Serunya Family Gathering dan Outbond di Resto Kemuning Bersama TKIT Bina Madina dan KBIT ABATA

Tuesday, January 21, 2020

Family Gathering TKIT Bina Madina dan KBIT ABATA, Gedongan, Colomadu, Karanganyar

Akhir Oktober 2019, usai pembagian rapor mid semester, komite TKIT Bina Madina dan KBIT Abata mengadakan rapat pembentukan panitia acara Family Gathering. Acara ini merupakan program dua tahunan di sekolah yang terletak di Gedongan, Colomadu, Karanganyar, Jawa Tengah ini. Nah, kalau tahun ini programnya adalah Family Gathering, maka tahun depan insya Allah akan ada Spectacular Parenting. Ya, Family Gathering dan Spectacular Parenting adalah program dua tahunan, sehingga pelaksanaannya bergantian.

Baca ini ya: Seminar Parenting; Bullying yang Bikin Pening

Dan entah apa dasarnya, Ustadzah Rina Purwandani yang merupakan Kepala TKIT Bina Madina, tiba-tiba menunjuk Mama sebagai ketua panitia. Andai Ust Rina tahu, Mama ini sangat cupu untuk urusan beginian. Amanah ini terlalu berat untuk Mama yang tak punya pengalaman apa-apa sebelumnya. Namun, alhamdulillah, baik ustadzah maupun bunda-bunda komite, semua ringan tangan dan senantiasa bahu-membahu hingga acara usai. Terima kasih semuaaa... Ketjup dari saya. :*

Kerja keras panitia sudah dimulai sejak bulan-bulan sebelumnya. Dimulai dari pemilihan tempat, hingga menimbang dan memutuskan bahwa Family Gathering akan diadakan di Resto Kemuning, juga perumusan biaya, dan lain-lainnya.

Terakhir, Sabtu 11 Januari 2020 kami melakukan koordinasi final, yaitu mendengarkan laporan dari masing-masing sie tentang apa saja yang sudah dan belum dilakukan atau dilengkapi. Dan beberapa hari kemudian, tepatnya di Selasa, 14 Januari 2020, kami sama-sama membungkus hadiah / doorprize yang akan dibagikan di setiap bis supaya perjalanan semakin menyenangkan.

bersama-sama membungkus doorprize :)

Dan hari itu pun tiba ...

Pagi itu, Sabtu, 18 Januari 2020, Mama bangun lebih pagi dari biasanya. Setelah mengecek barang bawaan Mama dan Adek Aga, dan memastikan bahwa tak ada yang tertinggal, Mama pun bersiap-siap sembari menyiapkan sarapan. Ya, sarapan itu penting, teman. Jangan sampai ditinggalkan.

Jam 6 kurang, dengan diantar Papabebi, Mama dan Adek Aga meluncur ke sekolah. Bis-bis sudah menunggu penumpangnya. Masya Allah... Dan tepat di pukul 07:00, 7 bis beriringan menuju Resto Kemuning, yang terletak di Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar.

Meski sebenarnya sekolah kami dengan tempat outbond yang kami tuju masih berada dalam satu kabupaten, tetapi kami membutuhkan sekitar 1,5 jam perjalanan. Hihi, maklum lah, Colomadu itu kecamatan yang nyempil di antara kabupaten lain, yaitu Boyolali, Surakarta dan Sukoharjo.

Setibanya di Resto Kemuning, kami disambut oleh kakak-kakak dari Pena Event Organizer. Setelah ramah tamah, kami dipersilakan untuk mengambil sarapan. FYI, sebelumnya, kami ditawarkan beberapa pilihan menu, seperti:

Sarapan:
  • Snack
  • Nasi soto
  • Nasi pecel
  • Bubur ayam
  • Bubur kacang ijo
Makan siang:
  • Paket ayam bakar atau goreng
  • Paket ikan nila bakar atau goreng

Dan pilihan kami adalah;
Sarapan: Nasi soto
Makan siang: Paket ayam bakar untuk anak-anak dan paket nila bakar untuk orang tua

Alhamdulillah... Jadi, sebelum bermain bersama, kami sudah punya tenaga. Hihi... 

