Saturday, January 19, 2019

Kebo Iwa, Seorang Patih yang Rela Berkorban Demi Bersatunya Nusantara

January 19, 2019 2
Kebo Iwa adalah seorang Patih atau Panglima Militer yang berasal dari Bali. Badannya besar, tubuhnya tinggi. Selain menguasai ilmu perang, ia juga menguasai ilmu arsitektur. Ia membangun berbagai tempat ibadah di Bali, dan seringkali mengangkut sendiri batu-batu besar dengan kekuatan fisiknya.

Meskipun berbadan besar, Kebo Iwa tak pernah semena-mena menggunakan kekuatannya. Hatinya sangat mulia. Ia bahkan sering membantu warga yang mengalami kesulitan, misalnya dengan membuatkan sumur dengan jarinya yang sakti.

Kebo Iwa juga merupakan patih yang setia. Ia pernah berjanji pada Sang Raja, selagi ia masih bernafas, Kerajaan Bali Aga tak akan diserahkan pada kerajaan manapun.


Kebo Iwa, from balimediainfo.com

Berita tentang kesaktian Kebo Iwa pun sampai ke telinga Mahapatih Gajah Mada. Gajah Mada adalah seorang patih dari Kerajaan Majapahit yang terkenal dengan sumpahnya untuk menyatukan nusantara, yaitu Sumpah Palapa.

Gajah Mada, begitu mengetahui bahwa Kerajaan Bali Aga memiliki seorang patih yang sakti, segera mengatur siasat bersama Raja Tribuana Tungga Dewi. Mereka geram, karena kerajaan kecil itu tak juga takluk, sedangkan Kerajaan Daha yang merupakan induk dari Kerajaan Bali Aga, malah lebih dulu tunduk pada Majapahit.

Gajah Mada pun berupaya mencari cara agar bisa menaklukkan kerajaan itu. Ia mengirimkan sebuah surat yang berisi ajakan agar Kerajaan Bali Aga bersedia menjadi sekutu Kerajaan Majapahit. Kebo Iwa pun diundang untuk hadir ke Kerajaan Majapahit sebagai tanda persahabatan.

Raja Bali Aga menyambut hangat ajakan itu. Raja pun mengizinkan Kebo Iwa untuk berkunjung ke sana tanpa rasa curiga. Saat itu Kerajaan Bali Aga diperintah oleh Raja Sri Ratna Bumi Banten yang dikenal adil, bijaksana, dan dicintai oleh rakyatnya.

Sesampainya Kebo Iwa di Majapahit, Gajah Mada segera menemui tamunya tersebut. Gajah Mada berkata, "Kami sedang mengalami paceklik. Rakyat kekurangan air bersih. Untuk itu, sudikah kiranya Patih Kebo Iwa membantu membuatkan sumur?"

Kebo Iwa yang lurus hati itu pun bersedia membantu. Dengan jemarinya yang sakti, Ia mulai membuat lubang di tanah. Namun keanehan terjadi. Air tak juga muncul meskipun Kebo Iwa sudah menggali cukup dalam. Ia pun masuk ke dalam sumur buatannya untuk menggali lebih dalam lagi. Ia tak sadar bahwa sesungguhnya ada bahaya yang sedang mengintai.

Begitu Kebo Iwa masuk ke dalam sumur, Gajah Mada segera memerintahkan prajuritnya untuk menimbun Kebo Iwa dengan tanah yang telah digalinya. Kebo Iwa dikubur hidup-hidup.

Gajah Mada tersenyum, "Akhirnya, sebentar lagi Kerajaan Bali akan menjadi bagian dari nusantara," batinnya. Namun beberapa saat kemudian, tanah bergerak dan keluarlah Kebo Iwa yang ternyata masih hidup. Kebo Iwa merasa dikhianati. Ia pun bertarung dengan Gajah Mada. Akan tetapi di tengah pertarungan, ia terngiang keinginan mulia Gajah Mada yang ingin mempersatukan nusantara.

