Catatan Wisuda Tahfidz Mas Amay dan Adek Aga

Friday, October 7, 2022

 

"Mendidik anak itu seperti mengukir di atas batu. Sulit. Tapi ketika sudah jadi, niscaya ukiran itu tidak akan mudah hilang."

Itu adalah sepenggal kalimat yang akan saya ingat. Sebuah pesan yang disampaikan oleh Bapak Kepala Sekolah, saat awwalussanah beberapa waktu lalu.

Ya, mendidik anak menjadi anak yang sholih, pintar, berakhlak mulia, tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Apalagi jika orang tua bercita-cita memiliki anak yang hafidz Qur'an, tentu tantangannya lebih berat lagi. Maka dari itu, patutlah saya berbangga hati saat tanggal 6 Agustus lalu, Mas Amay dan Adek Aga termasuk dalam siswa-siswi yang mengikuti wisuda tahfidz. Tidak banyak yang berhasil lolos dalam ujian tahfidz ini, sehingga saya sangat bersyukur telah menjadi bagian dari orang tua - orang tua yang beruntung itu.

Otak anak-anak konon diibaratkan seperti spons baru yang daya serapnya masih sangat baik. Bagi mereka, menghafal ayat demi ayat adalah hal yang mudah. Namun, kita tidak boleh lupa, bahwa sudah jadi sunnatullah jika manusia itu memiliki sifat yang mudah lupa. Untuk itu, mempertahankan hafalan dengan muroja'ah adalah rutinitas yang harus dilakukan oleh seorang yang ingin menjadi hafidz Qur'an.

Nah, di sinilah tantangannya. Perjuangan untuk membiasakan anak-anak agar mau muroja'ah setiap hari, sama sulitnya dengan membiasakan anak-anak untuk disiplin sholat 5 waktu. Kita tidak boleh bosan mengingatkan, juga tidak boleh malas mendampingi mereka saat hafalan. Satu hal yang juga tidak boleh dilupakan adalah; Jangan Bosan Mendo'akan Anak-anak.

Baca juga: Rutin Sholat Dhuha karena Anak

Jika mengingat kembali momen wisuda tahfidz 4 tahun lalu, saat itu Mas Amay masih kelas 2 SD, adek Aga bahkan belum sekolah. Saya hampir menitikkan air mata saat melihat kakak-kakak kelasnya Amay berdiri di atas panggung, melantunkan ayat demi ayat secara serentak. Masya Allah. Saat itu saya berbisik kepada Mas Amay dan Dek Aga, "Nanti Mas Amay sama Adek berdiri di sana juga ya kayak kakak-kakak."

Awwalussanah dan wisuda tahfidz
Awwalussanah + Wisuda Tahfidz 4 tahun lalu. Alhamdulillah, fotonya tersimpan di IG story. :)

Alhamdulillah, do'a saya dikabulkan oleh Allah, 4 tahun kemudian. Waktu yang sebenarnya molor dari rencana, karena kita dihantam pandemi sehingga semua nyaris lumpuh dua tahunan ini, termasuk soal pendidikan anak-anak. Sekolah saat pandemi itu, bisa tetap semangat belajar aja sudah alhamdulillah. Bisa paham materi dan bisa mengumpulkan tugas tanpa drama itu sudah bonus. Wkwkwk...

Hal ini berlaku juga untuk hafalannya anak-anak. Bisa mempertahankan hafalannya saja, bagi saya itu sudah luar biasa. 

Begini. Ibu adalah madrosatul uula, itu benar. Tapi, tidak semua ibu punya kemampuan mengajar seperti guru. Guru itu, bagaimanapun juga, punya wibawa yang berbeda di mata anak. Itulah mengapa, terkadang, meski memakai cara yang sama, tetapi hasil pengajaran antara orang tua dan guru bisa berbeda.

Makanya, saya sangat bersyukur, Mas Amay bisa menjadi salah satu dari wisudawan tahfidz di hari itu. Karena ini menandakan bahwa "jiwa guru" saya masih tersisa, meski sudah tidak mengajar 12 tahun lamanya. Xixixi... Alhamdulillah. Ya, walaupun kadang muncul sifat T-Rexnya. Seperti di tulisan saya yang ini: Dear Mama, Apakah Ketidaksempurnaan adalah Dosa?

~~~

Menjadi salah satu siswa yang berhasil lolos wisuda tahfidz, tentu bukanlah tujuan utama. Karena seperti pesan Bapak Kepala Sekolah, "Menjadi Hafidzul Qur'an itu baik, tetapi lebih baik lagi jika bisa menjadi Hamilul Qur'an (orang yang setiap tingkah lakunya, tutur katanya, mengandung Al-Qur'an)". Apalagi, Mas Amay dan Adek Aga masih punya PR menyelesaikan 29 juz lainnya. 

Mama dan Papa tentu hanya bisa mendukung dan mendoakan, semoga Mas Amay dan Adek Aga senantiasa diberikan hati yang mencintai Al-Qur'an, yang menjadikan Al-Qur'an sebagai pedoman utama dalam hidup. Dan semoga, Allah beri kemudahan untuk Mas Amay dan Dek Aga, agar bisa menjadi Hafidzul Qur'an yang juga Hamilul Qur'an. Aamiin aamiin Yaa Robbal 'Aalamiin..

Wisuda Tahfidz

Oya, kemarin ada yang tanya, baju kokonya beli di mana. Jawabnya di sini ya, Ma; https://shope.ee/9p3JPHo6Db

Alhamdulillah dimudahkan mencari baju koko warna putih, meski waktunya mepet. Bahannya katun toyobo, jadi ngga bikin gerah. Dan bisa dilihat di foto, anaknya kelihatan rapi, cakep, meski dari belakang. 😊



Ditulis dengan Cinta, Mama

Read More

Kiat Mempersiapkan Anak Menghadapi Masa Balig Menurut Ajaran Islam

Saturday, October 1, 2022

 

"Pena (pencatat amal) akan diangkat dari tiga orang, yaitu dari orang yang tidur sampai dia bangun, dari anak-anak sampai dia balig, dari orang yang gila sampai dia sadar (berakal)." (HR. Abu Daud)

Hadits tentang pencatatan amal


Membaca hadits di atas, seketika saya teringat dengan Mas Amay yang saat ini sudah berumur 11 tahun. Mungkin sebentar lagi, ia pun akan memasuki masa balig. Tentu, sebelum kita menghadapi sesuatu, akan lebih baik jika kita sudah lebih dulu membekali diri dengan ilmu, supaya tidak kaget atau bingung. Maka dari itu, saya pun mulai mencari referensi, apa saja yang harus orang tua persiapkan untuk mendampingi anak-anak menjelang masa peralihan itu. Alhamdulillah, di sekolah ada pelajaran Al Islam, yang mulai men-spill tentang apa itu masa balig, apa saja tanda-tandanya, dan apa saja yang perlu dipersiapkan untuk menghadapinya. Jadi tugas saya sedikit lebih ringan. 😁

Satu hal yang harus kita ingat, ketika anak-anak sudah memasuki masa akil balig, mereka sudah masuk kategori mukalaf atau diberi beban syariat. Maka dari itu, segala tingkah lakunya tidak bisa ditolerir seperti saat mereka masih kecil. Untuk itu, sebagai orang tua kita harus menjelaskan bahwa sejak saat itu, seluruh perbuatan kita, baik atau buruk, sudah mulai dicatat dan kelak akan dimintai pertanggungjawaban.

Ada beberapa hal yang mesti kita (orang tua) persiapkan, untuk mendampingi anak menyambut masa akil balig. Tapi sebelumnya, mari kita cari tahu, apakah yang dimaksud dengan akil balig itu?

Masa akil balig seringkali diidentikkan dengan masa pubertas. Puber, berasal dari kata pubescere yang dalam bahasa latin memiliki arti mendapat pubes. Tahukah apa itu pubes? Pubes adalah rambut kemaluan. Sehingga bisa disimpulkan bahwa masa puber adalah masa di mana tubuh anak mengalami perubahan secara fisik, yang menandai matangnya organ-organ reproduksi. 