Sarapan nasi soto sebelum outbond di Resto Kemuning

Setelah sarapan, kami digiring (digiring, macam bebek aja, xixi), menuju lapangan. Dan keseruan pun dimulai!

Kakak-kakak dari Pena Event Organizer meminta kami berbaris bersisian dengan anak-anak. Dengan iringan musik, kami diajak untuk menari baby shark dan senam pinguin. Serruuu, dan geli juga dengan gerakannya. Hihi...

Permainan dilanjutkan dengan estafet balon yang sudah diisi air. Tawa kami pecah ketika mendengar satu demi satu balon meletus dan merecikkan air. Apalagi setelah itu kami diminta untuk melemparkan balon-balon air itu ke udara. Sontak semua menghindar agar tak terkena lemparan. Tapi justru di situlah keseruannya, ketika balon air mengenai salah satu di antara kami, dan kami menjadi basah karenanya. :D

Kakak-kakak dari Pena Event Organizer memang iseng. Setelah puas membuat kami tertawa, kami dibuat menangis juga. Kami diminta untuk memeluk anak-anak, dengan iringan kalimat sendu yang membuat kami semakin terharu.

Family Gathering TKIT Bina Madina dan KBIT ABATA

serunya menari baby shark dan senam pinguin

Family Gathering TKIT Bina Madina dan KBIT ABATA

Selesai seru-seruan bersama anak-anak, kami dipisahkan. Anak-anak diajak bermain sendiri, begitu pula para orang tua.

Anak-anak bermain meniti tali, merayap, bertani, menangkap ikan, dan diakhiri dengan berenang di kolam renang.

Family Gathering dan Outbond di Resto Kemuning, Ngargoyoso, Karanganyar
Outbond di Resto Kemuning

Good job, Boy! Aga anak pemberani. :)

Outbond di Resto Kemuning

Permainan untuk orang tua lebih menuntut kami untuk berkonsentrasi. Namun, meski terlihat sepele, nyatanya sering juga kami melakukan kesalahan. Maklum, orang tua banyak pikiran, wkwkwk...

Selain harus fokus, permainan ini membutuhkan stamina yang tinggi. Soalnya, kami diajak untuk melompat maju mundur, kanan kiri. Menyesal sekali karena Mama jarang berolahraga, jadi diajak lompat-lompat begitu saja, lelahnya luar biasa.

Family Gathering dan Outbond di Resto Kemuning, Ngargoyoso, Karanganyar
Tim Ongol-Ongol :)

Family Gathering dan Outbond di Resto Kemuning, Ngargoyoso, Karanganyar
Ssst, ada grup bapa-bapak juga

Alhamdulillah, regu Mama yang kami beri nama tim Ongol-Ongol jadi juara dua di permainan konsentrasi. Karena itu, kami diizinkan untuk melanjutkan ke sesi river tubing.

Meski sempat bete karena harus menunggu terlalu lama, tetapi semua terbayar ketika kami meluncur mengarungi Kali Pucung dengan ban-ban karet sejauh 1,2 km. Seruuuu... Semua bebas berteriak dan tertawa lepas. Yup, ini adalah kesempatan untuk bersenang-senang, sejenak melupakan beban dan segala kewajiban.

Seorang Mama bilang, "Lupakan hutang, saatnya bersenang-senang."

Mama yang lain menimpali, "Semoga hutangnya ikutan hanyut di kali." Hihi, ada-ada saja. Tapi kami saling mengaminkan. Siapa tahu setelah ini kita benar-benar bisa bebas dari jeratan hutang, ya kan? 😁

River Tubing di Kali Pucung
Persiapan sebelum river tubing

Family Gathering di Resto Kemuning, Ngargoyoso, Karanganyar
Menuju titik awal river tubing Kali Pucung

Peace, Ma! Habis ini teriak-teriak kita. Wkwkw..

