Showing posts with label parenting. Show all posts
Showing posts with label parenting. Show all posts

Kesalahan Parenting yang dapat Menghancurkan Mental Anak

Wednesday, June 15, 2022

 

Kita hidup di zaman yang penuh dengan tekanan. Itulah mengapa, penting bagi orang tua untuk menumbuhkan ketahanan emosional dan mental pada anak-anak kita. Sebab, anak-anak dengan ketahanan mental yang baik, akan lebih siap menghadapi masa depan. Tak hanya dalam kehidupan sosialnya, tetapi juga dalam pendidikan maupun pekerjaan mereka nantinya. Namun, terkadang sikap kita sebagai orang tua, tanpa kita sadari justru dapat menghancurkan mental mereka.


Kesalahan Parenting yang dapat Menghancurkan Mental Anak


Ini yang juga sedang saya pelajari. 7 kesalahan orang tua yang dapat menghancurkan mental anak;

1. Mengecilkan Perasaan Anak

Anak-anak perlu mengetahui bahwa mengekspresikan dan mengungkapkan perasaan mereka adalah sesuatu yang baik. Bahkan berpengaruh baik pada kesehatan fisik dan mental. Kesalahan para orang tua adalah seringkali kita mengatakan pada mereka hal-hal seperti, "Gitu aja nangis. Cengeng!" atau "Udah, jangan nangis lagi!"

2. Selalu Menyelamatkan Mereka dari Kegagalan

Mama Kepiting paham, kegagalan itu menyedihkan. Mama juga pasti pernah mengalami itu, dan tak ingin anak-anak merasakan perasaan seperti itu juga.

Namun, Mama harus ingat bahwa kegagalan adalah bagian besar dari kesuksesan. Jika anak-anak tidak pernah diberi kesempatan untuk merasakan kegagalan, mereka tidak akan pernah belajar dan mengembangkan ketekunan yang mereka butuhkan untuk bangkit kembali setelah mengalami kemunduran.

3. Memanjakan Anak-anak Secara Berlebihan

Pernah ngga mendengar orang tua yang mengatakan, "Kita cari uang untuk siapa sih kalau bukan untuk anak-anak?" 

Statement itu memang tidak salah. Namun, kurang bijak apabila setiap permintaan anak selalu kita penuhi, tanpa ia harus berjuang terlebih dahulu.

Saya jadi ingat keluarga Indra Brasco dan Mona Ratuliu. Putri sulung mereka, setiap punya keinginan untuk membeli barang, selalu mengajukan proposal pada orang tuanya. Ini menunjukkan bahwa Indra Brasco dan sang istri tidak pernah begitu saja mengabulkan permintaan sang anak.

Kok kesannya kejam ya?

Oh, tidak... Justru dengan cara ini, anak-anak belajar mengendalikan diri. Anak-anak juga belajar bahwa untuk mendapatkan sesuatu, harus ada perjuangannya terlebih dulu. Ini membuat mereka lebih menghargai apa yang mereka miliki. 

4. Terlalu Menuntut Kesempurnaan

Wajar kok apabila kita menginginkan anak-anak kita bisa menjadi yang terbaik dalam segala hal. Namun, menetapkan standar yang terlalu tinggi bisa mempengaruhi kepercayaan diri anak di kemudian hari.

Baca: Dear Mama, Apakah Ketidaksempurnaan adalah Dosa?

Lalu, bagaimana cara yang baik untuk memotivasi anak agar ia tetap semangat dalam berjuang tanpa harus merasa tertekan?

Bangun kekuatan mentalnya dengan menetapkan ekspektasi yang realistis. Dan jika misalnya ia gagal, kegagalan itu bisa menjadi pelajaran hidup yang berharga baginya, bahkan dapat dijadikan pedoman dalam menghadapi tantangan berikutnya.

5. Selalu Membuat Mereka Merasa Nyaman

Ada banyak hal yang mungkin akan membuat anak-anak kita merasa tidak nyaman. Seperti misalnya saat mereka berada di lingkungan baru, sekolah baru, bertemu teman baru, mencoba makanan baru, dan lain-lain.

Saat anak merasakan ketidaknyamanan, temani ia, tanpa harus menyingkirkan ketidaknyamanan itu. Mengapa? Karena perasaan tidak nyaman itu, apabila dapat diatasi dengan baik, justru dapat menguatkan mental loh!

Untuk itu, dorong anak-anak kita untuk berani mencoba hal baru. Bantu mereka saat memulai, karena ini adalah bagian tersulit. 

Ingat-ingat kata fourtwnty, "Keluarlah dari zona nyaman." 😁

6. Tidak Menetapkan Batasan Antara Orang Tua dan Anak

Betul bahwa anak-anak mesti diberi kepercayaan dan dilatih untuk membuat keputusan sendiri. Namun, mereka juga perlu tahu bahwa orang tua adalah "Bos". Jadi, anak-anak tetap harus mematuhi aturan yang dibuat di dalam keluarga.

Baca: Ternyata Begini Rasanya Mengasuh Anak Pra-Remaja

Anak-anak yang bermental kuat terlahir dari orang tua yang memahami pentingnya batasan dan konsistensi. Orang tua yang terlalu mudah menyerah dengan rengekan anak-anak dan membiarkan aturan dinegosiasikan terlalu sering, dapat menyebabkan orang tua kehilangan "power". Akibatnya, anak-anak akan menjalani hidup semau sendiri, dan ketika mereka berada di lingkungan yang mengharuskan untuk patuh, mereka akan sulit untuk survive.

7. Tidak Melatih untuk Menjaga Diri Sendiri

Kesadaran untuk menjaga kesehatan diri baik fisik maupun mental sebaiknya dibiasakan sejak dini, agar anak-anak bisa survive dalam menjalani kehidupan di masa yang akan datang, baik saat orang tua ada di dekat mereka, maupun saat orang tuanya jauh dari pandangan.

Disadari atau tidak, bagaimana gaya hidup kita sebagai orang tua biasanya akan diikuti oleh anak-anak kita. Gaya hidup ini termasuk bagaimana kita memilih makanan yang sehat, bagaimana kita menjalani aktivitas sehari-hari, hingga bagaimana kita mengatasi tekanan dan memulihkan diri saat mengalami hal-hal yang melelahkan secara fisik dan psikis. 

Maka sebenarnya penting juga memberitahu anak-anak bagaimana kondisi kita. Saat sedang lelah atau stres karena pekerjaan, jangan ragu untuk mengatakan pada mereka, "Hari ini Mama / Papa agak lelah karena banyak pekerjaan yang harus diselesaikan. Mama / Papa mau istirahat dulu, yaa.."

Kelak ketika anak-anak besar dan mengalami hal serupa, ia bisa mengatasi kelelahan itu dengan cara yang diajarkan orang tuanya.


Sikap parenting yang dapat menghancurkan mental anak


Itulah 7 kesalahan parenting yang dapat menghancurkan mental anak. Mari kita berbenah sama-sama, Ma, agar kekuatan mental anak-anak kita tetap terjaga. ☺️



Ditulis dengan Cinta, Mama

Read More

Ternyata Begini Rasanya Mengasuh Anak Pra-Remaja

Monday, February 14, 2022


Akhirnya, kami harus mengucapkan kepada diri kami sendiri; Selamat datang ke dunia Parent-Teen! Selama ini kami hanya mendengar dari sana-sini bahwa mengasuh remaja itu penuh dengan tantangan. Banyak drama. Dan kini kami merasakannya juga. Pfft.

Tantangan mengasuh anak pra-remaja

Saat ini Mas Amay berumur 10 menuju 11 tahun. Usia ini digolongkan ke dalam usia pra-remaja, yakni peralihan dari masa anak-anak menuju tahapan sebelum dewasa. Di usia ini, banyak perubahan yang terjadi baik secara fisik maupun psikis, karena pengaruh hormon.

Secara fisik, perubahan itu bisa terlihat dari perubahan bentuk tubuh, suara, dll. Nah, yang biasanya menimbulkan konflik antara orang tua dan anak adalah karena perubahan pada psikis.

Kenapa?

Karena di usia ini, orang tua masih menganggap bahwa anaknya masih kecil, belum bisa membuat keputusan, dan masih harus diarahkan. Sementara itu, sang anak merasa bahwa ia bukan anak kecil lagi, ia merasa berhak membuat keputusan sendiri, dan juga ingin diakui sebagai orang dewasa.

Jujur, bagian ini lumayan bikin nyesek, Ma... Meski sedikit-sedikit sudah paham kisi-kisinya, tapi saat harus "praktik", nyatanya ini bikin kami shock juga.

