Friday, May 25, 2018

Bawa Toddler Saat Buka Bersama, Enaknya Gimana?



Puasa sudah memasuki hari ke sembilan, tapi keluarga Mama Kepiting sama sekali belum berbuka puasa di luar. Memang sudah ada jadwal di tanggal 30 Mei dan tanggal 2 Juli, yaitu ifthor bersama ex TK Mas Amay (karena Mama masih menjadi pengurus komite), dan ifthor bersama teman-teman SD Mas Amay. Tapi sejujurnya, Mama masih bingung akan bagaimana buka bersama nanti.

Untuk TK Mas Amay, Mama sebenarnya sudah berencana untuk minta ijin tidak hadir, karena selain tempatnya lumayan jauh, Mama juga pusing memikirkan bagaimana jika Dek Aga rewel di sana. Tapi belum juga sempat ijin, semalam Ust Rina meminta Mama menjadi MC di ifthor nanti. Hihi, padahal Mama suka grogi, masa diminta jadi MC? Tapi Ust Rina adalah Ust Rina, yang pandai merayu dan membesarkan hati Mama. Entah bagaimana, Mama jadi tak kuasa menolaknya. :D

Nah, tinggal ifthor bersama teman-teman SD, nih. Mama sudah merayu Papabebi, supaya Papa saja yang datang nanti. Tapi Papabebi selalu beralasan, “Malu ah, nanti Papa jadi satu-satunya bapak-bapak di sana...” Padahal ketakutannya itu seringkali tidak terbukti. Seperti waktu out bond akhir tahun lalu, ada beberapa bapak-bapak yang mengantar anak-anaknya kok.


Akhirnya, seringkali Mama kembali mengalah. Menghadiri acara meski dengan membawa Dek Aga. Sejujurnya Mama masih agak trauma, jika mengingat buka bersama tahun lalu bersama Tante Diba dan Om Apip, semalam sebelum kita mudik.

Kita sudah berbuka di rumah kantor, dengan segelas teh manis hangat dan beberapa potong gorengan. Setelah sholat Maghrib, kita baru berangkat ke tempat berbuka, yang tak seberapa jauh dari kantor Papa. Cara ini belakangan memang kita pilih, agar tidak kehilangan waktu sholat Maghrib, yang jauh lebih wajib dan lebih berharga, dari sekedar buka bersama di restoran yang seringkali memakai dalih silaturrahmi.

Tentu tidak semua yang berbuka puasa di luar, menomorduakan sholat maghrib yaa.. Tapi bisa kita rasakan sendiri, kok, mana yang lebih nyaman. Sholat maghrib di rumah, atau di restoran, yang terkadang seperti diburu-buru oleh pengunjung lainnya yang antri di belakang.

Maka dari itu, sejak punya Dek Aga, Mama lebih senang memilih untuk berbuka puasa di rumah makan yang tidak jauh dari rumah, dan berangkat ke sana setelah selesai sholat maghrib di rumah. Enaknya, tempatnya sudah relatif lebih sepi, karena beberapa pengunjung sudah menyelesaikan makannya. Kita juga tidak kehilangan kekhusyu’an dalam mengerjakan sholat Maghrib yang waktunya paling sempit di antara waktu sholat lainnya. Resikonya, sholat isya’ dan tarawihnya terlambat, jadi harus menunaikannya sendiri di rumah.

Nah, tahun lalu, saat berbuka puasa di luar, kondisi Mama dan Papa memang sedang tidak fit. Tapi hari itu adalah hari terakhir kantor sebelum libur lebaran. Maka, acara buka bersama tetap diadakan.

Qodarullah, Dek Aga rewel, nangis melulu. Mama mempersilakan Papa untuk makan lebih dulu. Papa pun makan dengan buru-buru. Setelah Papa selesai, Papa mengambil alih Dek Aga. Tapi, ya memang karena Dek Aga sedang jelek mood-nya, dia nangis terus. Bener deh, Mama sampai kehilangan nikmatnya berbuka. Apalagi Mama sempat tersedak juga, dan itu membuat Mama terbatuk-batuk, hingga seluruh isi perut Mama keluar. Yah, kebetulan kondisi Mama dan Papa juga sedang sakit kan?

crying toddler from chacomsig

Duh, kalau mengingat hari itu, rasanya Mama kapok membawa toddler berbuka puasa di luar. Tapi, setelah Mama ingat-ingat lagi, dulu waktu Mas Amay masih kecil, Mas Amay juga sering kok diajak makan di luar. Kita bahkan sering sekali berbuka puasa bersama Mas Arka, sahabatnya Mas Amay sedari bayi. Ya mungkin karena Mas Amay lebih mudah ditenangkan saat rewel dibandingkan Dek Aga yaa.

Jadi menurut Mama Kepiting bagaimana? Mengajak Toddler berbuka puasa, yay or nay?

Jawaban Mama, tergantung.

