Friday, July 13, 2018

Dongeng Fabel Karya Mas Amay

Tanggal 29 Mei yang lalu, sekolah libur. Mas Amay yang sedang puasa Ramadhan, mengisi liburnya dengan main game melulu. Mama sampai capek mengingatkan.

Mama bilang, "Mas, mbok bikin apaaaa gitu lho, nggak capek apa main game terus?"

Mama ngomel sambil mencuci. Selesai mencuci, Mas Amay memberi Mama sesuatu. Ternyata itu adalah kumpulan kertas berisi cerita bergambar. Pura-puranya sih, buku. 

And here we go, buku cerita karya Mas Amay. 




Coba ngga usah nge-game yaa, mungkin bukunya udah banyak. Hihihi... Mama jadi ingat, dulu Mama pernah membuat mini project dengan Mas Amay.

Baca: Mini Project with Amay (Pictorial Book)

Mama berharap, Mas Amay bisa kembali menuangkan ide-ide menjadi gambar dan tulisan, biar waktunya lebih bisa bermanfaat. Daripada main game terus kan? :)


Sunday, July 1, 2018

Kehangatan dan Keharuman Tahan Lama Pilihan Mama untuk Mas Amay dan Dek Aga

disclaimer: Ini review dari hati, bukan postingan berbayar. Apa yang tertuang di sini, sesuai dengan pengalaman yang Mama Kepiting rasakan.

Sekitar tujuh tahun lalu saat Mama masih meraba-raba dalam merawat bayi Mama, segala merek untuk perawatan tubuh kalian, Mama coba. Termasuk untuk urusan minyak telon.

Maaf ya Mas Amay, karena secara tidak langsung, Mas Amay seolah menjadi kelinci percobaan, hihi... Tapi tidak ada salahnya untuk coba-coba, kan? Kan Mama ingin yang terbaik. Kalau tidak mencoba, dari mana Mama tahu baik buruknya sesuatu untuk kalian, ya kan? Jika ada yang bilang, buat anak kok coba-coba, ya, Mama punya alasan.

Untuk minyak telon, sebenarnya Bunda (Kakak Mama, Ika Puspita) sudah memberi contoh. Bunda memakaikan My Baby minyak telon untuk Kak Fina dan Mas Aufa, bahkan sampai Rara. My Baby minyak telon memang wangi dan hangat, tapi, Mama masih ingin “mencicipi” minyak telon yang lainnya juga. Penasaran ceritanya.

My Baby Minyak Telon, minyak telon rekomendasi mamakepiting

Petualangan Mama dalam mencari minyak telon yang terbaik pun, bermula...

Mama mencoba merek A, yang harganya lebih mahal dari My Baby minyak telon. Wanginya enak, Mas Amay juga menjadi segar saat dicium. Hangatnya juga pas, tidak terlalu panas. Tapi, ketika pagi hari wanginya hilang, tidak seperti ketika Mas Amay memakai My Baby minyak telon. Jadi, karena kelemahannya dibanding My Baby minyak telon ada 2, yaitu lebih mahal dan wanginya tidak tahan lama, Mama berhenti memakai minyak telon merek A tersebut.

Mama beralih ke merek B. Kelebihannya dari My Baby minyak telon, adalah harganya yang lebih murah. Wanginya segar juga, enak. Entah, Mama sih suka banget sama wangi-wangi minyak telon, dan setiap merek memang memiliki wangi khasnya masing-masing. Mama sangat berharap merek ini bisa jadi andalan Mama, agar Mama bisa sedikit lebih berhemat. Tapi, ternyata Mas Amay dan Dek Aga (Dek Aga pernah Mama cobain minyak telon merek ini juga) tidak kuat dengan panasnya. Wah, ternyata hangatnya berlebihan yaaa... Jadi, Mama segera memutuskan untuk berhenti memakaikan merek B ini di kulit Mas Amay. Kasihan Mas Amay, kulitnya jadi kemerahan karena panas.

Mama akhirnya memantapkan pilihan pada merek My Baby untuk minyak telon kalian. Ternyata pilihan Bunda memang benar yaa, hehe... Mama sih, nggak percayaan. Wkwkwkwk..

Kesimpulannya, kelebihan My Baby minyak telon dibandingkan merek minyak telon lainnya adalah:

1. Wanginya tahan lama
Semua minyak telon memiliki wangi yang khas, tetapi tidak ada yang wanginya bisa bertahan sampai pagi. Sampai saat ini, di antara semua merek minyak telon yang pernah Mama coba, hanya My Baby yang bisa menjaga kesegaran kalian, sampai kalian bangun tidur esok hari. Ini penting sih, karena bayi kan mudah berkeringat. Kalau wangi kalian hilang seiring dengan banyaknya keringat, nanti kalian nggak ciumable lagi dong.

2. Harganya terjangkau
Meski ada yang lebih murah dari My Baby, tetapi harganya masih terjangkau. Toh, masih ada yang lebih mahal lagi. Harga My Baby minyak telon ukuran 150ml, di toko dekat rumah adalah sekitar Rp 32.000,- sedang di ****maret adalah sekitar Rp 36.000,-. Tenang, ada yang ukuran kecil koq, yang lebih ekonomis. :)

3. Hangatnya pas
Ini penting sekali, karena kulit Mas Amay dan Dek Aga tidak tahan dengan minyak telon yang hangatnya berlebihan.

4. Bisa menghindarkan kulit dari gigitan nyamuk
My Baby minyak telon yang Mama pilihkan untuk kalian, mengandung Citronella dan Chamomile. Dua bahan ini, wanginya tidak disukai nyamuk.

My Baby Minyak Telon, mengandung Citronella dan Chamomile, ampuh untuk mengusir nyamuk

Oya, sebenarnya ada juga My Baby Minyak Telon plus yang memberi perlindungan selama 8 jam dengan tambahan wangi jeruk. Tapi Mama lebih suka yang ini. Dan sebenarnya, masih ada botol bekas My Baby Minyak Telon yang sudah habis isinya, tapi tidak ikut kefoto, hehe... Lain kali Mama fotoin untuk instagram @kayusirih deh, biar pada percaya, kalau tulisan ini bukan bualan Mama semata.