Sebenarnya sudah sejak tahun lalu Mas Amay menunjukkan beberapa perubahan. Ia sering mengatakan, "Mas Amay kan bukan anak kecil lagi." 

Lain waktu dia bertanya, "Kapan ya suaranya Mas Amay berubah? Mas Amay males dianggap bocil terus gara-gara suara Mas Amay kecil."

Well, peer pressure is real. Padahal teman-temannya juga banyak yang suaranya belum berubah lho... Atau jangan-jangan di circle pertemanan Mas Amay, goals mereka saat ini adalah punya suara yang lebih berat?

Yang membuat Mama Kepiting akhirnya terpikir untuk menulis ini adalah, karena di tahun 2022 yang baru memasuki bulan Februari ini, Mas Amay sudah "marah-marah" sebanyak dua kali. Marahnya ini sambil menangis dan teriak-teriak.

Usia Pra-Remaja Itu, Emosinya Sangat Labil, Mood-nya Bisa Berubah Sangat Cepat

Tanda-tanda anak memasuki usia pra-remaja

Kejadian pertama adalah di bulan Januari. Saat itu kucing betina kami sedang di masa birahi. Jujur ini adalah pengalaman pertama bagi kami, karena kucing kami yang dulu berjenis kelamin jantan.

Baca: Akhirnya Mayo Jumpa Betina

Karena merupakan pengalaman perdana, kami jadi mudah panik. Suami jadi stres karena ada 3 kucing jantan yang bergantian datang ke rumah. Udah gitu ngga cuma ngawinin kucing kami, tapi kucing-kucing itu juga numpang makan dan pup. Sebel kan? 

Nah, di hari ketiga birahi, suami sudah sangat lelah. Ditambah lagi beliau WFH dan ada banyak deadline yang harus selesai sebelum kami ke Jogja untuk menghadiri acara keluarga. Mendengar kucing jantan udah meang-meong di depan memanggil kucing kami, suami langsung mengusirnya. 

Mas Amay salah tangkap. Ia mengira, papanya marah pada kucing kami. Mulai deh itu drama.

"Papa nggak punya hati!" teriaknya sambil menangis. "Kalau Papa menyakiti Mayo (kucing betina ini juga kami beri nama Mayo), sama aja Papa menyakiti Mas Amay!"

"Lho, siapa yang menyakiti?" Papanya bingung dong...

Rupanya telah terjadi kesalahpahaman. Susah memang berhadapan sama orang yang lagi bucin-bucinnya sama sesuatu, termasuk kucing. Alhamdulillah, kesalahpahaman itu terurai setelah perdebatan diskusi yang cukup lama. Nyaris 1,5 jam lho. Fyuuuh...

Di Usia Pra-Remaja, Keinginan untuk Memberontak dan Menolak Aturan Mulai Muncul


beberapa perubahan perilaku pada anak usia pra-remaja


Kesalahpahaman kedua, terjadi dua minggu lalu. Ba'da ashar, Mas Amay berniat mengerjakan PR-nya. Posisi saya saat itu sedang menemani Adek Aga mengerjakan tugasnya juga. Saat mengerjakan PR itu, Mas Amay bolak-balik bertanya, jawabannya apa. 

Berkaca dari pengalaman hari sebelumnya, yaitu ketika Mas Amay keliru menjawab soal Bahasa Indonesia karena tidak teliti membaca teks, saya pun berkata, "Coba dibaca yang teliti. Pasti ada jawabannya di teks."

Amay menjawab, "Nggak ada lho, Ma, Mas Amay udah baca berkali-kali."

"Kalau Mama baca dan ketemu jawabannya, gimana? Mas Amay kebiasaan kok, suka buru-buru bacanya." kata saya. "Mama sedih lho, karena minat baca Mas Amay menurun banget dibanding waktu kecil dulu.

Saya ngomong seperti itu ke Mas Amay, lalu kembali fokus ke Adek Aga. 

Tiba-tiba, hening. Mas Amay pun mulai menangis.

"Mas Amay nangis?" tanya saya. 

"Mama itu udah melukai Mas Amay. Mas Amay kan udah bilang, ini jawabannya tuh nggak ada. Mas Amay udah bilang berkali-kali tapi Mama nggak percaya, malah membanding-bandingkan Mas Amay sama Mas Amay yang dulu."

Waduh, kok jadi begini, pikir saya. 

Saya langsung melihat ke buku tugasnya Mas Amay. Ternyata ia benar, jawabannya memang tidak ada di teks. Saya pun mengaku bersalah dan tak ragu minta maaf padanya. Tapi Mas Amay terlanjur terluka.

Dia mengeluarkan semua keluh kesahnya tentang kami. Pertama, kami dianggap terlalu cepat menghakiminya. Dia pun tidak suka dibanding-bandingkan, meskipun itu dengan dirinya sendiri di masa lalu. Lama-lama, keluh kesahnya jadi beraneka warna, membuat kami bercermin, sudah jadi orang tua seperti apa kami selama ini. Meski memang, untuk beberapa hal, kami punya alasan tertentu dan saat itu pula kami langsung memberikan penjelasan padanya.

Contohnya ketika Mas Amay protes, kenapa kok kita harus sering pergi-pergi? Mas Amay lebih suka di rumah. (Ini tentang perjalanan bulan lalu saat kami menghadiri pernikahan salah satu anggota keluarga di Jogja sana. Rupanya dia nggak suka diajak ke acara seperti itu)

Tentu kami harus menjelaskan bahwa tidak ada pilihan lain lagi. Ketika kami harus ke Jogja, otomatis Mas Amay harus ikut, karena nggak mungkin kan kami meninggalkannya sendiri di Solo?

Protesnya semakin panjang. Katanya, kenapa kalau ada tamu, Mas Amay harus stand by nemenin di luar (ruang keluarga yang sekaligus jadi ruang tamu), dan nggak boleh diam di kamar? Kami pun menjelaskan, jika tamunya merupakan orang dekat (sepupu misalnya, atau teman yang anaknya seumuran dengan Mas Amay), tentu akan lebih sopan kalau Mas Amay ikut membaur. Meski begitu, sekarang kami memberi keleluasaan untuknya. Setelah ramah tamah (salim / jabat tangan), kalau Mas Amay kurang nyaman dan ingin masuk kamar, kami tidak akan melarang. Deal.

Papanya pun menambahkan. "Papa sekarang sudah paham, kayaknya Mas Amay termasuk anak yang introvert, karena Mas Amay lebih nyaman ketika sendirian. Tapi Mas Amay tau nggak? Yang introvert bukan cuma Mas Amay lho. Papa sama Mama juga. Cuma, meski kita lebih senang sendirian, kita nggak boleh lupa untuk bersosialisasi. Dan pesan Papa, meskipun Mas Amay introvert, Mas Amay harus tetap punya attitude yang baik, ngga boleh semaunya sendiri."

*

Beuh, panjang banget ya, Ma...

Sebenarnya masih ada banyak bahasan lain, tapi nanti jadi panjang banget tulisannya. Wkwkwk... 

Nah, setelah kejadian kedua itu, saya dan suami pun terlibat obrolan yang cukup dalam. Betapa Mas Amay saat ini sudah bukan anak kecil yang polos seperti dulu lagi. Pola pikirnya pelan-pelan berubah, pun dengan gaya bicara dan perilakunya. Maka kami pun harus mulai belajar untuk menjadi orang tua yang baik bagi sulung kami ini.

Sejak itu, saya mulai membaca beberapa literatur tentang karakter anak usia pra-remaja dan bagaimana cara terbaik untuk menyikapinya sebagai orang tua.

Ternyata benar, seorang anak yang telah memasuki usia pra-remaja, akan menunjukkan beberapa perubahan perilaku, seperti:

  1. Emosi yang sangat labil
  2. Perubahan mood yang sangat cepat
  3. Mulai menarik diri
  4. Interaksi dengan orang tua mulai berkurang
  5. Munculnya keinginan untuk memberontak
  6. Mulai mencoba keluar dari batasan-batasan yang selama ini ditetapkan orang tua 

 

Ciri-ciri anak usia pra-remaja

Memang perubahan-perubahan ini cukup bikin gemes, Ma... Tapi kita kan ngga boleh jadi orang tua yang otoriter, karena khawatirnya, anak malah akan tumbuh jadi seorang yang pendendam dan berhati dingin. 

Lalu, apa saja yang sebaiknya dilakukan para orang tua ketika anaknya memasuki usia pra-remaja dan menunjukkan beberapa perubahan perilaku seperti di atas?

