagi itu, Sabtu, 18 Januari 2020, Mama bangun lebih pagi dari biasanya. Setelah mengecek barang bawaan Mama dan Adek Aga, dan memastikan bahwa tak ada yang tertinggal, Mama pun bersiap-siap sembari menyiapkan sarapan. Ya, sarapan itu penting, teman. Jangan sampai ditinggalkan.

Jam 6 kurang, dengan diantar Papabebi, Mama dan Adek Aga meluncur ke sekolah. Bis-bis sudah menunggu penumpangnya. Masya Allah... Dan tepat di pukul 07:00, 7 bis beriringan menuju Resto Kemuning, yang terletak di Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar.

Meski sebenarnya sekolah kami dengan tempat outbond yang kami tuju masih berada dalam satu kabupaten, tetapi kami membutuhkan sekitar 1,5 jam perjalanan. Hihi, maklum lah, Colomadu itu kecamatan yang nyempil di antara kabupaten lain, yaitu Boyolali, Surakarta dan Sukoharjo.

Setibanya di Resto Kemuning, kami disambut oleh kakak-kakak dari Pena Event Organizer. Setelah ramah tamah, kami dipersilakan untuk mengambil sarapan. FYI, sebelumnya, kami ditawarkan beberapa pilihan menu, seperti:

Sarapan:
  • Snack
  • Nasi soto
  • Nasi pecel
  • Bubur ayam
  • Bubur kacang ijo
Makan siang:
  • Paket ayam bakar atau goreng
  • Paket ikan nila bakar atau goreng

Dan pilihan kami adalah;
Sarapan: Nasi soto
Makan siang: Paket ayam bakar untuk anak-anak dan paket nila bakar untuk orang tua

Alhamdulillah... Jadi, sebelum bermain bersama, kami sudah punya tenaga. Hihi... 

Sarapan nasi soto sebelum outbond di Resto Kemuning

Setelah sarapan, kami digiring (digiring, macam bebek aja, xixi), menuju lapangan. Dan keseruan pun dimulai!

Kakak-kakak dari Pena Event Organizer meminta kami berbaris bersisian dengan anak-anak. Dengan iringan musik, kami diajak untuk menari baby shark dan senam pinguin. Serruuu, dan geli juga dengan gerakannya. Hihi...

Permainan dilanjutkan dengan estafet balon yang sudah diisi air. Tawa kami pecah ketika mendengar satu demi satu balon meletus dan merecikkan air. Apalagi setelah itu kami diminta untuk melemparkan balon-balon air itu ke udara. Sontak semua menghindar agar tak terkena lemparan. Tapi justru di situlah keseruannya, ketika balon air mengenai salah satu di antara kami, dan kami menjadi basah karenanya. :D

Kakak-kakak dari Pena Event Organizer memang iseng. Setelah puas membuat kami tertawa, kami dibuat menangis juga. Kami diminta untuk memeluk anak-anak, dengan iringan kalimat sendu yang membuat kami semakin terharu.

Family Gathering TKIT Bina Madina dan KBIT ABATA

serunya menari baby shark dan senam pinguin

Family Gathering TKIT Bina Madina dan KBIT ABATA

Selesai seru-seruan bersama anak-anak, kami dipisahkan. Anak-anak diajak bermain sendiri, begitu pula para orang tua.

Anak-anak bermain meniti tali, merayap, bertani, menangkap ikan, dan diakhiri dengan berenang di kolam renang.

Family Gathering dan Outbond di Resto Kemuning, Ngargoyoso, Karanganyar
Outbond di Resto Kemuning

Good job, Boy! Aga anak pemberani. :)

Outbond di Resto Kemuning

Permainan untuk orang tua lebih menuntut kami untuk berkonsentrasi. Namun, meski terlihat sepele, nyatanya sering juga kami melakukan kesalahan. Maklum, orang tua banyak pikiran, wkwkwk...

Selain harus fokus, permainan ini membutuhkan stamina yang tinggi. Soalnya, kami diajak untuk melompat maju mundur, kanan kiri. Menyesal sekali karena Mama jarang berolahraga, jadi diajak lompat-lompat begitu saja, lelahnya luar biasa.

Family Gathering dan Outbond di Resto Kemuning, Ngargoyoso, Karanganyar
Tim Ongol-Ongol :)

Family Gathering dan Outbond di Resto Kemuning, Ngargoyoso, Karanganyar
Ssst, ada grup bapa-bapak juga

Alhamdulillah, regu Mama yang kami beri nama tim Ongol-Ongol jadi juara dua di permainan konsentrasi. Karena itu, kami diizinkan untuk melanjutkan ke sesi river tubing.