Sebenarnya ada sedikit perbedaan makna antara pubertas dan akil balig dalam Islam. Akil, berarti memiliki akal, pemahaman atau pengetahuan. Sedangkan balig artinya telah sampai pada kesempurnaan. Akil balig bisa diartikan sebagai masa ketika seseorang telah mencapai tahap sempurna baik dari segi fisik maupun emosional. Pada anak laki-laki, masa akil balig ini ditandai dengan mimpi basah, sedangkan pada anak perempuan ditandai dengan datangnya haid atau menstruasi.

Nah, seperti yang telah Mama Kepiting tulis di awal, setelah anak memasuki masa balig yang berarti sudah masuk kategori mukalaf, anak sudah harus paham apa saja kewajiban-kewajiban yang harus dilakukan sebagai seorang muslim. 

Berkaitan dengan kewajiban-kewajiban itu, ada beberapa hal yang harus dipersiapkan oleh orang tua, yakni:

Tips mendampingi anak menjelang masa puber

 

1. Membiasakan Anak Melakukan Ibadah Wajib

Dalam sebuah hadis riwayat Abu Daud dan Ahmad, dari Amr bin Syu'aib, dari bapaknya dan kakeknya dia berkata, Rasulullah SAW bersabda:

"Perintahkan anak-anak kalian untuk melakukan salat saat usia mereka 7 tahun, dan pukulah mereka saat usia 10 tahun. Dan pisahkan tempat tidur mereka." (Dishahihkan oleh Al-Albany)

Nah, maka benar bahwa dalam Islam, persiapan menyambut masa balig itu tidak instan, tetapi harus dipersiapkan sejak tahun-tahun sebelumnya. Apa jadinya jika sejak kecil anak tidak dibiasakan salat dan berpuasa? Saat masa balig itu tiba, yang dikhawatirkan adalah anak-anak meninggalkan kewajiban itu.

2. Mengajarkan tentang Thaharah atau Bersuci

Mengapa thaharah itu penting? Karena ada beberapa ibadah yang baru dianggap sah apabila dilakukan dalam keadaan suci dari hadas.

Apa itu Hadas?

Hadas adalah keadaan tidak suci pada seseorang sehingga terhalang baginya melakukan salat, tawaf ketika haji, dan ibadah lainnya yang harus dilakukan dalam keadaan suci.

Hadas dibagi menjadi 2;

  • Hadas kecil, yaitu hadas yang dapat disucikan dengan cara berwudhu atau bertayamum saja. Misalnya; keluar sesuatu dari lubang qubul atau dubur (buang air kecil, buang air besar, kentut), bersentuhan langsung antara kulit laki-laki dengan perempuan yang sudah balig dan bukan mahramnya.
  • Hadas besar, yaitu hadas yang harus disucikan dengan cara mandi. Misalnya; haid dan nifas pada perempuan, keluarnya air mani pada laki-laki, atau kondisi setelah berhubungan suami istri.

Saat masa balig tiba, anak perempuan akan mengalami haid, anak laki-laki akan mengalami mimpi basah. Untuk itu, mereka harus tahu cara bersuci yang benar, agar ibadah sholatnya tetap sah.

3. Memberi Pengarahan untuk Menjaga Adab dan Pergaulan dengan Lawan Jenis 

Suatu hari seorang teman berbagi informasi bahwa di sekolah anaknya diajarkan persiapan menghadapi masa akil balig. Ada satu pesan yang bisa kita highlight.

"Saat balig, kita sudah bisa menjadi ayah dan ibu. Tapi, untuk menjadi ayah dan ibu yang baik, banyak hal harus kita persiapkan, seperti mental, spiritual, juga finansial. Karena setelah menjadi ayah dan ibu, tanggung jawab kita akan lebih banyak dan lebih besar. Nah, jika Mas / Mbak (nama anak kita), belum siap menjadi ayah atau ibu, maka Mas / Mbak harus menjaga adab dan pergaulan dengan lawan jenis."

4. Ajarkan Anak untuk Mandiri

Ini juga penting ya, Ma... Ajarkan anak untuk mandiri atau mulai mengurus diri sendiri. Untuk anak perempuan misalnya, mintalah mereka untuk mencuci pakaiannya sendiri. Apalagi jika sudah mengalami menstruasi, maka anak harus bisa mencuci bekas darahnya sendiri.

5. Ajarkan Manajemen Waktu

Manajemen waktu ini berkaitan dengan memilah-milih mana kegiatan yang bermanfaat, mana yang sia-sia. Ingat AMBAK (Apa Manfaat BAgiKu) saat kita akan melakukan sesuatu. Jika tidak ada manfaatnya, lebih baik tinggalkan.

~

Nah, Ma, itulah beberapa persiapan yang mesti orang tua lakukan dalam rangka mempersiapkan anak menghadapi masa puber, sesuai anjuran Islam. Barangkali ada yang mau menambahkan? Semoga Allah SWT senantiasa membimbing kita, untuk menjadi orang tua terbaik bagi anak-anak, ya... Aamiin aamiin Yaa Rabbal 'Aalamiin.



Ditulis dengan Cinta, Mama

 

 

Sumber referensi:

- https://www.voa-islam.com/read/muslimah/2019/10/25/68019/dampingi-anak-pada-masa-pubertas/ 

- https://al-ibar.net/keluarga/198/persiapan-orang-tua-muslim-menghadapi-masa-pubertas-anak

Read More

Contoh Surat Izin Tidak Masuk Sekolah karena Sakit

Monday, August 1, 2022


Hari ini, Mas Amay tidak masuk sekolah karena sakit. Baru 2 minggu menjalani sekolah di tahun ajaran baru, dia sudah tumbang. Entah karena kelelahan, atau memang karena cuaca yang sering tidak bersahabat; udara di pagi hari terasa dingin, namun matahari bersinar dengan teriknya kala siang. Yang jelas, apapun penyebab sakitnya itu, saya harus membuat surat izin tidak masuk sekolah untuk diberikan pada ibu guru.

cara membuat surat izin tidak masuk sekolah

Kok masih pakai surat izin? Kenapa ngga WA saja?

Ya, ini adalah aturan yang dibuat oleh wali kelasnya Mas Amay, dan saya sangat mendukung aturan tersebut, karena meskipun "ribet" atau kurang praktis, tapi menggunakan surat izin saat tidak bisa masuk sekolah juga menunjukkan adab yang baik terhadap guru. 

Saya kadang agak gimana gitu, kalau ada orang tua murid minta izin perihal anaknya yang tidak bisa masuk ke sekolah, tapi minta izinnya di grup kelas. Pun biasanya dengan tata tulis yang disingkat-singkat. Setidaknya, kalau memang tidak bisa mengirimkan surat izin secara langsung, kirim WA-lah secara pribadi, dan gunakan bahasa yang baik dan benar.

Nah, kembali ke surat izin tidak masuk sekolah ini. Selama menjadi orang tua murid, baru sekali ini saya membuat surat izin. Jadi, tadi pagi, sambil mengingat-ingat pelajaran Bahasa Indonesia saat sekolah dulu, saya pun mempraktikkan langsung penulisan surat izin sakit ini.

Surat izin tidak masuk sekolah yang dibuat oleh orang tua untuk wali kelas / guru, adalah contoh surat pribadi yang bersifat resmi. Hal ini karena surat tersebut dibuat oleh pribadi, namun ditujukan kepada lembaga resmi, dan untuk kepentingan yang resmi pula. Untuk itu, surat izin sakit atau surat izin tidak masuk sekolah karena alasan lain tersebut, setidaknya harus memuat beberapa unsur penting, seperti:

  1. Tanggal pembuatan surat
  2. Alamat tujuan
  3. Pembuka
  4. Isi surat
  5. Penutup 
  6. Tanda tangan
  7. Nama terang

Contoh surat izin tidak masuk sekolah

Kira-kira seperti ini ya, Ma, contoh surat izin tidak masuk sekolah karena sakit. Untuk redaksinya, bisa diubah-ubah sesuai keperluan, yang penting, maksud atau isi surat tersebut bisa tersampaikan. Semoga kita diberi kesehatan selalu supaya ngga perlu lagi bikin surat izin sakit ya, Ma. Aamiin YRA. 😊


Ditulis dengan Cinta, Mama

Read More

Membuat Sabun dari Minyak Jelantah

Thursday, July 28, 2022


Mama, biasanya kalau habis goreng-goreng lauk, minyak jelantahnya diapain? Apaaa? Dibuang ke selokan? Waduh... Membuang minyak jelantah ke selokan, selain dapat menyumbat saluran pembuangan, juga dapat menyebabkan pencemaran air lho, Ma... Memang, mengurus minyak jelantah tuh agak repot. Tapiii, jangan kemudian hal tersebut dijadikan pembenaran untuk membuang minyak jelantah ke selokan ya, Ma... Nah, saya ada solusi untuk permasalahan minyak jelantah ini. Mari kita olah minyak jelantah menjadi sabun!