1. Jangan merasa tersisih

Perubahan seperti ini tuh wajar, dan nggak hanya terjadi pada anak kita doang, Ma... Jadi, ketika anak memiliki "dunia baru" yang mereka anggap lebih seru dan lebih penting dibanding keberadaan orang tuanya, jangan sedih dulu. Jangan merasa tersisih, dan tetap jalin komunikasi yang baik dengan anak-anak. Kelak mereka akan sadar dengan sendirinya bahwa keluarga adalah segalanya. Memang ia sedang di masa seperti ini, jadi pantau dari jauh aja. 😊

2. Luangkan waktu khusus untuknya

Walaupun anak kita sudah semakin besar dan terlihat tidak membutuhkan kita lagi, tapi penting untuk tetap meluangkan waktu bersama, Ma... Saat-saat berkumpul bersama adalah sesuatu yang akan mereka kenang hingga nanti. 

3. Dengarkan dan hargai pendapatnya

Kemarin ketika Mas Amay mengungkapkan ketidaknyamanannya saat pergi-pergi dan saat ada tamu, kami berdua mempraktikkan ini. Kami mendengarkan dan menghargai pendapatnya, tetapi sambil menyisipkan nilai-nilai yang kami pegang. 

4. Beri ia lebih banyak kebebasan

Kita semua membutuhkan waktu untuk diri sendiri. Anak-anak pun sama. Ia memiliki hak untuk tidak memberi tahu orang tua, segala sesuatu tentang kehidupannya. Kesannya kok jadi nggak terbuka sama orang tua ya? Iya memang, tapi, kita harus belajar untuk menghargai privasi anak. Kalau masih susah, inget-inget lagi, Ma, dulu waktu kita remaja juga seperti itu, kan?

5. Jangan terlalu menghakimi

Jangan buru-buru menghakimi atau mengkritik perilaku anak, karena alih-alih akan paham, anak justru akan semakin memberontak.

6. Jangan bereaksi berlebihan

Jujur, poin 5 dan 6 ini sering luput saya lakukan. Saya masih harus belajar untuk tenang dan tidak overreact pada apapun.

7. Beri ia kepercayaan untuk membuat keputusan

Memang sulit untuk mulai memberi kepercayaan pada anak ya, Ma... Rasanya pengen banget untuk kasih saran ini anu ono. Namun, jika sebelumnya sudah terjalin komunikasi yang baik antara orang tua dan anak, jalan tengah akan lebih mudah didapat. Kita boleh kok memberikan alternatif solusi, dan selebihnya, biarkan anak memutuskan sendiri jalan yang akan dipilih. Yang pasti, ingatkan ia untuk bertanggung jawab atas pilihan yang ia ambil.

8. Tanamkan ajaran agama pada anak

Poin terakhir, tapi sejatinya merupakan yang pertama dan yang utama, yaitu penanaman nilai-nilai agama. Ketika nilai-nilai agama sudah melekat dalam keseharian anak, insya Allah segala sesuatunya akan lebih mudah. Namun tentu, jika kita menginginkan anak yang baik, maka kita pun harus bisa menjadi teladan yang baik pula.

Tips menghadapi anak usia pra-remaja

Menjadi orang tua memang tidak selalu mudah ya, Ma... Namun, konflik dengan anak usia pra-remaja juga tidak selalu menjadi hal yang buruk kok. Justru di sinilah awal mula anak kita belajar untuk lebih mandiri, mengemukakan pendapat, mempertahankan pendirian, hingga mencari jati diri. Dan yang anak-anak butuhkan di masa ini  bukanlah perlawanan, melainkan pendampingan. Bismillah, semoga kita selalu dibimbing-Nya ya, Ma... ☺️


Ditulis dengan Cinta, Mama

Read More

Tahun Baru dan Kebiasaan Baru

Monday, January 10, 2022

Tahun 2021 baru saja pergi. Kini 2022 datang untuk kita isi. Setelah merenungi apa yang telah dilalui tahun kemarin, Mama merasa tahun 2022 ini ada banyak hal yang perlu diperbaiki. Meski sebaiknya kita memperbaiki diri setiap hari, tetapi momen tahun baru biasanya jadi waktu yang tepat untuk membuat serangkaian evaluasi. Seperti kali ini, mungkin ini bisa disebut juga sebagai resolusi.

Tahun lalu, Mama ngga bikin resolusi apa-apa karena ingin semua berjalan seperti apa adanya. Namun, Mama malah menjalani semua semaunya. Iya sih, Mama jadi ngga punya beban, tapi hidup jadi kayak ngga ada tantangan. Padahal, kita butuh tantangan agar terjadi perubahan dalam kualitas kehidupan.

Salah satu yang Mama sesali adalah waktu mengaji bersama-sama banyak berkurang dibanding tahun sebelumnya. Padahal, Papa sempat membuat sketsa seperti ini di tahun 2020.

Sketsa Tadarus
Jadi, istrinya lagi ngajari anaknya ngaji, suaminya malah nggambar. πŸ˜‚

Sungguh, Mama merindukan momen seperti ini lagi. Kenikmatan mengaji bersama anak-anak memang tidak bisa diungkapkan. Mama juga merasa jadi ibu yang berguna, karena bisa menghabiskan waktu bersama mereka dengan cara berkualitas.

Maka dari itu, memulai tahun baru 2022 ini, Mama kembali mendisiplinkan diri lagi. Ba'da maghrib, tak ada lagi yang sibuk dengan handphone. Kami mengaji, muroja'ah hafalan, kemudian membaca buku.

foto mengaji
Adek Aga membaca Al-Qur'an


Selanjutnya, kami menulis kegiatan apa saja yang kami lakukan di hari itu. Terus terang, inspirasinya saya dapat dari Mak Helenamantra yang rajin menulis jurnal syukur setiap harinya.

Nah, catatan hariannya kurang lebih seperti ini. Ini adalah catatan hariannya Adek Aga. Belum banyak yang dia tulis, karena anaknya masih kelas 1 SD. Kalau kebanyakan nulis, dia suka mengeluh capek. πŸ˜‚

Tapi dengan menulis seperti ini, sebaris - dua baris, dia jadi berlatih untuk mengungkapkan idenya.

catatan kegiatan harian anak

Sulit ngga sih mendisiplinkan anak-anak agar mau sholat dan mengaji setiap hari? 

Bohong kalau saya bilang gampang. Kita yang sudah dewasa saja pasti tau sulitnya istiqomah. Namun, alhamdulillah, saya dimudahkan dengan program penanaman karakter dari sekolah.

Jadi, di sekolah disediakan buku seperti ini. Ini wajib diisi setiap hari dan setiap akhir pekan, wali kelas akan memberikan evaluasi. 


kegiatan harian anak

Sekarang, setiap waktu sholat, saya tinggal mengingatkan anak-anak, "Sholat, yuk, trus nanti kita centang bukunya."

Selesai sholat maghrib pun begitu. "Habis sholat kita ngaji bareng lagi, yaa.. Setelah itu muroja'ah, baca buku, trus menulis deh."

Alhamdulillah, seminggu ini, anak-anak sudah terbiasa dengan kegiatan barunya. Tinggal mamanya nih, bisa tetap terjaga semangatnya untuk mendampingi mereka atau tidak. Semoga kebiasaan ini ngga hanya hangat-hangat tahi ayam alias bersifat sementara dan mudah berubah, yaa... Aamiin... Nah, Mama, punya kebiasaan baru apa di tahun ini?

 

 

Ditulis dengan Cinta, Mama

Read More

Ide Kado untuk Bayi Baru Lahir

Saturday, November 6, 2021

Halo, Ma... Beberapa waktu lalu, keponakan baru saya lahir ke dunia. Alhamdulillah, kami sempat menjenguk bayi perempuan yang mungil dan lucu itu meski hanya sebentar. Nah, meski sudah bolak-balik menjenguk bayi dan mencari kado untuk bayi, tapi saya masih sering bingung juga, ngasih kado apa ya bagusnya? Padahal banyak lho barang-barang yang bisa dijadikan pilihan kado untuk bayi, tapi tetap saja ketika tiba saatnya mencari kado untuk bayi, saya masih bingung lagi, bingung lagi. Hihi...

Supaya tidak bingung lagi, akhirnya saya keidean untuk membuat daftar ide kado untuk bayi di sini. Jadi, kalau nanti ada tetangga atau saudara yang melahirkan, saya tinggal buka contekan dan menyesuaikan dengan anggaran yang ada. Btw, saya memang suka sekali membuat daftar kado seperti ini. Misalnya, ketika ada tetangga yang pindahan rumah, saya juga membuat daftar kenang-kenangan untuk tetangga yang pindah rumah. Tujuannya adalah agar tidak bingung lagi ketika ada momen yang sama kembali terulang.

Untuk Mama yang ingin baca, silakan klik artikelnya di: Ide Kenang-kenangan untuk Tetangga yang Pindah Rumah

Lalu, apa saja inspirasi kado untuk bayi versi saya?

