Kematian di Mata Bocah 5 Tahun

Friday, October 7, 2016

Sebelum Amay tidur tadi, kami terlibat sebuah pembicaraan serius. Saya katakan serius karena yang kami bicarakan adalah perihal kematian. Sebelum ini, sebenarnya kami juga pernah berdiskusi tentang “mati”, yang bermula setelah Amay menonton sebuah film.


Waktu itu, Amay tiba-tiba bertanya, "Mama, orang Jepang itu kalau meninggal terus dibakar ya?" setelah menyaksikan film produksi Ghibli itu. Film itu bercerita tentang dua anak korban perang, yang harus rela ditinggalkan oleh ayah dan ibunya. Ayahnya yang seorang Angkatan Laut, tak jelas bagaimana nasibnya, karena ia tak pernah kembali lagi. Sang ibu, mengalami luka bakar serius, hingga akhirnya pergi. 

Pertanyaan Amay di atas terlontar, karena dia menyaksikan bahwa para korban perang yang telah tewas, dikumpulkan dalam satu tempat, kemudian dibakar. 

Setelah mendengar pertanyaannya, saya pun menjawab, "Iya, itu namanya dikremasi."

Amay melanjutkan bertanya, "Kalau nanti Mas Amay meninggal?" dan saya pun menjawab, "Kalau orang Islam, setelah meninggal ya dikubur." (Sewaktu menjawab pertanyaannya saya terus berdo'a, agar Allah berkenan memanjangkan usia kami)

"Di dalam tanah ada apa, Ma? Cacing? Kelabang? Ular?" tanyanya lagi, dan membuat saya bergidik ngeri. Duh Nak, Mama sepertinya belum siap. Mama masih banyak dosa, yang Mama buat lewat mulut, lewat jari, lewat hati, lewat mata, telinga, ahhhh... 

~~~

Dan obrolan kami malam ini, lagi-lagi juga diawali dari sebuah film. Film ini sebenarnya sudah puluhan kali kami tonton bersama, yaitu My Neighbor Totoro.

Ketika masuk di sebuah adegan, tiba-tiba Amay bertanya,

Amay: “Ma, itu Satsuki kenapa nangis?”

Saya: “Karena Satsuki takut kalau nanti ibunya meninggal.” (Ada sebuah scene dimana Satsuki amat bersedih setelah menerima telegram dari Rumah Sakit, yang mengabarkan tentang kondisi terakhir ibunya).  “Kalau nanti Mama meninggal, Mas Amay takut nggak?” tanya saya lagi.

Amay: “Takut. Mama jangan meninggal dulu.”

Saya: “Mama ‘kan nggak tau kapan meninggalnya...”

Amay: “Nanti kalau Mas Amay sudah besar, Mas Amay juga meninggal?”

-Sampai disini, jujur saya gemetar-

Saya: “Meninggal itu nggak harus menunggu besar, Mas. Mau kecil, besar, tua, muda, terserah Allah kapan mau diambil nyawanya. Makanya, setiap hari kita harus berbuat baik, buat tabungan di akhirat. Kalau kita punya salah, nggak boleh malu untuk minta maaf, karena kalau kita sudah minta maaf, insya Allah nanti Allah juga akan memaafkan. Harus sering-sering istighfar. Harus mau berbagi, menabung (saya menggunakan kata ini untuk menyebut infaq dan sedekah), shalat dan ngaji juga nggak boleh malas, karena kita nggak tau kapan kita akan meninggal.” Bla bla bla...

-Sesungguhnya saya sedang mengingatkan diri saya sendiri-

Amay: “Lha adik tadi nggak mau minta maaf koq...(sambil mukanya kelihatan sedih, teringat waktu Aga memukulnya)”

Saya: “Adik Aga ‘kan masih kecil, makanya setiap hari harus kita ajari untuk minta maaf. Mas Amay ‘kan lihat sendiri tadi, Mama nyuruh adik salim sama Mas Amay, ya’kan? Tapi karena adik masih kecil, jadi masih suka lupa, makanya yang besar-besar kayak Mas Amay, Mama, Papa, harus mengingatkan.”

Amay: “Mama, Mas Amay juga tabungannya udah banyak sekali, di masjid. Nanti boleh buat beli apa aja Ma?”

Saya: “Kata siapa banyak? Masih kuraaang...kita perlu tabungan yang buanyaaaakkk buat di akhirat nanti. Lagian tabungannya nggak bisa diambil sekarang, nggak kayak uang Mama yang di ATM. ”

Amay: “Lha kenapa?”

Saya: “Ya itu biar jadi urusan Allah aja, kita nggak usah ingat-ingat berapa tabungan kita.”

-Duh Mas, Mama aja nggak tau, tabungan kita apa cukup buat “membeli” ampunan Allah. Jangankan berpikir buat beli istana di surga, Mama justru khawatir tabungan kita nggak cukup untuk sekedar membayar dosa- 

Amay: “Tapi Mas Amay anak sholih kan?”

Saya: “Asal Mas Amay dengerin Mama, insya Allah Mas Amay jadi anak sholih. Ingat ya, Mas Amay sama adik Aga itu tabungan Mama.”

Lalu Amay mengangguk. Semoga dia paham.





Read More

Karya Perdana Amay yang Muncul di Majalah

Wednesday, September 21, 2016

Hari Jum'at 16 September 2016 kemarin, ustadzah Rohmah mengabari bahwa beliau menemukan sebuah gambar yang dibuat oleh Amay, di dalam sebuah majalah. Wah, terkejut kami dibuatnya.