Membuat sabun dari minyak jelantah

What? Minyak jelantah dibikin sabun? Kan bau? 

Hihi, iyaa, awalnya saya juga berpikir seperti itu. Minyak jelantah kan bau. Saat dibuat sabun, apakah baunya masih akan kecium ya? Nah, ternyata, meski berbahan minyak jelantah, tapi sabunnya ngga berbau minyak jelantah sama sekali, lho! Itulah hebatnya. 

Omong-omong, mau tahu langkah-langkah membuat sabun dari minyak jelantah? Apakah sabun dari minyak jelantah benar-benar efektif mengangkat noda? Simak tulisan ini sampai akhir, ya...

Arisan Ilmu KEB Solo; Membuat Sabun dari Minyak Jelantah

Jadi ceritanya, saya belajar membuat sabun dari minyak jelantah itu karena KEB Solo mengadakan Arisan Ilmu dengan materi tersebut. Senang banget dong, karena terakhir kali KEB Solo mengadakan Arisan Ilmu adalah sebelum pandemi. Kebayang kan, kangennya udah kek mana?

Arisan Ilmu KEB Solo

Nah, tanggal 24 Juli kemarin, Arisan Ilmu itu berjalan dengan menghadirkan Mbak Yusi dari Boyolali. Beliau adalah orang yang sangat kreatif, karena tak hanya sering berbagi ilmu dalam pembuatan sabun berbahan minyak jelantah, tetapi juga sering mengisi kelas ecoprinting, kelas memasak, dll. Buat teman-teman yang juga ingin belajar pada beliau, silakan kunjungi instagramnya di @roemah.yusi

Cara Membuat Sabun dari Minyak Jelantah

Awalnya, saya kira proses membuat sabun dari minyak jelantah itu rumit. Ternyata, kita cuma membutuhkan 3 bahan saja, dan caranya pun sangat mudah.

Yuk, kita siapkan alat dan bahannya!

Perlengkapan yang diperlukan: 

  • Wadah plastik
  • Mixer / pengaduk berbahan plastik, kayu, atau stainless
  • Timbangan 
  • Cetakan untuk sabun (kami pakai cup puding)
  • Sarung tangan

Bahan:

  • NaOH (Natrium Hidroksida / Soda Api), takarannya: 82 gram
  • Air (sebaiknya menggunakan air mineral, ya...), takarannya: 171 gram
  • Minyak jelantah, takarannya: 500 gram

Bahan-bahan untuk membuat sabun dari minyak jelantah

Langkah:

1. Siapkan air di dalam wadah plastik, masukkan NaOH ke dalamnya. Jangan dibalik!

Kenapa tidak boleh dibalik menjadi --> NaOH dituangi air? Karena, efeknya akan berbeda. Ketika soda api diberi air, ia akan menimbulkan buih yang terasa panas. Akan berbahaya jika kulit kita terkena percikannya, karena rasanya panas dan gatal.

Jadi, siapkan airnya dahulu, lalu soda apinya dimasukkan perlahan-lahan. Jangan lupa untuk memakai sarung tangan ya, Ma, supaya lebih aman.

2. Aduk-aduk, hingga soda api terlarut dalam air. Jangan lupa untuk menggunakan alat berbahan plastik, kayu, atau stainless untuk mengaduknya, karena soda api bersifat korosif. 

Oiya, air yang dimasuki soda api akan berubah menjadi panas. Maka, diamkan terlebih dahulu selama kurang lebih 7 jam, hingga suhunya turun.

3. Setelah air (larutan NaOH) turun suhunya, masukkan air tersebut ke dalam minyak jelantah sedikit demi sedikit, lalu aduk-aduk sampai minyak jelantah berubah bentuk menjadi seperti adonan pasta. 

Mengaduknya boleh menggunakan mixer (yang tidak digunakan untuk membuat kue ya, Ma...), boleh juga diaduk dengan adukan biasa yang berbahan kayu, plastik, atau stainless. Tentu saja, waktu mengaduk yang dibutuhkan saat menggunakan mixer, akan berbeda dengan saat kita mengaduk dengan adukan biasa. Dengan mixer, hasilnya akan lebih cepat.

4. Tuang adonan ke dalam cetakan sabun.

Cara membuat sabun dari minyak jelantah

Setelah adonan dimasukkan ke dalam cetakan, lama-kelamaan adonan tersebut akan menjadi padat. Namun, sabun tidak bisa langsung kita gunakan saat itu juga. Kita masih perlu menunggu sampai 2 minggu. Di masa 2 minggu itu, kata Mbak Yusi, minyak jelantah akan melalui proses muhasabah, wkwkwk... Muhasabah dari jelantah yang penuh noda, menjadi sabun yang putih bersih dan banyak gunanya

Jadi, sabar dulu, yaaa... 

Supaya lebih jelas dan mudah dipahami, berikut saya sertakan video pembuatannya.


Apakah sabun dari minyak jelantah benar-benar efektif mengangkat noda? 

Sabun dari minyak jelantah itu beneran bisa membersihkan noda apa tidak? Atau jangan-jangan malah bikin kainnya tambah bernoda? 

Jujur, karena bahan dasarnya yang berupa minyak jelantah itu, awalnya saya juga agak ragu dan underestimate, Ma... Namun kemudian, Mbak Yusi memperlihatkan pada kami, kehebatan si sabun minyak jelantah itu. Beliau mencuci lap bekas noda oli menggunakan sabun dari minyak jelantah ini. Hasilnya? Noda olinya hilang, warna kainnya pun jadi lebih cemerlang. Masya Allah.

Seberapa efektif kerja sabun dari minyak jelantah?


Ternyata, dari jelantah yang sebelumnya (kita anggap) tidak berguna, bisa menghasilkan sesuatu yang bermanfaat untuk kita. Jadi, mulai sekarang, jangan buang minyak jelantahnya ke selokan ya, Ma. Simpan minyak jelantahnya, lalu kita recycle menjadi sabun agar bisa lebih berguna. Lumayan banget untuk mencuci kain lap di dapur, atau untuk mencuci kaos kakinya anak-anak yang tadinya berwarna putih tapi berubah jadi abu-abu, hihi... 😊


Ditulis dengan Cinta, Mama

Read More

Kesalahan Parenting yang dapat Menghancurkan Mental Anak

Wednesday, June 15, 2022

 

Kita hidup di zaman yang penuh dengan tekanan. Itulah mengapa, penting bagi orang tua untuk menumbuhkan ketahanan emosional dan mental pada anak-anak kita. Sebab, anak-anak dengan ketahanan mental yang baik, akan lebih siap menghadapi masa depan. Tak hanya dalam kehidupan sosialnya, tetapi juga dalam pendidikan maupun pekerjaan mereka nantinya. Namun, terkadang sikap kita sebagai orang tua, tanpa kita sadari justru dapat menghancurkan mental mereka.


Kesalahan Parenting yang dapat Menghancurkan Mental Anak


Ini yang juga sedang saya pelajari. 7 kesalahan orang tua yang dapat menghancurkan mental anak;

1. Mengecilkan Perasaan Anak

Anak-anak perlu mengetahui bahwa mengekspresikan dan mengungkapkan perasaan mereka adalah sesuatu yang baik. Bahkan berpengaruh baik pada kesehatan fisik dan mental. Kesalahan para orang tua adalah seringkali kita mengatakan pada mereka hal-hal seperti, "Gitu aja nangis. Cengeng!" atau "Udah, jangan nangis lagi!"