1. Baju

Ini paling mudah sih. Di e-commerce ada banyak sekali pilihan baju bayi untuk kado yang lucu-lucu. Mama bisa pilih pakaian bayi dalam bentuk satuan atau satu set sekalian. Contohnya seperti ini:

inspirasi kado untuk bayi
baju bayi lucu, sumber: Alibaba

inspirasi kado untuk bayi baru lahir
hampers set baju bayi lucu, sumber: AliExpress

Meski banyak yang lucu, tapi Mama harus perhatikan juga apakah pakaian bayi yang Mama pilihkan akan membuat bayi tetap nyaman atau sebaliknya. Mama bisa baca artikel di bawah ini, untuk mengetahui kriteria baju yang nyaman untuk bayi.

Baca: Pakaian Bayi; Apa Saja yang Mereka Butuhkan dan Bagaimana Memilihnya?

Oya, pakaian bayinya juga bisa ditambahi dengan kaos dalam bayi atau celana dalam bayi, Ma... Pasti lebih sip. 😊

2. Paket Perawatan Bayi

Saat ini tersedia banyak sekali baby spa gift box dari berbagai macam merek. Mama pilih lah merek favorit Mama. Memberi kado paket perawatan bayi seperti ini insya Allah bermanfaat banget karena pasti terpakai. 😊

ide kado untuk bayi baru lahir
baby spa gift box untuk kado bayi baru lahir, sumber foto: Shopee

3. Handuk Bayi

Handuk adalah benda yang paling sering saya pilih untuk kado bayi. Ini karena belajar dari pengalaman pribadi sih. Waktu anak-anak masih bayi dulu, saya sering kehabisan handuk karena sering terkena ompol. Biasanya setelah mandi bayi memang sering mengompol ya, Ma... Mungkin karena dingin, yaa... Maka dari itu, ibu harus punya persediaan handuk untuk bayi. Insya Allah dengan memberi kado berupa handuk, bisa bermanfaat juga untuk gonta-ganti.

Jangan lupa, pilih handuk yang lembut ya, Ma... 

handuk bayi lembut untuk kado
handuk bayi lembut untuk kado, sumber foto: Shopee

handuk selimut bayi untuk kado
handuk poncho bayi, sumber foto: AliExpress

4. Diaper Bag

Saat ini sudah banyak diaper bag dengan model yang keren-keren, Ma... Bahkan, modelnya pun cakep juga untuk dipakai jalan-jalan ke mall. Kalau Mama hadiahkan diaper bag seperti foto di bawah ini untuk sahabat atau saudara yang baru melahirkan, pasti mereka bahagia. Trus, imunnya naik deh. Wah, dobel-dobel pahalanya insya Allah. 😊

Diaper Bag model terbaru
Diaper Bag model terbaru, sumber foto: Babyzania.com

5. Gendongan Bayi

Terus terang, saya ngga terlalu update dengan berbagai jenis gendongan yang ada sekarang. Saya taunya cuma gendongan kain / jarik dan gendongan kangguru. πŸ˜‚

Tapi ada dua sahabat saya yang update banget soal baby carrier, yaitu Mbak Widut dan Mbak Ran. Dari mereka juga saya sedikit-sedikit tau kalau sekarang ada model gendongan berupa baby wrap, hipseat, SSC, dan entah apa lagi. Kayaknya penting juga untuk cari tau soal ini nanti, hehe...

Nah, gendongan bayi juga bisa jadi salah satu ide kado untuk bayi kan?

Baby Wrap untuk kado bayi
Ide Kado untuk Bayi: Hanaroo Baby Wrap. Sumber foto: Tokopedia

 
Carrier Baby
Hipseat Carrier by Mooimom

Kelihatannya nyaman banget ya pakai gendongan di atas. Dan sepertinya ngga ada cerita punggung dan pundak terasa pegal meski menggendong seharian.

6. Bouncer

Baby bouncer saat ini menjadi benda yang jamak dijadikan kado untuk bayi baru lahir. Fungsinya adalah untuk menimang bayi, sehingga diharapkan bayi merasa nyaman dan lebih mudah tertidur. 

Memberi kado berupa bouncer bayi adalah ide yang cukup bagus, Ma... Selain memang sangat bermanfaat, baby bouncer juga lebih awet jika dibandingkan dengan memberi baju, yaa, karena bouncer seperti ini bisa dipakai dalam jangka waktu yang lama. Berbeda dengan baju bayi, yang biasanya cepat sesak karena pertumbuhan bayi terbilang cepat.

Bouncer Bayi untuk Kado
Baby Bouncer untuk kado, sumber foto: freeonbaby.com

7. Stroller

Biasanya... Biasanya, yaaa... Stroller bayi dijadikan kado menjenguk bayi dengan cara patungan dengan rekan-rekan yang lain. Hehe... Soalnya harganya memang cukup mahal ya, Ma.. πŸ™Š

stroller bayi
stroller bayi untuk kado bayi, sumber foto: Shopee

Aiiih, warnanya cantik amat dah 😍

8. Buku Parenting

Buku parenting mah bukan kado untuk bayi, tapi untuk orang tuanya...

Hmm, secara tidak langsung, buku parenting juga bermanfaat untuk bayinya, lho. Jika ilmu parenting dalam buku tersebut diterapkan oleh para orang tua, tentu si bayi juga mendapatkan manfaatnya, bukan?

Ilmu parenting itu selalu berkembang, karena zaman pun selalu berkembang. Apa yang telah diajarkan orang tua kita di zaman dulu mungkin saja sudah tidak relevan diterapkan di zaman sekarang. Maka dari itu, memberi kado buku parenting juga merupakan ide yang cemerlang, Ma...

Dan ini adalah salah satu buku parenting favorit saya. Judulnya: Parenting with Heart

Tapi, memberi kado untuk ibu yang baru melahirkan juga ngga salah kan, Ma? Malahan, memberi kado untuk ibu yang baru saja melahirkan, bisa membantu meningkatkan hormon kebahagiaan. Secara tidak langsung, saat ibu menyusui bahagia, bayinya juga akan ikut bahagia. 😊

Baca: Ide Kado untuk Sahabat yang Baru Melahirkan

buku parenting; Parenting with Heart

Baiklah, itu dia contoh ide kado untuk bayi ala Mama Kepiting. Omong-omong, kalau Mama punya ide lainnya, silakan tulis di kolom komentar, ya, Ma... Insya Allah idenya bisa membantu Mama-Mama lain yang sedang kebingungan juga. Oiya, saat menjenguk bayi, jangan lupa sisipkan doa untuk bayi, yaaa.. Bisa diucapkan secara langsung, bisa juga ditempelkan di dalam kado. Insya Allah hadiah doa akan semakin melengkapi kebahagiaan orang tua dan bayinya. :)


Ditulis dengan Cinta, Mama



Read More

Pengalaman Mengkhitankan Mas Amay di Solo Khitan Center

Thursday, July 1, 2021

 

Tempat Khitan di Solo

1 Juni 2020, jelang kenaikan kelas 3 ke kelas 4

"Mas Amay, ini kan sudah bulan Juni. Katanya Mas Amay mau sunat di bulan Juni, kan? Nanti kita cari tempat khitan setelah ambil rapot, yaa..." kata saya.

Amay bergeming, tapi tiba-tiba matanya berair.

"Lho, kok nangis?" tanya saya.

"Mas Amay ngga mau sunat sekarang," jawabnya.

Hmm, manyun lah Mamanya. Upaya sounding selama 1 tahun ngga ada hasilnya. Tapi ya sudah lah, daripada nanti nangis-nangis dan teriak-teriak saat disunat, lebih baik ditunda dulu saja rencana khitannya. Memang, segala bujuk dan rayu harus diiringi doa, agar siap jiwa dan raga dalam menjalankan perintah agama.

Mei 2021

Tahun ajaran 2020/2021 hampir usai. Di kelas 4 ini, Mas Amay tidak pernah belajar di sekolah. Selain Belajar Dari Rumah (BDR), sesekali pembelajaran dilakukan di rumah secara berkelompok. Mas Amay berkelompok dengan Firlan, Varo, Raafi, Keefe, juga Nesa, karena rumah kami berdekatan. Seiring dengan semakin kompaknya anak-anak, para Mama pun semakin dekat. Alhamdulillah.

Maka dari itu, ketika salah satu dari kami punya wacana untuk mengkhitankan anak di libur kenaikan kelas ini, Mama-Mama yang lain pun jadi keidean untuk mengkhitankan anak-anak secara bersamaan. Tujuannya supaya anak-anak lebih berani karena tidak khitan sendirian.

Masih pandemi, kok tetep nekat mau sunat?