  • Mama harus melihat dan memahami karakter si toddler bagaimana. Kalau senang berada di keramaian, saat rewel mudah ditenangkan dan perasaannya mudah dikendalikan, Mama akan jawab yay.
  • Syarat lainnya, harus ada orang dewasa lainnya yang bisa bergantian mengasuh si toddler, dalam hal ini, Papa.


Jika kedua syarat itu tak terpenuhi, udah deh, mending buka puasa di rumah aja, tak kalah nikmatnya. Hihihi...

Dan untuk teman-teman di Solo yang sedang mencari tempat berbuka puasa, bisa ke sini yaa:
- Ibarbo Food Court, Kottabarat
- Kebon nDeso, Colomadu

Friday, May 18, 2018

Resep Pisang Pasir untuk Buka Puasa

Ada satu makanan kesukaan yang Mas Amay sering minta untuk Mama buatkan, yaitu Pisang Pasir a.k.a Pisang Crispy ala mamakepiting. Kalau Mama sedang terlihat membuatnya, Mas Amay dan Dek Aga selalu tak sabar untuk mencicipinya segera. Dan karena tadi pagi Mbak Sayur membawa pisang kepok kuning lagi, akhirnya Mama memiliki ide untuk membuat cemilan ini, sebagai takjil atau makanan pembuka saat berbuka puasa.

Bahannya sangat sederhana. Nggak pakai ribet pokoknya. Yang pasti, sediakan pisang kepok kuning, kupas, kemudian bagi dua. 

Untuk balurannya, kita hanya membutuhkan tiga bahan, yaitu;
- Tepung panir
- gula pasir 1/2 sdm
- garam 1/4 sdt

Mas Amay saat membantu Mama membuat Pisang Pasir

Caranya: 
- Campur tepung panir, gula pasir dan garam. Aduk-aduk pokoknya, supaya nanti rasa manis dan gurihnya merata.
- Gulingkan pisang yang sudah dikupas dan dibagi dua tadi, ke dalam tepung panir. 
- Remas-remas pisangnya, hingga tepung panirnya menempel rata.
- Masukkan ke dalam wadah, lalu simpan ke dalam freezer.
- Jelang maghrib, goreng beberapa potong. Nikmati selagi hangat.

adonan Pisang Pasir siap dimasukkan ke dalam freezer

Oya, ada yang menggunakan telur ayam supaya tepung panirnya mudah menempel. Tapi mamakepiting tidak suka dengan bau amisnya, hihi... Dan begini saja, Mas Amay dan Dek Aga sudah senang banget koq. Hehe.. Tapi jika Mama lebih suka jika menggunakan telur, silakan saja. Yang pasti, menu ini bisa jadi alternatif, jika kita sudah mulai bosan dengan kolak pisang. Praktis kan?

Untuk resep buka puasa yang lain, Mama juga bisa mencoba resep praktis Puding Puyo. Selamat mencoba ya, Ma.. ☺❤

Friday, May 11, 2018

Liburan di Purworejo, Ngapain Aja?


Duh, dalam sekali makna kutipan tentang "kampung halaman" di atas, ya... Memang, seperti lapar, yang menjadikan makanan terasa lebih lezat saat dimakan, jarak, kita perlukan agar kita pandai memaknai arti kerinduan. 

Alhamdulillah, akhir April kemarin keluarga Mama Kepiting bisa pulang kampung. Alhamdulillah, selain bisa berkunjung ke rumah Akung, kami juga bisa membasuh rindu di kampung halaman tercinta, Purworejo Berirama. 

Tugu Clorot di Alun-alun Purworejo

Hari sudah gelap saat kami akhirnya bisa mencium wangi udara Purworejo. Dari stasiun, kami menaiki angkot sampai alun-alun. Di alun-alun, tepat di seberang tugu clorot di atas, Tante Opik memesan taksi online, untuk mengantar kami ke rumah Akung.

Eh, sudah tau clorot belum? Clorot adalah makanan khas dari Purworejo. Rasanya manis, teksturnya kenyal, dan clorot ini dibungkus dengan menggunakan janur. Seperti ini:

Clorot Purworejo. pict by Mama Arinta Adiningtyas, mamakepiting.com

Sebenarnya Akung menawarkan untuk menjemput kami. Tapi daripada makin repot, lebih baik kami naik taksi online saja, lebih praktis. Thanks to taksi online, deh... Sampai di rumah Akung, kami disambut dengan teh hangat dan mie instan rebus buatan Bude Nana. Alhamdulillah, akhirnya perut ini terisi juga, hihi... Kami pun bisa beristirahat dengan nyenyak.

Di Purworejo Ngapain Aja? 

Di Purworejo, kami tidak pergi kemana-mana. Hanya di Minggu pagi, Mama pergi ke pasar untuk membeli nasi megono dan lupis kesukaan. Dua makanan ini mengandung kenangan. Waktu Mama kecil, pergi ke pasar desa yang bernama Pasar Sayir alias Pasar Lugosobo alias Pasar Gintungan, adalah sebuah rutinitas mewah. Makanya, Mama bersyukur sekali kemarin, karena bisa kembali merasakan sensasi itu, sembari mengenang masa lalu.