Jujur saja, tidak hanya kalian yang memakai minyak telon ini. Mama dan Papa juga. Apalagi jika "negara nyamuk" mulai menyerang, Mama yang memiliki riwayat asma dan tidak kuat dengan bau obat nyamuk, lebih memilih untuk mengoleskan My Baby minyak telon di sekujur tubuh, bahkan di telinga juga. Ya, supaya nyamuk-nyamuk itu tidak ngang-nging-ngang-nging mengganggu tidur Mama.

Mama bersyukur sudah menemukan minyak telon yang terbaik untuk kalian. Tidak hanya ramah di kulit, tapi juga ramah untuk hidung dan kantong. :)

Friday, May 25, 2018

Bawa Toddler Saat Buka Bersama, Enaknya Gimana?



Puasa sudah memasuki hari ke sembilan, tapi keluarga Mama Kepiting sama sekali belum berbuka puasa di luar. Memang sudah ada jadwal di tanggal 30 Mei dan tanggal 2 Juli, yaitu ifthor bersama ex TK Mas Amay (karena Mama masih menjadi pengurus komite), dan ifthor bersama teman-teman SD Mas Amay. Tapi sejujurnya, Mama masih bingung akan bagaimana buka bersama nanti.

Untuk TK Mas Amay, Mama sebenarnya sudah berencana untuk minta ijin tidak hadir, karena selain tempatnya lumayan jauh, Mama juga pusing memikirkan bagaimana jika Dek Aga rewel di sana. Tapi belum juga sempat ijin, semalam Ust Rina meminta Mama menjadi MC di ifthor nanti. Hihi, padahal Mama suka grogi, masa diminta jadi MC? Tapi Ust Rina adalah Ust Rina, yang pandai merayu dan membesarkan hati Mama. Entah bagaimana, Mama jadi tak kuasa menolaknya. :D

Nah, tinggal ifthor bersama teman-teman SD, nih. Mama sudah merayu Papabebi, supaya Papa saja yang datang nanti. Tapi Papabebi selalu beralasan, “Malu ah, nanti Papa jadi satu-satunya bapak-bapak di sana...” Padahal ketakutannya itu seringkali tidak terbukti. Seperti waktu out bond akhir tahun lalu, ada beberapa bapak-bapak yang mengantar anak-anaknya kok.


Akhirnya, seringkali Mama kembali mengalah. Menghadiri acara meski dengan membawa Dek Aga. Sejujurnya Mama masih agak trauma, jika mengingat buka bersama tahun lalu bersama Tante Diba dan Om Apip, semalam sebelum kita mudik.

Kita sudah berbuka di rumah kantor, dengan segelas teh manis hangat dan beberapa potong gorengan. Setelah sholat Maghrib, kita baru berangkat ke tempat berbuka, yang tak seberapa jauh dari kantor Papa. Cara ini belakangan memang kita pilih, agar tidak kehilangan waktu sholat Maghrib, yang jauh lebih wajib dan lebih berharga, dari sekedar buka bersama di restoran yang seringkali memakai dalih silaturrahmi.

Tentu tidak semua yang berbuka puasa di luar, menomorduakan sholat maghrib yaa.. Tapi bisa kita rasakan sendiri, kok, mana yang lebih nyaman. Sholat maghrib di rumah, atau di restoran, yang terkadang seperti diburu-buru oleh pengunjung lainnya yang antri di belakang.

Maka dari itu, sejak punya Dek Aga, Mama lebih senang memilih untuk berbuka puasa di rumah makan yang tidak jauh dari rumah, dan berangkat ke sana setelah selesai sholat maghrib di rumah. Enaknya, tempatnya sudah relatif lebih sepi, karena beberapa pengunjung sudah menyelesaikan makannya. Kita juga tidak kehilangan kekhusyu’an dalam mengerjakan sholat Maghrib yang waktunya paling sempit di antara waktu sholat lainnya. Resikonya, sholat isya’ dan tarawihnya terlambat, jadi harus menunaikannya sendiri di rumah.

Nah, tahun lalu, saat berbuka puasa di luar, kondisi Mama dan Papa memang sedang tidak fit. Tapi hari itu adalah hari terakhir kantor sebelum libur lebaran. Maka, acara buka bersama tetap diadakan.

Qodarullah, Dek Aga rewel, nangis melulu. Mama mempersilakan Papa untuk makan lebih dulu. Papa pun makan dengan buru-buru. Setelah Papa selesai, Papa mengambil alih Dek Aga. Tapi, ya memang karena Dek Aga sedang jelek mood-nya, dia nangis terus. Bener deh, Mama sampai kehilangan nikmatnya berbuka. Apalagi Mama sempat tersedak juga, dan itu membuat Mama terbatuk-batuk, hingga seluruh isi perut Mama keluar. Yah, kebetulan kondisi Mama dan Papa juga sedang sakit kan?

crying toddler from chacomsig

Duh, kalau mengingat hari itu, rasanya Mama kapok membawa toddler berbuka puasa di luar. Tapi, setelah Mama ingat-ingat lagi, dulu waktu Mas Amay masih kecil, Mas Amay juga sering kok diajak makan di luar. Kita bahkan sering sekali berbuka puasa bersama Mas Arka, sahabatnya Mas Amay sedari bayi. Ya mungkin karena Mas Amay lebih mudah ditenangkan saat rewel dibandingkan Dek Aga yaa.

Jadi menurut Mama Kepiting bagaimana? Mengajak Toddler berbuka puasa, yay or nay?

Jawaban Mama, tergantung.

  • Mama harus melihat dan memahami karakter si toddler bagaimana. Kalau senang berada di keramaian, saat rewel mudah ditenangkan dan perasaannya mudah dikendalikan, Mama akan jawab yay.
  • Syarat lainnya, harus ada orang dewasa lainnya yang bisa bergantian mengasuh si toddler, dalam hal ini, Papa.


Jika kedua syarat itu tak terpenuhi, udah deh, mending buka puasa di rumah aja, tak kalah nikmatnya. Hihihi...