Pertama, khitan atau sunat adalah kewajiban. Kedua, mumpung ada teman, jadi biar ada yang "senasib sepenanggungan". Ketiga, kalau ditunda-tunda, khawatir anaknya keburu berubah pikiran. Niat baik harus disegerakan, bukan?

Karena semua Mama setuju untuk "khitan bareng-bareng", saya pun mulai hunting tempat khitan di Solo. Secara kebetulan, postingan Ayaa si pemilik www.cahayatheprinces.com yang baru saja mengkhitankan Ben, anak keduanya, di Solo Khitan Center (dr. Ahmad) lewat di beranda. Langsung deh, saya baca review-nya, dan minta nomor kontak dokter yang menangani Ben saat khitan. Tak lupa, saya mengusulkan pada Mama-Mama yang lain, dan alhamdulillah mereka setuju.

Saya bergegas menghubungi dokter Ahmad dan mengutarakan keinginan para Mama untuk mengkhitankan anak-anak secara bersama-sama.

Tempat Khitan di Solo

Membaca permintaan saya yang "aneh", dokter langsung menghubungi saya via telepon. Beliau menyampaikan bahwa di kondisi pandemi seperti saat ini, khitan bersama-sama sebaiknya dihindari. Lagipula, secara psikologis, khitan bersama-sama juga ada sisi negatifnya. 

"Kalau pasien pertama menangis atau berteriak-teriak kesakitan, yakinkah pasien kedua dan berikutnya bisa tenang?" tanya dr. Ahmad di seberang telepon.

Iya juga sih, masuk akal.

Baiklah... Patuh aja sama dokter, yaa... Toh masih bisa khitan "barengan" dalam artian khitannya di hari yang sama, hanya beda jam saja.

Alhamdulillah, selain benar-benar memikirkan keselamatan pasien, dokter Ahmad juga sangat komunikatif, jadi kami pun bisa berkonsultasi dengan nyaman. Beliau bahkan menawarkan pertemuan secara virtual via zoom. Tujuannya untuk mengedukasi para orang tua sekaligus mempersiapkan mental anak-anaknya juga.

Dalam pertemuan virtual tersebut, beliau berulang kali menyampaikan bahwa pasien harus datang sesuai jadwal agar tidak menimbulkan kerumunan. Selain itu juga tidak boleh membawa rombongan dalam jumlah besar dan pasien hanya boleh didampingi 2 orang dewasa saja. Taat prokes banget pokoknya.

~

26 Juni 2021

Dan hari itu pun tiba...  Sabtu sore, kami datang ke Solo Khitan Center sesuai jadwal. Sejak beberapa hari sebelumnya, saya dan suami selalu berusaha menguatkan mental Mas Amay. Kami mengingatkan lagi kata-kata dr. Ahmad saat zoom beberapa waktu lalu bahwa khitan tidak sakit, hanya terasa. Sebelum dikhitan akan ada suntikan bius, yang rasanya seperti saat diimunisasi. 

Tapi namanya anak-anak, tetap saja ada rasa panik, yaa... Ketika tiba saatnya dibius, Mas Amay berkali-kali minta waktu untuk mempersiapkan (atau menenangkan?) diri. 

"Tunggu dulu! jangan disuntik dulu! Mas Amay belum siap..."

Karena ngga siap melulu, akhirnya Mama peluk Mas Amay dan Papa pegangin kakinya, wkwkwk... Nah, setelah dibius, baru deh dia tenang. Bahkan ia sangat tenang dan dengan santai mengobrol dengan dokter yang sedang melakukan tindakan. 

FYI, dari obrolan singkat itu, terungkap satu fakta bahwa selain beliau merupakan suami dari Mbak Afifah Afra (seorang penulis buku), ternyata beliau satu almamater dengan saya di SMAN 1 Purworejo.

Ya Allah, begitu sempitnya dunia!

Selang beberapa saat, proses khitan selesai, dan kami pun bersiap untuk pulang. Saat akan pulang, Firlan datang. Ya, jadwal antara Mas Amay dan Firlan memang berurutan. Tak lupa, kami menyemangati Firlan agar rileks dan tidak panik. 

Omong-omong, Mas Amay dan Firlan bersahabat sejak TK. Mas Amay memilih sekolahnya saat ini juga karena Firlan sekolah di sana. Hihi... Saking selalu bersma, seorang teman TK-nya berkomentar: "TK bareng, SD bareng, khitan pun bareng. Besok nikahnya juga bareng." πŸ˜‚

Ya Allah, langsung bayangin kalau nanti mereka nikah nih. Jangan dulu, jangan cepet gede dulu ya, Mas...

Baca: Jangan Cepat Berlalu

Khitan di Masa Pandemi

Kami tidak menunggui Firlan sampai selesai, karena takut akan "diusir" oleh dr. Ahmad, hihi... Makanya, kami pulang lebih dulu. 

Dalam perjalanan pulang, Mas Amay sudah mulai merasakan cekit-cekit di area penisnya. Saya mencoba menghibur dengan mengatakan bahwa setelah sampai rumah, Mas Amay akan meminum obat pereda nyeri yang sudah diberikan oleh dokter. Insya Allah nyerinya akan berkurang.

Di grup WhatsApp, dokter memberi semangat pada kami, sembari mendoakan semoga kami tidak perlu begadang malam itu. Saya mengaminkan sambil membatin, "Apa iya sesakit itu sampai perlu begadang? So far anaknya baik-baik aja kok."

Pertanyaan sombong meski hanya di dalam hati, langsung dijawab oleh Allah. 

Sekitar jam 7 malam, Mas Amay mulai rewel. Rewelnya berubah menjadi tangisan dan teriakan, sampai kami bingung sendiri bagaimana menghiburnya. Bahkan tetangga depan sampai kirim WA, hihi... Maafkan ya, Om Isma dan Tante Dewi.

"Mas Amay udah aja... Ngga tahan sakitnya..." Katanya sambil terus menangis. 

"Sabar, yaa.. Sakitnya ditahan dulu, yaa..." Papanya sabar banget membujuk Mas Amay.

"Sakit kayak gini ngga bisa di-skip, Mas.. Namanya hidup, ada sakit ada sehat, ada senang ada sedih, semuanya harus dilewati. Namanya khitan ya sakit. Nanti juga ada waktunya sembuh. Kalau sakitnya bisa diwakilkan, Mama juga mau gantiin. Tapi ini kan ngga bisa, jadi mau ngga mau memang Mas Amay harus merasakan sendiri." 

Tetot! Ceramah macam apa itu, Mama Kepiting? Anaknya lagi kesakitan, sempet-sempetnya ngomong begini. Hadeh...

"Mama sih ngga ngerasain!" Amay makin teriak dong. Aduh, lucu deh kalau diingat. πŸ˜†

Menangis sejak jam 7 malam, tangisan Mas Amay baru berhenti 3 jam kemudian, setelah Mas Amay minum air putih yang sudah dibacain doa sama Akung. Alhamdulillah... Mama pun bisa melipir sebentar untuk nemenin Adek Aga tidur. Ya, meski pada akhirnya Mama ketiduran sih. Hehe... Saya baru kebangun jam setengah 3 pagi, dan ternyata, kata suami, Mas Amay belum tidur juga. Walah...

Ya sudah, akhirnya Papa gantian shift sama Mama. Mama pun menemani Mas Amay, hingga Mas Amay tertidur jam setengah 4 pagi. 

Sebenarnya ada obat pereda nyeri dari dokter yang bisa diminum tiap 3 jam sekali. Tapi entahlah, efeknya di Amay kok cuma bertahan sekitar 1 jam saja. Itu pun kami mempercepat pemberian obat jadi 2,5 jam saking ngga tahan dengar suara tangisan.

Oiya, Dek Aga sangat care sama Mas Amay, lho. Saat Mas Amay menangis, Aga elus-elus punggungnya. Dan Minggu pagi, setelah Mas Amay bangun dari tidur singkatnya, Adek Aga bertanya, "Yang disunatnya masih sakit, Mas?"

Oouwww... Mama jadi meleleh... Semoga Adek Aga ngga trauma karena lihat Mas Amay kesakitan deh. Hehe..

Alhamdulillah, pagi harinya Mas Amay sudah bisa berjalan-jalan. Benar kata Papa, sakitnya cuma sebentar, yaitu saat efek biusnya perlahan menghilang. Di grup Mama-Mama, kami pun saling menyemangati. Indahnyaaa... 😍

Solo Khitan Center


Insya Allah, pengalaman khitan ini akan jadi kenang-kenangan indah untuk Mas Amay, Mas Firlan, Mas Keefe, Mas Raafi, juga Dek Bimo (adiknya Mbak Nesa), yaa... Barokallah anak-anak hebat! Semoga kalian sehat selalu dan jadi anak yang sholih. Aamiin YRA.
 