2. Selalu Menyelamatkan Mereka dari Kegagalan

Mama Kepiting paham, kegagalan itu menyedihkan. Mama juga pasti pernah mengalami itu, dan tak ingin anak-anak merasakan perasaan seperti itu juga.

Namun, Mama harus ingat bahwa kegagalan adalah bagian besar dari kesuksesan. Jika anak-anak tidak pernah diberi kesempatan untuk merasakan kegagalan, mereka tidak akan pernah belajar dan mengembangkan ketekunan yang mereka butuhkan untuk bangkit kembali setelah mengalami kemunduran.

3. Memanjakan Anak-anak Secara Berlebihan

Pernah ngga mendengar orang tua yang mengatakan, "Kita cari uang untuk siapa sih kalau bukan untuk anak-anak?" 

Statement itu memang tidak salah. Namun, kurang bijak apabila setiap permintaan anak selalu kita penuhi, tanpa ia harus berjuang terlebih dahulu.

Saya jadi ingat keluarga Indra Brasco dan Mona Ratuliu. Putri sulung mereka, setiap punya keinginan untuk membeli barang, selalu mengajukan proposal pada orang tuanya. Ini menunjukkan bahwa Indra Brasco dan sang istri tidak pernah begitu saja mengabulkan permintaan sang anak.

Kok kesannya kejam ya?

Oh, tidak... Justru dengan cara ini, anak-anak belajar mengendalikan diri. Anak-anak juga belajar bahwa untuk mendapatkan sesuatu, harus ada perjuangannya terlebih dulu. Ini membuat mereka lebih menghargai apa yang mereka miliki. 

4. Terlalu Menuntut Kesempurnaan

Wajar kok apabila kita menginginkan anak-anak kita bisa menjadi yang terbaik dalam segala hal. Namun, menetapkan standar yang terlalu tinggi bisa mempengaruhi kepercayaan diri anak di kemudian hari.

Baca: Dear Mama, Apakah Ketidaksempurnaan adalah Dosa?

Lalu, bagaimana cara yang baik untuk memotivasi anak agar ia tetap semangat dalam berjuang tanpa harus merasa tertekan?

Bangun kekuatan mentalnya dengan menetapkan ekspektasi yang realistis. Dan jika misalnya ia gagal, kegagalan itu bisa menjadi pelajaran hidup yang berharga baginya, bahkan dapat dijadikan pedoman dalam menghadapi tantangan berikutnya.

5. Selalu Membuat Mereka Merasa Nyaman

Ada banyak hal yang mungkin akan membuat anak-anak kita merasa tidak nyaman. Seperti misalnya saat mereka berada di lingkungan baru, sekolah baru, bertemu teman baru, mencoba makanan baru, dan lain-lain.

Saat anak merasakan ketidaknyamanan, temani ia, tanpa harus menyingkirkan ketidaknyamanan itu. Mengapa? Karena perasaan tidak nyaman itu, apabila dapat diatasi dengan baik, justru dapat menguatkan mental loh!

Untuk itu, dorong anak-anak kita untuk berani mencoba hal baru. Bantu mereka saat memulai, karena ini adalah bagian tersulit. 

Ingat-ingat kata fourtwnty, "Keluarlah dari zona nyaman." 😁

6. Tidak Menetapkan Batasan Antara Orang Tua dan Anak

Betul bahwa anak-anak mesti diberi kepercayaan dan dilatih untuk membuat keputusan sendiri. Namun, mereka juga perlu tahu bahwa orang tua adalah "Bos". Jadi, anak-anak tetap harus mematuhi aturan yang dibuat di dalam keluarga.

Baca: Ternyata Begini Rasanya Mengasuh Anak Pra-Remaja

Anak-anak yang bermental kuat terlahir dari orang tua yang memahami pentingnya batasan dan konsistensi. Orang tua yang terlalu mudah menyerah dengan rengekan anak-anak dan membiarkan aturan dinegosiasikan terlalu sering, dapat menyebabkan orang tua kehilangan "power". Akibatnya, anak-anak akan menjalani hidup semau sendiri, dan ketika mereka berada di lingkungan yang mengharuskan untuk patuh, mereka akan sulit untuk survive.

7. Tidak Melatih untuk Menjaga Diri Sendiri

Kesadaran untuk menjaga kesehatan diri baik fisik maupun mental sebaiknya dibiasakan sejak dini, agar anak-anak bisa survive dalam menjalani kehidupan di masa yang akan datang, baik saat orang tua ada di dekat mereka, maupun saat orang tuanya jauh dari pandangan.

Disadari atau tidak, bagaimana gaya hidup kita sebagai orang tua biasanya akan diikuti oleh anak-anak kita. Gaya hidup ini termasuk bagaimana kita memilih makanan yang sehat, bagaimana kita menjalani aktivitas sehari-hari, hingga bagaimana kita mengatasi tekanan dan memulihkan diri saat mengalami hal-hal yang melelahkan secara fisik dan psikis. 

Maka sebenarnya penting juga memberitahu anak-anak bagaimana kondisi kita. Saat sedang lelah atau stres karena pekerjaan, jangan ragu untuk mengatakan pada mereka, "Hari ini Mama / Papa agak lelah karena banyak pekerjaan yang harus diselesaikan. Mama / Papa mau istirahat dulu, yaa.."

Kelak ketika anak-anak besar dan mengalami hal serupa, ia bisa mengatasi kelelahan itu dengan cara yang diajarkan orang tuanya.


Sikap parenting yang dapat menghancurkan mental anak


Itulah 7 kesalahan parenting yang dapat menghancurkan mental anak. Mari kita berbenah sama-sama, Ma, agar kekuatan mental anak-anak kita tetap terjaga. ☺️



Ditulis dengan Cinta, Mama

Read More

Ternyata Begini Rasanya Mengasuh Anak Pra-Remaja

Monday, February 14, 2022


Akhirnya, kami harus mengucapkan kepada diri kami sendiri; Selamat datang ke dunia Parent-Teen! Selama ini kami hanya mendengar dari sana-sini bahwa mengasuh remaja itu penuh dengan tantangan. Banyak drama. Dan kini kami merasakannya juga. Pfft.

Tantangan mengasuh anak pra-remaja

Saat ini Mas Amay berumur 10 menuju 11 tahun. Usia ini digolongkan ke dalam usia pra-remaja, yakni peralihan dari masa anak-anak menuju tahapan sebelum dewasa. Di usia ini, banyak perubahan yang terjadi baik secara fisik maupun psikis, karena pengaruh hormon.

Secara fisik, perubahan itu bisa terlihat dari perubahan bentuk tubuh, suara, dll. Nah, yang biasanya menimbulkan konflik antara orang tua dan anak adalah karena perubahan pada psikis.

Kenapa?

Karena di usia ini, orang tua masih menganggap bahwa anaknya masih kecil, belum bisa membuat keputusan, dan masih harus diarahkan. Sementara itu, sang anak merasa bahwa ia bukan anak kecil lagi, ia merasa berhak membuat keputusan sendiri, dan juga ingin diakui sebagai orang dewasa.

Jujur, bagian ini lumayan bikin nyesek, Ma... Meski sedikit-sedikit sudah paham kisi-kisinya, tapi saat harus "praktik", nyatanya ini bikin kami shock juga.

Sebenarnya sudah sejak tahun lalu Mas Amay menunjukkan beberapa perubahan. Ia sering mengatakan, "Mas Amay kan bukan anak kecil lagi." 

Lain waktu dia bertanya, "Kapan ya suaranya Mas Amay berubah? Mas Amay males dianggap bocil terus gara-gara suara Mas Amay kecil."

Well, peer pressure is real. Padahal teman-temannya juga banyak yang suaranya belum berubah lho... Atau jangan-jangan di circle pertemanan Mas Amay, goals mereka saat ini adalah punya suara yang lebih berat?

