Showing posts with label kisah. Show all posts
Showing posts with label kisah. Show all posts

Tak Jaga Kebersihan, Mas Amay Kena Impetigo

Friday, January 3, 2020


Menjelang libur akhir tahun kemarin, Mas Amay justru mengalami hal yang kurang menyenangkan. Kulitnya mengalami infeksi yang bermula dari bentol biasa. Ternyata, apa yang dialami Mas Amay disebut Impetigo. Apa itu Impetigo, dan bagaimana penanganannya? Simak tulisan Mama Kepiting, ya..

~~~

Musim hujan sudah tiba. Seperti anak-anak pada umumnya, Mas Amay dan Dek Aga tentu ingin bermain hujan. Nah, siang itu, karena hari hujan, mereka berdua bermain hujan-hujanan di luar. Entah bagaimana mulanya, setelah mandi dan membersihkan diri, kami menyadari ada sebuah bentol di alis Mas Amay.

Dikira bentol biasa, kami hanya memberikan minyak telon pada bentol tersebut. Namun, hingga keesokan harinya bentol itu tak kunjung hilang, bahkan bentol tersebut menjadi berair dan semakin besar. Yang lebih membuat khawatir lagi, di sampingnya muncul bentol yang sama.


penyakit kulit karena bakteri
Mas Amay mengalami Impetigo

Wah, apa Amay terkena dermatitis venenata, ya? Kami menduga-duga karena sebelumnya kami juga menemukan tomcat di kasur. Tahu kan ya kalau toksin yang terdapat pada tomcat bisa mengakibatkan sensasi panas dan perih, yang selama ini dianggap sebagai herpes zoster? Dengan dasar itulah, kami mengoleskan salep Acyclovir pada kulit Amay.

Beberapa hari berlalu, akan tetapi infeksi di kulit Amay tak kunjung menunjukkan perkembangan positif. Bahkan infeksi tersebut menyebar semakin luas. Sampai suatu hari, ketika kami sedang melakukan perjalanan ke Bandung, Amay berkata, "Mas Amay bisa sembuh ngga ya, Ma? Mas Amay capek gatel terus."

Sebagai seorang ibu, rasanya seperti teriris-iris mendengar Mas Amay berkata seperti itu. Keesokan harinya, kami memutuskan untuk pergi ke dokter kulit di Majalengka. Di situlah, Mas Amay didiagnosa mengalami Impetigo.


impetigo, penyakit kulit karena bakteri
Infeksi kulit itu bernama Impetigo

Mengutip alodokter.com, Impetigo adalah infeksi kulit yang disebabkan oleh bakteri, dan sering terjadi pada bayi dan anak-anak. Infeksi ini ditandai dengan kemunculan bercak merah dan melepuh pada kulit (pada Amay, bentuknya seperti bentol) terutama di bagian wajah, tangan, dan kaki. Pantaslah Acyclovir tidak mempan, karena Acyclovir memang digunakan untuk mengobati infeksi akibat virus, bukan bakteri seperti pada Impetigo ini.

Impetigo ada dua macam; Impetigo krustosa dan Impetigo bulosa.

Impetigo krustosa merupakan jenis Impetigo yang paling sering dialami oleh anak-anak dan lebih mudah menular, sedangkan Impetigo bulosa merupakan jenis Impetigo yang lebih serius dengan gejala berupa munculnya lepuhan berisi cairan bening di bagian tubuh antara leher dan pinggang serta lengan dan tungkai. Lepuhan tersebut terasa nyeri dan kulit di sekitarnya terasa gatal. Lepuhan ini bisa pecah, menyebar, dan menimbulkan koreng berwarna kekuningan. Koreng akan menghilang tanpa bekas setelah beberapa hari. Terkadang, Impetigo bulosa juga disertai dengan demam dan munculnya benjolan di sekitar leher akibat pembengkakan kelenjar getah bening.

Impetigo yang dialami Mas Amay adalah jenis Impetigo krustosa, karena Mas Amay tidak mengalami demam. Bercak kemerahan yang timbul juga hanya berada di sekitar mulut dan hidung, dan tidak menimbulkan nyeri. Selain itu, bekas korengnya berwarna kemerahan.

Untuk pengobatannya, oleh dokter Mas Amay diberi satu macam obat berbentuk puyer, 2 botol obat sirup yang salah satunya merupakan antibiotik, dan 1 jar salep. Alhamdulillah, setelah seminggu, infeksinya sudah terlihat mengering dan mengelupas.

penyakit kulit yang ditandai bercak kemerahan, terasa gatal, melepuh, dan ada kerak berwarna kuning
Impetigo mulai memudar setelah pengobatan selama seminggu

Alhamdulillah, semoga Mas Amay segera sembuh dari Impetigo, dan tidak mengalami hal seperti ini lagi. Makanya, kita harus jaga kebersihan, yaa... Rajin potong kuku, dan setelah mandi sore jangan main kotor-kotoran lagi. Oya, di Majalengka kemarin, Mas Amay berobat di Dr. Pudyahtuti Taihitu, Sp.KK. Beliau berpraktik di depan SMP 1 Kadipaten.


Ditulis dengan Cinta, Mama
Read More

Pemuda dan Sebuah Apel; Sebuah Kisah tentang Pentingnya Mencari Ridho Allah dan Ridho Manusia

Saturday, December 7, 2019


Kisah seorang pemuda dan sebuah apel
Kisah tentang seorang pemuda dan sebuah apel

Terinspirasi oleh tulisan Mbak Widut tentang merenungi konsep kerja yang halal dan thayyib, saya jadi teringat dengan sebuah kisah di tahun 2011 atau 2012. Memang tidak ada hubungannya dengan pekerjaan, melainkan lebih ke makanan yang kita konsumsi. Namun, benang merahnya sama, halal dan thayyib.

Jadi, sekitar tahun 2011/2012, seorang tetangga datang ke rumah kami dan beliau meminta ridho atas semua makanan yang telah beliau ambil dari kebun kami. Dengan mata berkaca-kaca beliau bercerita ketika anak-anak beliau masih kecil, terkadang beliau harus mencari makanan seperti umbi-umbian yang biasanya tumbuh secara liar di kebun-kebun. Nah, hari itu beliau meminta keridhaan kami sebagai anak cucu Uti, agar makanan yang telah beliau makan ketika itu berstatus halal.

Oya, fyi, usia beliau mungkin sepantaran dengan almarhumah Uti.