Di satu sisi ia ingin membantu Gajah Mada mewujudkan impiannya, namun di sisi lain ia juga teringat janjinya pada Raja Bali Aga bahwa Bali Aga tak akan dibiarkan jatuh ke tangan kerajaan lain selama ia masih bernyawa.

Gajah Mada Vs Kebo Iwa, from propinsibali.com 

Akhirnya, Kebo Iwa memutuskan untuk membantu mewujudkan mimpi Gajah Mada dengan mengatakan bahwa serbuk kapur bisa menghapus kesaktiannya. Mendengar hal itu, Gajah Mada pun segera memukul sebongkah batu kapur. Tak berapa lama, Kebo Iwa tumbang setelah terkena serbuknya.

Ya, berkat pengorbanan Kebo Iwa, nusantara berhasil disatukan oleh Gajah Mada.



Friday, January 11, 2019

Kisah Menghadirkan Proses Metamorfosis di Rumah

January 11, 2019 52
ulat pohon jeruk

Beberapa orang tetangga terkejut saat melihat pohon jeruk yang Mama tanam di depan rumah kini tak berdaun. Bukan karena rontok, tapi karena habis dimakan makhluk mungil berwarna hijau yang seringkali sadar kamera jika difoto. Ya, memang, saat ini ada banyak sekali ulat hijau yang mendiami pohon jeruk itu. 

"Kok mboten dibuangi, Bu?" tanya pengasuh Nay.

"Pun kersane (nggak apa-apa biarin aja)," jawab Mama sambil tersenyum. 

Mungkin beliau heran, masa cuma dibiarin aja? Tapi memang sedari awal Mama menyadari keberaaan ulat-ulat itu, tak ada niat sedikitpun untuk memberantas mereka.


ulatnya malu-malu

Bukan, bukan karena takut, bukan pula karena cuek. Tapi serius, Mama malah bersyukur. Syukur dalam artian seperti ini; karena Mama menanam pohon jeruk, maka mereka bisa makan dengan leluasa. Itung-itung berbagi rezeki dengan sesama makhluk-Nya, gitu.

Mama Kepiting sok bijak niye?

Haha... Bahkan Papa pun berkata seperti itu. Tapi kalau cuma sekadar sok-sokan, tentu niat untuk "membiarkan mereka makan" hanya bertahan beberapa hari saja, ya 'kan? Nyatanya, sampai hari ini, sampai daun-daun jeruk di pohon itu hampir tak bersisa, Mama tak sekalipun berniat menyingkirkan mereka.

Ih, itu kan hama?

Betul. Tapi tak apa. Toh, saat hari berganti dan musim ulat sudah pergi, dedaunan itu insya Allah akan tumbuh lagi. Jika daun-daun itu bisa berbicara, mungkin mereka pun akan bersyukur karena keberadaan mereka menjadi manfaat bagi si ulat. Karena daun jeruk ini tak bisa dijadikan bumbu masak. Hihi...

kepompong yang menempel di dinding

Lebih dari itu, ada manfaat lain yang bisa kami petik. Dengan tidak menyingkirkan ulat-ulat itu, mereka menghadirkan pengetahuan baru untuk Mas Amay dan Dek Aga. Apa lagi kalau bukan soal metamorfosis? 

Ya, dari halaman rumah yang seuprit itu, Mas Amay akhirnya bisa melihat secara langsung proses metamorfosis. Sebelumnya, dari buku yang pernah ia baca, Mas Amay memang sudah paham tentang metamorfosis atau perubahan makhluk hidup dari telur hingga menjadi dewasa yang sempurna, dengan mengalami perubahan bentuk morfologi, anatomi bahkan fisiologis. Tapi, melihat secara langsung bagaimana proses metamorfosis itu terjadi, adalah hal yang luar biasa bagi anak-anak. 

Mama merasa puas saat melihat Mas Amay dan Dek Aga, ketika pagi-pagi membuka pintu, bersorak kegirangan melihat kepompong-kepompong di dinding. Mata mereka memancarkan sebuah kekaguman. 

"Kok bisa ada di dinding ya, Ma?" tanya Amay penasaran.