Sebenarnya gambar itu adalah gambar yang kami kirimkan April lalu, untuk sebuah lomba yang diadakan majalah itu. Tapi, keberuntungan memang belum berpihak pada Amay. Ia belum menang. Memang, gambar-gambar para juara bagus-bagus semua, dan Amay harus berlatih lagi agar bisa menghasilkan karya yang rapi dan lebih kreatif lagi.

Tak apa-apa ya, Nak, kompetisi mengajarkanmu untuk legowo. Papa dan Mama pun sering mengikuti lomba, dan jarang menang juga. Hehe... Maka dari itu, jangan pernah sombong dengan apa yang kamu ketahui atau apa yang kamu miliki, karena disana -di luar sana- banyak sekali orang-orang hebat yang selalu rendah hati. :)

gambar buatan Amay di Majalah

Gambar itu bercerita tentang pengalaman naik pesawat terbang untuk pertama kali. Waktu itu Maret 2016, kami sekeluarga pergi ke Makassar untuk menjenguk Aki dan Nin. Awalnya Amay takut membayangkan rasanya naik pesawat terbang. Tapi setelah pesawat Garuda Indonesia yang kami tumpangi mulai lepas landas, dia begitu excited. "Mama, kita terbang!" ucapnya dengan mata berbinar.

Sepanjang perjalanan dia berceloteh ria. "Itu pulau Ma... Waa..awannya putih-putih." dan lain sebagainya. Ia juga mengamati apa saja yang ia lihat di bandara. Ia jadi tahu bahwa sebelum terbang, pesawat akan diisi bahan bakar terlebih dahulu. 

Ya, seperti yang terlihat di gambar buatannya itu. Ada mobil Pertamina (ia menulis pertaminal). Ia juga menggambar Mama (memakai jilbab), Papa, juga adik Aga. 

Keep drawing, my little boy. Tuangkan imajinasimu dalam karya-karya indahmu. :)
Read More

Ket, Kucing Kecil yang Sedang Bersedih

Tuesday, September 6, 2016


Hari ini Ket tampak murung. Ia tak seceria biasanya. Teman-teman Ket menjadi heran karenanya. Pipit, seekor burung kecil, terbang mendekatinya. “Ket, apa kamu sakit? Kenapa diam saja?” tanyanya. Ket hanya menjawab dengan gelengan. Tidak sepatah kata pun keluar dari mulutnya.
Cici, seekor kelinci kecil yang baik hati, ikut pula menghampiri Ket.
“Hai Pipit, hai Ket. Kalian sedang apa?”
“Aku sedang bertamu ke rumah Ket dan kulihat dia sedang murung. Tapi saat kutanya apa dia sedang sakit, dia hanya menggeleng.” Jawab Pipit.


Iput, seekor tupai yang mendengar percakapan mereka kemudian berkata, “Ket memang tidak sakit. Ia hanya sedang bersedih.”
“Dari mana kamu tahu?” tanya Cici sambil mengunyah wortelnya.
“Aku tadi melihatnya menangis.” Jawab Iput.
“Mengapa kamu menangis, Ket? Apakah ada masalah? Ceritakanlah pada kami, siapa tahu kami bisa membantumu.” Bujuk Pipit.
“Ibuku pergi.” Kata Ket singkat. Ia lalu menundukkan kepala.



“Tapi ibumu pergi untuk mencari makan, Ket. Untukmu juga. Kalau ibumu tidak makan, air susunya tak akan keluar. Kamu tak bisa menyusu nantinya. Yakinlah, ibumu tak lama lagi pulang. Tadi kudengar ibumu berkata seperti itu, bukan?” Iput berusaha menghibur.
“Iya Ket, kamu sabar ya… Kami disini akan menemanimu hingga ibumu kembali.” Cici juga berusaha menghibur kucing kecil itu.
“Kamu tahu, Ket? Dulu saat aku belum bisa terbang, ibuku selalu pergi meninggalkanku untuk mencari makanan, dan setelah ia dapatkan makanan itu, ibu menyuapiku.” Cerita Pipit. “Tapi aku tidak menangis, karena aku tahu ibu akan kembali.”
“Betul kata Pipit, Ket. Nanti kalau kamu sudah besar, pasti ibumu akan mengajakmu mencari makanan.” Ujar Cici menasehati.
“Tersenyumlah, Ket.” Bujuk Pipit. Ket pun tersenyum.



“Hai lihat! Siapa disana?” teriak Iput.
“Ibu!!!” Ket berlari menuju ibunya.
“Kau menangis, Ket? Matamu berair.” Tanya ibu dan dijawab Ket dengan tersipu malu.
”Tadi aku memang menangis, Bu. Tapi teman-teman datang menghibur dan menemaniku.” Kata Ket sambil memandang ke arah Pipit, Cici, dan Iput.
“Sudah mengucapkan terima kasih pada teman-temanmu?” Tanya ibu.
“Oh, aku sampai lupa. Terima kasih teman-teman,” kata Ket sambil tersenyum.
“Sama-sama Ket,” Iput, Pipit, dan Cici menjawab serempak.



Kini Ket tak bersedih lagi. Ia akan mencari teman-temannya jika ibu pergi mencari makan dan menyuruhnya tetap tinggal.