Dan untuk teman-teman di Solo yang sedang mencari tempat berbuka puasa, bisa ke sini yaa:
- Ibarbo Food Court, Kottabarat
- Kebon nDeso, Colomadu

Friday, May 18, 2018

Resep Pisang Pasir untuk Buka Puasa

Ada satu makanan kesukaan yang Mas Amay sering minta untuk Mama buatkan, yaitu Pisang Pasir a.k.a Pisang Crispy ala mamakepiting. Kalau Mama sedang terlihat membuatnya, Mas Amay dan Dek Aga selalu tak sabar untuk mencicipinya segera. Dan karena tadi pagi Mbak Sayur membawa pisang kepok kuning lagi, akhirnya Mama memiliki ide untuk membuat cemilan ini, sebagai takjil atau makanan pembuka saat berbuka puasa.

Bahannya sangat sederhana. Nggak pakai ribet pokoknya. Yang pasti, sediakan pisang kepok kuning, kupas, kemudian bagi dua. 

Untuk balurannya, kita hanya membutuhkan tiga bahan, yaitu;
- Tepung panir
- gula pasir 1/2 sdm
- garam 1/4 sdt

Mas Amay saat membantu Mama membuat Pisang Pasir

Caranya: 
- Campur tepung panir, gula pasir dan garam. Aduk-aduk pokoknya, supaya nanti rasa manis dan gurihnya merata.
- Gulingkan pisang yang sudah dikupas dan dibagi dua tadi, ke dalam tepung panir. 
- Remas-remas pisangnya, hingga tepung panirnya menempel rata.
- Masukkan ke dalam wadah, lalu simpan ke dalam freezer.
- Jelang maghrib, goreng beberapa potong. Nikmati selagi hangat.

adonan Pisang Pasir siap dimasukkan ke dalam freezer

Oya, ada yang menggunakan telur ayam supaya tepung panirnya mudah menempel. Tapi mamakepiting tidak suka dengan bau amisnya, hihi... Dan begini saja, Mas Amay dan Dek Aga sudah senang banget koq. Hehe.. Tapi jika Mama lebih suka jika menggunakan telur, silakan saja. Yang pasti, menu ini bisa jadi alternatif, jika kita sudah mulai bosan dengan kolak pisang. Praktis kan?

Untuk resep buka puasa yang lain, Mama juga bisa mencoba resep praktis Puding Puyo. Selamat mencoba ya, Ma.. ☺❤

Friday, May 11, 2018

Liburan di Purworejo, Ngapain Aja?


Duh, dalam sekali makna kutipan tentang "kampung halaman" di atas, ya... Memang, seperti lapar, yang menjadikan makanan terasa lebih lezat saat dimakan, jarak, kita perlukan agar kita pandai memaknai arti kerinduan. 

Alhamdulillah, akhir April kemarin keluarga Mama Kepiting bisa pulang kampung. Alhamdulillah, selain bisa berkunjung ke rumah Akung, kami juga bisa membasuh rindu di kampung halaman tercinta, Purworejo Berirama. 

Tugu Clorot di Alun-alun Purworejo

Hari sudah gelap saat kami akhirnya bisa mencium wangi udara Purworejo. Dari stasiun, kami menaiki angkot sampai alun-alun. Di alun-alun, tepat di seberang tugu clorot di atas, Tante Opik memesan taksi online, untuk mengantar kami ke rumah Akung.

Eh, sudah tau clorot belum? Clorot adalah makanan khas dari Purworejo. Rasanya manis, teksturnya kenyal, dan clorot ini dibungkus dengan menggunakan janur. Seperti ini:

Clorot Purworejo. pict by Mama Arinta Adiningtyas, mamakepiting.com

Sebenarnya Akung menawarkan untuk menjemput kami. Tapi daripada makin repot, lebih baik kami naik taksi online saja, lebih praktis. Thanks to taksi online, deh... Sampai di rumah Akung, kami disambut dengan teh hangat dan mie instan rebus buatan Bude Nana. Alhamdulillah, akhirnya perut ini terisi juga, hihi... Kami pun bisa beristirahat dengan nyenyak.

Di Purworejo Ngapain Aja? 

Di Purworejo, kami tidak pergi kemana-mana. Hanya di Minggu pagi, Mama pergi ke pasar untuk membeli nasi megono dan lupis kesukaan. Dua makanan ini mengandung kenangan. Waktu Mama kecil, pergi ke pasar desa yang bernama Pasar Sayir alias Pasar Lugosobo alias Pasar Gintungan, adalah sebuah rutinitas mewah. Makanya, Mama bersyukur sekali kemarin, karena bisa kembali merasakan sensasi itu, sembari mengenang masa lalu.


Oya, sebenarnya Purworejo memiliki tempat wisata lho, hanya saja masih kurang terekspos. Tempat wisata ini berada di daerah pegunungan di Kecamatan Bruno. Mama pernah menulisnya di kayusirih.com


Kenapa kemarin kami tidak pergi ke sana? Salah satu alasannya adalah kami tak punya kendaraan yang memadai. Selain itu, kondisi Adek Aga belum memungkinkan untuk diajak mendaki gunung, lewati lembah, sungai mengalir indah (lha koq jadi nyanyi...), eh, maksudnya Adek Aga kan masih kecil, jadi belum bisa diajak jalan-jalan ke Curug. Bisa sih, asal Mama atau Papa mau menggendong. Tapi kan berat.. :(

Tapi meski kami nggak kemana-mana, Mas Amay dan Adek Aga tetap bahagia koq. Harus bahagia lah, hehe... Di Purworejo, Mas Amay dan Dek Aga bisa berlarian dengan bebas. Sok sana, lari sampe capek. Mama ijinkan.. Kalau di Solo, kan nggak bisa, hehe... 

lari-larian di halaman rumah Akung
Selain itu, Mas Amay memancing bersama Afizna, anaknya teman Mama. Di mana? Di kolam ikan di belakang rumahnya Afizna lah. Hehe... Ibunya Afizna memelihara ikan gurame, sama dengan Akung. Tapi, kalau Akung memelihara ikan yang masih kecil-kecil, Ibunya Afizna justru memelihara ikan yang sudah lebih besar. 