Oke, siap-siap, Ma.. Kalem..

Family Gathering di Resto Kemuning, Ngargoyoso, Karanganyar
pintu air belum dibuka, wajah masih kalem, sempat selfie pula :)

Outbond di Resto Kemuning, Ngargoyoso, Karanganyar
puas banget ketawanya :D

Udahan dulu bahas utangnya. Kita kembali ke kenyataan, eh, maksudnya ke acara kemarin.

Setelah puas berteriak dan tertawa sambil menikmati arus Kali Pucung, kami pun kembali ke basecamp. Di sana, Adek Aga sudah menunggu mamanya. Huhu, sediiiih... Adek Aga sempat nangis, katanya. Maaf ya, Dek, habisnya tadi antreannya lamaaa...

Nah, setelah bebersih badan yang tadi kebasahan, kami dipersilakan untuk menikmati santap siang. Seperti yang Mama tulis di atas, menu kita adalah paket nila bakar untuk dewasa, dan paket ayam bakar untuk anak-anak.

Alhamdulillah, Adek Aga sudah makan sendiri. Kata Mama Gravish, Aga makannya banyak, tapi eh tapi, waktu lihat Mama makan, dia lapar lagi. Wkwkwk... Anak ini memang banyak makannya. Alhamdulilah..

Selesai makan siang, acara dilanjutkan dengan penyerahan kembali peserta outbond kepada pihak sekolah. Artinya, setelah ini kita akan berpamitan pulang. Dan satu per satu, orang tua dan anak-anak pun kembali menuju bis masing-masing.

Eit, tapi di WAG Komite, tiba-tiba ada yang mengingatkan, "Bund, panitia ngga foto bersama?"

Wah, Mama langsung ajak semua panitia untuk turun dari bis dan menuju ke dekat kolam renang. Momen ini tidak boleh terlewatkan, bukan? Apalagi, outfit kita sudah seragam. #tetep 😁

Family Gathering di Resto Kemuning, Ngargoyoso, Karanganyar
segenap ustadzah dan rekan-rekan panitia

Setelah puas cekrak-cekrek, kami kembali ke bis. Alhamdulillah, banyak hal yang kami syukuri. Cuaca yang cerah hingga kami puas bermain, juga perjalanan pergi pulang yang lancar tanpa ada halangan.

Alhamdulillah, tsumma alhamdulillah. Dan seiring dengan berakhirnya acara Family Gathering ini, berakhir pula tugas saya. Kalau diibaratkan, rasanya seperti sebongkah batu terangkat dari kepala. Beberapa hari jelang hari H, kepala rasanya beraaat, tapi Alhamdulillah sekarang sudah kembali enteng. Hehe...

Ya, benar kata Eyang Nelson Mandela. Sesuatu selalu tampak tidak mungkin hingga ia selesai dikerjakan.

It always seems impossible until it’s done. 

Dan dari lubuk hati yang terdalam, saya mengucapkan terima kasih yang tak terhingga atas kerja sama seluruh ustadzah, rekan-rekan panitia, juga Abi/Ummi sekalian. Tanpa support dan kerja sama yang baik, acara ini tak akan berjalan dengan mudah. Mohon dimaafkan apabila ada banyak kekurangan. Karena sekali lagi, ini adalah kali pertama saya diberi tanggung jawab yang menyangkut hajat hidup orang banyak.

Akhir kata,

Ikan bawal dimakan buaya
Buaya darat bikin sengsara
Mohon maaf jika ada salah dan lupa
Karena diri ini hanya manusia biasa

Eeaaa... Ya, itulah keseruan Family Gathering dan Outbond di Resto Kemuning Bersama TKIT Bina Madina dan KBIT ABATA. Sampai jumpa di event seru lainnya... :*

NB: Foto-foto di atas merupakan hasil bidikan ustadzah



Ditulis dengan Cinta, Mama
Read More

Bagaimana Cara Mengatasi Kecanduan Gadget pada Anak?