Saya yang mendengar pengakuan dan permintaan maaf beliau tentu merasa terharu dan sedih sekaligus. Terharu karena, Ya Allah, kami ridho... Timbang gembili atau uwi doang atau apalah itu, ya kan? Sedihnya pun bukan karena makanan, tapi karena jadi bertanya-tanya, apa beliau sudah merasa waktunya sudah dekat? Dan memang, tak lama setelah itu beliau berpulang. Allahummaghfirlaha warhamha wa'aafihi wa'fu'anha.

Ingat kisah itu, jadi ingat juga kisah seorang pemuda dan sebuah apel yang saya baca di republika.co.id. Kisah ini juga diceritakan oleh guru tahsin saya beberapa waktu lalu.

Alkisah, di masa akhir era Tabi'in, hidup seorang pemuda dari kalangan biasa, tetapi memiliki kesalehan yang luar biasa. Pemuda itu bernama Tsabit bin Zutho. Saat itu ia sedang berjalan di pinggiran Kota Kufah, Irak. Karena kelelahan, ia beristirahat di tepi sungai yang jernih. Tiba-tiba, sebuah apel segar tampak hanyut di sungai itu.

Dalam kondisi lapar, Tsabit pun memungut apel tersebut dan menggigitnya. Baru sedikit menikmati apel merah dan manis itu, Tsabit tersentak. Milik siapa apel ini? Bisiknya dalam hati. Meski menemukannya di jalanan, Tsabit merasa bersalah karena telah memakan apel tanpa seizin pemiliknya.

"Bagaimana aku bisa memakan sesuatu yang bukan milikku?" kata Tsabit menyesal.
Ia kemudian menyusuri sungai, mencari pemilik buah apel ini untuk meminta keridhaan-nya atas apel yang sudah digigitnya itu. Cukup jauh Tsabit menyusuri aliran sungai itu, hingga ia melihat sebuah kebun apel. Tsabit segera mencari pemilik kebun itu, tetapi ternyata yang ia temui adalah penjaga kebun.

"Saya bukan pemilik kebun ini. Rumah pemilik kebun ini cukup jauh, sekitar lima mil dari sini," kata sang penjaga kebun.

Walaupun harus menempuh jarak yang cukup jauh, Tsabit tak putus asa. Ini semua demi mencari keridhaan pemilik apel yang telah ia makan.

Akhirnya, ia sampai di sebuah rumah dengan perasaan gelisah. Apakah si pemilik kebun akan memaafkannya? Tsabit merasa takut sang pemilik tak meridhoi apelnya yang telah jatuh ke sungai itu, digigit olehnya.

Tsabit mengetuk pintu, lalu mengucapkan salam. Seorang pria tua, sang pemilik kebun apel, membuka pintu itu.

Tsabit berkata, "Wahai hamba Allah, saya datang ke sini karena saya telah menemukan sebuah apel dari kebun Anda di tepi sungai, kemudian saya memakannya. Saya datang untuk meminta kerelaan Anda atas apel ini. Apakah Anda meridhoinya? Saya telah menggigitnya dan ini yang tersisa." Ujar Tsabit sambil menunjukkan apel yang telah digigitnya.

Tanpa diduga, sang pemilik kebun berkata, "Tidak, saya tidak merelakannya, Nak."

Tsabit penasaran, mengapa sang pemilik kebun enggan merelakan sebutir apelnya? Toh, apel itu telah jatuh dan hanyut ke sungai.

"Saya tidak memaafkanmu, demi Allah, kecuali jika engkau mau memenuhi persyaratanku." Lanjut sang pemilik kebun.

"Persyaratan apa itu?" tanya Tsabit harap-harap cemas.

"Kau harus menikahi putriku. Putriku itu buta, tuli, bisu, dan lumpuh. Tak mampu berjalan, apalagi berdiri. Kalau kau mau menerimanya, maka saya akan memaafkanmu, Nak." Jawab sang pemilik kebun.

Husnudzon pada ketetapan Allah
Husnudzon pada setiap ketetapan Allah

Tsabit terperanjat. Sebegitu besarkah kesalahannya sehingga ia harus menerima hukuman dengan menikahi seorang wanita yang cacat? Namun, Tsabit menerima syarat tersebut karena ia tak ingin berdosa telah mengambil hak yang bukan miliknya.

"Datanglah ba'da Isya untuk bertemu dengan istrimu," kata pemilik kebun.

Malam hari usai salat Isya, Tsabit pun menemui istrinya yang cacat. Dengan langkah yang berat, ia masuk ke kamar pengantin wanita. Hatinya dipenuhi dengan pergolakan yang luar biasa, tetapi pemuda itu tetap bertekad untuk memenuhi syarat sang pemilik apel.

Namun, betapa terkejutnya Tsabit ketika berhadapan dengan wanita yang merupakan istrinya tersebut. Ia bahkan mengira telah salah masuk kamar, karena wanita yang seharusnya merupakan istrinya adalah wanita yang buta, tuli, bisu, dan lumpuh.

Tsabit bertanya pada wanita di hadapannya, apakah ia benar putri sang pemilik kebun?

Mendapati suaminya mempertanyakan dirinya seolah tak percaya, wanita itu bertanya, "Apa yang dikatakan ayah tentang aku?"

"Ayahmu berkata bahwa engkau adalah seorang gadis buta," kata Tsabit.

"Demi Allah, ayahku berkata jujur. Aku buta karena aku tidak pernah melihat sesuatu yang dimurkai Allah," jawab wanita itu.

"Ayahmu juga berkata bahwa kamu bisu," ujar Tsabit, masih dipenuhi rasa heran.

"Iya benar, aku tidak pernah mengucapkan satu kalimat pun yang membuat Allah murka," jawab wanita yang telah menjadi istrinya itu.

"Tapi, ayahmu mengatakan bahwa kamu bisu dan tuli." Kata Tsabit lagi.

"Ayahku benar. Demi Allah, aku tidak pernah mendengar satu kalimat pun kecuali di dalamnya terdapat ridho Allah."

"Tapi, ayahmu juga mengatakan bahwa kamu lumpuh."

"Ya, Ayahku benar dan tidak berdusta. Aku tidak pernah melangkahkan kakiku ke tempat yang Allah murkai."

Tsabit begitu terpesona pada istrinya yang tak hanya cantik jelita tetapi juga shalihah itu. Ia pun mengucap syukur.