Dapet ikan nggak?

Enggak.

Susah banget nangkapnya. Mungkin mereka sudah kenyang. Udah gitu, ada ular lagi. Ular sawah sih, tapi tetap saja kan, geli. Hiiiii...



Karena nggak dapat-dapat juga, Mas Amay sempat pindah ke kolam di sebelahnya. Tapi tetap saja sih, itu ikan nggak mau dipancing. Huhuhuhu...

Tidak apa-apa. Liburan yang akan datang, kita coba lagi ke sana yaa... Mama sudah bilang sama Ibunya Afizna, boleh tidak kalau kami ngabuburit sambil memancing ikan? Dan alhamdulillah dijawab dengan kata "boleh bangeeet laaah..." gitu. Hihihi...

Nggak sabar deh jadinya menunggu liburan lebaran sekaligus liburan kenaikan kelas nanti. Teman-teman Mama, sudah ada rencana liburan belum? Semoga liburannya nanti menyenangkan yaaa...☺

Tuesday, May 8, 2018

Belajar Jujur dan Bertanggung Jawab Sejak Kecil

Mama sering mengatakan pada Mas Amay, "Mama nggak bisa mengawasi Mas Amay setiap saat, but Allah does." Kalimat ini bermula sejak tahun lalu, saat Mama mengajak Mas Amay untuk berlatih puasa. Mengapa Mama mengatakannya? Karena saat berlatih puasa itu, diam-diam Mas Amay makan jajanan yang sedang dimakan Adek Aga. 

Mama sih tidak marah. Mama paham, apalagi Mas Amay baru berumur 6 tahun waktu itu, masih belajar puasa juga. Tapi, kalau Mama tidak menegur saat itu juga, Mama khawatir Mas Amay akan menganggap bahwa ketidakjujuran adalah hal yang biasa-biasa saja.


Dan Mama beruntung, setelah kejadian itu Mas Amay belajar, lebih baik jujur dengan mengatakan tidak kuat lagi menahan puasa, daripada harus berbohong, sembunyi-sembunyi makan jajan, dan kembali "melanjutkan puasa" yang sesungguhnya sudah tidak ada gunanya. Lebih baik jujur. Ya kan, Mas?

bohong dosa! red cross from pixabay

Dan pelajaran untuk selalu jujur itu, alhamdulillah masih Mas Amay ingat sampai hari ini ya... Waktu itu Tante Opik cerita, saat menjemput Mas Amay pulang sekolah, Tante Opik menunggu lama sekali di luar pagar. Padahal, teman-teman Mas Amay sudah pada pulang.

Tante Opik pun masuk ke kelas, dan dilihatnya Mas Amay sedang melakukan piket sendirian. Ada satu anak perempuan lain yang juga piket, justru mengatakan, "Udah yuk, May, kita pulang aja nggak usah piket..."

Tapi salut, Mas Amay tetap menyelesaikan tugas, karena itu sudah menjadi tanggung jawab Mas Amay. Mama terharu. Mas Amay tidak terlatih, dan semoga tidak akan pernah terlatih, untuk melakukan kecurangan. Karena, meski Bu Guru tidak melihat, tapi Allah Maha Melihat. Dan Allah punya malaikat yang akan mencatat.

Jaga kejujuranmu, ya, Mas.. ☺❤

Sunday, April 15, 2018

Susahnyaaaa Mau Menikah

Hari Jumat kemarin, begitu Papa pulang dari sholat Jumat, Mama lapor.

👩: "Pa, Opik nanti nggak pulang, mau nginep di tempat Coco." FYI, Coco adalah sahabat Tante Opik di kampus.

👨: "Oiya, acaranya besok ya?" Papa menanggapi.

👩: "Iya, akadnya jam 6 pagi soalnya, jadi Opik disuruh nginep." Terang Mama lagi.

👨: "Oh, ya udah, nggak apa-apa..."

Lalu Mas Amay nimbrung.

👦: "Emangnya temennya Tante Opik kenapa to?" Tanyanya.

👩: "Temennya Tante Opik mau menikah." Jawab Mama.

👦: "Kalau mau menikah itu memangnya harus cari sendiri?" Mas Amay tanya lagi.

👩: "Ya terserah Mas Amay, mau cari sendiri boleh, mau dicarikan sama Mama juga nggak apa-apa."

Lalu Mas Amay berkata,
👦: "Susahnyaaaa mau menikah..."

Mama nggak bisa menahan tawa. Mama lalu ingat, belum lama ini Mas Amay juga tanya-tanya soal pernikahan. Kenapa kok Mama menikahnya sama Papa? Kalau Mas Amay mau menikah sama Mama boleh apa nggak?

Daaaan yang paling menggelikan adalah ketika Mas Amay tanya, "Kalau mau cari istri itu di mana, sih, Ma?"

Mama tepok jidat lah yaa..

Lalu obrolan tadi ditutup sama si Papa. "Udah Mas Amay nggak usah mikirin itu. Nanti juga ketemu."

Sebenarnya Mama mau menambahi, bahwa Allah itu sudah menciptakan kita berpasang-pasangan, jadi nggak usah khawatir dengan jodoh. Pokoknya janji Allah, laki-laki baik-baik hanya untuk perempuan baik-baik, dan sebaliknya. 

Makanya, Mas Amay jadi anak yang sholih, yang baik, biar dapat pasangan yang sholihah dan baik juga. Tapi kemudian teringat, Amay masih kelas satu, kayaknya belum perlu sedetail itu. 🙄🙄

Mungkin kelak Mas Amay harus membaca pesan di bawah ini:

"Never marry the one you can live with, marry the one you can't live without."

Thursday, March 29, 2018

Mama Kepiting dan Bacaan Favorit Masa Kecil


“The more that you read, the more things you will know. The more that you learn, the more places you’ll go.” - Dr. Seuss –

Quote di atas menurut Mas Amay dan Dek Aga bagaimana? Tak terbantah, ya kan? Sungguh akan terlihat berbeda, orang yang suka membaca dengan yang tidak. Kalau tak percaya, baca tulisan Tante Widut dan Tante Rani deh...

