Monday, November 13, 2017

Ada Ular di Rumah Kantor

November 13, 2017 0





Judul: Papa Ngelawan Ular

1. Mas Amay habis mau keluar ada ular
2. Mas Amay manggil papa
3. Ularnya lagi makan cicak
4. Ularnya diserang papa pakai pengki sama sapu
5. Papa nolong Mas Amay
6. Papa nolongin Mas Amay, nyuruh Mas Amay ambilin HP
7. Papa nyuruh Mas Amay HPnya diterangin
8. Papa masukin ularnya ke selokan / got
9. Mas Amay disuruh buangin sampah
1O. Kata papa, hati-hati nanti ularnya ke atas lagi

Selesai / Tamat

-------------------------------------------------------------------------------------------------

Tadi siang sepulang sekolah, Amay tiba-tiba menggambar pengalaman kemarin saat bermain ke studio Akanoma sama papanya. Kemarin, hari minggu tanggal 12 November, memang ada ular makan cicak di kantor. Kejadiannya saat maghrib. Apa yang digambarkan dan diceritakan Amay di sini memang menceritakan kronologi kejadian. 
Papanya menggunakan sapu dan pengki untuk membuang -Amay bilang, menyerang- si ular. Ular tidak dibunuh, makanya saat Amay disuruh membuang sampah, papanya berpesan untuk hati-hati. FYI, Mas Yopi memang jarang banget bunuh binatang, kecuali nyamuk. Bahkan pernah ngga sengaja bikin tikus mati, istighfarnya berkali-kali. Hahaha...

Monday, May 29, 2017

Akhirussanah; Berpisah Tapi Tak Berpisah



2 tahun yang lalu, Mama harus gigit jari sambil memendam penyesalan saat melangkahkan kaki keluar dari sekolah ini. Ya, 2 tahun lalu sekitar April atau Mei, Mama datang ke sini untuk mendaftarkanmu. Tapi sedih, tak ada bangku tersisa untukmu.

Mama kemudian mengajakmu berkeliling mencari sekolah lain, namun tak ada yang menarik hatimu. Hampir putus asa, Mama kemudian memberanikan diri mendaftarkanmu ke salah satu sekolah yang cukup mahal bagi Mama. Kamu senang dan setuju sekolah di sana. Papa juga, rasanya cocok dengan sekolah itu.

Jelang tanggal pelunasan calon sekolahmu, Mama ketar-ketir. Berulang kali Mama cek rekening. Cukupkah tabungan Mama? Cukupkah gaji Papa untuk membayar pendidikanmu di sana?

Disaat-saat itu, Mama lebih sering berdo’a pada Allah, Tuhan kita. Mama mohonkan yang terbaik di antara pilihan yang baik. Saat itu, cukup cepat Allah menjawab. 3 hari sebelum Mama membawa uang pelunasan ke calon sekolahmu itu, Ust Dyah mengirim sebuah pesan. “Ada bangku kosong di TKIT Bina Madina, apakah Ananda jadi mendaftar?” kurang lebih begitu bunyi pesannya.

Tanpa berpikir panjang, juga karena sayang dengan uang yang terlalu besar untuk dikeluarkan jika kamu sekolah di tempat mahal itu, Mama dan Papa langsung meluncur ke TKIT Bina Madina, segera setelah Papa selesai shalat Jumat. Dan mulai detik itu, resmilah kamu menjadi salah satu santri TK di sana.

Mama lega. Inilah sekolah impian Mama, untuk anak-anak Mama.

TKIT Bina Madina, konon dari cerita ibu penjual ikan yang putrinya juga alumni di sana, adalah sekolah IT yang cukup murah, namun kualitasnya mampu bersaing dengan yang lainnya. Mama setuju. 2 tahun menjadi bagian dari keluarga besar TKIT BiMa, Mama bisa menyimpulkannya.

Pernah, Mama berterus terang pada Ust Rina, betapa kreatifnya para ustadzah. Betapa penuh energinya mereka, seolah tak kenal lelah. Ust Rina juga bercerita, beberapa ide kegiatan TKIT BiMa, ditiru sekolah lain yang menurut pandangan orang lebih bermutu.

Ini salah satu ide keren para ustadzah, yang menggabungkan kreativitas anak dan orang tua; Ketika Mas Amay Membuat Miniatur Rumah Adat Bersama Papa. Tak hanya anak-anak yang berlomba, tapi orang tua juga. Sungguh, acara ini mampu memperkuat bonding antara Mas Amay dan Papa. Yah, meski Mas Amay harus rela tak juara, karena Papa ditunjuk sebagai juri lomba, sehingga karya Mas Amay dan Papa tak ikut dinilai disana.