Yang membuat Mama Kepiting akhirnya terpikir untuk menulis ini adalah, karena di tahun 2022 yang baru memasuki bulan Februari ini, Mas Amay sudah "marah-marah" sebanyak dua kali. Marahnya ini sambil menangis dan teriak-teriak.

Usia Pra-Remaja Itu, Emosinya Sangat Labil, Mood-nya Bisa Berubah Sangat Cepat

Tanda-tanda anak memasuki usia pra-remaja

Kejadian pertama adalah di bulan Januari. Saat itu kucing betina kami sedang di masa birahi. Jujur ini adalah pengalaman pertama bagi kami, karena kucing kami yang dulu berjenis kelamin jantan.

Baca: Akhirnya Mayo Jumpa Betina

Karena merupakan pengalaman perdana, kami jadi mudah panik. Suami jadi stres karena ada 3 kucing jantan yang bergantian datang ke rumah. Udah gitu ngga cuma ngawinin kucing kami, tapi kucing-kucing itu juga numpang makan dan pup. Sebel kan? 

Nah, di hari ketiga birahi, suami sudah sangat lelah. Ditambah lagi beliau WFH dan ada banyak deadline yang harus selesai sebelum kami ke Jogja untuk menghadiri acara keluarga. Mendengar kucing jantan udah meang-meong di depan memanggil kucing kami, suami langsung mengusirnya. 

Mas Amay salah tangkap. Ia mengira, papanya marah pada kucing kami. Mulai deh itu drama.

"Papa nggak punya hati!" teriaknya sambil menangis. "Kalau Papa menyakiti Mayo (kucing betina ini juga kami beri nama Mayo), sama aja Papa menyakiti Mas Amay!"

"Lho, siapa yang menyakiti?" Papanya bingung dong...

Rupanya telah terjadi kesalahpahaman. Susah memang berhadapan sama orang yang lagi bucin-bucinnya sama sesuatu, termasuk kucing. Alhamdulillah, kesalahpahaman itu terurai setelah perdebatan diskusi yang cukup lama. Nyaris 1,5 jam lho. Fyuuuh...

Di Usia Pra-Remaja, Keinginan untuk Memberontak dan Menolak Aturan Mulai Muncul


beberapa perubahan perilaku pada anak usia pra-remaja


Kesalahpahaman kedua, terjadi dua minggu lalu. Ba'da ashar, Mas Amay berniat mengerjakan PR-nya. Posisi saya saat itu sedang menemani Adek Aga mengerjakan tugasnya juga. Saat mengerjakan PR itu, Mas Amay bolak-balik bertanya, jawabannya apa. 

Berkaca dari pengalaman hari sebelumnya, yaitu ketika Mas Amay keliru menjawab soal Bahasa Indonesia karena tidak teliti membaca teks, saya pun berkata, "Coba dibaca yang teliti. Pasti ada jawabannya di teks."

Amay menjawab, "Nggak ada lho, Ma, Mas Amay udah baca berkali-kali."

"Kalau Mama baca dan ketemu jawabannya, gimana? Mas Amay kebiasaan kok, suka buru-buru bacanya." kata saya. "Mama sedih lho, karena minat baca Mas Amay menurun banget dibanding waktu kecil dulu.

Saya ngomong seperti itu ke Mas Amay, lalu kembali fokus ke Adek Aga. 

Tiba-tiba, hening. Mas Amay pun mulai menangis.

"Mas Amay nangis?" tanya saya. 

"Mama itu udah melukai Mas Amay. Mas Amay kan udah bilang, ini jawabannya tuh nggak ada. Mas Amay udah bilang berkali-kali tapi Mama nggak percaya, malah membanding-bandingkan Mas Amay sama Mas Amay yang dulu."

Waduh, kok jadi begini, pikir saya. 

Saya langsung melihat ke buku tugasnya Mas Amay. Ternyata ia benar, jawabannya memang tidak ada di teks. Saya pun mengaku bersalah dan tak ragu minta maaf padanya. Tapi Mas Amay terlanjur terluka.

Dia mengeluarkan semua keluh kesahnya tentang kami. Pertama, kami dianggap terlalu cepat menghakiminya. Dia pun tidak suka dibanding-bandingkan, meskipun itu dengan dirinya sendiri di masa lalu. Lama-lama, keluh kesahnya jadi beraneka warna, membuat kami bercermin, sudah jadi orang tua seperti apa kami selama ini. Meski memang, untuk beberapa hal, kami punya alasan tertentu dan saat itu pula kami langsung memberikan penjelasan padanya.

Contohnya ketika Mas Amay protes, kenapa kok kita harus sering pergi-pergi? Mas Amay lebih suka di rumah. (Ini tentang perjalanan bulan lalu saat kami menghadiri pernikahan salah satu anggota keluarga di Jogja sana. Rupanya dia nggak suka diajak ke acara seperti itu)

Tentu kami harus menjelaskan bahwa tidak ada pilihan lain lagi. Ketika kami harus ke Jogja, otomatis Mas Amay harus ikut, karena nggak mungkin kan kami meninggalkannya sendiri di Solo?

Protesnya semakin panjang. Katanya, kenapa kalau ada tamu, Mas Amay harus stand by nemenin di luar (ruang keluarga yang sekaligus jadi ruang tamu), dan nggak boleh diam di kamar? Kami pun menjelaskan, jika tamunya merupakan orang dekat (sepupu misalnya, atau teman yang anaknya seumuran dengan Mas Amay), tentu akan lebih sopan kalau Mas Amay ikut membaur. Meski begitu, sekarang kami memberi keleluasaan untuknya. Setelah ramah tamah (salim / jabat tangan), kalau Mas Amay kurang nyaman dan ingin masuk kamar, kami tidak akan melarang. Deal.

Papanya pun menambahkan. "Papa sekarang sudah paham, kayaknya Mas Amay termasuk anak yang introvert, karena Mas Amay lebih nyaman ketika sendirian. Tapi Mas Amay tau nggak? Yang introvert bukan cuma Mas Amay lho. Papa sama Mama juga. Cuma, meski kita lebih senang sendirian, kita nggak boleh lupa untuk bersosialisasi. Dan pesan Papa, meskipun Mas Amay introvert, Mas Amay harus tetap punya attitude yang baik, ngga boleh semaunya sendiri."

*

Beuh, panjang banget ya, Ma...

Sebenarnya masih ada banyak bahasan lain, tapi nanti jadi panjang banget tulisannya. Wkwkwk... 

Nah, setelah kejadian kedua itu, saya dan suami pun terlibat obrolan yang cukup dalam. Betapa Mas Amay saat ini sudah bukan anak kecil yang polos seperti dulu lagi. Pola pikirnya pelan-pelan berubah, pun dengan gaya bicara dan perilakunya. Maka kami pun harus mulai belajar untuk menjadi orang tua yang baik bagi sulung kami ini.

Sejak itu, saya mulai membaca beberapa literatur tentang karakter anak usia pra-remaja dan bagaimana cara terbaik untuk menyikapinya sebagai orang tua.

Ternyata benar, seorang anak yang telah memasuki usia pra-remaja, akan menunjukkan beberapa perubahan perilaku, seperti:

  1. Emosi yang sangat labil
  2. Perubahan mood yang sangat cepat
  3. Mulai menarik diri
  4. Interaksi dengan orang tua mulai berkurang
  5. Munculnya keinginan untuk memberontak
  6. Mulai mencoba keluar dari batasan-batasan yang selama ini ditetapkan orang tua 

 

Ciri-ciri anak usia pra-remaja

Memang perubahan-perubahan ini cukup bikin gemes, Ma... Tapi kita kan ngga boleh jadi orang tua yang otoriter, karena khawatirnya, anak malah akan tumbuh jadi seorang yang pendendam dan berhati dingin. 

Lalu, apa saja yang sebaiknya dilakukan para orang tua ketika anaknya memasuki usia pra-remaja dan menunjukkan beberapa perubahan perilaku seperti di atas?