~-~





Read More

Ketika Amay Bisa Menulis

Wednesday, June 15, 2016

Amay saat membaca gambar

Saya dan suami memiliki hobi membaca. Selera kami memang berbeda. Saya lebih suka dengan novel-novel mengharu biru khas gadis-gadis manja, sedang suami kurang suka dengan bacaan saya yang dianggapnya terlalu menye-menye.

Ya biar lah ya, namanya juga selera. Toh pada akhirnya, saya juga melahap buku-buku yang dia punya. :)

Kebiasaan membaca (dan numpang membaca) ini, rupanya menurun pada Amay. Dia senang sekali jika kami mengajaknya memasuki toko buku. Lihat saja gayanya membaca buku di foto paling atas. Saat itu usianya menginjak 3 tahun dan belum kenal huruf. Tapi, meski hanya dengan membaca gambarnya saja, ia terlihat khusyuk menghabiskan satu buku dari depan hingga akhir.


Amay, 2 Maret 2014
Ini memang jadi kebiasaan. Saat "mencari" buku inilah, kami biasanya sekaligus menumpang baca buku. Meski pada akhirnya kami hanya membeli 1-2 buku saja, tapi setidaknya sambil berjongkok (bahkan dengan sengaja duduk  di lantai berdua), saya berhasil membacakan sekitar 5 judul buku untuknya. Penghematan, 'kan ya? :D

Hobi Amay membaca (gambar), dan hobinya menodong Mama untuk mendongeng, juga didukung dengan hobinya menggambar, membuat rasa ingin bisa membaca dan menulisnya semakin besar.

Saya jadi ingat seorang anak didik saya di Bogor dulu. Hobinya menggambar, dan itu memudahkannya saat belajar menulis. Kemampuan menulisnya berkembang lebih cepat dibanding kemampuan membacanya. Ini karena dia lebih suka mendengarkan ceita daripada membacanya sendiri. Tapi untungnya, karena terbiasa menggambar dan menulis, kemampuan membacanya pun lama-lama terasah.

surat cinta dari Amay

Saya sebenarnya hampir tidak pernah mengajak Amay untuk "belajar". Belajar disini dalam arti, mengkhususkan waktu untuk menulis atau membaca, di usianya yang baru genap lima tahun ini. Kemampuan menulis dan membaca Amay, murni karena besarnya rasa keingin-tahuannya. 

Saya bahkan takjub, terheran-heran, terkejut lalu bengong, atau entah apalah istilahnya, begitu tau Amay bisa menulis. 

Iya, suatu hari, dia memberi saya wadah berwarna hijau ini (ini sebenarnya mainan yang diperolehnya dari sebuah resto. sebuah permainan sepak bola gitu deh..). Ia menyodorkan benda ini sambil berkata, "Mama, ini surat untuk Mama. Nanti dibaca yaa..." 

Saya pun membuka benda itu, lalu saya baca sebuah potongan kertas di dalamnya. Isi "surat" itu menceritakan tentang kucing yang tiba-tiba muncul di rumah kami sehari setelah kepulangan kami dari Makassar, Maret lalu. Hehe..


surat cinta dari Amay
Setelah bisa membaca dan menulis, Amay tidak bisa diam saat melihat kertas dan alat tulis. Meski bentuk kertasnya sedemikian rupa, asalkan masih ada tempat untuk menuangkan idenya, ia akan menuliskan sesuatu disana. Seperti "curhatannya" di atas itu. Eh, itu curhatan, atau semacam "rindu' pengakuan ya? Haha.. :v

Jadi, belajar membaca di usia dini, menurut saya sah-sah saja. Asaaalll, kita tidak merampas haknya untuk bisa menikmati masa kecil dengan suka cita. Jangan bikin stress anak kecil, ya... :D

Read More

Menggambar "Dunia"

Dunia, by Amay

Amay, membuat sebuah gambar pada 31 Mei 2015, pukul 22:52

Kali ini, dia sudah bisa memberi judul untuk hasil karyanya. Ketika ditanya apa yang sedang dia gambar, jawabnya, "Ini dunia."

Hihi, ada-ada saja. Memang, di gambar itu ia membuat apa-apa saja yang bisa kita lihat di dunia; ada kereta api, burung, bunga, pelangi, pohon dengan buahnya, awan-awan, mobil, matahari, rumah dengan cerobong asapnya, dan orang (manusia).

Lalu saya berkata padanya, "Terus menggambar ya, sayang. Mama menunggu karya-karyamu selanjutnya."
Read More

Menggambar Rumah Kuning

karya Amay

1 Mei 2015, Amay membuat sebuah gambar di atas kertas. Katanya, ini adalah "rumah kuning", istilah yang dipakainya untuk menyebut rumah yang kami tinggali saat ini.

Di dalam gambar itu, ada pesawat, karena kebetulan rumah kami berada tak jauh dari bandara Adi Sumarmo, Solo, sehingga sering dilintasi pesawat latih.

Secara detail, Amay juga menggambar taman depan rumah, gerbang perumahan lengkap dengan pak satpamnya, antena tv tetangga, torn bergambar penguin, dan saya yang sedang memasak di dapur. 

Keep drawing, my dear, Amay. :)
Read More

Puasa Pertama Amay

Monday, June 6, 2016

Amay dan Aga sehari jelang puasa

Hari ini adalah hari pertama di bulan Ramadhan. Amay sudah berumur 5 tahun dan sebentar lagi naik ke kelas TK B. Maka dari itu, Mama dan Papa mengajak Amay berlatih puasa.
"Nanti Mas Amay boleh buka puasa pas adzan dzuhur. Oke?" kata Mama.