Ternyata, sesuatu yang sebelumnya dia anggap sebagai hukuman, justru menjadi sebuah nikmat yang tiada terkira. Benar janji Allah, "Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui."

Sang pemilik kebun yang seolah "kejam" itu ternyata kagum dengan sifat kehati-hatian Tsabit dalam memakan sesuatu hingga jelas kehalalannya. Melihat kegigihan dan kesalehan Tsabit, ia pun berkeinginan untuk menjadikannya menantu dengan menikahkannya pada putrinya yang shalihah.

Dari pernikahan tersebut, lahirlah seorang ulama shalih mujadid yang sangat terkenal yakni Nu'man bin Tsabit atau yang lebih dikenal dengan Al Imam Abu Hanifah. Bersama istri yang shalihah, Tsabit mendidik putranya menjadi salah satu imam besar dari empat mazhab.


Ya, itulah kisah tentang kejujuran seorang pemuda dan sebuah apel. Semoga kita bisa mengambil pelajaran, yaa... 



Ditulis dengan Cinta, Mama
Read More

Kisah Menghadirkan Proses Metamorfosis di Rumah

Friday, January 11, 2019

Ulat daun
ulat pohon jeruk

Beberapa orang tetangga terkejut saat melihat pohon jeruk yang Mama tanam di depan rumah kini tak berdaun. Bukan karena rontok, tapi karena habis dimakan makhluk mungil berwarna hijau yang seringkali sadar kamera jika difoto. Ya, memang, saat ini ada banyak sekali ulat hijau yang mendiami pohon jeruk itu. 

"Kok mboten dibuangi, Bu?" tanya pengasuh Nay.

"Pun kersane (nggak apa-apa biarin aja)," jawab Mama sambil tersenyum. 

Mungkin beliau heran, masa cuma dibiarin aja? Tapi memang sedari awal Mama menyadari keberaaan ulat-ulat itu, tak ada niat sedikitpun untuk memberantas mereka.


Ulat memakan daun sebelum menjadi kepompong
ulatnya malu-malu

Bukan, bukan karena takut, bukan pula karena cuek. Tapi serius, Mama malah bersyukur. Syukur dalam artian seperti ini; karena Mama menanam pohon jeruk, maka mereka bisa makan dengan leluasa. Itung-itung berbagi rezeki dengan sesama makhluk-Nya, gitu.

Mama Kepiting sok bijak niye?

Haha... Bahkan Papa pun berkata seperti itu. Tapi kalau cuma sekadar sok-sokan, tentu niat untuk "membiarkan mereka makan" hanya bertahan beberapa hari saja, ya 'kan? Nyatanya, sampai hari ini, sampai daun-daun jeruk di pohon itu hampir tak bersisa, Mama tak sekalipun berniat menyingkirkan mereka.

Ih, itu kan hama?

Betul. Tapi tak apa. Toh, saat hari berganti dan musim ulat sudah pergi, dedaunan itu insya Allah akan tumbuh lagi. Jika daun-daun itu bisa berbicara, mungkin mereka pun akan bersyukur karena keberadaan mereka menjadi manfaat bagi si ulat. Karena daun jeruk ini tak bisa dijadikan bumbu masak. Hihi...

proses metamorfosis, saat ulat berubah menjadi kepompong
kepompong yang menempel di dinding

Lebih dari itu, ada manfaat lain yang bisa kami petik. Dengan tidak menyingkirkan ulat-ulat itu, mereka menghadirkan pengetahuan baru untuk Mas Amay dan Dek Aga. Apa lagi kalau bukan soal metamorfosis? 

Ya, dari halaman rumah yang seuprit itu, Mas Amay akhirnya bisa melihat secara langsung proses metamorfosis. Sebelumnya, dari buku yang pernah ia baca, Mas Amay memang sudah paham tentang metamorfosis atau perubahan makhluk hidup dari telur hingga menjadi dewasa yang sempurna, dengan mengalami perubahan bentuk morfologi, anatomi bahkan fisiologis. Tapi, melihat secara langsung bagaimana proses metamorfosis itu terjadi, adalah hal yang luar biasa bagi anak-anak. 

Mama merasa puas saat melihat Mas Amay dan Dek Aga, ketika pagi-pagi membuka pintu, bersorak kegirangan melihat kepompong-kepompong di dinding. Mata mereka memancarkan sebuah kekaguman. 

"Kok bisa ada di dinding ya, Ma?" tanya Amay penasaran.

Iya, karena ketika ulat sudah cukup besar alias sudah merasa kenyang makan, dan merasa sudah saatnya berubah menjadi kepompong, biasanya ia akan berjalan mencari tempat yang aman. Meski terkadang, tempat yang ia kira aman justru menawarkan hal sebaliknya. Dan tempat itu bisa di mana saja. Kebetulan, kebanyakan ulat memilih dinding rumah kita.
 

kepompong yang gagal menetas
kupu-kupu yang gagal menetas

Mas Amay (Dek Aga belum yaa, hihi..) akhirnya juga paham, bahwa terkadang, sesuatu tak berjalan sebagaimana mestinya. Terkadang kita menemui kegagalan, seperti foto di atas. Dan semua itu tentu atas kehendak Allah. Tugas kita adalah mengambil pelajaran. :)

Tak hanya itu, Mas Amay (Mama juga tentunya) pun belajar tentang kesabaran. Saat kupu-kupu berhasil keluar dari kungkungan kepompong, ia menjeda rasa bahagianya. Sabar, tak perlu buru-buru. Sabar, kuatkan dulu sayapmu.

Mungkin sebenarnya kupu-kupu itu sudah ingin terbang sembari memandang indahnya dunia, apalagi sebelumnya ia sudah terpenjara cukup lama dan harus berpuasa selama beberapa hari, ya 'kan? Tapi memberi jeda pada diri sendiri, seringkali menjadi keputusan terbaik. 


contoh metamorfosis sempurna


Dan percayalah, kesabaran seringkali berbuah manis. Sabar dengan ulat yang menggelikan, yang bahkan menghabiskan dedaunan hingga tak lagi terlihat indah, membuahkan pengalaman berharga. Rasa puas menyaksikan bagaimana kupu-kupu memenuhi halaman rumah kita, tentu tak terkira besarnya.


metamorfosis sempurna, contohnya


Eh, omong-omong soal metamorfosis, Mama jadi teringat salah satu murid Mama. Luna namanya.