Iya, karena ketika ulat sudah cukup besar alias sudah merasa kenyang makan, dan merasa sudah saatnya berubah menjadi kepompong, biasanya ia akan berjalan mencari tempat yang aman. Meski terkadang, tempat yang ia kira aman justru menawarkan hal sebaliknya. Dan tempat itu bisa di mana saja. Kebetulan, kebanyakan ulat memilih dinding rumah kita.





Sebuah kiriman dibagikan oleh Arinta Adiningtyas (@arinta.adiningtyas) pada


kupu-kupu yang gagal menetas

Mas Amay (Dek Aga belum yaa, hihi..) akhirnya juga paham, bahwa terkadang, sesuatu tak berjalan sebagaimana mestinya. Terkadang kita menemui kegagalan, seperti foto di atas. Dan semua itu tentu atas kehendak Allah. Tugas kita adalah mengambil pelajaran. :)

Tak hanya itu, Mas Amay (Mama juga tentunya) pun belajar tentang kesabaran. Saat kupu-kupu berhasil keluar dari kungkungan kepompong, ia menjeda rasa bahagianya. Sabar, tak perlu buru-buru. Sabar, kuatkan dulu sayapmu.

Mungkin sebenarnya kupu-kupu itu sudah ingin terbang sembari memandang indahnya dunia, apalagi sebelumnya ia sudah terpenjara cukup lama dan harus berpuasa selama beberapa hari, ya 'kan? Tapi memberi jeda pada diri sendiri, seringkali menjadi keputusan terbaik. 




Dan percayalah, kesabaran seringkali berbuah manis. Sabar dengan ulat yang menggelikan, yang bahkan menghabiskan dedaunan hingga tak lagi terlihat indah, membuahkan pengalaman berharga. Rasa puas menyaksikan bagaimana kupu-kupu memenuhi halaman rumah kita, tentu tak terkira besarnya.




Eh, omong-omong soal metamorfosis, Mama jadi teringat salah satu murid Mama. Luna namanya.

10 tahun lalu saat ia masih TK dan jadi anak didik Mama, ia memaksa Mama berani menghadapi ulat seperti ini. Waktu itu dia merengek, menangis sampai hampir 1 jam, karena tak juga berhasil menangkap seekor pun kupu-kupu.

Saat kehabisan ide bagaimana menghentikan tangisannya, seekor ulat mencuri perhatian Mama. Dengan sok berani, Mama mengambil ulat itu, lalu Mama berikan pada Luna. Mama bilang, "Luna tahu nggak? Kupu-kupu itu sebenarnya berasal dari ulat. Ini Luna bawa pulang yaa, coba Luna tunggu beberapa hari lagi, beneran jadi kupu-kupu apa nggak."

Beruntung anak itu mau mendengarkan. Mungkin sebenarnya dia sudah lelah menangis juga, hihi..

Besoknya, dia protes, "Miss Arin bohong, ya? Kok ulatnya nggak jadi kupu-kupu?" 

"Lho, kan Miss Arin bilang tunggu beberapa hari. Mungkin sekitar dua minggu."

"Yah, lama banget."

"Sabar dong..."

And two weeks later... Luna datang pagi-pagi banget, dan langsung menyerbu Mama. "Ms Arin, beneran keluar kupu-kupunya... Bagus banget iiih.." then she kissed me. So sweet banget memang ini anak. Dan karena dia jago menggambar, saat Journal Time dia menggambar proses metamorfosis ini, lalu dia ceritakan pada teman-temannya.

Misi Miss Arin selesai. Nggak perlu repot menjelaskan metamorfosis segala 'kan? Sudah ada yang bisa bantu jelaskan. Hihihi...



Nah, itu dia Luna, bersama Ms Budi, Principal di sekolah tempat Mama mengajar dulu. Cantik kan? Hihi... 

Sunday, January 6, 2019

Terlambat Cabut Gigi Susu, Gigi Amay Jadi Begini...