1. Jangan merasa tersisih

Perubahan seperti ini tuh wajar, dan nggak hanya terjadi pada anak kita doang, Ma... Jadi, ketika anak memiliki "dunia baru" yang mereka anggap lebih seru dan lebih penting dibanding keberadaan orang tuanya, jangan sedih dulu. Jangan merasa tersisih, dan tetap jalin komunikasi yang baik dengan anak-anak. Kelak mereka akan sadar dengan sendirinya bahwa keluarga adalah segalanya. Memang ia sedang di masa seperti ini, jadi pantau dari jauh aja. 😊

2. Luangkan waktu khusus untuknya

Walaupun anak kita sudah semakin besar dan terlihat tidak membutuhkan kita lagi, tapi penting untuk tetap meluangkan waktu bersama, Ma... Saat-saat berkumpul bersama adalah sesuatu yang akan mereka kenang hingga nanti. 

3. Dengarkan dan hargai pendapatnya

Kemarin ketika Mas Amay mengungkapkan ketidaknyamanannya saat pergi-pergi dan saat ada tamu, kami berdua mempraktikkan ini. Kami mendengarkan dan menghargai pendapatnya, tetapi sambil menyisipkan nilai-nilai yang kami pegang. 

4. Beri ia lebih banyak kebebasan

Kita semua membutuhkan waktu untuk diri sendiri. Anak-anak pun sama. Ia memiliki hak untuk tidak memberi tahu orang tua, segala sesuatu tentang kehidupannya. Kesannya kok jadi nggak terbuka sama orang tua ya? Iya memang, tapi, kita harus belajar untuk menghargai privasi anak. Kalau masih susah, inget-inget lagi, Ma, dulu waktu kita remaja juga seperti itu, kan?

5. Jangan terlalu menghakimi

Jangan buru-buru menghakimi atau mengkritik perilaku anak, karena alih-alih akan paham, anak justru akan semakin memberontak.

6. Jangan bereaksi berlebihan

Jujur, poin 5 dan 6 ini sering luput saya lakukan. Saya masih harus belajar untuk tenang dan tidak overreact pada apapun.

7. Beri ia kepercayaan untuk membuat keputusan

Memang sulit untuk mulai memberi kepercayaan pada anak ya, Ma... Rasanya pengen banget untuk kasih saran ini anu ono. Namun, jika sebelumnya sudah terjalin komunikasi yang baik antara orang tua dan anak, jalan tengah akan lebih mudah didapat. Kita boleh kok memberikan alternatif solusi, dan selebihnya, biarkan anak memutuskan sendiri jalan yang akan dipilih. Yang pasti, ingatkan ia untuk bertanggung jawab atas pilihan yang ia ambil.

8. Tanamkan ajaran agama pada anak

Poin terakhir, tapi sejatinya merupakan yang pertama dan yang utama, yaitu penanaman nilai-nilai agama. Ketika nilai-nilai agama sudah melekat dalam keseharian anak, insya Allah segala sesuatunya akan lebih mudah. Namun tentu, jika kita menginginkan anak yang baik, maka kita pun harus bisa menjadi teladan yang baik pula.

Tips menghadapi anak usia pra-remaja

Menjadi orang tua memang tidak selalu mudah ya, Ma... Namun, konflik dengan anak usia pra-remaja juga tidak selalu menjadi hal yang buruk kok. Justru di sinilah awal mula anak kita belajar untuk lebih mandiri, mengemukakan pendapat, mempertahankan pendirian, hingga mencari jati diri. Dan yang anak-anak butuhkan di masa ini  bukanlah perlawanan, melainkan pendampingan. Bismillah, semoga kita selalu dibimbing-Nya ya, Ma... ☺️


Ditulis dengan Cinta, Mama

Read More

Lirik Lagu Sayonara no Natsu OST From Up On Poppy Hill

Sunday, January 16, 2022


Assalamu'alaikum... Omong-omong, pernahkah Mama menonton film-film animasi dari Ghibli bersama anak-anak? Biasanya, yang sering ditonton adalah My Neighbor Totoro, Ponyo, Spirited Away, Secret World of Arrietty, From Up on Poppy Hill, dan yang paling bikin mata sembab, Grave of the Fireflies.

Nah, dalam sebuah film, kurang lengkap rasanya jika tak ada sound track atau musik pengiringnya. Keberadaan sound track turut melengkapi emosi dan suasana yang dibangun dalam sebuah alur cerita.

Salah satu sound track film animasi Ghibli yang menjadi favorit Mama Kepiting adalah sebuah lagu berjudul Sayonara no Natsu. Lagu ini merupakan OST dari film From Up on Poppy Hill. Lagu ini lembut banget, nyaman di telinga, easy listening. Sayonara no Natsu sendiri kurang lebih berarti "Selamat tinggal musim panas".

Lirik lagu Sayonara no Natsu

Coba cari di YouTube, lalu dengarkan... Nah, lirik lagu Sayonara no Natsu kurang lebih seperti ini:

Sayonara no Natsu

I

Hikaru umi ni, kasumu funewha
Sayonara no kiteki, nokoshimasu
Yurui saka o, orite yukeba
Natsu iro no kaze ni, aeru kashira

    Watashi no ai, sore wa merodi
    Takaku hikuku utau no
    Watashi no ai, sore wa kamome
    Takaku hikuku tobu no

Yuuhi no naka, yonde mitara
Yasashii anata ni, aeru kashira

II

Dare ka ga hiku, piano no oto
Uminari mitai ni kikoemasu
Osoi gogo o, yuki kau hito
Natsu iro no yume o, hakobu kashira

    Watashi no ai, sore wa daiari
    Hibi no, peji tsuzuru no
    Watashi no ai, sore wa kobune
    Sora no umi o yuku no

Yuuhi no naka, furikaereba
Anata wa watashi o, sagasu kashira

III

Sanpomichi ni, yureru kigi wa
Sayonara no kage o, otoshimasu
Furui chaperu, kazami no tori
Natsu iro no machi wa, mieru kashira

    Kinou no ai, sore wa namida
    Yagate, kawaki kieru no
    Ashita no ai, sore wa rufuran
    Owari no nai kotoba

Yuuhi no naka, meguriaeba
Anata wa watashi o, daku kashira

Lirik lagu Sayonara no Natsu

Ditulis dengan Cinta, Mama


Read More

Tahun Baru dan Kebiasaan Baru

Monday, January 10, 2022

Tahun 2021 baru saja pergi. Kini 2022 datang untuk kita isi. Setelah merenungi apa yang telah dilalui tahun kemarin, Mama merasa tahun 2022 ini ada banyak hal yang perlu diperbaiki. Meski sebaiknya kita memperbaiki diri setiap hari, tetapi momen tahun baru biasanya jadi waktu yang tepat untuk membuat serangkaian evaluasi. Seperti kali ini, mungkin ini bisa disebut juga sebagai resolusi.

Tahun lalu, Mama ngga bikin resolusi apa-apa karena ingin semua berjalan seperti apa adanya. Namun, Mama malah menjalani semua semaunya. Iya sih, Mama jadi ngga punya beban, tapi hidup jadi kayak ngga ada tantangan. Padahal, kita butuh tantangan agar terjadi perubahan dalam kualitas kehidupan.

Salah satu yang Mama sesali adalah waktu mengaji bersama-sama banyak berkurang dibanding tahun sebelumnya. Padahal, Papa sempat membuat sketsa seperti ini di tahun 2020.

Sketsa Tadarus
Jadi, istrinya lagi ngajari anaknya ngaji, suaminya malah nggambar. 😂

Sungguh, Mama merindukan momen seperti ini lagi. Kenikmatan mengaji bersama anak-anak memang tidak bisa diungkapkan. Mama juga merasa jadi ibu yang berguna, karena bisa menghabiskan waktu bersama mereka dengan cara berkualitas.

Maka dari itu, memulai tahun baru 2022 ini, Mama kembali mendisiplinkan diri lagi. Ba'da maghrib, tak ada lagi yang sibuk dengan handphone. Kami mengaji, muroja'ah hafalan, kemudian membaca buku.

foto mengaji
Adek Aga membaca Al-Qur'an


Selanjutnya, kami menulis kegiatan apa saja yang kami lakukan di hari itu. Terus terang, inspirasinya saya dapat dari Mak Helenamantra yang rajin menulis jurnal syukur setiap harinya.