10 tahun lalu saat ia masih TK dan jadi anak didik Mama, ia memaksa Mama berani menghadapi ulat seperti ini. Waktu itu dia merengek, menangis sampai hampir 1 jam, karena tak juga berhasil menangkap seekor pun kupu-kupu.

Saat kehabisan ide bagaimana menghentikan tangisannya, seekor ulat mencuri perhatian Mama. Dengan sok berani, Mama mengambil ulat itu, lalu Mama berikan pada Luna. Mama bilang, "Luna tahu nggak? Kupu-kupu itu sebenarnya berasal dari ulat. Ini Luna bawa pulang yaa, coba Luna tunggu beberapa hari lagi, beneran jadi kupu-kupu apa nggak."

Beruntung anak itu mau mendengarkan. Mungkin sebenarnya dia sudah lelah menangis juga, hihi..

Besoknya, dia protes, "Miss Arin bohong, ya? Kok ulatnya nggak jadi kupu-kupu?" 

"Lho, kan Miss Arin bilang tunggu beberapa hari. Mungkin sekitar dua minggu."

"Yah, lama banget."

"Sabar dong..."

And two weeks later... Luna datang pagi-pagi banget, dan langsung menyerbu Mama. "Ms Arin, beneran keluar kupu-kupunya... Bagus banget iiih.." then she kissed me. So sweet banget memang ini anak. Dan karena dia jago menggambar, saat Journal Time dia menggambar proses metamorfosis ini, lalu dia ceritakan pada teman-temannya.

Misi Miss Arin selesai. Nggak perlu repot menjelaskan metamorfosis segala 'kan? Sudah ada yang bisa bantu jelaskan. Hihihi...



Nah, itu dia Luna, bersama Ms Budi, Principal di sekolah tempat Mama mengajar dulu. Cantik kan? Hihi... 
Read More

Terlambat Cabut Gigi Susu, Gigi Amay Jadi Begini...

Sunday, January 6, 2019

Terlambat lagi. Gigi seri bawah Mas Amay sudah tumbuh, padahal gigi susunya belum tanggal. Jadi gigi seri bawah Mas Amay dua-duanya kesundulan. Tahukah, gigi yang kesundulan, adalah salah satu penyebab gigi berantakan

Sebelumnya, bulan Ramadhan yang lalu, gigi seri bawah Mas Amay yang sebelah kanan pun kesundulan. Hasilnya kini giginya tumbuh miring. Eh, kejadian ini terulang lagi. Sungguh, kami menyesal dua kali.


gank gigi berantakan

Dari foto di atas, kelihatan kan kalau gigi bawah Mas Amay tumbuh miring?

Memang sih, terlambat mencabut gigi hanyalah salah satu faktor penyebab gigi berantakan. Sedangkan faktor lainnya antara lain:

1. Keturunan

Ada satu cerita lucu. Waktu Mama bilang begini; "Yah, kesundulan lagi. Gigi Mas Amay berantakan deh," anak ini dengan santai menjawab, "Ya kan Mas Amay keturunannya orang yang giginya berantakan juga."

Hahaha... Mamanya langsung diem deh.

Memang, tidak hanya Mamakepiting yang giginya berantakan, Papa juga. Lihat foto di bawah ini deh! Jadi, Mas Amay nggak sepenuhnya bersalah, yaa.. Xixixi...

gigi berantakan bikin manis koq. *haciiimmm!

2. Kebiasaan

Ada yang putra atau putrinya masih ngedot meski usianya sudah besar? Hati-hati lho, karena kebiasaan ini bisa menjadi salah satu penyebab gigi berantakan. Mas Amay dan Dek Aga sih nggak pernah ngedot, tapi faktor keturunan memanglah sungguh sangat kuat pengaruhnya. :)

Kebiasaan lain yang berpotensi membuat gigi tumbuh berantakan, contohnya suka menghisap jari, suka menjulurkan lidah saat bicara, suka mengigit kuku atau pensil, menggigit bibir, dan bernapas melalui mulut (terlebih jika sering pilek, yang mengakibatkan hidung tersumbat).

Bernapas melalui mulut pun bisa berpengaruh pada gigi ya? Iya. Tekanan angin yang berembus lewat mulut lama-kelamaan akan menggoyahkan pertahanan gigi. Akibatnya ada beberapa gigi yang bisa berubah posisi. 


3. Lingkungan

Faktor lingkungan ini misalnya, jika anak tumbuh di keluarga pecinta makanan manis, biasanya dia akan menyukai makanan manis juga. Seperti yang kita tahu, makanan manis adalah salah satu faktor penyebab ECC (Early Childhood Caries). Dan karies atau gigi berlubang adalah salah satu faktor penyebab gigi tumbuh berantakan.  

Gigi susu yang berlubang tak seperti gigi tetap. Gigi susu akan hilang dan mengakibatkan rahang mengecil. Rahang yang mengecil ini membuat gigi tetap yang berada di bawah gigi susu tidak mendapat tempat untuk tumbuh. Lalu gigi dewasa tumbuh di mana? Karena tidak mendapat tempat, dia bisa tumbuh ke samping, ke depan, ke belakang, dan akhirnya susunan gigi jadi berantakan. 

Tuh kan, kelihatannya sepele, tapi kebiasaan yang salah sejak kecil ternyata pengaruhnya akan terasa sampai dewasa. Jadi Ma, yang putra-putrinya sudah menginjak usia 6-7 tahun, sering-sering diperiksakan giginya. Siapa tahu gigi permanennya sudah nggak sabar pengen nongol, padahal gigi susunya masih ingin bertahan. Kalau nggak ada yang mau mengalah, jadinya kesundulan, efeknya gigi anak-anak kita bisa berantakan. Nggak mau kan? :) 





Sumber bacaan:

* https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20151221143302-255-99603/tiga-masalah-penyebab-gigi-berantakan 

* https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20170301103029-255-196961/lima-kebiasaan-buruk-penyebab-gigi-tak-teratur

* https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20171027060436-255-251475/4-bahaya-gigi-berlubang-pada-anak
Read More

Grand Opening "Kids Club" di The Alana Hotel Solo

Thursday, September 6, 2018

Sabtu, 1 September 2018 yang lalu, Mas Amay dan Dek Aga ikut serta dalam acara Grand Opening "Kids Club" di The Alana Hotel, Solo. Acaranya seru. Diawali dengan perkenalan dari kakak-kakak di Alana, juga latihan bagaimana mengucapkan salam Alana, anak-anak kemudian diajak untuk mengenal seluk-beluk dunia perhotelan.