Atau, ketika Mama juga ikut-ikutan menghafal Surah Al-Ghosyiyah bersama Mas Amay, ini juga luar biasa. Ohya, masih ingat tidak ketika Mama terpaksa belajar menjadi moderator saat Parenting Spektakuler Pebruari lalu? Jika bukan karena TKIT Bina Madina, mungkin Mama masih berada dalam kubangan ketidakpercayadirian.



Ah, betapa bersyukur Mama, karena Allah mempertemukan kita dengan keluarga Bina Madina. Meski murah di biaya, tapi tak murah di ilmu dan perhatiannya.

Dan kini, setelah 2 tahun berlalu, sudah cukup masamu di tempat itu. Mas Amay harus kembali bergerak dan meninggalkan kampus penuh cinta bernama Bina Madina.

Perpisahan memang menyedihkan, tapi dari perpisahan itulah, kita bisa memaknai sebuah pertemuan.
Tak hanya Mas Amay yang bersedih, Mama juga. Bahkan ketika hari minggu lalu Mama mewakili seluruh orang tua dan wali santri saat menerima kembali para santri, tak kuasa Mama membendung air mata ini. Tapi begitulah, air mata jadi bukti bahwa ikatan hati ini sedemikian kuat. Raga kita mungkin terpisah, tak lagi dalam satu ruang yang sama. Namun Mama yakin, hati kita masih ada di ruang yang sama. ❤☺

Dan untuk Mas Amay, jika Mas Amay sayang pada semua ustadzah, pergunakanlah ilmu yang Mas Amay dapat untuk hal-hal yang bermanfaat. Ibarat busur panah, ustadzah telah melepaskanmu dan membiarkanmu melesat. Mama, Papa dan para ustadzah tentu berharap, anak panah itu bisa menancap tepat di sasaran.

Jadi, tetap istiqomah. Cintai dan pelajari Al-Qur’an, karena Al-Qur’an adalah pedoman kita sebagai umat Islam.





Semangat berjuang, Nak. :*

Tuesday, May 23, 2017

Petasan

Bulan Ramadhan belum juga datang, tapi bunyi petasan sudah terdengar bahkan sejak berminggu yang lalu. Bunyinya yang menggelegar, terus terang saja sangat mengganggu saya. Kadang kaget mendengar suara kerasnya yang muncul tiba-tiba, kadang juga ada rasa takut saat melihat sekumpulan anak membawa petasan-petasan yang siap diledakkan. Saya takut, anak-anak itu iseng menyalakannya tepat saat saya melewati mereka.

Yah, anak-anak seperti itu kan senang kalau ada orang lain yang dikagetkan. Rasanya mungkin sangat memuaskan. Saya sangat benci dengan benda ini, dan jadi sebal dengan mereka yang menyalakannya hanya demi kepuasan pribadi, tanpa peduli keselamatan orang lain, bahkan keselamatan diri sendiri.

petasan. foto diambil dari Regional Kompas.


**
Suatu hari, segerombolan anak itu menyalakan petasan di dekat rumah. Sekelompok di sebelah utara, dan kelompok lainnya di selatan. Mereka menyalakannya bergantian. Setelah petasan dari utara berdentum, kelompok selatan menyalakan bagian mereka. Begitu terus hingga beberapa kali.

Saya sempat minta Papa Amay untuk keluar dan menasehati anak-anak itu, tapi karena mereka sudah berhenti menyalakannya, jadi Papa Amay mengurungkan niatnya.

Entah, apa yang dipikirkan anak-anak itu, dan bagaimana orang tua mereka menyikapinya. Apakah mereka mengijinkan uang jajan yang mereka berikan digunakan untuk membeli petasan? Atau memang sengaja memberi uang untuk ini? Biar rame gitu... 

Persetan dengan mereka yang membiarkan anaknya bermain petasan dengan alasan supaya anaknya senang. Hellooow, emang nggak ada cara lain untuk bersenang-senang? Saya sih menganggap orang yang main petasan sama dengan orang yang nggak bisa menahan nafsu. “Yang penting bahagia” kata mereka, tapi mereka menghalalkan segala cara untuk bisa bahagia. Mereka masa bodoh dengan orang lain yang keberisikan, yang terganggu dengan suara jedar-jeder yang bikin jantungan.