Tuesday, January 14, 2020

Halo, Ma ... Akhir-akhir ini kita sering mendengar istilah Generasi X, Generasi Y, Generasi Z, sampai Generasi Alpha, kan? Namun, sudah pahamkah kita dengan istilah ini? Salah satu generasi tersebut konon lebih tertarik untuk bermain gadget dibandingkan melakukan aktivitas lainnya. Generasi yang manakah itu? Dan bagaimana pula cara menghentikan kecanduan gadget pada anak? Simak terus tulisan Mama Kepiting, yaa ...

Tips Mengatasi Kecanduan Gadget pada Anak
Cara Mengatasi Kecanduan Gadget pada Anak

Sebelum ke mana-mana, kita kenali dulu yuk, pengelompokan generasi berdasarkan tahun kelahiran ini.

1. Tradisionalis
Generasi Tradisionalis adalah generasi yang terlahir di antara tahun 1922-1945. Meski jarang disebut, tapi kita harus berterima kasih pada generasi ini, karena sebagian besar dari mereka merupakan veteran yang berjiwa patriotisme tinggi. Mereka merupakan saksi sejarah peristiwa besar di muka bumi.

Ya, terlahir di masa Perang Dunia II yang juga disebut zaman "The Great Depression", nenek moyang kita harus hidup dengan kondisi serba kekurangan. Namun, karena tempaan hidup inilah, kemampuan mereka dalam memimpin di dunia kerja pun tidak perlu diragukan lagi.

2. Baby Boomers
Baby Boomers adalah generasi yang terlahir di tahun 1946-1964. Ya, mungkin orang tua kita termasuk di dalamnya. Generasi ini terlahir di era pemulihan pasca perang. Di masa ini, orang-orang sudah mulai memikirkan karir atau pekerjaan, karena keamanan hidup tak lagi terancam.

3. Generasi X
Untuk Generasi X atau generasi yang terlahir di tahun 1965-1980, kehidupan antara pekerjaan, pribadi dan keluarga sudah jauh lebih seimbang. Generasi ini juga sudah mengenal komputer dan video game versi sederhana.

4. Generasi Y
Generasi Y disebut juga dengan Generasi Milenial, dan terlahir di antara tahun 1981 - 1994. Bisa dibilang, generasi ini pembawaannya lebih santai dibanding generasi sebelumnya. Namun, meski terkesan cuma kebanyakan senang-senang, dari generasi ini bisa terlahir bermacam-macam startup, lho. Wehehe, jadi bangga deh ...

5. Generasi Z
Sering disingkat Gen Z, generasi yang terlahir antara tahun 1995 - 2010 ini dikenal tak bisa lepas dari gadget dan aktivitas media sosial. Namun, jangan negative thinking dulu, karena banyak dari mereka yang menggunakan media sosial ini untuk mencari rezeki. Lihat deh, selebgram-selebgram atau YouTubers itu mayoritas merupakan Gen Z, bukan?

6. Generasi Alpha
Nah, ini yang akan kita bahas. Generasi yang terlahir setelah tahun 2010, disebut dengan Generasi Alpha. Bisa dibilang, begitu brojol, generasi ini langsung mengenal gadget. Bagaimana kehidupan mereka di masa yang akan datang, tentu tergantung orang dewasa yang ada di sekitar mereka. Karena Generasi Alpha tertua masih berumur 9 tahun, yang mana masih usia anak-anak.

Meski Generasi Alpha adalah generasi yang paling akrab dengan gadget, tegakah kita membiarkan mereka tergantung dengan alat ini? Sementara kita tahu, di samping manfaat dan kemudahan yang ditawarkan alat ini, ada pula dampak buruk yang menyertai. Tak hanya berpengaruh pada fisik (kesehatan anak, seperti pada mata dan tulang / postur tubuh), tetapi juga pada jiwa anak.


Maka dari itu, yuk, sebelum terlambat, kita sama-sama berusaha agar anak-anak kita bisa menggunakan gadget dengan bijak. Mama Kepiting sudah merangkum beberapa tips yang bisa Mama coba.