Mengawali Hotel Tour kali ini, anak-anak diberi informasi tentang apa itu welcome drink. Setelah itu, anak-anak diajarkan bagaimana cara check-in di hotel oleh kakak-kakak di bagian reservation.

Dari reception, perjalanan dilanjutkan menuju tempat eskalator berada. Di situ, oleh Kak Heri, anak-anak diajari bagaimana cara menggunakan eskalator dengan aman. Sampai di atas, anak-anak juga diajari bagaimana menggunakan lift.

Kak Heri sedang menjelaskan tata cara menggunakan lift.

Tak berhenti di situ, anak-anak diajak naik ke lantai 11. Untuk apa? Untuk melihat kamar-kamar yang ada di The Alana Hotel. Seru kaaan? Jumlah kamar di The Alana Hotel ada 247, lho. Banyak yaa...

Yang lebih seru lagi, ada towel folding show, yaitu, ketika kakak-kakak menunjukkan bagaimana membuat berbagai macam binatang dari handuk.  

Amay dan Aga kebetulan diajari oleh Kak Anggun, nih... Ada berbagai macam binatang yang dibuat Kak Anggun dari handuk. Mau tau caranya? Mamakepiting sudah membuatkan videonya.

1. Membuat Ikan Paus dari Handuk



2. Membuat Ayam dari Handuk


Selain ikan paus dan ayam, ada juga angsa, anjing, dan gajah. Kak Anggun kreatif banget yaa.. 

angsa cantik dari handuk

Belum habis rasa takjub anak-anak melihat kepiawaian Kak Anggun saat membentuk handuk-handuk itu menjadi aneka ragam binatang, anak-anak diajak turun ke lantai 2. Rasanya? Super excited, karena ternyata kita menuju ke area kolam renang. 

Tau dong ya, anak-anak itu semacam punya ikatan dengan air, hihi...

Lihat, Mas Amay saja langsung lepas sepatu, duduk di tepian kolam, sambil merasakan sejuknya air di Aquamarine Pool di The Alana Hotel. Satu yang dia sesali, kenapa kita tidak bawa baju ganti. Hihihi...

Aquamarine Pool, The Alana Hotel, Solo

Rasanya ingin berlama-lama main airnya, tapi anak-anak sudah dipanggil oleh Kak Nunuk. Ayo kita mendekaaat, kita mau ngapain lagi ya?
Oh, ternyata kita mau membuat Pizza. Di sana sudah ada Chef Firman yang menunggu. Hmm, penasaran kan bagaimana serunya anak-anak membuat Pizza? Simak videonya di bawah ini yaa...



Yuhuuu, Pizza sudah jadi dan sudah siap dinikmati. Tapi, ternyata acaranya belum selesai. Anak-anak diminta untuk berkumpul ke sisi selatan, yaitu di Kids Club. Di sana sudah ada Kak Sistho A Sreshtho, selaku General Manager di The Alana Hotel & Convention Center – Solo.

Kak Sistho menjelaskan mengapa anak-anak diminta berkumpul di sana, yaitu untuk meresmikan Kids Club. Jadi, “Karena Alana Solo juga diperuntukkan untuk segmen keluarga, maka kami menambah fasilitas Kids Club sebagai tempat bermain anak – anak. Tidak hanya orang tuanya, anak – anaknya pun akan kita manjakan dengan hadirnya fasilitas terbaru ini.” begitu kata Kak Sistho.

Tapi memang kok, anak-anak memang terbukti dimanjakan di sini. Ada beraneka macam permainan, seperti sliding, see saw, dll. Kalau main di sini, jangan lupa pakai kaos kaki yaa.. :)

Nah, ini suasana saat pemotongan pita, tanda telah diresmikannya arena Kids Club. 

potong pita saat peresmian Kids Club di The Alana Hotel Solo
bermain di Kids Club, The Alana Hotel Solo

Nah, untuk teman-teman kecil yang ingin bermain di sini, cukup menjadi member Kids Club, dan nanti teman-teman akan mendapatkan berbagai macam keuntungan. Apa saja?
1. Bermain di Kids Club, free
2. Berenang di Aquamarine, free
3. Diskon 20% untuk pembelian makanan dan minuman

Enak kan?

Dan sebenarnya, A Fun Day with Alana seperti acara kemarin ini sudah diadakan sejak 2016 lalu, lho. Kalau teman-teman mamakepiting ingin mengajak anak-anak mengikuti acara ini, mama-mama cukup membayar Rp 150.000,- saja. Nantinya anak-anak akan mendapatkan kesempatan untuk hotel tour, safety education, making bed show, towel folding show, makan siang, cooking session, dan swimming session. Peserta juga boleh membawa pulang hasil masakan mereka, juga celemek dan topi kokinya, lho. Setelah kegiatan, anak-anak juga berhak membawa pulang sertifikat.

Untuk info lebih lanjutnya, silakan mama-mama hubungi CP di bawah ini yaa:

Angela Stevanie (Mrs)
Ass. Public Relation Manager
The Alana Hotel & Convention Center - Solo                                                           
Jl. Laksda Adi Sucipto, Colomadu, Karanganyar, Solo
Telephone :  0271 745 1555
Mobile : 0815 65 999 56
Email : soloaprm@alanahotel.com
Website : www.AlanaHotels.com
Read More

Pengalaman Pertama Mas Amay Cabut Gigi Susu

Sunday, August 5, 2018

Bulan Ramadhan yang lalu, kami dikejutkan dengan tumbuhnya gigi Mas Amay. Seharusnya ini menjadi sebuah berita gembira, karena di usia Amay yang sudah 7 tahun, gigi susunya masih utuh, sementara teman-temannya banyak yang telah memiliki gigi baru. Akan tetapi, yang menjadi masalah adalah, tumbuhnya gigi baru ini mendahului tanggalnya gigi lama. Jadi, iya giginya "kesundulan". 

Tahu ada calon gigi yang menyembul di gusi Mas Amay, Mama Papa langsung bingung. "Haduh, harus ke dokter nih, giginya harus dicabut segera. Kalau nggak, giginya bisa tumpang tindih nanti," kata Papa.