Selain saya, tentu saja ada orang lain yang terganggu. Tepat di belakang rumah saya, ada bayi berusia 2 bulan yang saat itu menangis keras. Mungkin karena terkejut. Amay saat itu langsung berkomentar, “Itu adiknya kaget ya, Ma?” Saya mengangguk. Yah, meski bayi punya banyak alasan untuk menangis, tapi bisa jadi dia menangis karena terkejut dengan bunyi petasan kan?

Saya pun mulai bediskusi dengan Amay. Saya pikir, ini saat yang tepat untuk mengajaknya berpikir, kemudian memilih dan membedakan mana yang baik dan benar, dan mana yang salah.

“Menurut Mas Amay, orang yang main petasan itu gimana sih?” tanya saya.

“Ya mengganggu. Main petasan kan bikin kaget.” Jawabnya.

“Nah, itu! Mas Amay tahu nggak, kalau orang yang suka mengganggu tetangganya itu nggak akan masuk surga? Mereka dengan tangannya, membuat tetangganya merasa tidak nyaman. Ada bayi sampe nangis. Coba kalau ada yang sakit jantung, lalu meninggal karena kaget, gimana?” Wah, Emak ngoceh panjang kali lebar. Emosiiih.

Saya mengatakan itu bukan tanpa dasar. Ada sebuah hadits shahih yang berbunyi: "Seorang yang senantiasa mengganggu tetangganya niscaya tidak akan masuk surga." --> Lihat As Silsilah Ash Shahihah 549: [Muslim: 1-Kitabul Iman, hal. 73]

“Yang kedua. Main petasan itu mubadzir. Udah bikin kaget, uangnya dibakar untuk hal yang sia-sia dan nggak ada manfaatnya. Mending uangnya buat yang lain yang lebih bermanfaat, ya kan?” Tambah saya.



“Yang ketiga. Main petasan itu bahaya. Nggak cuma bahaya untuk diri sendiri tapi juga bisa membahayakan orang lain.” Kata saya. Saya lalu menceritakan kisah seorang saudara saya di Purworejo, yang harus kehilangan telapak tangannya karena petasan. Ini asli, bukan cerita bohong. Saat itu saya masih SD. Pulang sekolah, ibu cerita kalau baru pulang dari rumah sakit, menjenguk saudara saya itu. Umurnya nggak jauh beda dengan saya. Ibu bilang, tangan kanannya harus dipotong, dan saat ibu saya menjenguknya, dia sedang berlatih menulis dengan tangan kiri.
Ya, seperti itulah.

“Trus Ma, yang keempat apa?” tanya Amay.

Mama menjawab, "Udah cukup tiga aja! Pokoknya main petasan nggak ada gunanya."


Thursday, April 20, 2017

Amay Membuat Miniatur Rumah Adat Bersama Papa

April 20, 2017 2
Seminggu yang lalu, ada surat pemberitahuan dari sekolah, bahwa seluruh siswa wajib membuat miniatur rumah adat untuk dilombakan pada tanggal 21 April. Jum'at, 21 April ini bertepatan dengan puncak tema "Tanah Airku", dan rumah adat hasil karya kerjasama antara orang tua dan anak itu, wajib dikumpulkan sehari sebelumnya.

Sejak menerima surat itu, Papa Amay mulai memikirkan, rumah adat daerah mana yang akan dibuatnya. Mama mengusulkan, rumah Honai saja, yang unik. Tapi setelah Papa menunjukkan beberapa rumah adat, Amay memutuskan untuk membuat rumah Bolon. Rumah Bolon adalah rumah adat Suku Batak yang berasal dari Sumatera Utara.

Iya, Rumah Bolon ini adalah rumah pilihan Amay sendiri. Papa Amay tinggal membantu membuatkan konsepnya, dan mengerjakan hal-hal yang belum bisa Amay lakukan sendiri, seperti memotong kertas yellow board.

Kerjasama pun dimulai. Sementara Papa mengelem kertas yellow board menjadi dinding-dinding rumah, Amay menggunting kertas kokoru yang akan dipakai untuk atap. Kertasnya warna-warni, supaya cerah ceria, hihihi... Lagipula, genting atau atap tidak harus coklat kan? Terserah Amay saja, gimana bagusnya. Hehehe...

Amay pun menggambar kerbau dan orang dengan pakaian adat Batak Toba, dan Papa kemudian menempelkannya sebagai ornamen yang menggambarkan skala dan proporsi. Kenapa kerbau? Karena kerbau adalah binatang yang paling banyak dipelihara oleh masyarakat Batak disana. 

Dan ini adalah proes pembuatan miniatur rumah Bolon tersebut. Amay and Papa, you did a great job!