January 06, 2019 34
Terlambat lagi. Gigi seri bawah Mas Amay sudah tumbuh, padahal gigi susunya belum tanggal. Jadi gigi seri bawah Mas Amay dua-duanya kesundulan. Tahukah, gigi yang kesundulan, adalah salah satu penyebab gigi berantakan

Sebelumnya, bulan Ramadhan yang lalu, gigi seri bawah Mas Amay yang sebelah kanan pun kesundulan. Hasilnya kini giginya tumbuh miring. Eh, kejadian ini terulang lagi. Sungguh, kami menyesal dua kali.


gank gigi berantakan

Dari foto di atas, kelihatan kan kalau gigi bawah Mas Amay tumbuh miring?

Memang sih, terlambat mencabut gigi hanyalah salah satu faktor penyebab gigi berantakan. Sedangkan faktor lainnya antara lain:

1. Keturunan

Ada satu cerita lucu. Waktu Mama bilang begini; "Yah, kesundulan lagi. Gigi Mas Amay berantakan deh," anak ini dengan santai menjawab, "Ya kan Mas Amay keturunannya orang yang giginya berantakan juga."

Hahaha... Mamanya langsung diem deh.

Memang, tidak hanya Mamakepiting yang giginya berantakan, Papa juga. Lihat foto di bawah ini deh! Jadi, Mas Amay nggak sepenuhnya bersalah, yaa.. Xixixi...

gigi berantakan bikin manis koq. *haciiimmm!

2. Kebiasaan

Ada yang putra atau putrinya masih ngedot meski usianya sudah besar? Hati-hati lho, karena kebiasaan ini bisa menjadi salah satu penyebab gigi berantakan. Mas Amay dan Dek Aga sih nggak pernah ngedot, tapi faktor keturunan memanglah sungguh sangat kuat pengaruhnya. :)

Kebiasaan lain yang berpotensi membuat gigi tumbuh berantakan, contohnya suka menghisap jari, suka menjulurkan lidah saat bicara, suka mengigit kuku atau pensil, menggigit bibir, dan bernapas melalui mulut (terlebih jika sering pilek, yang mengakibatkan hidung tersumbat).

Bernapas melalui mulut pun bisa berpengaruh pada gigi ya? Iya. Tekanan angin yang berembus lewat mulut lama-kelamaan akan menggoyahkan pertahanan gigi. Akibatnya ada beberapa gigi yang bisa berubah posisi. 


3. Lingkungan

Faktor lingkungan ini misalnya, jika anak tumbuh di keluarga pecinta makanan manis, biasanya dia akan menyukai makanan manis juga. Seperti yang kita tahu, makanan manis adalah salah satu faktor penyebab ECC (Early Childhood Caries). Dan karies atau gigi berlubang adalah salah satu faktor penyebab gigi tumbuh berantakan.  

Gigi susu yang berlubang tak seperti gigi tetap. Gigi susu akan hilang dan mengakibatkan rahang mengecil. Rahang yang mengecil ini membuat gigi tetap yang berada di bawah gigi susu tidak mendapat tempat untuk tumbuh. Lalu gigi dewasa tumbuh di mana? Karena tidak mendapat tempat, dia bisa tumbuh ke samping, ke depan, ke belakang, dan akhirnya susunan gigi jadi berantakan. 

Tuh kan, kelihatannya sepele, tapi kebiasaan yang salah sejak kecil ternyata pengaruhnya akan terasa sampai dewasa. Jadi Ma, yang putra-putrinya sudah menginjak usia 6-7 tahun, sering-sering diperiksakan giginya. Siapa tahu gigi permanennya sudah nggak sabar pengen nongol, padahal gigi susunya masih ingin bertahan. Kalau nggak ada yang mau mengalah, jadinya kesundulan, efeknya gigi anak-anak kita bisa berantakan. Nggak mau kan? :) 





Sumber bacaan:

* https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20151221143302-255-99603/tiga-masalah-penyebab-gigi-berantakan 

* https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20170301103029-255-196961/lima-kebiasaan-buruk-penyebab-gigi-tak-teratur

* https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20171027060436-255-251475/4-bahaya-gigi-berlubang-pada-anak