Si bocah, demi mendengar kata "dokter", nyalinya langsung mengkeret. Ya sudah, Mama Papa menunggu sampai Mas Amay benar-benar berani. Kan nggak lucu kalau pas di tempat praktik doi nangis-nangis... Ya to

Waktu berlalu, sampai kami harus mudik ke Purworejo. Mama mencari tahu dokter gigi yang ramah anak di Purworejo. Beberapa teman merekomendasikan dokter langganan mereka. Tapi, lagi-lagi Mas Amay belum siap. Dia masih takut, padahal berkali-kali Mama meyakinkan bahwa cabut gigi itu nggak sakit.

Sementara Mas Amay masih ragu-ragu untuk cabut gigi, kami sudah harus kembali lagi ke Solo. Yaah, akhirnya di kota ini jua lah kami harus mencari dokter gigi yang sesuai dengan keinginan kami. Kami mencari beberapa referensi dokter gigi di Solo, tapi ujung-ujungnya, yang kami datangi adalah dokter gigi yang berpraktik tak jauh dari rumah kami.

Siapakah dokter pilihan kami itu? Dokter Gigi Diana Rahmawati namanya.

Kami mendatangi tempat praktik beliau sejak pukul 5 sore. Tapi karena kami mendapat nomor antrian ke-12, sementara yang sudah ditangani baru 1 orang, maka kami memutuskan untuk pulang, dan kembali ke sana setelah maghrib.

Dan ketika tiba saatnya... Nama Amay dipanggil...

Kami memasuki ruangan, dan Mas Amay diminta berbaring. Wajahnya terlihat tegang. Meski begitu, ia mengaku sudah tidak takut lagi, karena ia sudah percaya dengan perkataan Mama, bahwa cabut gigi tidak sakit. 

muka tegang sebelum cabut gigi

Sambil menunggu Bu Dokter siap-siap, kami menggoda Mas Amay untuk mencairkan suasana. 




Yak, dan Bu Dokter pun beraksi...

cabut gigi tidak sakit :)

cabut gigi tidak sakit :)

Selesaaaiiii...

Mas Amay diminta untuk menggigit kapas, dan baru boleh dibuang setelah 15 menit. Kata Bu Dokter, "Habis ini maem es krim ya..." Wah, seneng banget dia.

dokter gigi Diana Rahmawati, dokter gigi yang ramah anak

Untuk cabut gigi, biaya yang harus kami keluarkan adalah sebesar Rp 30.000,-. Tapi tenang, bisa pakai BPJS juga koq. Kami sempat tanya-tanya juga berapa biaya untuk scaling gigi (membersihkan karang gigi)? Dan biayanya nggak sampai 200 ribu lho...

Alhamdulillah, kami sudah menemukan dokter gigi idaman. Insya Allah nggak pindah kemana-mana lagi lah. Tahu nggak? Mas Amay sudah nggak sabar untuk cabut gigi lagi. Kebetulan gigi seri bagian atasnya sudah goyang.

Duh, setelah tahu kalau cabut gigi itu nggak sakit, Mas Amay malah jadi ketagihan. Hahaha... 

dokter gigi Diana Rahmawati, dokter gigi recommended di Gedongan, Colomadu, Karanganyar

Dokter Gigi Diana Rahmawati berpraktik di Gedongan (jalan samping Arista Onion Trans ke utara sekitar 50 meter, kiri jalan), setiap hari Senin - Jumat, mulai pukul 16:30 - 20:00 WIB. Beliau masih relatif muda, sangat ramah, gaul juga. Duh pokoknya asik deh. Kami merekomendasikan beliau sebagai dokter gigi terbaik di Colomadu. Jadi, untuk teman-teman di Solo yang ingin cabut gigi, membuat gigi palsu, scaling gigi, apapun itu, ke dokter Diana Rahmawati saja.☺❤
Read More

Resep Pisang Pasir untuk Buka Puasa

Friday, May 18, 2018

Ada satu makanan kesukaan yang Mas Amay sering minta untuk Mama buatkan, yaitu Pisang Pasir a.k.a Pisang Crispy ala mamakepiting. Kalau Mama sedang terlihat membuatnya, Mas Amay dan Dek Aga selalu tak sabar untuk mencicipinya segera. Dan karena tadi pagi Mbak Sayur membawa pisang kepok kuning lagi, akhirnya Mama membuat cemilan berbahan pisang dengan resep sederhana untuk takjil atau makanan pembuka saat berbuka puasa.

Bahannya sangat sederhana. Nggak pakai ribet pokoknya. Yang pasti, sediakan pisang kepok kuning, kupas, kemudian bagi dua. 

Untuk balurannya, kita hanya membutuhkan tiga bahan, yaitu;
- Tepung panir
- gula pasir 1/2 sdm
- garam 1/4 sdt

Mas Amay saat membantu Mama membuat Pisang Pasir

Caranya: 
- Campur tepung panir, gula pasir dan garam. Aduk-aduk pokoknya, supaya nanti rasa manis dan gurihnya merata.
- Gulingkan pisang yang sudah dikupas dan dibagi dua tadi, ke dalam tepung panir. 
- Remas-remas pisangnya, hingga tepung panirnya menempel rata.
- Masukkan ke dalam wadah, lalu simpan ke dalam freezer.
- Jelang maghrib, goreng beberapa potong. Nikmati selagi hangat.

adonan Pisang Pasir siap dimasukkan ke dalam freezer

Oya, ada yang menggunakan telur ayam supaya tepung panirnya mudah menempel. Tapi mamakepiting tidak suka dengan bau amisnya, hihi... Dan begini saja, Mas Amay dan Dek Aga sudah senang banget koq. Hehe.. Tapi jika Mama lebih suka jika menggunakan telur, silakan saja. Yang pasti, menu ini bisa jadi alternatif, jika kita sudah mulai bosan dengan kolak pisang. Praktis kan?

Untuk resep buka puasa yang lain, Mama juga bisa mencoba resep praktis Puding Puyo. Selamat mencoba ya, Ma.. ☺❤
Read More

Liburan di Purworejo, Ngapain Aja?

Friday, May 11, 2018


Duh, dalam sekali makna kutipan tentang "kampung halaman" di atas, ya... Memang, seperti lapar, yang menjadikan makanan terasa lebih lezat saat dimakan, jarak, kita perlukan agar kita pandai memaknai arti kerinduan. 