Sebenarnya sejak kecil Mama suka membaca. Tapi karena Akung dan Uti tidak memiliki banyak uang, jadi Mama tidak punya bahan bacaan yang memadai.

Kalian beruntung lho, karena Mama tidak segan menyisihkan beberapa lembar uang dari jatah bulanan untuk membeli buku dan berlangganan majalah. Memang buku kalian mungkin tak sebanyak yang lainnya. Bahkan Mama terkadang membeli buku bekas yang harganya lebih murah. Tapi usaha Mama ini, Mama lakukan agar kalian bisa tumbuh lebih cemerlang dibanding Mama. Semoga ya...

Waktu Mama kecil dulu, Mama tak pernah punya buku selain buku pelajaran. Yang Mama baca adalah majalah Ummi, yang Uti Ning bawa. Waktu itu, Uti Ning masih menjadi mahasiswi STAN. Dan tiap kali beliau pulang ke rumah Uyut, beliau membawa setumpuk majalah.

Majalah Ummi

Kok Mama kecil-kecil baca Majalah Ummi?

Hihi, adanya cuma itu, sayang... Tapi jangan salah, di bagian tengah biasanya ada rubrik PERMATA yang khusus untuk anak-anak kok.

Dari PERMATA di majalah Ummi itu, Mama mengenal Bilal bin Rabbah. Mama masih inget banget ilustrasinya. Ada seorang pemuda berkulit hitam, yang ditindih batu besar dan dibaringkan di atas gurun pasir yang panas. Ia disuruh keluar dari Islam. Tapi karena kuatnya iman, ia bisa melewati siksaan itu.

Oya, ada lagi. Mama mengenal Fir’aun dan Nabi Musa, juga dari PERMATA. Mama ingat ilustrasinya, ketika Musa masih bayi, ia ditaruh di keranjang oleh ibundanya, kemudian dihanyutkan di sungai. Sungguh, PERMATA di majalah Ummi benar-benar bisa mewarnai hari-hari Mama saat itu.

Bacaan Mama cuma majalah Ummi?

Iya...

Sampai akhirnya Mama mengenal majalah Bobo. Bukan, bukan karena berlangganan. Tapi karena waktu itu Mama lagi liburan di rumahnya aunty Cheza di Jogja. Aunty punya banyak buku, dan bertumpuk-tumpuk majalah Bobo. Ada yang baru, ada juga yang berupa bundel berisi kumpulan majalah Bobo lawas.

Mama jadi numpang baca kalau sedang di sana. Dulu Bona masih berwarna pink, bukan ungu seperti sekarang. Temannya bernama Rong-Rong, bukan Kaka dan Ola.

Yang Mama suka dari Bobo, tentu saja cerpennya, juga ceritera dari negeri dongengnya Oki dan Nirmala. Membaca cerpen di majalah Bobo, membuat imajinasi Mama berkelana. Benar jika dikatakan bahwa reading is dreaming with open eyes.

Majalah Bobo dan Totto-chan kesukaan Mama
Sampai sekarang pun, Mama masih suka membaca cerpen-cerpen di majalah Bobo. Mama ingin suatu saat bisa membuat cerita yang indah seperti penulis-penulis di sana.

Jadi, sebenarnya Mama berlangganan majalah Bobo untuk siapa sih? Ya untuk kalian. Dan untuk Mama juga. Hihihi... Jangan lelah membaca ya, anak-anak Mama... Kelak, kalian akan merasakan sendiri manfaatnya.
Once you learn to read, you will be forever free.

Sunday, March 18, 2018

Karena Tak Ada yang Memberi Kado, Anak Ini Membeli Kado Ulang Tahunnya Sendiri

Hari ini 7 tahun lalu, Mama sedang menangis tersedu-sedu karena perjuangan Mama untuk melahirkanmu secara normal, dikalahkan oleh vonis dokter yang mengatakan bahwa kau harus segera dikeluarkan melalui operasi sesar. . Dan beberapa jam kemudian, suaramu yang memecah heningnya malam, membuat Mama bersyukur bahwa kau terlahir sehat, sempurna, seperti keinginan Mama. Tidak ada lagi penyesalan itu. Normal atau sesar, hanya berbeda pada caranya saja. Mama tetap merasa telah menjadi seorang ibu, meski saat itu banyak orang memandang ketidaksempurnaan pada caramu dilahirkan. . Dan kini, Mama merayakan 7 tahun resminya predikat itu. Terima kasih sudah menjadi bagian dari hidup Mama. Terima kasih sudah menerima Mama sebagai ibumu. Terima kasih.. . Maafkan jika Mama sering marah. Mulut Mama mungkin marah, tapi hati Mama tidak. Mama ridho Mas Amay jadi anak Mama. Mama ridho.. Mama bahagia.. . Selamat tujuh tahun anakku, semoga Allah merahmatimu. Semoga Allah merahmatimu. Semoga Allah merahmatimu.. aamiin.. . Mulai sekarang Mama udah boleh nyentil kalau Mas Amay nggak sholat. 😂😂😂 #birthdayboy #aboyilove #myson #sonshine
A post shared by Arinta Adiningtyas (@arinta.adiningtyas) on


Hihi, judulnya kok begitu ya? Miris ngga sih? Eittt, tunggu dulu... Baca sampai selesai yaa..

Tanggal 16 Maret kemarin, Mas Amay menginjak usia tujuh tahun. Alhamdulillah, di Jum'at pagi itu, Mas Amay memulai hari dengan sholat subuh bersama Mama. Tak lupa, Mama mengucapkan selamat ulang tahun, dan membisikkan do'a untuknya.

Mas Amay bersiap ke sekolah dengan penuh semangat dan penuh senyuman. Tidak, Mama belum memberi apa-apa, jadi memang Mas Amay bergembira karena merasa hari itu adalah miliknya.

Memang, ada satu yang kurang, yaitu Papa yang saat itu masih dalam perjalanan dari Bandung. Seminggu itu Papa memang ke luar kota, dari Surabaya, Banyuwangi, kemudian Bandung. Dan Papa baru sampai Solo lagi di sore harinya.