Biaya Khitan di Solo Khitan Center

Saya yakin informasi ini paling ditunggu oleh Mama-Mama yang akan mengkhitankan putranya. 😊Berapa sih biaya khitan di Solo Khitan Center? Berikut adalah rincian biayanya, ya, Ma...



Dokter Ahmad menggunakan metode klamp dari Turki. Dengan biaya Rp 1.100.000,00, anak-anak akan mendapatkan celana khitan sebanyak 2 pcs, paket obat, dan free 1x kontrol untuk lepas klamp-nya.

Solo Khitan Center berada di Jalan Pamugaran Hijau Jamrud No. 5B, RT 5, RW 4, Kadipiro, Kec. Banjarsari, Kota Surakarta, Jawa Tengah 57136, Telp: 0821-3670-7568.



Ditulis dengan Cinta, Mama


Read More

Jangan Cepat Berlalu

Thursday, June 24, 2021


Mama Kepiting habis dengerin lagunya Raisa yang judulnya "Jangan Cepat Berlalu". Lagu ini dalaaam banget liriknya. Raisa memang paling jago bikin lagu dengan lirik yang menggugah emosi. Terlebih lagi, lagu ini ditujukan untuk putri cantiknya, Zalina. Jadi, pasti ditulis dengan sepenuh jiwa.

"Jangan Cepat Berlalu" sangat relate dengan perasaan seorang ibu. Unconditional Love, istilahnya. Makanya, setelah jadi ibu, Mama jadi paham mengapa do'a untuk kedua orang tua berbunyi seperti ini; Sayangilah kedua orang tuaku sebagaimana mereka menyayangiku di waktu kecil.

Tidak berlebihan jika di sebuah lagu anak, kasih ibu diibaratkan mentari yang menyinari bumi, hanya memberi tak harap kembali. Seorang ibu pun akan selalu tulus berdo'a untuk kebaikan anak-anaknya, tanpa diminta. Sesayang itu, sampai-sampai seorang ibu takut membayangkan jika suatu hari nanti anaknya pergi.

Memang, saat anak-anak masih kecil, rasanya jadi sering lelah dan mudah marah. Tapi sekarang, saat Adek Aga sudah berumur 6 tahun dan sudah bisa melakukan semuanya sendiri, sempat tebersit rasa takut kehilangan. Mas Amay juga sudah 10 tahun, bentar lagi jadi teenager, sudah disunat juga. Mama jadi sering membayangkan gimana nanti kalau ia jatuh cinta untuk pertama kali? Akan secemburu apakah Mamanya ini?

Baca: Pengalaman Mengkhitankan Mas Amay di Solo Khitan Center

Kalau Mama bisa menghentikan waktu, Mama tak ingin semua ini berlalu.

Janji saat nanti
Kau lepas genggamanmu
Lepaskan perlahan dan pastikan aku baik saja

Jangan, jangan cepat berlalu kuingin kita tetap begini

 

Jangan Cepat Berlalu


Ditulis dengan Cinta, Mama


Read More

Melatih Anak Berpuasa

Sunday, April 18, 2021

 
Tiga hari ini, tiap bangun sahur, Aga langsung mengerjakan sholat. Walaupun dia masih terbata-bata mengucap "tahajud", bahkan kemarin pun anak ini masih belum ngeh nama sholatnya sholat apa, tapi dia sholat karena keinginan sendiri.

Luar biasa sih, seusia ini, ia bisa mengerjakan sholat 5 waktu + sholat dhuha + tarawih + puasa sampai maghrib + tahajud. Mama waktu masih umur 6 tahun, untuk sahur aja masih harus digendong sama Akung, Nak. Bahkan seingat Mama, Mama baru bisa full puasa maghrib selama sebulan penuh saat kelas 3 SD. Ini Aga baru TK B, lho. Masya Allah.
 
Semoga Allah ridho ya, Nak. Aamiin aamiin Yaa Robbal 'Aalamiin.


melatih anak berpuasa

 
Sebenarnya, saya tak punya kiat khusus untuk mengajarkan anak-anak berpuasa. Semuanya berjalan secara natural. Pada awalnya, mereka hanya ikut-ikutan sahur dan berbuka. Lama-lama mereka menjadi terbiasa dan selanjutnya kami hanya memotivasi saja agar mereka semangat latihan berpuasa.

Salah satu bentuk dukungan yang kami berikan adalah dengan mencoba memenuhi setiap makanan atau minuman yang mereka inginkan. Pokoknya selagi kami bisa menyediakan, maka akan kami sediakan. Permintaan mereka pun tak sulit-sulit amat. Amay biasanya hanya meminta sandwich untuk berbuka, atau chicken katsu untuk lauk makannya. Nah, Aga biasanya hanya minta dibelikan es buah. Tidak ada yang spesial bukan?

Apakah saya menjanjikan sesuatu sebagai reward untuk mereka? Sama sekali tidak. Saya hanya mengatakan bahwa ketika kita melakukan ibadah, maka Allah akan memberikan pahala. Ada dua malaikat yang akan mencatat setiap tindak tanduk kita.

Oiya, tentang pahala, kemarin Aga bertanya, "Aga pahalanya udah berapa, Ma?"
 
Mama jawab, "Waduh, Mama ngga nyatat, Dek. Kan yang nyatat malaikat." πŸ˜‚

Sementara itu, tadi, Masnya masih males-malesan. Udah bangun, eh, tiduran lagi.

Aga mendekati kakaknya, lalu bilang begini, "Mas Amay kok tidur lagi? Belum sholat to? Ayo sholat dulu!"

Amay: "Kan ngga sholat (tahajud) ngga apa-apa, Dek."

Aga: "Ya kan sholat biar dapat pahala. Emangnya Mas Amay ngga mau dapat pahala? Bener-bener Mas Amay ini!" 🀣

Ya Allah, niru siapa anak ini? 🀣🀣
 
Baiklah, itu dia sekelumit cerita tentang Ramadhan 1442H / 2021M ini. Mama tak akan jenuh berdoa agar Mas Amay dan Dek Aga tumbuh menjadi anak yang sholih, yang rajin beribadah, yang cinta Allah dan Rasul-Nya, dibaguskan akhlaknya, dimudahkan rezekinya, Aamiin Aamiin Yaa Robbal 'Aalamiin...



Ditulis dengan Cinta, Mama
Read More

Kiat Sukses VBAC

Tuesday, March 9, 2021

 

Beberapa waktu lalu, seorang sahabat bertanya lewat WhatsApp, "Waktu VBAC dulu, persiapannya apa saja?"

Wah, Mama Kepiting langsung semangat menjawab. Meski Mama tidak memiliki background medis sama sekali, tetapi setidaknya Mama mengalami sendiri bagaimana perjuangan agar bisa sukses VBAC. Ya, 10 tahun lalu, Mas Amay lahir secara caesar, dan 3 tahun 8 bulan setelahnya, Adek Aga terlahir normal.

Jujur saja, ada kebahagiaan tersendiri ketika bisa berbagi pengalaman, dan rasa bahagia itu bisa bertambah berkali lipat ketika mengetahui bahwa mereka berhasil melewati proses ini juga.

Tunggu dulu! Mereka?

Oiya, lupa ngasih tau bahwa selama ini banyak yang menghubungi Mama via email, DM di IG, juga inbox di FB. Mereka adalah teman-teman yang pernah membaca tulisan Mama tentang VBAC di www.kayusirih.com. Kebanyakan bertanya tentang dokter tempat Mama periksa, berapa BB bayi,  juga berapa jarak antara kehamilan pertama dengan kehamilan berikutnya.

Baca: Melahirkan Normal Pasca Caesar, Apa Kiatnya?

Kiat Sukses VBAC

Nah, sebelum kita kupas tentang VBAC, mungkin ada yang belum paham VBAC itu yang bagaimana sih? 

Apa itu VBAC?

VBAC merupakan kependekan dari Vaginal Birth After Caesarean, yaitu sebuah metode persalinan secara normal yang dilakukan setelah sebelumnya menjalani persalinan secara caesar. VBAC secara tidak langsung mematahkan anggapan bahwa jika seorang ibu melahirkan secara caesar, maka di kehamilan berikutnya harus menjalani persalinan secara caesar pula.

Apa Saja Syarat Diperbolehkannya VBAC?