"Oke!" jawab Amay, semangat.
Pagi tadi, Amay sudah makan sahur. Mama dan Papa membangunkannya, meskipun ia terlihat enggan. Tapi, alhamdulillah, meski nasi yang diambilkan Mama tak habis dimakannya, setidaknya Mas Amay punya cadangan energi untuk sehari ini. :)
Setelah sahur, Mas Amay pergi ke masjid bersama Papa untuk melaksanakan shalat Shubuh berjamaah. Kalau biasanya setelah shubuh orang-orang melanjutkan tidur, tidak demikian dengan Mas Amay. Mas Amay, Dik Aga dan Papa berjalan-jalan sebentar, menikmati udara pagi yang segar.
Seperti tak lelah, Mas Amay berlarian pulang ke rumah. Mama mengingatkan, "Jangan lari-lari lho, nanti haus. Mas Amay kan puasa, ngga boleh makan dan minum."
"Iya..." jawab Mas Amay.
Godaan pertama datang waktu Nesyer, teman mainnya di rumah, datang sambil memakan choklat yang juga merupakan kesukaan Amay.
Tapi saat itu Amay berusaha menghibur dirinya sendiri, "Aku ngga suka choki-choki koq, aku sukanya susu boboiboy." katanya pada Nesyer. Hihi...lucu. Mama tau, itu usaha Mas Amay agar tidak tergoda, ya 'kan? :D
Dan ketika adzan dzuhur berkumandang, Mas Amay segera memanggil Mama.
"Ma, sudah adzan lho..."
"Ya...Mas Amay boleh makan dan minum." kata Mama.
Amay pun segera mengambil teh manis sisa sahur tadi, yang Mama taruh di dalam kulkas. Ia pun segera menyantap pisang, melon, dan beberapa potong biskuit.
"Kalau sudah, minum putih, lalu lanjut puasa lagi sampai maghrib ya," kata Mama.
Amay menjawab, "Ya..."
Tapiii..jam baru setengah 2 ketika tiba-tiba Amay merengek, "Ma, haus..."
Dengan sedikit negosiasi akhirnya Mas Amay kembali bisa menahan keinginan untuk minum.
Mama menyuruhnya tidur agar waktu terasa cepat. Apalagi sejak sahur tadi dia belum tidur sama sekali. Tapi apa jawaban Amay? "Mas Amay ngga bisa tidur koq. Mas Amay banyak pekerjaan ni lhoo.."
Pekerjaan yang dia maksud adalah membuat kamera dari kertas lipat. Hihi..ada-ada saja. Maklum, sehari sebelumnya, Mama mengajarinya membuat kamera, dan ia bisa. Seperti orang-orang kebanyakan, yang jika baru bisa melakukan sesuatu maka cenderung mengulang-ulang, Amay pun begitu.
Alhamdulillah, yang dinanti datang juga. Adzan maghrib terdengar dari masjid Nurul Huda. Amay pun segera membatalkan puasa pertamanya. Besok puasa lagi ya, Nak... :*
Read More

Dongeng Ipung Belajar Bersyukur

Wednesday, October 22, 2014

Ini adalah cerpen yang mengantarkan saya menjadi juara harapan 2 di lomba menulis dongeng Nusantara Bertutur. Tulisan ini telah dimuat di Kompas edisi Minggu, 12 Oktober 2014.

Karena cerpen inilah kepercayaan diri saya semakin besar. Ternyata saya bisa. Sebelum ini, selalu muncul keraguan dalam diri, apakah cerita-cerita yang saya buat layak untuk dibaca orang lain? Dan inilah kali pertama saya muncul sebagai juara, meski hanya harapan, di suatu lomba. Sebelumnya tak pernah seberuntung ini. :D

Nah, barangkali ada di antara ibu atau ayah di luar sana yang juga senang membacakan cerita untuk anak-anaknya menjelang tidur. Mungkin cerita ini bisa dibacakan. Semoga bermanfaat untuk semua.



Ipung Belajar Bersyukur

Ipung si capung, bersama sahabatnya Pupu si kupu-kupu, terbang ke sebuah taman.
“Lihat anak-anak manusia itu, bahagia sekali ya? Mereka berlarian dengan kedua kaki mereka.” Ujar Ipung. “Seandainya kakiku kuat seperti mereka.” Ia berandai-andai.
“Ssst, tidak boleh begitu. Kita juga punya kelebihan, lho. Lihat, dengan sayap ini kita bisa terbang. Kita harus bersyukur.” Ucap Pupu bijaksana.
Tiba-tiba seorang gadis kecil mendekati mereka dan berkata pada temannya, “Hei lihat, ada kupu-kupu dan capung!”
Temannya menimpali, “Wah iya, cantik sekali ya mereka? Coba kita punya sayap, kita bisa terbang deh, seperti mereka!”
Ipung dan Pupu yang mendengar percakapan itu saling pandang dan tersenyum. “Tuh kan, mereka juga ingin mempunyai sayap seperti kita.” Kata Pupu, yang disambut dengan anggukan setuju oleh Ipung.
“Lihat! Ada yang sedang menggambar!” seru Ipung.
“Wow, mereka sedang menggambar kita.” Pupu menimpali.
Namun beberapa saat kemudian Ipung menunduk. “Lihatlah, mereka lebih suka menggambarmu, Pu. Sayapmu indah berwarna-warni, sementara aku?” Ipung bersedih.