Oya, mengapa Mama tidak memberi kado? Pertama, karena Mama ingin mengajarkan bahwa ulang tahun adalah pertambahan angka, yang tidak ada hubungannya dengan kue dan simbol-simbol lainnya. Kedua, Mama mengatakan pada Mas Amay bahwa bertambahnya usia, sama dengan bertambahnya tanggung jawab sebagai seorang manusia. Mas Amay harus mulai bersiap untuk taat pada kewajiban, baik itu sebagai seorang hamba, sebagai anak, sebagai kakak, sebagai seorang muslim, dan sebagai bagian dari manusia lainnya.

Berat ya?

Iya memang..

Tapi, Mas Amay masih anak Mama yang kecil, mungil dan lucu, kok. Makanya, Mama tawarkan sebelumnya, "Mas Amay mau kado apa? Mau dibeliin donat nggak?" Dan Mas Amay dengan mantap menjawab, "Enggak!".

Oya, kenapa Mama menawarkan donat dan bukan kue? Karena Mas Amay paling suka dengan donat bertabur gula putih. Tapi karena saat itu Mas Amay menolak, ya sudah, Mama tidak menyediakannya. Hihi.. Mama kejam? Anggap saja begitu. :D

Lalu Mas Amay ingin apa?

Mas Amay hanya ingin sebuah krayon untuk mewarnai. Dan krayon itu, katanya, akan dibeli dengan uang tabungannya sendiri.

Sedikit cerita, sejak ulang tahun Dek Aga 4 bulan lalu, Mas Amay mulai menabung. Mas Amay menabung karena saat itu ia ingin memiliki sebuah mainan yang cukup mahal. Kata Papa, "Mas Amay coba menabung seribu sehari. Nanti pas ulang tahun, berarti empat bulan lagi, uang Mas Amay mungkin sudah cukup. Kalau kurang nanti Papa tambahi."

Ya dan sejak itu Mas Amay mulai menabung. Uang jajan Mas Amay tidak banyak, hanya 3 ribu rupiah sehari. Mama memang tidak memberi uang terlalu banyak, karena sudah ada catering juga di sekolah. Pagi pun sudah sarapan, jadi buat apa terlalu banyak jajan?


Singkat cerita, uang tabungannya terkumpul sebanyak 110.000 rupiah. Cukup banyak untuk ukuran uang 3 ribu sehari selama 4 bulan saja. Hihihi... Dari uang tabungannya itu, Mas Amay membeli sebuah krayon dengan harga 82.000 rupiah. Bagaimana dengan mainan yang dulu diincarnya? Oh, Mas Amay sudah melupakannya ternyata.

mewarnai dengan crayon yang dibelinya sendiri

Mama melihat ada rasa bangga dan bahagia, saat Mas Amay dengan percaya diri menenteng celengan ke minimarket untuk membeli krayon impian. Jujur, Mama pun terharu, senang, dan bangga juga dengan usahamu, Nak... Sesuatu yang bisa dimiliki dengan perjuangan, rasanya akan berbeda dengan sesuatu yang didapatnya dengan cara yang mudah. Betul tidak, Mas?

Mama dan Papa bersyukur bisa memberikan "rasa" itu. Rasa puas, namanya. Puas itu perpaduan antara lega, bangga dan bahagia. Kau tahu itu, Mas?

Kelak, Mas Amay dan Dek Aga harus selalu ingat rasa ini, ya.. 😊


Sunday, March 11, 2018

Lagu Kasih Ibu, Tak Cocok untuk Mama Sepertiku

Mama lagi mellow Mas, Dek... Gara-garanya, Tante Ran dan Tante Widut mulai membicarakan tentang masa tua. Sebenarnya kita nggak boleh berandai-andai sih ya... Apalagi berandai-andai tentang usia, yang belum tentu jadi milik kita. Tapi obrolan kemarin, sungguh membuat Mama merenung.

Mas, Dek...

Kalian suka menyanyi lagu Kasih Ibu ya? Apalagi beberapa waktu lalu, lagu Kasih Ibu pun ada di buku pelajaran Mas Amay. Betapa sempurna sosok seorang ibu, hingga ia layak diabadikan dalam lagu.

Tapi Mas, Mama merasa Mama tak layak dinyanyikan lagu itu. Kenapa? Karena lagu Kasih Ibu itu cerminan ibu yang sempurna. Sedangkan Mama, ya, kalian tahu sendiri lah Mama bagaimana.


Kan katanya Kasih Ibu tak terhingga sepanjang masa, tapi nyatanya, terkadang kasih sayang Mama ada syaratnya. Misalnya, Mama lebih sering menciumi kalian ketika kalian selesai melakukan sesuatu yang Mama inginkan. Kalau kalian tidak mau, Mama jadi ngomel melulu.

Oh ya, katanya Kasih Ibu itu hanya memberi tak harap kembali, tapi Mama bahkan pernah bertanya pada mas Amay, kalau nanti mama udah tua, mas Amay mau mijitin Mama kayak sekarang mama mijitin Mas Amay apa nggak ya? Hahaha Mama ingin diingat jasanya..



Lalu ketika Mas Amay melihat bekas sesar di perut Mama, Mama bilang, "Nih lihat, perut Mama disobek untuk ngeluarin Mas Amay. Mas Amay nggak boleh berani sama Mama lo, ya..."

Dengan bukti-bukti itu Mama jadi ragu, apakah Mama layak menjadi salah satu ibu yang disebut di lagu Kasih Ibu?

Kasih Mama pada kalian memang besar. Bahkan Mama pernah menulis bahwa cinta mama pada kalian tetap bulat sempurna walaupun anak Mama ada dua di Cintaku Terbagi Dua. Tapi, jangan berpikir bahwa Mamamu ini sesempurna ibu di lagu Kasih Ibu, atau lagu-lagu tentang ibu lainnya, karena Mama masih punya kekurangan. Mama masih mengharapkan balasan dari kalian.