Meski sempat bete karena harus menunggu terlalu lama, tetapi semua terbayar ketika kami meluncur mengarungi Kali Pucung dengan ban-ban karet sejauh 1,2 km. Seruuuu... Semua bebas berteriak dan tertawa lepas. Yup, ini adalah kesempatan untuk bersenang-senang, sejenak melupakan beban dan segala kewajiban.

Seorang Mama bilang, "Lupakan hutang, saatnya bersenang-senang."

Mama yang lain menimpali, "Semoga hutangnya ikutan hanyut di kali." Hihi, ada-ada saja. Tapi kami saling mengaminkan. Siapa tahu setelah ini kita benar-benar bisa bebas dari jeratan hutang, ya kan? 😁

River Tubing di Kali Pucung
Persiapan sebelum river tubing

Family Gathering di Resto Kemuning, Ngargoyoso, Karanganyar
Menuju titik awal river tubing Kali Pucung

Peace, Ma! Habis ini teriak-teriak kita. Wkwkw..

Oke, siap-siap, Ma.. Kalem..

Family Gathering di Resto Kemuning, Ngargoyoso, Karanganyar
pintu air belum dibuka, wajah masih kalem, sempat selfie pula :)

Outbond di Resto Kemuning, Ngargoyoso, Karanganyar
puas banget ketawanya :D

Udahan dulu bahas utangnya. Kita kembali ke kenyataan, eh, maksudnya ke acara kemarin.

Setelah puas berteriak dan tertawa sambil menikmati arus Kali Pucung, kami pun kembali ke basecamp. Di sana, Adek Aga sudah menunggu mamanya. Huhu, sediiiih... Adek Aga sempat nangis, katanya. Maaf ya, Dek, habisnya tadi antreannya lamaaa...

Nah, setelah bebersih badan yang tadi kebasahan, kami dipersilakan untuk menikmati santap siang. Seperti yang Mama tulis di atas, menu kita adalah paket nila bakar untuk dewasa, dan paket ayam bakar untuk anak-anak.

Alhamdulillah, Adek Aga sudah makan sendiri. Kata Mama Gravish, Aga makannya banyak, tapi eh tapi, waktu lihat Mama makan, dia lapar lagi. Wkwkwk... Anak ini memang banyak makannya. Alhamdulilah..

Selesai makan siang, acara dilanjutkan dengan penyerahan kembali peserta outbond kepada pihak sekolah. Artinya, setelah ini kita akan berpamitan pulang. Dan satu per satu, orang tua dan anak-anak pun kembali menuju bis masing-masing.

Eit, tapi di WAG Komite, tiba-tiba ada yang mengingatkan, "Bund, panitia ngga foto bersama?"

Wah, Mama langsung ajak semua panitia untuk turun dari bis dan menuju ke dekat kolam renang. Momen ini tidak boleh terlewatkan, bukan? Apalagi, outfit kita sudah seragam. #tetep 😁

Family Gathering di Resto Kemuning, Ngargoyoso, Karanganyar
segenap ustadzah dan rekan-rekan panitia

Setelah puas cekrak-cekrek, kami kembali ke bis. Alhamdulillah, banyak hal yang kami syukuri. Cuaca yang cerah hingga kami puas bermain, juga perjalanan pergi pulang yang lancar tanpa ada halangan.

Alhamdulillah, tsumma alhamdulillah. Dan seiring dengan berakhirnya acara Family Gathering ini, berakhir pula tugas saya. Kalau diibaratkan, rasanya seperti sebongkah batu terangkat dari kepala. Beberapa hari jelang hari H, kepala rasanya beraaat, tapi Alhamdulillah sekarang sudah kembali enteng. Hehe...

Ya, benar kata Eyang Nelson Mandela. Sesuatu selalu tampak tidak mungkin hingga ia selesai dikerjakan.

It always seems impossible until it’s done. 

Dan dari lubuk hati yang terdalam, saya mengucapkan terima kasih yang tak terhingga atas kerja sama seluruh ustadzah, rekan-rekan panitia, juga Abi/Ummi sekalian. Tanpa support dan kerja sama yang baik, acara ini tak akan berjalan dengan mudah. Mohon dimaafkan apabila ada banyak kekurangan. Karena sekali lagi, ini adalah kali pertama saya diberi tanggung jawab yang menyangkut hajat hidup orang banyak.

Akhir kata,

Ikan bawal dimakan buaya
Buaya darat bikin sengsara
Mohon maaf jika ada salah dan lupa
Karena diri ini hanya manusia biasa

Eeaaa... Ya, itulah keseruan Family Gathering dan Outbond di Resto Kemuning Bersama TKIT Bina Madina dan KBIT ABATA. Sampai jumpa di event seru lainnya... :*

NB: Foto-foto di atas merupakan hasil bidikan ustadzah



Ditulis dengan Cinta, Mama

Tuesday, January 14, 2020

Bagaimana Cara Mengatasi Kecanduan Gadget pada Anak?