“Ipung, setiap makhluk mempunyai kelebihannya masing-masing. Aku memang punya sayap yang berwarna-warni, itu kelebihanku. Tapi bukan berarti aku lebih baik darimu.” Pupu kembali menghibur sahabatnya itu.
Tiba-tiba dari atas mereka terdengar suara yang keras menderu-deru. Sebuah benda melintas.
“Apa itu?” Ipung terkejut. “Ayo kita ikuti dia!” Ajaknya. Ia langsung melesat pergi, sementara Pupu tertinggal di belakang.
Pupu terengah-engah memanggil, “Ipung! Tunggu aku! Tuh kan, aku kalah cepat denganmu. Terbangmu cepat sekali. Kelebihanmu itu harus disyukuri.” Kata Pupu sambil berusaha mengatur napasnya.
Ipung tersenyum. “Hehe, maaf. Aku takut kehilangan jejak benda itu, jadi aku ngebut.” Ujarnya sambil tertawa.
“Itu helikopter, buatan manusia.” Pupu menjelaskan. Setelah mengamati dengan seksama, ia kembali berkata, “Ipung, bentuk helikopter itu hampir sama dengan bentuk tubuhmu. Coba kau perhatikan! Kepalanya besar seperti kepalamu, ekornya ramping seperti ekormu.”
“Benar juga.” Ipung pun penasaran. “Tapi mengapa manusia meniru bentuk tubuhku?”
“Karena kamu punya kemampuan terbang lebih cepat dari serangga yang lain. Manusia-manusia itu ingin lebih cepat sampai ke tempat tujuan.” Pupu menerangkan.

Ipung mengangguk dan makin menyadari kelebihannya. “Terima kasih, Pupu. Karena kamu, aku sekarang tahu bahwa setiap makhluk diberi kelebihan oleh Tuhan. Sekarang aku akan lebih banyak bersyukur.” Ipung tersenyum sambil menggandeng sahabat baiknya itu.
Read More

Amay's Art Work

Saturday, September 27, 2014

Amay, di umur 3 tahun 6 bulan

Setelah kegiatan menyusun puzzle tadi malam, pagi ini Amay ketagihan membuat sesuatu. Begitu bangun tidur, yang diingatnya adalah gunting dan kertas.

"Menggunting lagi, yuk, Ma..." ajaknya pada saya yang baru menyelesaikan Shalat Shubuh. Akhirnya saya ikuti kemauannya dengan memberikan beberapa potongan kardus sisa semalam.

"Amay mau buat apa?" tanya saya. Dia belum punya ide sepertinya. Namun begitu melihat sebuah persegi panjang yang di dua sisinya terlipat sebentuk segitiga, ia pun mengambilnya, lalu menggunting garis tanda lipatannya tadi dengan tangannya sendiri. Jadilah sebuah trapesium.

Begitu didapatnya sebuah bentuk yang baru (trapesium), ia langsung berkata, "Ini kayak mobil, Ma..." Mmm, tapi mobil yang belum ber-roda. Lalu dibaliknya trapesium itu, "Kalo gini jadi kapal."

Oh, okay, bagaimana kalau kita membuat mobil dan kapal saja? Kebetulan persegi panjang yang disisinya terlipat sebentuk segitiga itu ada dua. Jadi masih tersisa satu lagi untuk membuat dua buah kendaraan. Amay pun menggunting persegi panjang yang lain, sehingga didapatnya dua buah trapesium.

Saya, menyadari kemampuan Amay yang belum bisa menggunting dengan rapi, menawarkan bantuan untuk membuat dua buah roda dan satu tiang bendera. Dua roda untuk mobil, dan tiang bendera untuk pelengkap kapal yang akan dibuatnya. Selanjutnya, saya serahkan semua urusan pada Amay. Amay membuat sendiri benderanya, juga jendela-jendela mobilnya. Ia sendiri juga yang menempelkan semua bagian itu hingga menjadi dua buah kendaraan yang diinginkannya.

Mobil mainan buatan Amay

Kapal laut buatan Amay


Horeee, Alhamdulillah, sekarang Amay sudah semakin kreatif... :)

Read More

Puzzle Sederhana untuk Kegiatan Anak Usia Tiga Tahun

Tadi malam, saya menghabiskan waktu bermain bersama Amay dengan menggunting. Sudah berbulan-bulan saya tidak melakukan kegiatan ini bersama Amay. Ini karena Amay sedang malas menggunting, dan lebih senang menggambar seperti biasanya. Memang, gambar buatan Amay sekarang ini lebih kompleks, lebih detail. Apalagi yang digambarnya adalah karakter-karakter kesukaannya seperti Spiderman, Batman, atau Ultraman.

Nah, untuk awalan, saya memang tidak secara langsung menyuruhnya menggunting. Amay belum dapat menggerakkan tangannya untuk menggunting dengan rapi. Ia pun baru bisa menggunakan gunting untuk urusan potong-memotong, dan belum bisa menggunting untuk membuat bentuk tertentu. Jadi, saya memutuskan untuk melakukan pemanasan terlebih dahulu. Saya membuat puzzle. Sambil saya menggunting gambar yang telah saya buat, saya persilakan Amay untuk menggunting kertas, semaunya saja.

Ide membuat puzzle datang begitu saja, ketika saya melihat tumpukan kardus di rak buku. Pertama, saya menggambar kuda, dengan kemampuan menggambar saya yang sangat terbatas, hehe.. Kemudian saya minta Amay untuk mewarnainya. Lalu setelahnya, saya gunting gambar itu menjadi lima bagian. Saya acak, lalu saya minta Amay untuk menyusunnya kembali.