1. Rahim Harus Kuat

Ibarat ban dalam kendaraan, rahim ibu yang pernah menjalani operasi caesar bagaikan ban dalam yang pernah bocor dan ditambal. Tentu saja, perlakuannya berbeda dengan rahim yang masih utuh. Jika rahim tak cukup kuat, dikhawatirkan saat kontraksi dapat memicu robeknya bekas jahitan caesar. Jika bekas jahitan caesar sampai robek / pecah, hal ini bisa mengancam kesehatan ibu dan bayi.

2. BB Bayi Tidak Terlalu Besar

Mengapa BB bayi tidak boleh terlalu besar? Masih berhubungan dengan bekas jahitan juga. Selain untuk meminimalkan risiko robeknya bekas jahitan, juga untuk mempermudah proses persalinan. 

Waktu Mas Amay lahir, berat badannya hanya 2600 gram. Maka, ketika Mama mengatakan pada dokter bahwa Mama ingin VBAC, dokter langsung membuat batasan agar BB Adek Aga tidak melebihi 3000 gram. Mulai usia kandungan 7 bulan, Mama diminta diet dengan mengurangi asupan gula dan karbo.

3. Posisi Bayi Tidak Sungsang

Sungsang adalah kondisi di mana posisi kepala bayi masih berada di atas, bukan di jalan lahir seperti seharusnya. Meski persalinan per vaginam masih mungkin untuk dilakukan, akan tetapi biasanya dokter lebih memilih untuk melakukan tindakan operasi caesar, karena prosedur ini dianggap paling aman.

4. Air Ketuban Cukup

Air ketuban memiliki banyak fungsi. Selain untuk melindungi janin dari goncangan / benturan, mengontrol suhu rahim, dan mencegah infeksi, air ketuban juga berfungsi untuk membantu proses persalinan. Pada saat persalinan, air ketuban dapat meratakan kontraksi di dalam rahim, sehingga leher rahim membuka. 

Hati-hati jika volume air ketuban terlalu sedikit atau terlalu banyak. Kekurangan atau kelebihan air ketuban diketahui dapat membahayakan kondisi janin.

5. Persalinan Dilakukan Secara Spontan / Tanpa Induksi

Jika syarat nomor 1-4 sudah terpenuhi, besiaplah dengan syarat nomor 5 ini. Tidak diizinkannya pemberian induksi, dapat mempengaruhi lamanya waktu kontraksi yang harus Mama lalui. Saat melahirkan Adek Aga, Mama harus melalui sakitnya kontraksi hingga dua hari dua malam. Luar biasa memang...

Mengapa tidak boleh diinduksi sih? 

Rangsangan pada induksi persalinan dianggap kurang aman untuk ibu yang sebelumnya pernah menjalani operasi caesar ataupun operasi lainnya yang dilakukan pada rahim. Sebab, ada risiko yang bisa menyebabkan rahim robek.

~

Nah, Ma, sebelum memilih prosedur VBAC, konsultasikan lebih dulu dengan dokter yang mengetahui riwayat kesehatan dan kehamilan kita, yaa... Yang jelas, apapun metode persalinan yang kita jalani, bagian paling penting dari proses melahirkan adalah mengusahakan yang terbaik agar kondisi ibu dan bayi sehat. Mau caesar atau normal, kita sama-sama berhak menyandang predikat "ibu".


Ditulis dengan Cinta, Mama



Read More

Rutin Sholat Dhuha karena Anak

Monday, February 8, 2021

 
Di sekolah, selain diajarkan untuk tak meninggalkan sholat 5 waktu, anak-anak juga dibiasakan untuk melaksanakan sholat dhuha. Bahkan, ada buku laporan kegiatan semacam Buku Ramadhan juga untuk diisi selama masa Belajar di Rumah. Ya, meski saya suka lupa mengisinya sih. Sing penting sholat, ngaji, gitu wae wis.
 
Nah, karena anaknya saja rajin sholat dhuha (memang pada awalnya terpaksa, hanya untuk mengisi buku kegiatan saja), sebagai emak saya jadi merasa berdosa kalau ngga sholat dhuha juga. Saya mengaku, dulu, saya sholat dhuha pas sempat aja. Atau, mendadak rajin pas ada maunya. Astaghfirullah. 😒
 
Padahal, saya tahu kok, hikmah sholat dhuha itu apa saja. Salah satunya seperti di dalam hadist yang diriwayatkan At-Thabrani.
 
"Barangsiapa yang shalat dhuha dua rakaat, maka dia ditulis sebagai orang yang tak lalai. Barangsiapa yang mengerjakannya sebanyak empat rakaat, maka dia ditulis sebagai orang yang ahli ibadah. Barangsiapa yang mengerjakannya enam rakaat, maka ia diselamatkan di hari itu. Barangsiapa mengerjakannya delapan rakaat, maka Allah tulis dia sebagai orang yang taat. Dan barangsiapa yang mengerjakannya dua belas rakaat, maka Allah akan membangun sebuah rumah di surga untuknya."

 
Dahsyatnya Sholat Dhuha


Hidayah memang bisa datang lewat jalur mana saja, yaa... Termasuk lewat anak-anak. Saya, ayahnya anak-anak juga, kini jadi rajin menjalankannya. Jika dulu kami dhuha saat butuh saja, sekarang karena eman-eman / sayang bila sampai melewatkannya.

Omong-omong, sebelum pada menghakimi, masa ibadah aja harus dipamerin, saya mau klarifikasi dulu. Saya menulis ini bukan untuk riya', insya Allah, melainkan untuk mengingatkan diri sendiri, bahwa sebagai orang tua, kita ngga boleh jarkoni alias "bisa ngajar, ora bisa nglakoni". Bahasa kerennya, omdo - omong doang.

Saya teringat seorang sahabat, sebut saja Mama Hadfy, suatu hari menulis status di WhatsApp yang intinya kurang lebih begini: Mengharapkan anak menjadi hafidz Qur'an sementara ibunya sendiri ngga pernah baca Al-Qur'an, adalah sebuah mitos.

Masuk akal kan... Buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Ingin anak menjadi orang baik, tentu saja orang tuanya harus memberi contoh yang baik juga. Ingin anaknya rajin dhuha, orang tuanya harus rajin juga. Jangan cuma bisa nyuruh-nyuruh doang. Inilah yang saya lakukan kemudian. Berawal dari rasa "malu dan ngga enak" sama anak, lama-lama jadi sebuah kebiasaan. Semoga kami semua istiqomah, aamiin aamiin YRA.

Oh iya, saya jadi teringat dengan seorang sahabat semasa SMP. Siti Badriyah namanya. Siti Badriyah yang ini tak pandai menyanyi. Siti Badriyah yang ini adalah seorang hafidzah. Anak-anaknya, Mbak Alya dan Mas Yusrin, sedang menuju ke arah sana dengan bimbingan sang ibunda. Masya Allah.

Suatu hari, Badriyah, begitu saya memanggilnya, menunjukkan nikmatnya menjadi penghafal Al-Qur'an. Ketika anak-anaknya muroja'ah hafalan, ia bisa menyimak sambil beberes, memasak atau mengerjakan pekerjaan rumah tangga lainnya. Jadi, jika terdengar ada yang salah, ia bisa langsung "mbengok" alias teriak sambil membetulkan hafalan anaknya. Tentu saja teriaknya Badriyah berbeda dengan teriakan Mama Kepiting, yaa.. πŸ˜‚

Saya ingin bisa seperti itu juga. Apa saya sudah hafal Al-Qur'an? Beluuuummmm... Tapi saya berusaha untuk menghafal apa yang anak-anak saya hafalkan. Biar apa? Biar ngga jarkoni dong.

 
Ditulis dengan Cinta, Mama
Read More

Bagaimana Cara Mendidik Anak yang Baik Tanpa Membuat Kita Menjadi Toxic Parents?

Sunday, January 24, 2021

 

Beberapa waktu lalu saya mendengarkan sebuah podcast yang membahas tentang Toxic Parent. Setelah mendengarkan podcast tersebut, saya langsung melihat ke dalam diri sendiri. Apakah ciri-ciri orang tua yang toxic ada di dalam diri saya? Sepertinya iya. Saya pun mencari tahu, bagaimana cara mendidik anak agar bisa menjadi anak yang berbakti, cerdas, sukses, tanpa membuat kita menjadi toxic parent?

Sebelum terlalu jauh, kita cari tahu dulu, yuk, apa itu toxic parent?

Toxic Parent adalah tipikal orang tua yang senang mengatur anak sesuai dengan kemauannya, tanpa menghargai dan memahami perasaan anak. Jika good parent akan selalu respect terhadap anak-anaknya, toxic parent justru sebaliknya, merasa bahwa orang tua selalu benar, sehingga mengabaikan hak-hak anak untuk didengarkan dan diperlakukan dengan baik seperti seharusnya.