1. Batasi penggunaan

Kelihatannya mudah ya, "cuma" ngasih batasan waktu saja? Hmm, jangan salah, Ma! Kadang sebagai orang tua, rasa ngga tegaan kita lebih besar. Kita sering kalah dengan tangisan atau ngambek-nya anak-anak. Kenapa saya bisa bilang begitu? Karena Mama Kepiting dulu seperti itu, Ma. LoL.

"Udah lah, daripada nangis melulu, kasih aja tambahan waktu." 
"Gapapa deh, biar anteng. Mama masih sibuk soalnya."

Jangan begitu ya, Ma! Sekali kita lembek, anak-anak akan tahu kelemahan kita.

Screen Time yang disarankan untuk anak-anak
Screen Time yang disarankan untuk anak-anak

Dan, yuk, kita patuhi screen time yang disarankan oleh The American Academy of Pediatrics (2013) dan Canadian Paediatric Society (2010), yaitu;
- Anak-anak < 2 tahun, tidak dianjurkan untuk mengakses segala jenis gadget sendirian
- Anak-anak 2-4 tahun hanya diperkenankan mengakses gadget maksimal 1 jam per hari
- Anak-anak > 5 tahun hanya diperbolehkan mengakses gadget maksimal 2 jam per hari

2. Perbanyak aktivitas anak

Terkadang, seperti orang dewasa, anak-anak juga "ngga tau mau ngapain". Akhirnya, karena mungkin orang tuanya pegang gadget, anak-anak juga ingin melakukan hal yang sama.

"Koq Mama sama Papa asyik banget sih? Aku pengen juga deh..." Semacam itu.

Maka, lebih baik jika kita membuat anak-anak sibuk. Ikutkan ekstra kurikuler di sekolah, misalnya. Atau ajak anak untuk mengikuti kelas musik, olahraga, atau apapun yang ia suka, tentu selain bermain gadget. Kegiatan seperti ini juga sekaligus mengajarkan anak untuk bersosialisasi dan memperluas pergaulan.

3. Berikan mainan pengganti yang tak kalah menarik

Tentu kita tahu, secara naluriah, anak-anak menyukai mainan. Namun, terkadang kita suka memaksakan kegiatan bermain sambil belajar. Betul tidak?

Beli mainan, yang dibeli mainan edukatif melulu. Xixixi... Balok lah, puzzle angka lah. Wkwkwk... Tidak salah, Ma, tapi alangkah lebih membahagiakan bagi anak jika mereka bisa bebas bermain tanpa harus ada embel-embel belajar. Plis atuh, di sekolah mereka sudah belajar, masa bermain saja harus sambil belajar juga?

Dan sesungguhnya, di dalam setiap kegiatan yang anak-anak kita lakukan, sebenarnya ada pelajaran yang bisa dipetik juga, to? Misalnya, ketika ia bermain sepeda, ia juga sedang melatih konsentrasi dan kekuatan otot kaki. Dan lain sebagainya.

Omong-omong, ini pengalaman baru kami, yaa... Beberapa waktu lalu kami baru saja membelikan Mas Amay sepeda, menggantikan sepeda kecilnya yang sudah rusak. Sekarang, setiap pulang sekolah, Mas Amay langsung mengambil sepedanya. Dia sama sekali tidak mengingat game di komputer. Saya pun sudah tidak perlu susah-susah lagi mengingatkannya untuk berhenti bermain game. Bahkan di hari Sabtu dan Minggu pun, ia hanya menyentuh komputer selama beberapa menit saja. Padahal, ia hanya boleh bermain game di weekend saja.

Luar biasa, ya? Selama ini kami sudah susah payah mengatur waktu bermain game, sampai kadang harus marah-marah juga ketika Mas Amay tidak ingat waktu, tapi ternyata "cuma" sepeda jawabannya. LoL.


4. Temani mereka bermain

Membeli aneka mainan tentu membuat anak-anak bahagia. Namun, ingat-ingat deh, Ma. Bagaimana rasanya ketika kita kecil dulu orang tua kita ikut bermain dengan kita? Double bahagia kan?