Agak takjub, karena Amay bisa menyusun lima kepingan puzzle itu dengan baik, meskipun saya belum pernah mengajaknya melakukan permainan ini. Membeli aneka puzzle pun belum pernah. Ini pertama kalinya Amay mengenal puzzle.


gambar yang saya potong menjadi 5 bagian








Saya menggunakan double tape untuk menempelkan kepingan puzzle itu ke bidang kertas, karena mendadak kami kehilangan lem, hehehe... Jadi tadi malam, selain belajar menyusun kepingan puzzle, Amay juga berlatih menempel menggunakan double tape. Dan inilah hasilnya... :)


Karena kegiatan ini, Amay jadi semangat berlatih menggunting. :D


Read More

Mengasah Initiative dan Empathy

Sunday, March 30, 2014

Initiative dalam Bahasa Inggris berarti: The power or ability to begin or to follow through energetically with a plan or task; enterprise and determination. Artinya kurang lebih adalah kekuatan atau kemampuan untuk memulai atau untuk menindaklanjuti sesuatu dengan penuh semangat dan tekad.

Yang perlu digarisbawahi disini, kemampuan untuk memulai itu dilandasi dengan semangat dan tekad, yang tidak akan ditemui apabila seseorang melakukannya dengan paksaan atau perintah. Jadi, inisiatif berarti tindakan yang dilakukan dengan kesadaran dan kemauan pelakunya.

Initiative, menjadi salah satu unsur penilaian di rapor anak-anak ketika saya mengajar dulu. Initiative dinilai lebih pada rasa, bukan akademik. Mengajarkan anak-anak untuk memiliki initiative sejak dini sangatlah penting. Tujuannya tentu untuk membentuk mereka agar lebih peka dan peduli dengan keadaan sekitar. Initiative memang erat kaitannya dengan kepedulian sosial. Lihat diluar sana, tingkat kepedulian manusia terhadap manusia lainnya, terhadap lingkungan, juga terhadap tumbuhan dan hewan, sudah hampir binasa.

Mengajarkan anak-anak untuk memiliki initiative, juga merupakan bagian dari mengasah Empathy. Menurut Wikipedia lagi, Empati adalah kemampuan untuk merasakan keadaan emosional orang lain, merasa simpatik dan mencoba menyelesaikan masalah, dan mengambil perspektif orang lain.

Bayangkan jika sejak dini kemampuan berempati dan berinisiatif tidak diasah, maka yang akan timbul adalah generasi-generasi yang cuek, tidak peka terhadap keadaan sekitar, dan tidak mandiri karena selalu mengandalkan oang lain. Namun, bila semua orang tua mengajarkan anak-anaknya untuk memiliki kedua sifat mulia itu, dunia yang aman, damai, tentram, bukan hanya ada di khayalan. 

Ada sebuah pengalaman yang sampai sekarang saya ingat, yaitu ketika Amay, anak sulung saya, tiba-tiba menangis saat menonton film Free Willy. Ketika Willy si paus dilepaskan kembali ke laut, itu adalah sebuah scene yang paling mengharukan. Tidak salah apabila kita ikut terhanyut dalam alur cerita, bukan? Karena ini berarti empati kita masih berfungsi dengan baik.


Free Willy
 
Tak hanya film Free Willy yang membuat Amay menangis, film lainnya yaitu The Good Dinosaur dan The Grave of Fireflies juga berhasil membuatnya sesenggukan. Memang, dari sebuah film kita bisa belajar banyak hal. Termasuk belajar untuk berempati.

Lalu bagaimana cara lain untuk mengasah initiative dan empathy?


1. Perkenalkan Inisiatif dan Empati Melalui Perilaku
Cara terbaik untuk mengubah orang lain adalah dengan mengubah diri sendiri.
Anak akan meniru apa yang dilihatnya, bukan? Maka, cara terbaik untuk mengasah inisiatif dan empati mereka, adalah dengan memberikan contoh yang baik dalam kehidupan sehari-hari.



2. Berikan Kesempatan pada Anak untuk Melakukan Sesuatu

Memberi kesempatan pada anak untuk melakukan sesuatu, secara tidak langsung akan membuatnya belajar bertanggung jawab. Selain itu, anak-anak juga akan lebih memiliki rasa percaya diri. Terlalu sering melarang mereka, justru akan membentuk mereka menjadi pribadi yang penakut, pemalas, dan tidak percaya diri.



3. Biasakan untuk Mengungkapkan Perasaan

Katakan pada anak-anak, tidak masalah jika ingin marah, bersedih atau merasa kecewa. Namun, katakan juga bahwa emosi yang berlebihan dan berkepanjangan justru dapat mendatangkan bencana. Dari sini, kelak mereka akan belajar untuk menghargai perasaan orang lain juga.



4. Selalu Hargai Usaha Anak

Menghargai setiap usaha anak adalah suatu hal yang amat sederhana, tapi sangat penting untuk perkembangan emosionalnya. Sebaliknya, menghina atau meremehkan usaha mereka, adalah salah satu contoh kekeliruan dalam komunikasi. Efeknya tidak main-main lho, Ma!

Baca ini yaa : Pengaruh Verbal Bullying terhadap Masa Depan Korban



5. Tetap Konsisten

Yang paling sulit dari semuanya ini adalah konsisten. Iya, semua hal baik membutuhkan keistiqomahan untuk menjadikannya gaya hidup.