Cara Mendidik Anak Tanpa Harus Menjadi Toxic Parent
 

Untuk mengetahui apakah kita termasuk toxic parent atau tidak, simak tanda-tandanya berikut ini, Ma.

  1. Egois dan kurang empati pada anak. Ayo diingat-ingat lagi, apakah kita lebih sering mendahulukan kebutuhan dan perasaan kita dibandingkan kebutuhan dan perasaan anak?
  2. Terlalu reaktif dan emosional. Toxic parent sering bereaksi secara berlebihan, terlalu mendramatisasi keadaan, dan sering marah secara tiba-tiba.
  3. Suka mengontrol anaknya secara berlebihan
  4. Sering mengkritik
  5. Sering membanding-bandingkan
  6. Suka mengancam atau menakut-nakuti
  7. Manipulatif, playing victim, tidak mau meminta maaf apabila melakukan kesalahan 
  8. Suka mengungkit apa yang telah dilakukan untuk anak
  9. Senang memberikan demand atau permintaan yang kurang masuk akal

 
Kadangkala, kita tanpa sadar telah menjadi orang tua yang toxic ya, Ma... Misalnya, ketika anak menolak untuk makan, lalu kita ungkit-ungkit bahwa nasi yang kita hidangkan adalah hasil kerja keras orang tua, dll. Atau, tanpa sadar kita membandingkan kemampuan anak kita dengan anak teman kita. Maksudnya sih baik untuk memotivasi, tapi caranya justru membuat anak sakit hati.

Baca: Dear Mama, Apakah Ketidaksempurnaan adalah Dosa?

Lalu, bagaimana cara mendidik anak agar mereka tumbuh menjadi anak yang baik, tanpa harus membuat kita menjadi toxic parent?

1. Memilih Kata-kata dengan Bijak

Anak adalah peniru ulung. Mereka tidak hanya meniru perilaku kita, tetapi juga merekam setiap perkataan kita. Jika orang tua terbiasa berbicara kasar, jangan kaget bila anak-anak pun melakukan hal yang sama.

2. Jadilah Pendengar yang Baik

Apa yang anak-anak katakan pada kita, adalah hal yang penting untuk mereka. Jadi, jangan dicuekin ya, Ma... Ketika kita mendengarkan detail ucapan mereka, mereka akan merasa dihargai. Kelak, ketika kita berbicara pun, mereka akan terlatih untuk mendengarkan. Dengan begitu, nilai-nilai yang kita ajarkan akan lebih mudah meresap dalam perilaku mereka.

3. Bantu Anak untuk Mengekspresikan Emosi Mereka

Yakinkan pada mereka bahwa menangis, tertawa, marah, kecewa, bukanlah hal yang tabu atau dilarang. Menangis adalah salah satu cara untuk berekspresi, baik bagi perempuan maupun laki-laki. Jadi, ngga ada tuh istilah "laki-laki ngga boleh nangis". 

4. Terapkan Disiplin dan Apresiasi

Ketika anak berhasil melakukan sesuatu, berikanlah pujian. Jangan terlalu pelit memuji ya, Ma... Pujian dalam kadar tertentu, akan membuat anak merasa dihargai usahanya.

5. Jadilah Teman yang Baik untuk Anak-anak

Di Festival Literasi Digital yang diselenggarakan KEB minggu lalu, salah seorang narasumber, Mak Retno De Krsitiani, mengatakan bahwa orang tua tidak boleh berhenti belajar. Orang tua harus juga mengikuti perkembangan zaman, agar tidak timbul gap yang terlalu jauh antara orang tua dan anak. Soal game? Bila perlu, sesekali mabar dengan anak juga oke tuh. πŸ˜‰

Baiklah, itu dia yang bisa saya bagikan tentang bagaimana cara mendidik anak yang baik. Semoga bermanfaat ya, Ma... Tulisan ini juga sebagai pengingat untuk Mama Kepiting, supaya ngga terus-terusan jadi toxic parent. Bismillah ya, Ma... Semoga Allah beri kemudahan untuk kita dalam mendidik anak-anak. Aamiin aamiin Yaa Robbal 'Aalamiin... 


Ditulis dengan Cinta, Mama

Read More

Review Film Soul

Thursday, January 7, 2021

 

Review Film Soul
 

Mengawali tahun 2021, Mama Kepiting, Papabebi dan anak-anak bersama-sama menonton film baru berjudul Soul. Film yang bisa ditonton secara streaming di Disney Plus ini mengisahkan tentang seorang pria bernama Joe Gardner (Jamie Foxx) yang bercita-cita menjadi seorang pemain piano profesional.

Sedih, ketika impian Joe hampir terwujud, sebuah kecelakaan terjadi. Ia terjatuh ke dalam sebuah lubang got. Ketika tersadar, ia sudah berada di sebuah jalan panjang menuju kehidupan selanjutnya (semacam jembatan Shirathal Mustaqim kali, yaa).

Joe frustrasi. Ia tak mau mati. Ia ingin tampil dalam pertunjukan bersama Dorothea Williams, karena baginya, ini adalah kesempatan untuk mewujudkan mimpinya. Joe pun berusaha kabur dari tempat itu, sekuat tenaga.


Review Film Soul


Berhasil? Ternyata, ia malah masuk ke kehidupan sebelum kehidupan (before life). Jadi, ada calon-calon bayi di sini. Calon-calon bayi ini sedang mengantri pembagian sifat. Semacam lauhul mahfudz mungkin. πŸ˜‚

Di tempat ini, Joe bertemu dengan 22. Setelah 22 muncul, jalan ceritanya menjadi semakin menarik. 

22 adalah jiwa yang unik, meski ia, katanya, berkali-kali gagal menjadi manusia hingga ia benci harus kembali ke bumi. Ia merasa jadi manusia tuh ya gitu-gitu aja. Ia sulit menemukan "sparks" atau "percikan api" atau bisa dibilang, passion

Joe pun bertugas untuk membantu 22 menemukan passion-nya agar badge atau lencana 22 bisa sempurna. Lencana ini diperlukan apabila sebuah jiwa ingin menjalani kehidupan di bumi. Jika Joe berhasil, 22 akan memberikan lencana itu kepada Joe, agar jiwa Joe bisa kembali ke dalam raganya.

Nah, apakah Joe berhasil membantu 22 menemukan passion-nya dan bisakah Joe kembali ke bumi lalu tampil bersama Dorothea quartet seperti impiannya? Tonton filmnya aja, yaa... Kalo diceritain di sini, nanti ngga seru. 😊

Review Film Soul


Btw, film ini mengingatkan saya pada film Coco. Pasti udah pada nonton Coco kan? 

Menurut saya, ada persamaan antara Soul dengan Coco. Apa saja? 

1. Sama-sama mengangkat tema tentang passion dalam bermusik
2. Sama-sama menghadirkan "kehidupan di dunia lain"
3. Sama-sama happy ending dengan banyak nasihat yang bisa dipetik

Film Soul memang memiliki banyak pesan positif. Salah satunya seperti yang Mas Amay bilang, "Ketika bahagia, kita nggak boleh lupa diri. Jangan terlalu bahagia, biar nggak celaka." Ini dia simpulkan dari scene awal, ketika Joe terlampau happy saat diterima untuk tampil bersama Dorothea. Jalan serampangan, hingga tak menyadari bahwa di depannya ada lubang.

Nasihat lain yang bisa saya tangkap adalah, jalani kehidupan dengan sebaik-baiknya. Temukan passion-mu, agar hidupmu lebih bermanfaat. 

Namun...

Terkadang memang kenyataan hidup tak berjalan sesuai dengan apa yang kita inginkan. Di sini, kita juga diingatkan untuk belajar "menerima". Setelah itu, kita diminta untuk menjalani apa yang sudah digariskan dengan sebaik-baiknya. Intinya sih, ikhtiar dan tawakkal adalah cara terbaik menjalani kehidupan.

Oya, sebagai ibu, saya juga diingatkan untuk selalu mensupport apapun pilihan anak-anak, asal tidak bertentangan dengan nilai-nilai yang kita anut. Mau jadi musisi kek, jadi guru kek, jadi arsitek kek, asal anak senang, why not?

Seperti ibunya Joe. Memang, pada awalnya beliau menyayangkan pilihan Joe untuk serius bermusik karena hidup sebagai musisi cenderung tak punya penghasilan tetap. Namun, ketika Joe menunjukkan keseriusannya, sang ibu malah membantu menyiapkan pakaian terbaik untuk ia tampil di atas panggung.

Begitu banyak nasihat yang bisa kita petik dari film ini. Recommended pokoknya, bahkan Isyana Sarasvati pun sampai menyarankan Film Soul untuk ditonton bersama keluarga. :)


Ditulis dengan Cinta, Mama

Read More