Alhamdulillah, akhir April kemarin keluarga Mama Kepiting bisa pulang kampung. Alhamdulillah, selain bisa berkunjung ke rumah Akung, kami juga bisa membasuh rindu di kampung halaman tercinta, Purworejo Berirama. 

Tugu Clorot di Alun-alun Purworejo

Hari sudah gelap saat kami akhirnya bisa mencium wangi udara Purworejo. Dari stasiun, kami menaiki angkot sampai alun-alun. Di alun-alun, tepat di seberang tugu clorot di atas, Tante Opik memesan taksi online, untuk mengantar kami ke rumah Akung.

Eh, sudah tau clorot belum? Clorot adalah makanan khas dari Purworejo. Rasanya manis, teksturnya kenyal, dan clorot ini dibungkus dengan menggunakan janur. Seperti ini:

Clorot Purworejo. pict by Mama Arinta Adiningtyas, mamakepiting.com

Sebenarnya Akung menawarkan untuk menjemput kami. Tapi daripada makin repot, lebih baik kami naik taksi online saja, lebih praktis. Thanks to taksi online, deh... Sampai di rumah Akung, kami disambut dengan teh hangat dan mie instan rebus buatan Bude Nana. Alhamdulillah, akhirnya perut ini terisi juga, hihi... Kami pun bisa beristirahat dengan nyenyak.

Di Purworejo Ngapain Aja? 

Di Purworejo, kami tidak pergi kemana-mana. Hanya di Minggu pagi, Mama pergi ke pasar untuk membeli nasi megono dan lupis kesukaan. Dua makanan ini mengandung kenangan. Waktu Mama kecil, pergi ke pasar desa yang bernama Pasar Sayir alias Pasar Lugosobo alias Pasar Gintungan, adalah sebuah rutinitas mewah. Makanya, Mama bersyukur sekali kemarin, karena bisa kembali merasakan sensasi itu, sembari mengenang masa lalu.


Oya, sebenarnya Purworejo memiliki tempat wisata lho, hanya saja masih kurang terekspos. Tempat wisata ini berada di daerah pegunungan di Kecamatan Bruno. Mama pernah menulisnya di kayusirih.com


Kenapa kemarin kami tidak pergi ke sana? Salah satu alasannya adalah kami tak punya kendaraan yang memadai. Selain itu, kondisi Adek Aga belum memungkinkan untuk diajak mendaki gunung, lewati lembah, sungai mengalir indah (lha koq jadi nyanyi...), eh, maksudnya Adek Aga kan masih kecil, jadi belum bisa diajak jalan-jalan ke Curug. Bisa sih, asal Mama atau Papa mau menggendong. Tapi kan berat.. :(

Tapi meski kami nggak kemana-mana, Mas Amay dan Adek Aga tetap bahagia koq. Harus bahagia lah, hehe... Di Purworejo, Mas Amay dan Dek Aga bisa berlarian dengan bebas. Sok sana, lari sampe capek. Mama ijinkan.. Kalau di Solo, kan nggak bisa, hehe... 

lari-larian di halaman rumah Akung
Selain itu, Mas Amay memancing bersama Afizna, anaknya teman Mama. Di mana? Di kolam ikan di belakang rumahnya Afizna lah. Hehe... Ibunya Afizna memelihara ikan gurame, sama dengan Akung. Tapi, kalau Akung memelihara ikan yang masih kecil-kecil, Ibunya Afizna justru memelihara ikan yang sudah lebih besar. 

Dapet ikan nggak?

Enggak.

Susah banget nangkapnya. Mungkin mereka sudah kenyang. Udah gitu, ada ular lagi. Ular sawah sih, tapi tetap saja kan, geli. Hiiiii...



Karena nggak dapat-dapat juga, Mas Amay sempat pindah ke kolam di sebelahnya. Tapi tetap saja sih, itu ikan nggak mau dipancing. Huhuhuhu...

Tidak apa-apa. Liburan yang akan datang, kita coba lagi ke sana yaa... Mama sudah bilang sama Ibunya Afizna, boleh tidak kalau kami ngabuburit sambil memancing ikan? Dan alhamdulillah dijawab dengan kata "boleh bangeeet laaah..." gitu. Hihihi...

Nggak sabar deh jadinya menunggu liburan lebaran sekaligus liburan kenaikan kelas nanti. Teman-teman Mama, sudah ada rencana liburan belum? Semoga liburannya nanti menyenangkan yaaa...☺
Read More

Mama Kepiting dan Bacaan Favorit Masa Kecil

Thursday, March 29, 2018


“The more that you read, the more things you will know. The more that you learn, the more places you’ll go.” - Dr. Seuss –

Quote di atas menurut Mas Amay dan Dek Aga bagaimana? Tak terbantah, ya kan? Sungguh akan terlihat berbeda, orang yang suka membaca dengan yang tidak. Kalau tak percaya, baca tulisan Tante Widut dan Tante Rani deh...

Sebenarnya sejak kecil Mama suka membaca. Tapi karena Akung dan Uti tidak memiliki banyak uang, jadi Mama tidak punya bahan bacaan yang memadai.

Kalian beruntung lho, karena Mama tidak segan menyisihkan beberapa lembar uang dari jatah bulanan untuk membeli buku dan berlangganan majalah. Memang buku kalian mungkin tak sebanyak yang lainnya. Bahkan Mama terkadang membeli buku bekas yang harganya lebih murah. Tapi usaha Mama ini, Mama lakukan agar kalian bisa tumbuh lebih cemerlang dibanding Mama. Semoga ya...

Waktu Mama kecil dulu, Mama tak pernah punya buku selain buku pelajaran. Yang Mama baca adalah majalah Ummi, yang Uti Ning bawa. Waktu itu, Uti Ning masih menjadi mahasiswi STAN. Dan tiap kali beliau pulang ke rumah Uyut, beliau membawa setumpuk majalah.

Majalah Ummi

Kok Mama kecil-kecil baca Majalah Ummi?

Hihi, adanya cuma itu, sayang... Tapi jangan salah, di bagian tengah biasanya ada rubrik PERMATA yang khusus untuk anak-anak kok.

Dari PERMATA di majalah Ummi itu, Mama mengenal Bilal bin Rabbah. Mama masih inget banget ilustrasinya. Ada seorang pemuda berkulit hitam, yang ditindih batu besar dan dibaringkan di atas gurun pasir yang panas. Ia disuruh keluar dari Islam. Tapi karena kuatnya iman, ia bisa melewati siksaan itu.