Semoga kita bisa istiqomah dalam memberikan teladan yang baik untuk putra-putri kita ya, Ma... Aaamiin YRA.



Read More

Antara Guru TK Hingga Menggambar

Sunday, March 2, 2014

Saya adalah seorang mantan guru TK, hehe.. Saya mengajar dari tahun 2007 hingga 2010. Tapi saya tidak seperti kebanyakan guru TK yang kreatif. Saya hanya mengajar dengan cinta, tak lebih. 

Menjadi guru TK bukan pekerjaan mudah, karena guru TK dituntut serba bisa. Ya mesti bisa nyanyi, bisa nari, bisa nggambar, bisa acting (saat role playing), kreatif membuat mainan dari barang bekas (making art), bisa masak, dan yang penting gak boleh jijik. Yang terakhir ini, misalnya ketika ada anak yang BAB, BAK, atau muntah. Kalo jijik, mending jangan jadi guru TK yaa...karena hari-harinya akan sering ketemu yang begitu. :)

Bisa nari dan bisa nyanyi, udah pasti karena kerjaan anak-anak TK kan cuma itu. Seharusnya, selebihnya mereka main sendiri. Oya, tentang menari, saya pernah lho dengan partner (Bu Neneng waktu itu) mengantarkan anak-anak menjadi juara 1 lomba menari di kecamatan, hehe..(sombong dikit). Acting juga bisa lah dikit-dikit. 

Tapii...menggambar, ini kelemahan saya. Bahkan saat wawancara, ketika melamar di Happy Bee, Ms Budi owner preschool itu bilang, "waa..Ms Arin nggak suka nggambar ya?" gitu, iihhh...malunya. Syukurnya, Alhamdulillah, dulu saya mengajar berdua dengan partner di kelas. Jadi urusan menggambar bisa diwakilkan, hehe, sampai-sampai seorang partner (Ms Novi) hafal dengan kebiasaan saya yang selalu bilang, "Arin nggunting aja yah." :p

Tapi, sejak punya Amay, semuanya berubah. Terlebih ketika dia sudah mulai senang menggambar. Saya dimintanya menggambar apapun yang dia mau. Parahnya, dia tidak mau diwakilkan. "Hmm...Amaaayy...papamu itu pinter nggambar!!" gerutu saya waktu itu. Tapi demi tak mendengar tangisannya yang bikin pusing kepala (lebay), ya sudahlah, akhirnya saya gambarkan karakter-karakter yang dia minta, sebisa saya. Yah, meski dengan itu saya harus berusaha menulikan telinga ketika suami bilang ini itu tentang "karya saya". :D

Tapi suami saya baik koq. Akhirnya beliau mengajari saya menggambar gajah, kuda, dll, sebelum "ilmu" menggambar binatang-binatang itu saya praktekkan di depan Amay. Alhamdulillah sii, sekarang tangan saya sudah mulai lentur, walaupun hasil gambaran saya belum bisa dibilang bagus. Minimal, Amay ngerti lah apa yang saya gambar. :p

Alhamdulillahnya lagi, sekarang Amay nggak sesering dulu minta saya gambarkan. Dia sudah bisa menuangkan isi kepalanya sedikit demi sedikit. Rupanya, bakatnya ini menurun dari papanya. Untung saja yaa...soalnya kalau laki-laki nggak bisa nggambar tuh kurang keren. Eh, ini sih pendapat saya pribadi lho, nggak boleh ada yang protes, hehe..

Karena hobi menggambar Amay, kami pun memutuskan untuk membelikannya kertas 1 rim, supaya tak perlu repot-repot membeli buku gambar setiap hari. Anak ini, kalau kertas di buku gambarnya belum habis, belum akan menghentikan kegiatan menggambarnya. :)

Ini hasil karya Amay dari waktu ke waktu, yang berhasil diabadikan:

gambar Amay, 2th 6bln, "Buaya makan ikan"

gambar Amay, 2th 6bln, "Gorila, spongebob dan balon"

gambar Amay 2th, 7bln, "Spongebob, perahu dan matahari"

gambar Amay, 2th 8bln, "Ular dan kupu-kupu"

gambar Amay, 2th, 11bln, "Buaya dan burung hantu"

Saya selalu ingat tips Ms Budi (owner preschool tempat saya mengajar) supaya anak pandai menggambar, yaitu, "Jangan diberi penghapus". Penghapus membuat anak-anak tidak percaya diri dengan tangannya. Itu yang saya terapkan pada Amay, dan ia selalu percaya diri walaupun menggambar dengan pulpen sekalipun.

Read More

Paman Octo, Si Seram Suka Sampah

Sunday, December 22, 2013

Di sebuah belantara laut, tinggallah seekor gurita berwarna merah bernama Paman Octo. Di mata Ubit si ikan badut dan kawan-kawannya, Paman Octo terkenal galak dan tak ramah. Karenanya, mereka takut untuk menyapa apabila bertemu dengannya. Saat pulang sekolah pun, mereka sengaja mengambil jalan lain, asalkan tidak melewati rumahnya. Pernah suatu hari Ubit dan kawan-kawan dimarahi oleh Paman Octo ketika bermain di halaman rumahnya.
“Pergi kalian! Jangan main di depan rumahku! Kalian hanya bisa mengotori halamanku saja.” Teriakan Paman Octo saat itu terngiang-ngiang di benak Ubit.