Iya, Mama punya keinginan agar kalian menjadi anak-anak yang Shalih, yang sudi mendoakan Mama, yang Mama harapkan bisa mempermudah jalan Mama di akhirat kelak. 

Apa kalian keberatan?




Tidak, Mama tidak akan memaksa kalian untuk memberi uang bulanan pada Mama setelah kalian bekerja. Mama juga tidak akan memaksa kalian untuk tetap tinggal di rumah ini, bersama Mama Papa hingga kami tiada. Tidak. 

Mama Papa cuma mengharapkan kalian untuk bisa rukun selamanya, dan tak pernah lupa untuk mendoakan kami berdua..

Itu saja cukup.

Monday, February 19, 2018

Masa Kecil Mama Mungil

Mas Amay sering bertanya pada Mama, "Mama, dulu Mas Amay waktu kecil umur 2 tahun, udah bisa bilang apa aja?" Lalu Mama menjawab, "Mas Amay dulu sudah bisa nyanyi cicak-cicak di dinding, balonku, macem-macem. Tapi ngomongnya belum jelas. Di dinding jadi ninini, ditangkap jadi itantep, bilang pesawat jadi pecowat, bilang tutup, jadi putuk." Hahaha ... Mas Amay tertawa.

Mas Amay mungkin sudah lupa dengan masa kecil dulu ya... Tapi sedikit foto, mungkin bisa membantu mengingatnya. Sayangnya, banyak video dan rekaman suara Mas Amay yang terhapus, dan hilang seiring dengan perangkat telepon, kamera dan komputer Papa yang rusak dan sudah tidak bisa menyala lagi.

Sama seperti Mama. Mama hanya bisa mengingat masa-masa setelah berumur lebih dari 3 tahun. Mama bangun tidur siang karena disengat tawon di kamar depan di rumah Akung, dan sejak saat itu, Mama merasa "hidup". Masa sebelum itu, sudah tak mampu lagi Mama ingat, meski berkali-kali Akung bercerita, dulu Mama suka sekali diajak jalan-jalan naik vespa dan berdiri di depan. 

Oya, dulu Mama sering jatuh, dan itu membuat bibir Mama "njedor". Mama sudah pernah menuliskannya di Ingatan Terdalam: Lambe Njedor dan Jari Temumulen.

Mas Amay dan Dek Aga beruntung, karena kalian hidup di jaman serba digital seperti saat ini. Foto kalian ada banyak, meski tak semuanya tercetak. Lain halnya dengan Mama. Mama tak punya banyak stok foto masa kecil, karena Akung dan Uti tak punya kamera. Kalaupun ada foto kami, itu pasti memakai kamera orang lain. 

Seperti foto di bawah ini. Mama saat itu diajak Uti Anna dan Akung Edy ke Baturraden, Purwokerto. Ini kali pertama Mama pergi tanpa orangtua.

Baturraden, tahun 1994
Mas Amay pernah juga ya, pergi tanpa Mama Papa? Setelah lebaran Idul Fitri 2O17 kemarin, Mas Amay masih ingin liburan di rumah Akung di Purworejo. Malahan Mas Amay beberapa hari di sana, tanpa Mama Papa. Mas Amay hebat, sudah bisa mandiri. 

Bicara soal kemandirian, Mas Amay jauh lebih hebat dari Mama. Dulu, waktu TK, Mama sering sekali menangis, terutama kalau Uti ninggalin Mama sendiri. Mas Amay suka menangis juga sih, tapi di TK B Mas Amay sudah nggak pernah menangis lagi. Apalagi di SD, Mas Amay jauh lebih siap dari Mama dulu.

Mama juga sering menangis kalau ada teman-teman yang jahilin Mama. Makanya, Mama sering bilang begini, "Kalau ada teman yang nakal, bilang sama ustadzah atau bu guru. Jangan diam saja ya... Kalau sudah keterlaluan, Mas Amay boleh balas. Jangan takut," karena dulu Mama penakut. Mama nggak ingin Mas Amay jadi "korban" seperti Mama dulu. 

Dulu tubuh Mama memang kecil. Waktu kelas 6 SD, berat badan Mama kurang dari 25 kg. Mama sering dimarahi Uti, karena sering menolak ketika disuruh makan. Kalau sekarang, Mama jago makan ya, Mas? Hihihi...

Karena tubuh Mama yang kecil banget ini, waktu Mama kelas 4 SD, Bunda -Mbak Ika Puspita, red- kuat mengangkat tubuh Mama dengan tangan kiri saja. Ceritanya, saat itu Mama pulang sekolah sendiri. Di jalan, Mama ketemu Bunda yang waktu itu kelas 2 SMA. Bunda naik sepeda Federal. Karena Mama sendirian, Bunda boncengin Mama. Bunda angkat tubuh Mama pakai tangan kiri, lalu kami duduk di sadel sama-sama. Iya, satu sadel untuk berdua. Kebayang kan,betapa mungilnya kami saat itu? Hihihi...

Tidak hanya sekali itu Mama dibonceng di sadel sepeda sama Bunda. Waktu kelas 3 SD, teman-teman Mama mengajak Mama berenang di kolam renang Artha Tirta. Kolam renang itu jauh sekali dari rumah Akung. Mama pergi kesana sama teman-teman, tanpa ijin Uti dan Akung.

Jangan ditiru ya..

Mungkin karena sudah punya firasat kalau Mama pergi ke kolam renang -karena sebelumnya Mama sudah minta ijin tapi tidak diijinkan-, Uti menyuruh Bunda menyusul Mama. Benar, Mama ada di sana, hihihi...

Mama dibonceng pulang dengan sepeda yang sama, di sadel yang sama, setelah sebelumnya dimandiin-dikeramasin-digantiin baju sama Bunda. Sampai di rumah, Uti dan Akung bilang, lain kali nggak boleh pergi tanpa ijin orang tua. Apalagi jalan menuju kolam renang itu sangat ramai. Bahaya. 

Mama patuh. Hehehe... Sejak saat itu, meski sangat ingin berenang, Mama nggak berani pergi ke sana tanpa orangtua. Karena itulah, sampai sekarang Mama belum bisa berenang, hihihi...