Saya ingeeett banget waktu ibu saya dulu ikut main bola bekel bareng saya dan teman-teman. Rasanya luar biasa dan ngga akan pernah saya lupa. Jadi, mulai sekarang, luangkan waktu untuk bermain atau berkegiatan dengan anak-anak yuk, Ma!

Mama bisa berkreasi membuat mainan dari magnet, misalnya. Atau mengajak mereka membuat cemilan kesukaan seperti; Pisang Pasir atau Puding Puyo?

5. Berikan contoh yang baik

Kekuatan kata akan kalah dengan kekuatan keteladanan. Betul, Ma? Jadi, jika kita ingin anak-anak tumbuh dengan baik, berikan teladan yang baik pula. :)

~~~

Nah, itu dia 5 tips yang sudah saya lakukan untuk mengurangi kecanduan gadget pada anak. Jika masih belum berhasil, Mama bisa minta bantuan pada ahli. Atau, bisa juga kita meminta bantuan pada guru atau orang yang disegani oleh anak kita. Terkadang memang ada anak yang lebih patuh pada guru dibanding pada orang tua, bukan? Bismillah ya, Ma...



Ditulis dengan Cinta, Mama
Read More

Kenapa Anak Saya belum Tumbuh Gigi?

Wednesday, January 8, 2020

Mengurus bayi tuh, setiap harinya kita harus siap-siap dengan segala macam kejutan. Tiap hari was-was, kayakkenapa lagi nih anak gue? Termasuk ketika kita menanti-nanti si bayi tumbuh gigi. Waktu Mas Amay bayi, Mama Kepiting cukup lama menunggu giginya tumbuh. Sampai khawatir, Mas Amay nanti punya gigi apa ngga? Karena waktu hamil Mas Amay, Mama sempat bertemu dengan orang yang mengalami anodontia, yaitu suatu kelainan yang ditandai dengan tidak tumbuhnya sebagian atau seluruh gigi sejak lahir.

Alhamdulillah, gigi pertama Mas Amay muncul menjelang ulang tahunnya yang pertama. Nah, sebenarnya, kapan sih seharusnya bayi tumbuh gigi?

Gigi pertama Amay

Pertumbuhan gigi pada anak tidak selalu sama, karena kondisi tubuh anak dan jumlah asupan kalsium ibu saat hamil juga berbeda-beda. Namun, biasanya gigi pertama bayi mulai tumbuh saat usianya menginjak 6 bulan.

Jadi, misal Mama memiliki bayi yang berusia 9 bulan dan belum menunjukkan tanda-tanda tumbuh gigi, jangan khawatir dulu, Ma ... Karena sangat normal bila anak belum tumbuh gigi hingga usia 12 bulan. Namun, dilansir dari Klik Dokter, drg. Callista Argentina menegaskan bahwa apabila sampai usia 18 bulan gigi anak belum juga tumbuh, maka dia harus segera dibawa ke dokter, agar diketahui akar penyebab dan cara penanganannya.

Baca : Terlambat Cabut Gigi Susu, Gigi Amay Jadi Begini...

Umumnya, gigi yang pertama tumbuh adalah gigi seri, baik atas maupun bawah, kemudian baru gigi-gigi bagian belakang. Namun, tidak menutup kemungkinan gigi geraham muncul lebih dulu. :)

Tahapan Pertumbuhan Gigi Susu pada Bayi pada Umumnya
Tahapan Pertumbuhan Gigi Susu pada Bayi pada Umumnya

Biasanya, ciri-ciri anak mau tumbuh gigi tuh, apa saja sih, Ma? Check this out ya, Ma...

1. Bayi sering mengeces
Jadi, bayi mengeces bukan karena waktu hamil ngidamnya ngga keturutan ya, Ma... Xixixi... Bisa jadi itu merupakan tanda giginya mau tumbuh.

2. Suka menggigit barang-barang di sekitarnya