Oya, sebenarnya Purworejo memiliki tempat wisata lho, hanya saja masih kurang terekspos. Tempat wisata ini berada di daerah pegunungan di Kecamatan Bruno. Mama pernah menulisnya di kayusirih.com


Kenapa kemarin kami tidak pergi ke sana? Salah satu alasannya adalah kami tak punya kendaraan yang memadai. Selain itu, kondisi Adek Aga belum memungkinkan untuk diajak mendaki gunung, lewati lembah, sungai mengalir indah (lha koq jadi nyanyi...), eh, maksudnya Adek Aga kan masih kecil, jadi belum bisa diajak jalan-jalan ke Curug. Bisa sih, asal Mama atau Papa mau menggendong. Tapi kan berat.. :(

Tapi meski kami nggak kemana-mana, Mas Amay dan Adek Aga tetap bahagia koq. Harus bahagia lah, hehe... Di Purworejo, Mas Amay dan Dek Aga bisa berlarian dengan bebas. Sok sana, lari sampe capek. Mama ijinkan.. Kalau di Solo, kan nggak bisa, hehe... 

lari-larian di halaman rumah Akung
Selain itu, Mas Amay memancing bersama Afizna, anaknya teman Mama. Di mana? Di kolam ikan di belakang rumahnya Afizna lah. Hehe... Ibunya Afizna memelihara ikan gurame, sama dengan Akung. Tapi, kalau Akung memelihara ikan yang masih kecil-kecil, Ibunya Afizna justru memelihara ikan yang sudah lebih besar. 

Dapet ikan nggak?

Enggak.

Susah banget nangkapnya. Mungkin mereka sudah kenyang. Udah gitu, ada ular lagi. Ular sawah sih, tapi tetap saja kan, geli. Hiiiii...



Karena nggak dapat-dapat juga, Mas Amay sempat pindah ke kolam di sebelahnya. Tapi tetap saja sih, itu ikan nggak mau dipancing. Huhuhuhu...

Tidak apa-apa. Liburan yang akan datang, kita coba lagi ke sana yaa... Mama sudah bilang sama Ibunya Afizna, boleh tidak kalau kami ngabuburit sambil memancing ikan? Dan alhamdulillah dijawab dengan kata "boleh bangeeet laaah..." gitu. Hihihi...

Nggak sabar deh jadinya menunggu liburan lebaran sekaligus liburan kenaikan kelas nanti. Teman-teman Mama, sudah ada rencana liburan belum? Semoga liburannya nanti menyenangkan yaaa...☺

Tuesday, May 8, 2018

Belajar Jujur dan Bertanggung Jawab Sejak Kecil

Mama sering mengatakan pada Mas Amay, "Mama nggak bisa mengawasi Mas Amay setiap saat, but Allah does." Kalimat ini bermula sejak tahun lalu, saat Mama mengajak Mas Amay untuk berlatih puasa. Mengapa Mama mengatakannya? Karena saat berlatih puasa itu, diam-diam Mas Amay makan jajanan yang sedang dimakan Adek Aga. 

Mama sih tidak marah. Mama paham, apalagi Mas Amay baru berumur 6 tahun waktu itu, masih belajar puasa juga. Tapi, kalau Mama tidak menegur saat itu juga, Mama khawatir Mas Amay akan menganggap bahwa ketidakjujuran adalah hal yang biasa-biasa saja.


Dan Mama beruntung, setelah kejadian itu Mas Amay belajar, lebih baik jujur dengan mengatakan tidak kuat lagi menahan puasa, daripada harus berbohong, sembunyi-sembunyi makan jajan, dan kembali "melanjutkan puasa" yang sesungguhnya sudah tidak ada gunanya. Lebih baik jujur. Ya kan, Mas?

bohong dosa! red cross from pixabay

Dan pelajaran untuk selalu jujur itu, alhamdulillah masih Mas Amay ingat sampai hari ini ya... Waktu itu Tante Opik cerita, saat menjemput Mas Amay pulang sekolah, Tante Opik menunggu lama sekali di luar pagar. Padahal, teman-teman Mas Amay sudah pada pulang.

Tante Opik pun masuk ke kelas, dan dilihatnya Mas Amay sedang melakukan piket sendirian. Ada satu anak perempuan lain yang juga piket, justru mengatakan, "Udah yuk, May, kita pulang aja nggak usah piket..."

Tapi salut, Mas Amay tetap menyelesaikan tugas, karena itu sudah menjadi tanggung jawab Mas Amay. Mama terharu. Mas Amay tidak terlatih, dan semoga tidak akan pernah terlatih, untuk melakukan kecurangan. Karena, meski Bu Guru tidak melihat, tapi Allah Maha Melihat. Dan Allah punya malaikat yang akan mencatat.

Jaga kejujuranmu, ya, Mas.. ☺❤