January 14, 2020 0
Halo, Ma ... Akhir-akhir ini kita sering mendengar istilah Generasi X, Generasi Y, Generasi Z, sampai Generasi Alpha, kan? Namun, sudah pahamkah kita dengan istilah ini? Salah satu generasi tersebut konon lebih tertarik untuk bermain gadget dibandingkan melakukan aktivitas lainnya. Generasi yang manakah itu? Dan bagaimana pula cara menghentikan kecanduan gadget pada anak? Simak terus tulisan Mama Kepiting, yaa ...

Tips Mengatasi Kecanduan Gadget pada Anak
Cara Mengatasi Kecanduan Gadget pada Anak

Sebelum ke mana-mana, kita kenali dulu yuk, pengelompokan generasi berdasarkan tahun kelahiran ini.

1. Tradisionalis
Generasi Tradisionalis adalah generasi yang terlahir di antara tahun 1922-1945. Meski jarang disebut, tapi kita harus berterima kasih pada generasi ini, karena sebagian besar dari mereka merupakan veteran yang berjiwa patriotisme tinggi. Mereka merupakan saksi sejarah peristiwa besar di muka bumi.

Ya, terlahir di masa Perang Dunia II yang juga disebut zaman "The Great Depression", nenek moyang kita harus hidup dengan kondisi serba kekurangan. Namun, karena tempaan hidup inilah, kemampuan mereka dalam memimpin di dunia kerja pun tidak perlu diragukan lagi.

2. Baby Boomers
Baby Boomers adalah generasi yang terlahir di tahun 1946-1964. Ya, mungkin orang tua kita termasuk di dalamnya. Generasi ini terlahir di era pemulihan pasca perang. Di masa ini, orang-orang sudah mulai memikirkan karir atau pekerjaan, karena keamanan hidup tak lagi terancam.

3. Generasi X
Untuk Generasi X atau generasi yang terlahir di tahun 1965-1980, kehidupan antara pekerjaan, pribadi dan keluarga sudah jauh lebih seimbang. Generasi ini juga sudah mengenal komputer dan video game versi sederhana.

4. Generasi Y
Generasi Y disebut juga dengan Generasi Milenial, dan terlahir di antara tahun 1981 - 1994. Bisa dibilang, generasi ini pembawaannya lebih santai dibanding generasi sebelumnya. Namun, meski terkesan cuma kebanyakan senang-senang, dari generasi ini bisa terlahir bermacam-macam startup, lho. Wehehe, jadi bangga deh ...

5. Generasi Z
Sering disingkat Gen Z, generasi yang terlahir antara tahun 1995 - 2010 ini dikenal tak bisa lepas dari gadget dan aktivitas media sosial. Namun, jangan negative thinking dulu, karena banyak dari mereka yang menggunakan media sosial ini untuk mencari rezeki. Lihat deh, selebgram-selebgram atau YouTubers itu mayoritas merupakan Gen Z, bukan?

6. Generasi Alpha
Nah, ini yang akan kita bahas. Generasi yang terlahir setelah tahun 2010, disebut dengan Generasi Alpha. Bisa dibilang, begitu brojol, generasi ini langsung mengenal gadget. Bagaimana kehidupan mereka di masa yang akan datang, tentu tergantung orang dewasa yang ada di sekitar mereka. Karena Generasi Alpha tertua masih berumur 9 tahun, yang mana masih usia anak-anak.

Meski Generasi Alpha adalah generasi yang paling akrab dengan gadget, tegakah kita membiarkan mereka tergantung dengan alat ini? Sementara kita tahu, di samping manfaat dan kemudahan yang ditawarkan alat ini, ada pula dampak buruk yang menyertai. Tak hanya berpengaruh pada fisik (kesehatan anak, seperti pada mata dan tulang / postur tubuh), tetapi juga pada jiwa anak.


Maka dari itu, yuk, sebelum terlambat, kita sama-sama berusaha agar anak-anak kita bisa menggunakan gadget dengan bijak. Mama Kepiting sudah merangkum beberapa tips yang bisa Mama coba.

1. Batasi penggunaan

Kelihatannya mudah ya, "cuma" ngasih batasan waktu saja? Hmm, jangan salah, Ma! Kadang sebagai orang tua, rasa ngga tegaan kita lebih besar. Kita sering kalah dengan tangisan atau ngambek-nya anak-anak. Kenapa saya bisa bilang begitu? Karena Mama Kepiting dulu seperti itu, Ma. LoL.

"Udah lah, daripada nangis melulu, kasih aja tambahan waktu." 
"Gapapa deh, biar anteng. Mama masih sibuk soalnya."