Oya, ada lagi. Mama mengenal Fir’aun dan Nabi Musa, juga dari PERMATA. Mama ingat ilustrasinya, ketika Musa masih bayi, ia ditaruh di keranjang oleh ibundanya, kemudian dihanyutkan di sungai. Sungguh, PERMATA di majalah Ummi benar-benar bisa mewarnai hari-hari Mama saat itu.

Bacaan Mama cuma majalah Ummi?

Iya...

Sampai akhirnya Mama mengenal majalah Bobo. Bukan, bukan karena berlangganan. Tapi karena waktu itu Mama lagi liburan di rumahnya aunty Cheza di Jogja. Aunty punya banyak buku, dan bertumpuk-tumpuk majalah Bobo. Ada yang baru, ada juga yang berupa bundel berisi kumpulan majalah Bobo lawas.

Mama jadi numpang baca kalau sedang di sana. Dulu Bona masih berwarna pink, bukan ungu seperti sekarang. Temannya bernama Rong-Rong, bukan Kaka dan Ola.

Yang Mama suka dari Bobo, tentu saja cerpennya, juga ceritera dari negeri dongengnya Oki dan Nirmala. Membaca cerpen di majalah Bobo, membuat imajinasi Mama berkelana. Benar jika dikatakan bahwa reading is dreaming with open eyes.

Majalah Bobo dan Totto-chan kesukaan Mama
Sampai sekarang pun, Mama masih suka membaca cerpen-cerpen di majalah Bobo. Mama ingin suatu saat bisa membuat cerita yang indah seperti penulis-penulis di sana.

Jadi, sebenarnya Mama berlangganan majalah Bobo untuk siapa sih? Ya untuk kalian. Dan untuk Mama juga. Hihihi... Jangan lelah membaca ya, anak-anak Mama... Kelak, kalian akan merasakan sendiri manfaatnya.
Once you learn to read, you will be forever free.

Read More

Karena Tak Ada yang Memberi Kado, Anak Ini Membeli Kado Ulang Tahunnya Sendiri

Sunday, March 18, 2018


Hihi, judulnya kok begitu ya? Miris ngga sih? Eittt, tunggu dulu... Baca sampai selesai yaa..

Tanggal 16 Maret kemarin, Mas Amay menginjak usia tujuh tahun. Alhamdulillah, di Jum'at pagi itu, Mas Amay memulai hari dengan sholat subuh bersama Mama. Tak lupa, Mama mengucapkan selamat ulang tahun, dan membisikkan do'a untuknya.

Mas Amay bersiap ke sekolah dengan penuh semangat dan penuh senyuman. Tidak, Mama belum memberi apa-apa, jadi memang Mas Amay bergembira karena merasa hari itu adalah miliknya.

Memang, ada satu yang kurang, yaitu Papa yang saat itu masih dalam perjalanan dari Bandung. Seminggu itu Papa memang ke luar kota, dari Surabaya, Banyuwangi, kemudian Bandung. Dan Papa baru sampai Solo lagi di sore harinya.

Oya, mengapa Mama tidak memberi kado? Pertama, karena Mama ingin mengajarkan bahwa ulang tahun adalah pertambahan angka, yang tidak ada hubungannya dengan kue dan simbol-simbol lainnya. Kedua, Mama mengatakan pada Mas Amay bahwa bertambahnya usia, sama dengan bertambahnya tanggung jawab sebagai seorang manusia. Mas Amay harus mulai bersiap untuk taat pada kewajiban, baik itu sebagai seorang hamba, sebagai anak, sebagai kakak, sebagai seorang muslim, dan sebagai bagian dari manusia lainnya.

Berat ya?

Iya memang..

Tapi, Mas Amay masih anak Mama yang kecil, mungil dan lucu, kok. Makanya, Mama tawarkan sebelumnya, "Mas Amay mau kado apa? Mau dibeliin donat nggak?" Dan Mas Amay dengan mantap menjawab, "Enggak!".

Oya, kenapa Mama menawarkan donat dan bukan kue? Karena Mas Amay paling suka dengan donat bertabur gula putih. Tapi karena saat itu Mas Amay menolak, ya sudah, Mama tidak menyediakannya. Hihi.. Mama kejam? Anggap saja begitu. :D

Lalu Mas Amay ingin apa?

Mas Amay hanya ingin sebuah krayon untuk mewarnai. Dan krayon itu, katanya, akan dibeli dengan uang tabungannya sendiri.

Sedikit cerita, sejak ulang tahun Dek Aga 4 bulan lalu, Mas Amay mulai menabung. Mas Amay menabung karena saat itu ia ingin memiliki sebuah mainan yang cukup mahal. Kata Papa, "Mas Amay coba menabung seribu sehari. Nanti pas ulang tahun, berarti empat bulan lagi, uang Mas Amay mungkin sudah cukup. Kalau kurang nanti Papa tambahi."

Ya dan sejak itu Mas Amay mulai menabung. Uang jajan Mas Amay tidak banyak, hanya 3 ribu rupiah sehari. Mama memang tidak memberi uang terlalu banyak, karena sudah ada catering juga di sekolah. Pagi pun sudah sarapan, jadi buat apa terlalu banyak jajan?


Singkat cerita, uang tabungannya terkumpul sebanyak 110.000 rupiah. Cukup banyak untuk ukuran uang 3 ribu sehari selama 4 bulan saja. Hihihi... Dari uang tabungannya itu, Mas Amay membeli sebuah krayon dengan harga 82.000 rupiah. Bagaimana dengan mainan yang dulu diincarnya? Oh, Mas Amay sudah melupakannya ternyata.

mewarnai dengan crayon yang dibelinya sendiri

Mama melihat ada rasa bangga dan bahagia, saat Mas Amay dengan percaya diri menenteng celengan ke minimarket untuk membeli krayon impian. Jujur, Mama pun terharu, senang, dan bangga juga dengan usahamu, Nak... Sesuatu yang bisa dimiliki dengan perjuangan, rasanya akan berbeda dengan sesuatu yang didapatnya dengan cara yang mudah. Betul tidak, Mas?

Mama dan Papa bersyukur bisa memberikan "rasa" itu. Rasa puas, namanya. Puas itu perpaduan antara lega, bangga dan bahagia. Kau tahu itu, Mas?

Kelak, Mas Amay dan Dek Aga harus selalu ingat rasa ini, ya.. 😊


Read More