Nah, catatan hariannya kurang lebih seperti ini. Ini adalah catatan hariannya Adek Aga. Belum banyak yang dia tulis, karena anaknya masih kelas 1 SD. Kalau kebanyakan nulis, dia suka mengeluh capek. 😂

Tapi dengan menulis seperti ini, sebaris - dua baris, dia jadi berlatih untuk mengungkapkan idenya.

catatan kegiatan harian anak

Sulit ngga sih mendisiplinkan anak-anak agar mau sholat dan mengaji setiap hari? 

Bohong kalau saya bilang gampang. Kita yang sudah dewasa saja pasti tau sulitnya istiqomah. Namun, alhamdulillah, saya dimudahkan dengan program penanaman karakter dari sekolah.

Jadi, di sekolah disediakan buku seperti ini. Ini wajib diisi setiap hari dan setiap akhir pekan, wali kelas akan memberikan evaluasi. 


kegiatan harian anak

Sekarang, setiap waktu sholat, saya tinggal mengingatkan anak-anak, "Sholat, yuk, trus nanti kita centang bukunya."

Selesai sholat maghrib pun begitu. "Habis sholat kita ngaji bareng lagi, yaa.. Setelah itu muroja'ah, baca buku, trus menulis deh."

Alhamdulillah, seminggu ini, anak-anak sudah terbiasa dengan kegiatan barunya. Tinggal mamanya nih, bisa tetap terjaga semangatnya untuk mendampingi mereka atau tidak. Semoga kebiasaan ini ngga hanya hangat-hangat tahi ayam alias bersifat sementara dan mudah berubah, yaa... Aamiin... Nah, Mama, punya kebiasaan baru apa di tahun ini?

 

 

Ditulis dengan Cinta, Mama

Read More

Materi Hijaiyyah Semester 1 Kelas 1 SD Muhammadiyah

Wednesday, November 24, 2021


Hai, Ma... Sebentar lagi anak-anak akan menempuh PAS (Penilaian Akhir Semester). Sebagai Mama yang bertanggung jawab (uhuk..) Mama pun mulai mempersiapkan diri. Seperti biasa, Mama membuatkan rangkuman materi untuk memudahkan saat belajar. Hmm, jangan julid dengan mengatakan seperti ini, yaa: masa yang tes anaknya, yang repot emaknya. Hehe... 

Kita sebagai orang tua tentu paling paham karakter anak-anak kita, dan kita tentu ingin mengusahakan yang terbaik untuk mereka, bukan? Toh ngga ada salahnya belajar sama-sama. Dan yang tak boleh dilupa, kita harus senantiasa mengajarkan pada anak-anak untuk ikhtiar dulu, kemudian bertawakkal. Jadi bukan pasrah doang. Nah, membuat rangkuman seperti ini adalah bentuk ikhtiar Mama Kepiting untuk Mas Amay dan Dek Aga. 😊

Aiiih, ngelanturnya panjang. Kita langsung ke rangkuman materi Hijaiyyah saja yuk... 

Untuk anak-anak yang sekolah di SD Muhammadiyah, mungkin materinya sama, yaa... Di kelas 1 ini, anak-anak diajak untuk mengenal huruf Hijaiyyah. Ternyata agak sulit ya mengajarkan anak untuk recognizing / mengenali huruf hijaiyyah, karena mereka sudah terbiasa belajar membaca Al-Qur'an dengan metode iqro', yang mana huruf yang dibaca sudah berharakat.

Tapiii, kita ngga boleh menyerah ya, Ma... Karena ini ilmu dasar, sebelum kita menyelami Al-Quran lebih dalam.

Baca juga: Bacaan Gharib: Saktah, Tashil, Imalah, Isymam, dan Naql

BEBERAPA HURUF HIJAIYYAH DAN CIRI-CIRINYA

Nah, supaya anak-anak bisa lebih mudah dalam mempelajari huruf hijaiyyah, kita bisa mengenalkan huruf hijaiyah melalui bentuk dan ciri-cirinya.

Ciri-ciri huruf hijaiyah
ciri-ciri huruf alif, ba, ta, tsa

Alif : Huruf hijaiyyah yang bentuknya seperti angka satu / seperti tonggak / seperti jari telunjuk.

Ba : Huruf hijaiyyah yang bentuknya seperti gambar piring dengan 1 bakso menggelinding di bawahnya. 

Ta : Huruf hijaiyyah yang bentuknya seperti gambar piring dengan 2 bakso di atasnya. Huruf ta bisa juga dianalogikan seperti bulan sabit dengan 2 bintang di atasnya. Eh iya, bentuk huruf ta juga mirip dengan bentuk kancing baju lho. 😊

Tsa : Huruf hijaiyyah yang bentuknya seperti gambar piring dengan 3 bakso di atasnya. Atau, seperti bulan sabit dengan 3 bintang di atasnya.

mengenali huruf hijaiyah dari ciri-cirinya
ciri-ciri huruf jim, ha, dan kho

Jim, Ha, Kho : Huruf hijaiyyah yang berbentuk seperti angka 2 yang terbalik. Jika dilihat-lihat, huruf jim, ha dan kho juga menyerupai bentuk paruh bebek.

Nah, nanti Mama tinggal menjelaskan lagi bahwa "jim" memiliki titik di bagian bawah. "Kho" memiliki titik di bagian atas, sedangkan "ha" tidak memiliki titik.

ciri-ciri huruf dal dan dzal
mengenal huruf dal dan dzal dalam hijaiyah

huruf hijaiyah yang bentuknya seperti pisang
huruf ro dan zay, berbentuk seperti pisang

Dal, Dzal : Huruf hijaiyyah yang bentuknya seperti senjata boomerang 

Ro dan Zay : Huruf  hijaiyah yang bentuknya seperti pisang

'Ain, Ghoin : Huruf hijaiyyah yang bentuknya seperti setengah angka 8

Seperti huruf-huruf lainnya, huruf kembar ini juga dibedakan berdasarkan ada / tidaknya titik.

huruf hijaiyah yang bentuknya seperti separuh angka 8
ciri-ciri huruf 'ain dan ghoin

Lam : Huruf hijaiyyah yang bentuknya menyerupai mata pancing

Ha : Huruf hijaiyyah yang bentuknya seperti siput

Ya' : Huruf hijaiyyah yang bentuknya seperti angsa

huruf hijaiyah yang seperti mata pancing
huruf hijaiyah yang bentuknya seperti mata pancing dan siput


mengenal huruf hijaiyah dengan mudah
huruf ya' berbentuk seperti angsa


Nah, jika huruf hijaiyah dipetakan berdasarkan ciri-ciri bentuknya seperti ini, insya Allah anak-anak akan lebih mudah mengingatnya. 😊

Sekarang, mari kita belajar hal lainnya.

HARAKAT / TANDA BACA DALAM AL-QURAN

Tanda baca dalam Al-Quran dinamakan harakat. Harakat ini ada beberapa macam, yaitu;

1. Fathah, berupa garis miring di atas, fungsinya adalah untuk menciptakan bunyi "a" pada suatu huruf.

2. Kasrah, berupa garis miring di bawah, fungsinya adalah untuk menciptakan bunyi "i" pada suatu huruf.

3. Dhommah, bentuknya seperti wawu kecil di atas. Fungsinya adalah untuk menciptakan bunyi "u" pada suatu huruf. 

Sebenarnya masih ada harakat lain seperti fathatain, kasratain, dan dhommatain yang menghasilkan bunyi an, in, dan un. Namun, kita akan mempelajarinya di semester depan, yaa... Nanti juga akan ada sukun dan tasydid. Nah, di semester 1 ini, belajarnya sampai di harakat dhommah dulu. Lain waktu kita sambung lagi belajarnya, insya Allah. Terus semangat belajar ya, supaya bisa jadi anak yang pintar. 😊


Ditulis dengan Cinta, Mama

 

 

Read More

Ide Kado untuk Bayi Baru Lahir

Saturday, November 6, 2021

Halo, Ma... Beberapa waktu lalu, keponakan baru saya lahir ke dunia. Alhamdulillah, kami sempat menjenguk bayi perempuan yang mungil dan lucu itu meski hanya sebentar. Nah, meski sudah bolak-balik menjenguk bayi dan mencari kado untuk bayi, tapi saya masih sering bingung juga, ngasih kado apa ya bagusnya? Padahal banyak lho barang-barang yang bisa dijadikan pilihan kado untuk bayi, tapi tetap saja ketika tiba saatnya mencari kado untuk bayi, saya masih bingung lagi, bingung lagi. Hihi...