Waspadalah, Ma! Untuk Mama yang menyusui, biasanya bayi akan menggigit puting saat menyusu. Aww, kebayang perihnya! 

3. Gusi membengkak

4. Susah makan atau nafsu makan menurun
Ya, seperti orang dewasa yang sedang sakit gigi, meski di hadapannya terhampar makanan yang lezat, tapi pasti ngga nafsu kan?

5. Sering rewel, bahkan terkadang disertai demam
Saat bayi tumbuh gigi adalah salah satu momen yang paling membutuhkan kesabaran. Udah susah makan, seringkali minta nen terus, nen-nya pun sambil gigit-gigit pula, ditambah demam lagi. Hmm, kerjaan terbengkalai, badan pegal-pegal, nikmat sekali ya, Ma... Hihi... Tapi insya Allah jadi salah satu sebab terbukanya pintu surga untuk kita ya Ma... Aamiin YRA. :)


Lalu, apa saja yang bisa mempengaruhi pertumbuhan gigi?

1. Genetik

Jadi, bila orangtuanya juga mengalami keterlambatan dalam pertumbuhan gigi saat bayi, maka kemungkinan besar anaknya akan mengalami hal yang sama.
Lalu, apakah waktu bayi dulu Mama Kepiting terlambat tumbuh gigi? Saya tidak tahu, karena tidak ingat juga. 

Nah, tapi, dari pengalaman Mas Amay yang baru tumbuh gigi di usia nyaris 12 bulan, Mama jadi tidak khawatir ketika Adek Aga mengalami hal yang sama. Dan iya, gigi Adek Aga baru muncul di usia 11 bulan.

2. Asupan Nutrisi

Kita tentu tahu bahwa pertumbuhan gigi anak sangat dipengaruhi oleh asupan kalsium, fosfat serta vitamin D. Bila kandungan tersebut tidak terpenuhi, maka risikonya adalah terlambatnya pertumbuhan gigi anak.

Asupan nutrisi tersebut bisa diperoleh dari susu, telur, ikan juga daging. Dan jangan lupa, harus rajin berjemur di bawah matahari pagi juga, yaa..

3. Tekstur Makanan

Saat bayi mulai diberi MPASI, usahakan teksturnya bertahap mulai dari yang paling halus, lalu sedikit demi sedikit semakin kasar, sampai pada akhirnya si kecil mulai bisa mengonsumsi makanan padat seperti orang dewasa.

4. Stimulasi pertumbuhan gigi dengan Teether

Usia 3 bulan ke atas biasanya bayi sudah mulai suka menggigit. Mama bisa berikan mainan untuk digigit atau Teehter. Namun, harus selalu dipastikan kondisi Teether selalu bersih saat diberikan ya, Ma...

Jangan lupa, jika sampai usia 18 bulan anak belum menunjukkan tanda-tanda akan tumbuh gigi, segera kunjungi dokter gigi spesialis gigi anak (paedodontics / pediatrict dentist) ya, Ma... Semoga anak-anak tumbuh sesuai dengan tahapan perkembangan yang semestinya, yaa. Aamiin. :)

Ditulis dengan Cinta, Mama
Read More

Tak Jaga Kebersihan, Mas Amay Kena Impetigo

Friday, January 3, 2020


Menjelang libur akhir tahun kemarin, Mas Amay justru mengalami hal yang kurang menyenangkan. Kulitnya mengalami infeksi yang bermula dari bentol biasa. Ternyata, apa yang dialami Mas Amay disebut Impetigo. Apa itu Impetigo, dan bagaimana penanganannya? Simak tulisan Mama Kepiting, ya..

~~~

Musim hujan sudah tiba. Seperti anak-anak pada umumnya, Mas Amay dan Dek Aga tentu ingin bermain hujan. Nah, siang itu, karena hari hujan, mereka berdua bermain hujan-hujanan di luar. Entah bagaimana mulanya, setelah mandi dan membersihkan diri, kami menyadari ada sebuah bentol di alis Mas Amay.