Itu sekelumit kisah masa kecil Mama. Alhamdulillah, walau dikelilingi dengan keterbatasan, tapi Mama tidak kekurangan kebahagiaan. Semoga Mas Amay dan Dek Aga juga ya.. Yakinlah, meski Mama Papa sering tidak bisa memenuhi keinginan kalian, tapi Mama Papa selalu berusaha memenuhi kebutuhan kalian. 

❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤



Disclosure


Ah ya, sebelumnya mau umumkan dulu, ini adalah tulisan pertama setelah abiyumahya.blogspot.com berubah nama menjadi mamakepiting.com. Mengapa berubah? Abiyu Mahya adalah nama Mas Amay, dan karena Mama ingin menjadi mama yang adil, akhirnya nama blog ini diubah menjadi mamakepiting.com agar tak canggung lagi ketika ingin menuliskan tentang keseharian Adek Aga. 

Ini sebagai bukti bahwa meski anak Mama ada dua, tapi cinta dan kasih Mama pada kalian berdua, sama besarnya. Hehehe.. 

Oya, mungkin ada yang bertanya-tanya, kenapa blognya dinamakan mamakepiting.com? Jawabannya adalah karena Mama lahir di bulan Juni dan zodiaknya adalah cancer. Dan karena Mama ini orang cancer, Mama mewarisi sifat kepiting yang keras di luar, tapi lembut di dalam. :D

Ya, walaupun Mama galak, tapi Mama penuh kasih sayang. Hehe...

Sebagai informasi, Mama Kepiting punya blog lain lho, dan sudah lebih dulu eksis di sana, yakni kayusirih.com

Dan kalau dulu Mama sudah dikenal sebagai blogger kayusirih, sekarang Mama punya nama samaran lain, yaitu Mama Kepiting. Hihi..

Akhir kata, semoga teman-teman bisa memetik manfaat dari Mama Kepiting yaa.. ☺☺









Monday, February 12, 2018

Mengajari Anak Jajan, Apakah Terlarang?

Saya termasuk orang tua yang tidak membiasakan anak jajan sembarangan, apalagi belanja ke warung sendirian. Anak saya pun tumbuh menjadi anak yang tak terlalu merepotkan, karena mereka bukan tipe anak yang tiap kali melihat pedagang lewat di depan rumah, merengek minta dibelikan. Alhamdulillah, pengeluaran harian jadi lebih hemat. Tapi kemudian ada hal yang membuat saya menyesal, mengapa tidak memperkenalkan nilai uang sejak dini?

Orang tua mana yang ingin anaknya boros? Orang tua mana yang nggak ingin anaknya anteng, puas dengan masakan rumah, tidak terbiasa minta uang untuk jajan? Makanya, menyadari bahwa mencari uang tidaklah mudah, saya pun tak membiasakan anak-anak jajan.

Anak-anak bukannya tak pernah jajan, ya... Jajan, tapi sekedarnya saja. Misalnya, saat saya harus ke minimarket atau ke toko dekat rumah untuk membeli sesuatu, kemudian anak-anak ikut serta, maka es krim, susu, biskuit atau makanan kecil lainnya, pasti menarik perhatian mereka.

Ya, mereka hanya jajan di momen ketika ada saya atau papanya atau tantenya yang menemani. Mereka bukan tipe yang minta uang, kemudian pergi jajan sendiri.

Kelihatannya menyenangkan, ya?

Di satu sisi, ini adalah hal yang sangat positif. Banyak orang tua yang menginginkan demikian, karena pengeluaran bisa terkontrol, anak pun tak akan jajan sembarangan. Tapi di sisi lain, saya agak menyesal. Kenapa?

Begini ceritanya,
Amay, sulung saya, tahun ini sudah menjadi anak SD. Sekolahnya lumayan jauh dari rumah. Karena sekolah Amay berakhir pukul 13:15, maka memberikan uang jajan menjadi hal yang wajar, meski sudah ada catering di jam istirahat ke dua. 

Awal-awal Amay masuk kelas 1, saya sempat stres.

Amay belum tahu nilai uang.

Jangankan tahu harga makanan yang dia inginkan, belinya pakai uang yang warna apa, kemudian ada kembalian atau tidak, Amay sama sekali belum paham.

Saat mengantarnya di hari pertama, saya memintanya membeli susu. Ia saya bekali uang 5K. Begitu ia kembali, ia hanya membawa sekotak susu ukuran kecil tanpa kembalian, padahal harganya adalah 2,5K. Akhirnya, sampai di rumah, Amay saya jejali dengan pengetahuan tentang nilai uang, harga jajanan yang mungkin ia beli nanti, bagaimana jika membeli dengan uang 5K sementara harganya cuma 2K, bagaimana meminta kembalian, dll. 

Dan itu takes time banget, nggak cukup hanya seminggu-dua minggu. Setiap hari pun saya harus “menginterogasi” apa saja yang dibelinya, bagaimana dia membayarnya, dan lain sebagainya, untuk make sure saja, apakah dia sudah membelanjakan uang sakunya dengan tepat. 

Repot banget.

recehan sisa uang jajan ditabung. sumber: kayusirih.com

Cerita di atas tadi adalah satu poin yang menjadi alasan penyesalan saya mengapa tidak mengenalkan nilai uang sejak dini pada Amay.

Penyesalan lainnya adalah ketika lebaran anak-anak mendapatkan angpao, lalu mereka abai dengan uang yang mereka miliki. Bukan hanya “eman-eman” atau sayang jika uangnya hilang, tapi lebih dari itu, abai dengan pemberian orang tentu akan membuat sedih pemberinya, bukan? Berapapun besarnya, sedikit atau banyak, tentu harus dihargai.

Nah, jadi kesimpulan saya; Ajarkan anak jajan supaya ia paham dengan nilai uang, disamping itu, bimbing mereka untuk membelanjakannya dengan cermat. Seperti pesan Eyang Titiek Puspa,

Jajan sih, boleh saja
Sisihkan buat nabung
Belanja sih, boleh saja
Tak lupa,nabung