Jangan begitu ya, Ma! Sekali kita lembek, anak-anak akan tahu kelemahan kita.

Screen Time yang disarankan untuk anak-anak
Screen Time yang disarankan untuk anak-anak

Dan, yuk, kita patuhi screen time yang disarankan oleh The American Academy of Pediatrics (2013) dan Canadian Paediatric Society (2010), yaitu;
- Anak-anak < 2 tahun, tidak dianjurkan untuk mengakses segala jenis gadget sendirian
- Anak-anak 2-4 tahun hanya diperkenankan mengakses gadget maksimal 1 jam per hari
- Anak-anak > 5 tahun hanya diperbolehkan mengakses gadget maksimal 2 jam per hari

2. Perbanyak aktivitas anak

Terkadang, seperti orang dewasa, anak-anak juga "ngga tau mau ngapain". Akhirnya, karena mungkin orang tuanya pegang gadget, anak-anak juga ingin melakukan hal yang sama.

"Koq Mama sama Papa asyik banget sih? Aku pengen juga deh..." Semacam itu.

Maka, lebih baik jika kita membuat anak-anak sibuk. Ikutkan ekstra kurikuler di sekolah, misalnya. Atau ajak anak untuk mengikuti kelas musik, olahraga, atau apapun yang ia suka, tentu selain bermain gadget. Kegiatan seperti ini juga sekaligus mengajarkan anak untuk bersosialisasi dan memperluas pergaulan.

3. Berikan mainan pengganti yang tak kalah menarik

Tentu kita tahu, secara naluriah, anak-anak menyukai mainan. Namun, terkadang kita suka memaksakan kegiatan bermain sambil belajar. Betul tidak?

Beli mainan, yang dibeli mainan edukatif melulu. Xixixi... Balok lah, puzzle angka lah. Wkwkwk... Tidak salah, Ma, tapi alangkah lebih membahagiakan bagi anak jika mereka bisa bebas bermain tanpa harus ada embel-embel belajar. Plis atuh, di sekolah mereka sudah belajar, masa bermain saja harus sambil belajar juga?

Dan sesungguhnya, di dalam setiap kegiatan yang anak-anak kita lakukan, sebenarnya ada pelajaran yang bisa dipetik juga, to? Misalnya, ketika ia bermain sepeda, ia juga sedang melatih konsentrasi dan kekuatan otot kaki. Dan lain sebagainya.

Omong-omong, ini pengalaman baru kami, yaa... Beberapa waktu lalu kami baru saja membelikan Mas Amay sepeda, menggantikan sepeda kecilnya yang sudah rusak. Sekarang, setiap pulang sekolah, Mas Amay langsung mengambil sepedanya. Dia sama sekali tidak mengingat game di komputer. Saya pun sudah tidak perlu susah-susah lagi mengingatkannya untuk berhenti bermain game. Bahkan di hari Sabtu dan Minggu pun, ia hanya menyentuh komputer selama beberapa menit saja. Padahal, ia hanya boleh bermain game di weekend saja.

Luar biasa, ya? Selama ini kami sudah susah payah mengatur waktu bermain game, sampai kadang harus marah-marah juga ketika Mas Amay tidak ingat waktu, tapi ternyata "cuma" sepeda jawabannya. LoL.


4. Temani mereka bermain

Membeli aneka mainan tentu membuat anak-anak bahagia. Namun, ingat-ingat deh, Ma. Bagaimana rasanya ketika kita kecil dulu orang tua kita ikut bermain dengan kita? Double bahagia kan?

Saya ingeeett banget waktu ibu saya dulu ikut main bola bekel bareng saya dan teman-teman. Rasanya luar biasa dan ngga akan pernah saya lupa. Jadi, mulai sekarang, luangkan waktu untuk bermain atau berkegiatan dengan anak-anak yuk, Ma!

Mama bisa berkreasi membuat mainan dari magnet, misalnya. Atau mengajak mereka membuat cemilan kesukaan seperti; Pisang Pasir atau Puding Puyo?

5. Berikan contoh yang baik

Kekuatan kata akan kalah dengan kekuatan keteladanan. Betul, Ma? Jadi, jika kita ingin anak-anak tumbuh dengan baik, berikan teladan yang baik pula. :)

~~~

Nah, itu dia 5 tips yang sudah saya lakukan untuk mengurangi kecanduan gadget pada anak. Jika masih belum berhasil, Mama bisa minta bantuan pada ahli. Atau, bisa juga kita meminta bantuan pada guru atau orang yang disegani oleh anak kita. Terkadang memang ada anak yang lebih patuh pada guru dibanding pada orang tua, bukan? Bismillah ya, Ma...



Ditulis dengan Cinta, Mama