Suatu hari, Ubit dan kawan-kawan diminta Pak Guru untuk mengantar surat kepada Paman Octo. “Ubit, tolong antarkan surat ini ke rumah Paman Octo ya. Sekolah kita akan mengadakan kegiatan yang melibatkan Paman Octo sebagai pembimbing.”
“Baik, Pak.” Jawab Ubit. Ia membalikkan badan ke arah kawan-kawannya dengan lunglai, bingung harus bagaimana. Biasanya ia melakukan perintah Pak Guru dengan senang hati, tapi kali ini berbeda. Ia tak mungkin membantah perintah itu, tapi tak mungkin juga menemui Paman Octo di rumahnya. Ia takut kena marah lagi.
Mereka pun berunding. Mika si ikan kakap berpendapat, “Sudah, kita hadapi saja. Kalau Paman Octo marah kita langsung kabur.” Ubit dan yang lainnya mengangguk.
“Tapi lebih bagus lagi kalau kita meminta maaf terlebih dulu atas kejadian beberapa waktu yang lalu itu.” Sahut Tina si ikan tuna.
“Loh, kenapa kita yang minta maaf duluan? Kan belum tentu kita yang salah.” Mika ini agak ngeyel rupanya.
“Siapa tahu kita memang salah, tapi kita tidak tahu letak kesalahan kita dimana.” Tina kembali menjelaskan.
“Oke deh kalau begitu.” Mika akhirnya setuju.
“Kalau begitu, ayo kita ke rumah Paman Octo sekarang!” ajak Ubit.

Tok tok tok… Ubit mengetuk pintu perlahan.
Tok tok tok… Diulanginya lagi untuk kedua kali. Sesaat kemudian terdengar suara dari dalam.
“Siapa?” Tanya suara itu. Ubit gemetar. Suara itu adalah suara Paman Octo.
“S s s saya Ubit, Paman. Mau mengantar surat dari Pak Guru.”
Paman Ubit membuka pintunya lalu menyilakan Ubit dan kawan-kawannya masuk. Ubit segera menyerahkan surat yang ia maksud. “Ini Paman, titipan dari Pak Guru.” Paman Octo membukanya. “Kata beliau, Paman Octo akan menjadi pembimbing di kegiatan sekolah, betulkah itu?” Tanya Ubit memberanikan diri.
Paman Octo memandang ke arahnya, diam. Beliau menyamankan posisi duduknya lalu menjawab, “Iya. Kemarin Pak Guru sudah menemui Paman dan membicaraan hal ini.”
“Oya Paman, sebelumnya kami ingin meminta maaf atas kejadian beberapa waktu lalu ketika kami bermain di halaman rumah Paman.” Ucap Tina. Ia memang bisa diandalkan untuk urusan ini. Sikapnya yang santun membuat Paman Octo tak terlihat galak lagi.
“Iya, Paman maafkan. Ini juga yang nanti akan Paman sampaikan di sekolah kalian.” Paman Octo berlalu mengambil sebuah kantong plastik. Ubit dan kawan-kawannya penasaran tentang isi kantong itu.
“Kalian tahu tidak mengapa saat itu Paman marah pada kalian?” Semua menggeleng. Paman Octo mulai mengeluarkan semua isi kantong plastik itu, dan itu membuat mereka tercengang.
“Ahhh.. Iya Paman. Kami sekarang sudah tahu letak kesalahan kami.” Ujar Mika sambil menepuk jidatnya.
Paman Octo tersenyum. “Kalian tahu? Setiap hari Paman memunguti sampah-sampah ini. Paman membaginya menjadi dua jenis. Sampah organik dan sampah anorganik. Sampah organik paman taruh di sebuah wadah untuk dijadikan makanan bagi teman-teman kecil kita yang lainnya, contohnya udang. Sampah anorganik seperti kaleng minuman ini Paman olah lagi menjadi sesuatu yang bermanfaat.”
“Untung ada Paman Octo ya.” Ucap Ubit sambil berbinar.
“Tapi Paman tidak bisa sendirian. Paman membutuhkan bantuan dari kalian. Kalian lihat, sampah semakin hari semakin tidak terkendali jumlahnya. Ajaklah teman-temanmu untuk mencintai laut kita, tempat hidup kita. Mintalah mereka agar tidak membuang sampah sembarangan. Kalian tentu tidak mau meminum air yang kotor dan berbau, bukan?”
Ubit dan kawan-kawan mengangguk setuju. “Siap Paman!” mereka serentak berteriak semangat.
“Bagus!” Paman Octo tersenyum lebar.
“Ternyata Paman Octo tidak seseram yang kita bayangkan ya?” Tina berseloroh. Semua tertawa.

Tibalah hari yang dinantikan. Paman Octo datang ke sekolah dengan membawa beberapa perlengkapan. Ubit dan kawan-kawan menyambutnya dan membantunya membawa perlengkapan itu.
Paman Octo membagi banyak sekali ilmu dan pengetahuan yang ia punya dalam kegiatan ini. “Anak-anak, ini adalah beberapa benda yang Paman buat dari kaleng minuman. Ada celengan, kotak surat, tempat pensil, mobil-mobilan dan sebagainya. Jadi mulai saat ini, jangan membuang sampah di sembarang tempat ya… Mari kita jaga laut kita agar tetap bersih, supaya air yang kita minum juga menyehatkan tubuh kita. Setuju?”
“Setuju!!” semua murid kompak menjawab.
Di akhir acara, Paman Octo berterima kasih pada Ubit dan kawan-kawan yang telah membantunya. Beliau mengangkat mereka sebagai “Prajurit Pecinta Kebersihan".
Read More