Dikira bentol biasa, kami hanya memberikan minyak telon pada bentol tersebut. Namun, hingga keesokan harinya bentol itu tak kunjung hilang, bahkan bentol tersebut menjadi berair dan semakin besar. Yang lebih membuat khawatir lagi, di sampingnya muncul bentol yang sama.

Mas Amay mengalami Impetigo

Wah, apa Amay terkena dermatitis venenata, ya? Kami menduga-duga karena sebelumnya kami juga menemukan tomcat di kasur. Tahu kan ya kalau toksin yang terdapat pada tomcat bisa mengakibatkan sensasi panas dan perih, yang selama ini dianggap sebagai herpes zoster? Dengan dasar itulah, kami mengoleskan salep Acyclovir pada kulit Amay.

Beberapa hari berlalu, akan tetapi infeksi di kulit Amay tak kunjung menunjukkan perkembangan positif. Bahkan infeksi tersebut menyebar semakin luas. Sampai suatu hari, ketika kami sedang melakukan perjalanan ke Bandung, Amay berkata, "Mas Amay bisa sembuh ngga ya, Ma? Mas Amay capek gatel terus."

Sebagai seorang ibu, rasanya seperti teriris-iris mendengar Mas Amay berkata seperti itu. Keesokan harinya, kami memutuskan untuk pergi ke dokter kulit di Majalengka. Di situlah, Mas Amay didiagnosa mengalami Impetigo.

Infeksi kulit itu bernama Impetigo

Mengutip alodokter.com, Impetigo adalah infeksi kulit yang disebabkan oleh bakteri, dan sering terjadi pada bayi dan anak-anak. Infeksi ini ditandai dengan kemunculan bercak merah dan melepuh pada kulit (pada Amay, bentuknya seperti bentol) terutama di bagian wajah, tangan, dan kaki. Pantaslah Acyclovir tidak mempan, karena Acyclovir memang digunakan untuk mengobati infeksi akibat virus, bukan bakteri seperti pada Impetigo ini.

Impetigo ada dua macam; Impetigo krustosa dan Impetigo bulosa.

Impetigo krustosa merupakan jenis Impetigo yang paling sering dialami oleh anak-anak dan lebih mudah menular, sedangkan Impetigo bulosa merupakan jenis Impetigo yang lebih serius dengan gejala berupa munculnya lepuhan berisi cairan bening di bagian tubuh antara leher dan pinggang serta lengan dan tungkai. Lepuhan tersebut terasa nyeri dan kulit di sekitarnya terasa gatal. Lepuhan tersebut bisa pecah, menyebar, dan menimbulkan koreng berwarna kekuningan. Koreng akan menghilang tanpa bekas setelah beberapa hari. Terkadang, Impetigo bulosa juga disertai dengan demam dan munculnya benjolan di sekitar leher akibat pembengkakan kelenjar getah bening.

Impetigo yang dialami Mas Amay adalah jenis Impetigo krustosa, karena Mas Amay tidak mengalami demam. Bercak kemerahan yang timbul juga hanya berada di sekitar mulut dan hidung, dan tidak menimbulkan nyeri. Selain itu, bekas korengnya berwarna kemerahan.

Untuk pengobatannya, oleh dokter Mas Amay diberi satu macam obat berbentuk puyer, 2 botol obat sirup yang salah satunya merupakan antibiotik, dan 1 jar salep. Alhamdulillah, setelah seminggu, infeksinya sudah terlihat mengering dan mengelupas.

Impetigo mulai memudar setelah pengobatan selama seminggu

Alhamdulillah, semoga Mas Amay segera sembuh dari Impetigo, dan tidak mengalami hal seperti ini lagi. Makanya, kita harus jaga kebersihan, yaa... Rajin potong kuku, dan setelah mandi sore jangan main kotor-kotoran lagi. Oya, di Majalengka kemarin, Mas Amay berobat di Dr. Pudyahtuti Taihitu, Sp.KK. Beliau berpraktik di depan SMP 1 Kadipaten.


Ditulis dengan Cinta, Mama
Read More