Supaya tidak bingung lagi, akhirnya saya keidean untuk membuat daftar ide kado untuk bayi di sini. Jadi, kalau nanti ada tetangga atau saudara yang melahirkan, saya tinggal buka contekan dan menyesuaikan dengan anggaran yang ada. Btw, saya memang suka sekali membuat daftar kado seperti ini. Misalnya, ketika ada tetangga yang pindahan rumah, saya juga membuat daftar kenang-kenangan untuk tetangga yang pindah rumah. Tujuannya adalah agar tidak bingung lagi ketika ada momen yang sama kembali terulang.

Untuk Mama yang ingin baca, silakan klik artikelnya di: Ide Kenang-kenangan untuk Tetangga yang Pindah Rumah

Lalu, apa saja inspirasi kado untuk bayi versi saya?

1. Baju

Ini paling mudah sih. Di e-commerce ada banyak sekali pilihan baju bayi untuk kado yang lucu-lucu. Mama bisa pilih pakaian bayi dalam bentuk satuan atau satu set sekalian. Contohnya seperti ini:

inspirasi kado untuk bayi
baju bayi lucu, sumber: Alibaba

inspirasi kado untuk bayi baru lahir
hampers set baju bayi lucu, sumber: AliExpress

Meski banyak yang lucu, tapi Mama harus perhatikan juga apakah pakaian bayi yang Mama pilihkan akan membuat bayi tetap nyaman atau sebaliknya. Mama bisa baca artikel di bawah ini, untuk mengetahui kriteria baju yang nyaman untuk bayi.

Baca: Pakaian Bayi; Apa Saja yang Mereka Butuhkan dan Bagaimana Memilihnya?

Oya, pakaian bayinya juga bisa ditambahi dengan kaos dalam bayi atau celana dalam bayi, Ma... Pasti lebih sip. 😊

2. Paket Perawatan Bayi

Saat ini tersedia banyak sekali baby spa gift box dari berbagai macam merek. Mama pilih lah merek favorit Mama. Memberi kado paket perawatan bayi seperti ini insya Allah bermanfaat banget karena pasti terpakai. 😊

ide kado untuk bayi baru lahir
baby spa gift box untuk kado bayi baru lahir, sumber foto: Shopee

3. Handuk Bayi

Handuk adalah benda yang paling sering saya pilih untuk kado bayi. Ini karena belajar dari pengalaman pribadi sih. Waktu anak-anak masih bayi dulu, saya sering kehabisan handuk karena sering terkena ompol. Biasanya setelah mandi bayi memang sering mengompol ya, Ma... Mungkin karena dingin, yaa... Maka dari itu, ibu harus punya persediaan handuk untuk bayi. Insya Allah dengan memberi kado berupa handuk, bisa bermanfaat juga untuk gonta-ganti.

Jangan lupa, pilih handuk yang lembut ya, Ma... 

handuk bayi lembut untuk kado
handuk bayi lembut untuk kado, sumber foto: Shopee

handuk selimut bayi untuk kado
handuk poncho bayi, sumber foto: AliExpress

4. Diaper Bag

Saat ini sudah banyak diaper bag dengan model yang keren-keren, Ma... Bahkan, modelnya pun cakep juga untuk dipakai jalan-jalan ke mall. Kalau Mama hadiahkan diaper bag seperti foto di bawah ini untuk sahabat atau saudara yang baru melahirkan, pasti mereka bahagia. Trus, imunnya naik deh. Wah, dobel-dobel pahalanya insya Allah. 😊

Diaper Bag model terbaru
Diaper Bag model terbaru, sumber foto: Babyzania.com

5. Gendongan Bayi

Terus terang, saya ngga terlalu update dengan berbagai jenis gendongan yang ada sekarang. Saya taunya cuma gendongan kain / jarik dan gendongan kangguru. 😂

Tapi ada dua sahabat saya yang update banget soal baby carrier, yaitu Mbak Widut dan Mbak Ran. Dari mereka juga saya sedikit-sedikit tau kalau sekarang ada model gendongan berupa baby wrap, hipseat, SSC, dan entah apa lagi. Kayaknya penting juga untuk cari tau soal ini nanti, hehe...

Nah, gendongan bayi juga bisa jadi salah satu ide kado untuk bayi kan?

Baby Wrap untuk kado bayi
Ide Kado untuk Bayi: Hanaroo Baby Wrap. Sumber foto: Tokopedia

 
Carrier Baby
Hipseat Carrier by Mooimom

Kelihatannya nyaman banget ya pakai gendongan di atas. Dan sepertinya ngga ada cerita punggung dan pundak terasa pegal meski menggendong seharian.

6. Bouncer

Baby bouncer saat ini menjadi benda yang jamak dijadikan kado untuk bayi baru lahir. Fungsinya adalah untuk menimang bayi, sehingga diharapkan bayi merasa nyaman dan lebih mudah tertidur. 

Memberi kado berupa bouncer bayi adalah ide yang cukup bagus, Ma... Selain memang sangat bermanfaat, baby bouncer juga lebih awet jika dibandingkan dengan memberi baju, yaa, karena bouncer seperti ini bisa dipakai dalam jangka waktu yang lama. Berbeda dengan baju bayi, yang biasanya cepat sesak karena pertumbuhan bayi terbilang cepat.

Bouncer Bayi untuk Kado
Baby Bouncer untuk kado, sumber foto: freeonbaby.com

7. Stroller

Biasanya... Biasanya, yaaa... Stroller bayi dijadikan kado menjenguk bayi dengan cara patungan dengan rekan-rekan yang lain. Hehe... Soalnya harganya memang cukup mahal ya, Ma.. 🙊

stroller bayi
stroller bayi untuk kado bayi, sumber foto: Shopee

Aiiih, warnanya cantik amat dah 😍

8. Buku Parenting

Buku parenting mah bukan kado untuk bayi, tapi untuk orang tuanya...

Hmm, secara tidak langsung, buku parenting juga bermanfaat untuk bayinya, lho. Jika ilmu parenting dalam buku tersebut diterapkan oleh para orang tua, tentu si bayi juga mendapatkan manfaatnya, bukan?

Ilmu parenting itu selalu berkembang, karena zaman pun selalu berkembang. Apa yang telah diajarkan orang tua kita di zaman dulu mungkin saja sudah tidak relevan diterapkan di zaman sekarang. Maka dari itu, memberi kado buku parenting juga merupakan ide yang cemerlang, Ma...

Dan ini adalah salah satu buku parenting favorit saya. Judulnya: Parenting with Heart

Tapi, memberi kado untuk ibu yang baru melahirkan juga ngga salah kan, Ma? Malahan, memberi kado untuk ibu yang baru saja melahirkan, bisa membantu meningkatkan hormon kebahagiaan. Secara tidak langsung, saat ibu menyusui bahagia, bayinya juga akan ikut bahagia. 😊

Baca: Ide Kado untuk Sahabat yang Baru Melahirkan

buku parenting; Parenting with Heart

Baiklah, itu dia contoh ide kado untuk bayi ala Mama Kepiting. Omong-omong, kalau Mama punya ide lainnya, silakan tulis di kolom komentar, ya, Ma... Insya Allah idenya bisa membantu Mama-Mama lain yang sedang kebingungan juga. Oiya, saat menjenguk bayi, jangan lupa sisipkan doa untuk bayi, yaaa.. Bisa diucapkan secara langsung, bisa juga ditempelkan di dalam kado. Insya Allah hadiah doa akan semakin melengkapi kebahagiaan orang tua dan bayinya. :)


Ditulis dengan Cinta, Mama



Read More